
Setelah membayar bill, Raka menggandeng tangan Pinkan yang terus menerus menepis nya "Aku bukan anak kecil yang mau nyebrang jalan Raka! Gak perlu di gandeng juga!" Protesnya.
Raka menggeleng sabar sambil menghela nafas pelan, mungkin benar cerita orang, gadis yang lagi datang bulan emosinya tidak stabil.
Ok stay cool...
"Ih liat dong ya ampun, ya Tuhan, gantengnya." Suara emak-emak berpakaian ketat seperti baru pulang nge-gym membegal jalan Pinkan dan Raka. Keduanya sempat berkerut kening menatap emak-emak milenial itu.
"Namanya siapa dek?" Salah seorang ibu bernama Mia sambil mencubit dagu Raka dengan gemasnya.
"Ra-raka Nyonya, hehe." Raka mati kutu kalau sudah berhadapan dengan emak-emak, menolak pun tak mungkin, takut kualat.
"Ya Tuhan mulusnya pipi kamu sayang." Satu ibu lainnya mengelus pipi Raka "Kamu mau nggak main-main ke apartemen Tante? Duit Tante banyak loh, .." Goda ibu itu membuat Pinkan mengernyit heran.
"Jangan mau, mending ke tempat Tante Diana, Tante Diana punya lapangan golf yang banyak rumputnya, yuk kita main golf malam-malam pasti seru, ..." Sambar ibu satunya lagi.
Raka semakin di buat mengernyit mendengar rayuan maut emak-emak itu, risih, rasanya ingin sekali berlari, tapi semua berubah saat matanya menangkap raut kesal Pinkan yang seakan cemburu.
"Tante, maaf yah, Tante sudah menghalangi jalan kami, kami mau cepat pulang, tolong minggir!" Ketus Pinkan menatap tajam emak-emak itu.
Raka tersenyum melihatnya "Pink, kamu gak boleh begitu sama cewek seksi loh, ..." Ucapnya melemparkan kail.
"Uh, tuh, dengerin dek, si ganteng aja gak masalah kok, mau ngobrol dulu sama kita-kita iya kan ganteng?" Sambung Diana janda seksi pemilik goyangan palu.
"Iya Nyonya, pokoknya kalo urusan cewek seksi, saya paling suka." Sambar Raka dengan cengiran menyebalkan di mata Pinkan.
"Uh, jadi kita masih terlihat seksi yaa?" Timpal Mia sekali lagi mencubit dagu Raka, gemas.
"Wah bukan seksi lagi Tante, kalian tipe tipe cewek Raka pokoknya, kalian mbahinul!" Raka tersenyum playboy.
"Raka! Kamu ngapain si ladenin mereka!" Pinkan memukul dada bidang pria itu, kesal.
"Memangnya kenapa? Jangan pukul pukul gitu dong! Kok kamu kasar si sama ganteng? Kok kamu gak terima? Kok kamu marah-marah? Memang siapa kamu?" Tanya Diana menatap Pinkan dari atas hingga bawah.
"Aku, ..." Pinkan ragu.
"Temannya, memangnya kenapa?" Sambung Pinkan yang pada akhirnya berucap demikian "Lagian Tante ke sini bukanya mau makan? Ngapain nyegat jalan kami?" Lanjutnya judes.
"Yah elah cuma teman doang toh, gayanya udah kayak pacarnya." Sambung Mia dengan bibir yang naik sudutnya.
Lalu mereka sama-sama menatap ke arah Raka kembali "Ganteng, boleh kan kasih nomor nya? Tante boleh telpon kan nanti malam hum?" Tanya Mia.
"Gak boleh!" Pinkan menukas lengkap dengan rahang yang tegas.
"Loh kok kamu yang jawab? Siapa elu? Timbang cuma temen doang posesif!!" Sambar Diana jutek.
"Aku pacar nya, aku calon istri nya! Puas hah!" Pinkan meraih tangan Raka lalu menariknya sepihak.
"Nyonya, nanti kita ketemuan lagi, di sini. Ok!" Raka menoleh ke belakang memberikan kedipan mata membuang kiss bye pada emak-emak itu.
"Raka!" Pinkan menjewer telinga pria itu geram "Ah sakit Yank!" Lalu melengos pergi dengan raut kesal meninggalkan Raka.
"Pink, tunggu, jangan cepat cepat jalannya, ..." Raka mengekor di belakang gadis itu, mengiringi, sambil sesekali menutup mulutnya takut kelepasan tertawa.
"Bodo!" Ketus Pinkan melanjutkan langkah menuju jalan raya.
"Pink, mobil kita di sana ngapain ke sini hum?" Raka mempercepat langkahnya agar bisa mencegat jalan gadis itu.
"Aku mau naik taksi! Kamu balik lagi aja sana, godain tu Tante Tante gatel!" Pekik Pinkan berpaling muka.
"Kamu kenapa si hm? Cemburu? Bukanya kamu gak mau nerima lamaran ku? Terus kenapa tiba-tiba marah begini?" Tanya Raka enteng.
"Jangan pulang sendiri, nanti Om Iyan mikir aku gak tanggung jawab sama kamu!"
"Ya emang kamu gak tanggung jawab, kamu bawa aku ke sini cuma buat nyaksiin kamu kiss kiss ke Tante Tante lenjeh itu!"
"Kamu sendiri gak mau aku kiss! Mending cari cewek lain yang mau aku kiss, kamu liat sendiri kan? Mereka tajir melintir, lumayan, biar udah sedikit keriput tapi depannya masih gede."
"Raka!" Pinkan memukul dada beton pria itu dengan raut murka nya, lalu melengos pergi.
"Mau kemana hmm?" Raka menarik tangan gadis marah itu "Ya ya, aku minta maaf, aku cuma bercanda tadi." Ungkapnya.
Namun Pinkan masih tak mau menatap ke arah Raka, gadis itu benar-benar mendidih aliran darah nya "Jadi sekarang kamu calon istri ku kan hmm?" Raka memiringkan kepalanya berusaha melihat wajah cantiknya tapi Pinkan masih setia dengan diamnya, kesal sekesal kesalnya.
"Kita pulang yah, katanya takut Mamah khawatir, ayok, ..." Dengan lembut Raka menuntun gadis itu memasuki mobil hitam milik nya.
Bibirnya terus menerus tersenyum melihat kecemburuan gadis itu "Terimakasih emak-emak, biar kata udah pada keriput, tapi nanti kalo ketemu lagi, gue cium atu-atu. Akhirnya, Pinkan cemburu juga." Gumamnya seraya berjalan memutar menuju pintu bagian kemudi.
Di dalam Pinkan masih membiarkan sabuk pengaman nya begitu saja, mungkin saking dongkolnya, gadis itu terus memalingkan muka ke arah jendela.
"Pake seat belt nya Yank." Raka mendekat, menarik sabuk pengaman milik pinkan yang masih tak mau menatap nya.
"Kamu masih marah?" Tanya Raka dengan wajah yang sudah sangat dekat.
"Buat apa aku marah! Lagian kita bukan pasangan kekasih!" Ketus Pinkan.
"Jadi kamu benar-benar mau terus menolak ku?" Sambung Raka "Lalu apa alasan kamu marah? Apa benar kamu gak pernah menyukai ku hum?" Tanyanya dan Pinkan masih mempertahankan geming nya.
"Ok, kita pulang, kalo memang kamu menolak ku, aku ikhlas, aku sadar aku bukan laki-laki yang masih bujangan seperti Dimas, aku tau aku sudah pernah menikah, aku juga sudah punya anak, yah, aku sadar diri." Lanjutnya lirih kecewa sendu pilu.
Pinkan menoleh "Sedikitpun aku gak pernah mempermasalahkan status kamu! Aku cuma mau kamu jelasin ke aku, alasan mengapa kamu menceraikan Miska, kenapa kamu mengambil hak asuh Baby Zee secara sepihak? Itu aja! Bahkan sampai detik ini kamu gak pernah mau kasih alasan padaku!" Sergah Pinkan keras.
"Bukannya kamu yang gak mau dengerin penjelasan ku? Kamu yang sudah selalu berpikir buruk padaku, mau berapa kali aku kasih penjelasan panjang lebar pun, kalo pikir mu aku salah, ya hanya akan sia-sia saja. Jadi untuk apa Pinkan?" Sahut Raka yang juga tak kalah kerasnya.
"Ok, sekarang aku kasih tau ke kamu, kronologi kenapa aku mau menikahi teman mu, dia, teman baik mu itu, sudah aku hamili secara tidak sadar, aku berusaha menyukai nya, tapi tidak semudah itu, delapan bulan aku hidup satu kamar dengannya, tapi, tak sedikitpun tumbuh rasaku." Jelas Raka, keduanya saling menatap penuh arti satu sama lain.
"Sedang bersama mu, aku sudah bisa jatuh cinta pada mu hanya pada pandangan pertama ku saja, pertama kali nya aku berkhianat dari Rani, itu karena kamu. Secepat kilat kau mengambil hatiku Pinkan, setiap hari, detik menit, jam, siang malam kamu terus berada di pikiran ku! Sulit sekali aku melupakan mu! Mengikhlaskan mu pergi tak semudah saat hati ku memilih mencintai mu! Sekarang, aku sudah menjelaskan semuanya, lalu apa kamu percaya? Jelas tidak, karena hatimu sudah tersugesti untuk membenci ku." Timpalnya lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Aku percaya." Tukas Pinkan.
"Hmm?" Kening Raka mengerut heran menoleh kembali menatap wajah cantik gadis itu.
"Yah, aku percaya padamu, maaf, sudah berburuk sangka selama ini, maaf selalu menyakiti hati mu dengan tuduhan tuduhan ku." Ungkap Pinkan yang pada akhirnya berucap demikian.
Mendengar itu Raka menyambar gadis itu tapi secepat kilat Pinkan menahan wajahnya dengan kedua tangan "Kamu ngapain hh!" Pekiknya.
"Cium, ..." Raka memanyunkan bibirnya ke depan.
"Gak! Aku minta maaf bukan berarti seenaknya kamu nyium aku!" Sergah Pinkan dengan alis yang hampir menyatu saking herannya.
"Terus gimana? Aku sudah terlalu kangen rasanya." Keluh Raka memelas.
"Pulang gak sekarang!" Pekik Pinkan melotot.
"Satu kali pliiisss, hum!"
Entah terpaksa atau tidak Pinkan mengecup sekilas pipi pria itu "Udah. Sekarang pulang!" Titahnya ketus.
Raka nyengir "Ok. Let's go!" Ucapnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Seperti biasa, aku minta uang parkir cukup tekan tombol Like nyaaaa. Hadiah boleh juga deh, kalo ikhlas, gak juga gapapa, aku mah apa atuh, cuma penulis Amatir 😁 see you next episode.😘