Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
S2/ Chapter tiga (PRT.)



"Kamu gak salah Beib?" Murad menatap nanar wajah isterinya heran "Jangan asal bicara, sekarang kamu lagi hamil anakku. Apa masalah nya?"


"Apa alasan kamu menikahi ku?" Tanya balik Hayu.


"Cinta, sayang, candu, membutuhkan, aku nyaman bersama mu!" Jelas Murad tegas.


"Bohong! Kamu cintanya sama Marni iyakan?" Berang Hayu.


"No, kenapa bahas itu lagi itu lagi? Kapan kita move dari satu masalah ini?" Pekik Murad.


"Ini, ..." Hayu menyodorkan KTP palsu milik Pinkan pada suaminya, tanda dia sudah mengetahui semuanya, bahwa wanita yang pernah menjadi obyek fantasinya adalah kakak iparnya.


"Izinkan aku pulang, aku rela menjadi janda dari pada aku harus tinggal satu atap dengan wanita yang dulu pernah suamiku cintai. Aku ga kuat Mas." Hayu tak kuasa menahan air mata yang mengintip di sudut netra nya di iringi isak tangisnya.


Cup!


Murad mengadu bibir keduanya, lalu terjadi gemelut panas untuk beberapa saat yang tak pernah kuasa Hayu tolak.


"I love you, ..." Ucap Murad, dia menatap lembut wajah ayu ibu hamil itu dengan tangan yang terus menangkup kedua pipi milik Hayu.


"Kamu boleh meminta apa pun, boleh membenci ku, boleh mencaci maki ku, tapi takkan ku biarkan kamu pergi dariku! Kamu milik ku Beib, please, percaya padaku." Lirih Murad penuh harap, Hayu sempat menemukan gurat takut kehilangan pada binar sendu mata itu.


"Kamu tahu Beib? Sebagian orang ada yang berjodoh dengan cinta pertamanya, tapi sebagian orang lagi ada yang di pertemukan dengan orang yang tidak tepat sebelum akhirnya menemukan jodoh sebenarnya." Jelas Murad.


"Kamu harus percaya, saat ini, detik ini, aku dan hatiku hanya milik mu, Marni hanyalah masa lalu, sekarang Pinkan hanya Kaka ipar ku, demi Baby kita, jangan pernah berpikir untuk meminta di pulangkan." Imbuhnya.


"Dalam rumah tangga pasti ada cobaan nya, keraguan, kecemburuan, ketidak percayaan, tapi aku yakin kita bisa melewati ujian ini, lawan rasa cemburu mu perkuat kepercayaan mu padaku." Timpalnya


"Aku tulus setulus hatiku, tolong jangan pernah berpikir untuk berpisah dari ku."


Hayu terenyuh mendengar kalimat yang sepertinya sangat tulus itu, di lihat dari sudut manapun Murad tidak main-main dengan ucapannya, lalu apakah mampu jika dia benar-benar hidup tanpa Murad?


"Aku cemburu." Hayu menghambur ke pelukan hangat suaminya masih dengan isakan tangisnya.


"No problem, itu tandanya kamu mencintai ku." Sambung Murad.


"Aku ga yakin bisa terus menahan cemburu ku Mas, memang beginilah sifat ku!"


Murad tersenyum "Kita bisa tinggal di apartemen, berdua saja, sambil menunggu baby kita lahir. Kamu setuju?" Ajaknya.


Hayu mendongak menatap wajah tampan suaminya dari dalam dekapan hangat itu "Kamu serius Mas?" Tanyanya lalu Murad mengangguk "Serius. Apa pun untuk mu!" Jawabnya lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Malam harinya semua orang berkumpul di sofa halaman belakang rumah mewah tersebut, dan Murad memberi kabar tentang kehamilan isterinya, sungguh berita itu membuat seluruh keluarga besar Baskara tersenyum bahagia.


"Selamat ya Hayu menantu ku, semoga sehat selalu, sampai melahirkan, baby juga ibunya. Mami seneng, akhirnya akan ada suara tangis Baby lagi di rumah ini, nyaingin Baby Zee. Ga nyangka ternyata secepat itu loh kamu hamil, kalo delapan Minggu berarti langsung jadi dong tabungan malam pertama nya." Irma tergelak renyah, termasuk juga keluarga yang lain.


"Lu kerajinan kali bang!" Celetuk Eric.


PLAK! Seperti biasa pemuda itu selalu menerima pukulan ringan di kepalanya.


"Alhamdulillah Mi, mungkin sudah keturunan Hayu memang subur kayaknya, makanya bisa secepat itu."


Hayu kemudian beralih pada Pinkan yang kini memangku putrinya "Ka Pinkan sudah belum?" Tanyanya melempar sindiran yang menyudutkan, rasa cemburunya membuat Hayu Diajeng membenci iparnya, dan mungkin itu manusiawi.


Seketika senyum Pinkan memudar saat mendengar pertanyaan menyakitkan itu "Aku, ..."


"Tentu saja sudah." Sambar Raka merangkul isterinya berusaha memberinya kekuatan.


"Dia sudah menjadi seorang ibu, tanpa melahirkan dan hamil terlebih dahulu, dia sudah menjadi wanita yang hebat, bahkan lebih hebat dari wanita yang mampu melahirkan belasan anak sekalipun, dia sudah memiliki predikat ibu terbaik di dunia." Jelasnya, Raka tersenyum bangga menunjukkan kelebihan yang isterinya miliki, tak ayal jika seorang ibu menyayangi putri kandungnya sendiri akan tetapi sangat sulit menyayangi anak tiri dan Pinkan berbeda dari wanita-wanita lain di dunia ini.


"Setuju," Sambung Eric menyeletuk "Eric juga mau cari istri yang modelnya kayak ka Pinkan begini, cantik, baik, keibuan, yang paling penting, seksi!" Pemuda manja itu menaik turunkan alisnya dengan cengiran gigi menyebalkan.


PLAK! Lagi-lagi bungsu menerima satu pukulan di kepalanya "Jaga mata lu, dia sekarang Kaka ipar lu!" Berang Raka posesif.


"Hah?" Eric menatap protes ke arah ayahnya "Siapa Pi?" Tanyanya.


"Lidya, putri cantiknya pak Rahmat!" Jawab santai Baskara sambil terkekeh.


"What! Lidya yang body nya kaya jalan tol itu hah!" Pekik Eric melotot tak terima "Ogah! Mana pedes banget lagi omongannya! Ogah! No! Cari yang bagusan dikit ngapa, yang seksi gitu! Masa dada rata begitu di kasih ke Eric?"


"Hus!" Pekik Irma "Jadi selama ini kamu mandang cewek dari dadanya? Ga boleh begitu bungsu! Mami yang tanggung dosa mata nakal mu itu!" Rutuk nya.


"Ya kan realitanya begitu!" Jawab Eric lagi lalu beralih pada ayahnya "Sekarang Eric tanya ke Papi, apa yang pertama kali Papi liat dari Mami? Jujur!" Pemuda itu menodong laki-laki paru baya itu.


"Hehe, ..." Baskara nyengir "Tentu saja tonjolannya dulu yang keliatan, kalo hati mah kan belum bisa di liat."


"Papi, jadi kamu juga begitu hah! Ngajarin anak messum kamu!" Irma menarik cuping telinga suaminya geram.


Semua orang tertawa terkecuali Murad yang melihat isterinya sendu seakan iri pada iparnya meskipun saat ini dia yang hamil tapi keluarga Baskara masih membanggakan Pinkan Arora.


Lagi pun, kenapa harus memancing? Dalam keluarga Baskara tidak ada satu orang pun yang memiliki sifat tak baik, mereka tumbuh dengan didikan moral dan intelektual tinggi, maka tidak akan ada yang merendahkan seorang istri hanya karena tidak bisa hamil, poin utama kehidupan adalah dia yang mampu membawa diri dari lisan dan juga hati untuk tidak saling menyakiti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan berlalu kembali, sungguh waktu bergulir begitu cepat tiada bisa terhenti barang sekali. Pada akhirnya Murad memutuskan untuk pindah ke apartemen demi membuat sang istri tak merasa tertekan dengan rasa cemburunya. Apa lagi beberapa Minggu terakhir Hayu terus menerus menyindir halus kaka iparnya tanpa memikirkan si pemilik perasaan.


Akan tetapi Pinkan justru merasa kehilangan Murad dan Hayu, rumah mertuanya berubah menjadi sepi lagi baginya, hari-hari dia lalui sama dengan hari-hari lainnya yaitu berbolak-balik ke butik milik ibunya sembari momong putri kecil kesayangannya.


Namun Rupanya pagi ini Zee sedikit terabaikan lantaran ibunya masih setia dengan selimut tebal di atas ranjang super king empuknya.


Gadis itu berjalan sambil mengucek mata menemui ayahnya di ruang tengah "Daddy, daddy."


Raka menoleh dengan kening yang mengerut, tak biasanya gadis itu sendiri "Baby, kamu sendiri? Mommy mana?" Tanyanya sambil sesekali melirik ke belakang Zee mencari-cari sosok isterinya.


"Mommy belum bangun, Zee mau mandi. Ayok Daddy kita mandi." Ajaknya.


"Hah? Mandi? Sama Daddy? Daddy masih banyak pekerjaan sayang. Baby mandi sama mbak saja yah."


"No, sama Daddy! Come on!" Pekik Zee melotot.


Raka menghela napas tapi biarpun kecil gadis itu memiliki pengaruh tinggi "Ok, ok." Pada akhirnya dia mengalah memandikan putrinya sedang isterinya masih belum juga menampakkan batang hidungnya.


Setelah selesai Raka menitipkan Zee pada pengasuhnya ia lantas kembali masuk ke dalam kamar, betapa keningnya mengerut kuat melihat sang istri masih bergulat dengan selimutnya di atas ranjang.


"Sayang, kamu belum bangun juga hmm, sudah pagi, kamu belum shalat loh!" Raka menggoyangkan lengan Pinkan.


"Aku masih ngantuk Daddy, kasih Mommy waktu dikit lagi ajah yah." Pinkan bernegosiasi masih dengan mata yang terpejam malas bahkan membelakangi suaminya.


"Kamu kenapa sih? Biasanya rajin, sejak kapan kamu malas begini hmm?" Raka mencoba membangunkan paksa tubuh isterinya duduk tapi Pinkan masih loyo lalu menghempas tubuhnya ke kasur kembali.


"Sayang, ini sudah hampir jam enam! Bukanya hari ini kamu juga ada pemotretan? Gimana sama gaun rancangan terbaru Mamah hmm? Kamu bilang dah mau di iklan kan! Belum lagi siang ini kita juga harus ketemu pengacara, kamu bilang mau cepat kelar urusan hak asuhnya? Sekarang mandi terus sarapan."


"Iya bentar lagi aku mandi, tapi, kamu yang bikinin aku sarapan ya?" Pinkan berucap tanpa membuka matanya.


"Sarapan?" Raka menautkan alisnya protes " Yang benar saja. Aku mana bisa bikin sarapan? Kamu kan tahu kerjaan di kantor juga dah banyak, mana sempat bikinin kamu sarapan? Itu tugas Ira sama yang lainnya." Lanjutnya.


"Kalo begitu aku ga mau mandi, ga mau sarapan, ga mau ngapa-ngapain juga!"


"What??" Raka mengerutkan kening melihat sikap tak biasa isterinya "Kamu mau jadiin suami mu PRT Yank? Barusan Zee juga aku yang mandiin." Protesnya.


"Bagus, itu berarti kamu suami yang baik, lanjutkan!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



...Ilustrasi Raka & Zee....