Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
S2/ Chapter dua (Cobaan² Pinkan.)



"Hahaha!" Tawa lepas dua orang wanita terdengar menggema dalam ruangan formal milik seorang dokter.


"Terimakasih yah Lisya, gara-gara lu, gue jadi punya kesempatan buat bikin Raka cerai sama bini sialannya itu!" Desis Rani begitu puas dengan hasil kerja teman dokternya beberapa hari yang lalu.


"Iya, sama-sama Rani, lagian lu denger dari mana, kalo Pinkan mau periksa kesuburan di tempat gue? Lu jadi stalker nya? Lu ngebuntutin dia hah?" Lisya menimpali ujaran sahabatnya dengan heran.


"Rezeki emang gak kemana Sya, ga sengaja gue denger dia curhat di restoran sama temennya, katanya Raka udah mulai nuntut anak darinya, terus temennya bilang, nyuruh dateng ke tempat lu. Ya udah gue jadiin ajah ini kesempatan buat ngerjain tu cewek! Biar rasa sekalian! Suruh siapa main rebut pacar orang!" Sambung Rani dengan seringai di ujung bibirnya.


"Rani, Rani, cerdas banget emang lu kalo urusan beginian. Tapi gimana kalo sebelum dia minum obat dari gue dia udah periksa ke dokter lain? Pasti gue terancam pidana Ran. Atas tuduhan pemalsuan riwayat medis juga pemberian obat palsu." Lisya sedikit takut akan adanya dampak dari pembohongan yang dia lakukan terhadap Pinkan.


"Tenang aja, gue pastiin tu cewek ga kan ke dokter lain, tapi lu bener kan udah kasih dia obat pencegah kehamilan, bahkan mematikan peranakan? Lu yakin gak?" Desak Rani.


"Yakin seyakin-yakinnya! Dia ga kan bisa hamil kalo sampe meminum obat dari gue!" Timpal Lisya pasti.


"Uuuh terimakasih sayang!" Rani memeluk sahabatnya, bahagia, akhirnya setelah sekian lama menunggu, ada secercah harapan untuk dirinya kembali mendapatkan Raka Cyril yang kini sudah di resmikan menjadi presiden direktur di perseroan terbatas Key-food.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain Pinkan tergagu dengan kelicak mata yang mulai mengembun saat membaca helai demi helai surat-surat resmi dari pengadilan agama.


...Pemeliharaan anak yang belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. Bila anak sudah berusia di atas 12 tahun, maka keputusan akan diserahkan kepada anak tersebut untuk memilih antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak asuhnya....


"Jadi Miska benar-benar menginginkan Baby Zee, Murad!" Dia menoleh menatap ke arah adik iparnya, beberapa saat lalu Murad lah yang menerima paket tersebut dari tangan kurir.


Rupanya itu surat resmi dari pengadilan agama Jakarta, atas gugatan hak asuh anak yang di layangkan oleh Miska si pemohon.


Sepertinya Miska sedikit memalsukan keterangan, karena biasanya syarat mengajukan permohonan gugatan hak asuh anak wajib mengasuh anak tersebut minimal selama enam bulan sedang Miska tak pernah sedetikpun mengasuh putrinya sedari Zee lahir.


"Sudah jangan takut, kita masih punya pengacara hebat, lagi pula, kita punya bukti bukti kalo Miska punya sikap yang tidak baik, itu bisa memberatkan dia di sidang nanti, kamu tenang, ada kami yang juga tak kan pernah membiarkan Baby Zee di rebut wanita jallang itu!" Murad mengelus lengan Pinkan tanda ia akan selalu mendukung nya.


"Baby, ..." Pinkan menempatkan tubuh kecil Zee di belahan hangat dadanya "Kamu milik ku, ..." Dia menitihkan air mata jika sudah berurusan dengan anak gadis itu.


Zee masih bingung dengan sikap ibunya yang akhir akhir ini sering menangis di hadapannya hanya saja belum tahu bagaimana cara mengetahuinya "Mommy." Lirihnya dalam dekapan hangat ibunya dia juga merasakan kesedihan wanita itu.


Rupanya di sudut tempat itu ada sepasang iris indah yang mulai terperling, Hayu mencengkeram kuat tepian rok miliknya berusaha mengurangi goncangan dalam hatinya.


"Jadi inikah alasan Mas menikahi ku? Karena Mas sudah gak bisa lagi menjangkau wanita yang sudah menjadi kakak ipar mu. Tuhan, kenapa aku harus tahu hal ini? Sakit sekali rasanya!" Hayu Diajeng melengos pergi menuju kamar miliknya, dalam dadanya seperti ada sesuatu yang menyilet hati rapuhnya, minder, cemburu, semua tertumpuk menjadi satu, tanpa sadar buliran bening mengalir bebas hingga ke bibir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak berapa lama, Murad memasuki kamar miliknya matanya berkeliling mencari sosok cantik belahan jiwanya ingin segera memenuhi kebutuhan rindu yang menyengat di dalam dada sana "Beib, ..." Panggilnya seraya menanggalkan jas hitamnya.


Suara luapan dari isterinya terdengar gaduh dari dalam kamar mandi, ia pun kembali melangkah menuju sumber suara, di lihat nya wanita itu sedang memuntahkan sesuatu pada mulut wastafel.


"Baby, kamu kenapa hh? Kamu sakit?" Murad merenggangkan tali dasi di kerah kemeja putih nya seraya mendekat gusar pada isterinya.


"Uueegh!" Hayu mencuci wajahnya kemudian berdiri tak seimbang di hadapan cermin.


"Kamu kenapa hum?" Murad sempat melihat pendar bening yang bergumul di balik pelupuk mata isterinya sebelum kemudian.....


"Baby! Hayu!" Tubuh Wanita itu melemah dan tidak sadarkan diri dalam pautan tubuh Murad.


"Tuhan, kenapa istri ku?" Mengusung raut cemas Murad menggendong tubuh sintal isterinya.


Di rebahkan nya tubuh itu ke atas ranjang berukuran super king bersprei putih miliknya, kemudian menekan satu tombol dari telepon kabel yang teronggok di atas nakas.


Tuuuuttt, langsung tersambung.


"Iya Tuan muda." Jawaban dari benda berwarna putih itu dalam mode pengeras suara.


"Ke kamar ku segera! Istri ku pingsan!" Titah Murad dengan gusar kecemasannya.


Tak ayal, semenjak kejadian Pinkan keracunan susu bayi keluarga Baskara memang merekrut beberapa dokter pribadi untuk bertugas di dalam rumah besar tersebut, bahkan peralatan medis pun mereka siapkan sesuai dengan standar kesehatan pada umumnya.


"Come on baby, jangan begini," Murad berusaha menyadarkan isterinya dengan memberikan gesekan pada telapak tangan wanita itu.


Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan, Murad menoleh dan satu dokter wanita menggaduh sepatu heels nya pada lantai marmer kamar itu, cemas.


"Apa sebelumnya Nyonya muda sering mengalami pingsan seperti ini Tuan muda?" Tanya Hera sang dokter seraya mengambil posisi sedekat mungkin dengan pasiennya.


"Tidak, ini baru pertama aku melihat dia pingsan, selama ini dia baik-baik saja," Meskipun Murad baru menikahi Hayu selama dua bulan lebih akan tetapi dia sudah mengawasi isterinya jauh sebelum mereka menikah, dan Murad yakin Hayu tidak memiliki riwayat medis yang buruk.


Hera melakukan tugasnya sedang Murad mengerutkan keningnya saat menangkap senyum manis di bibir dokter tersebut.


"Dok, kenapa malah senyum? Anda suka kondisi istri saya begini hah?" Berang Murad sementara Hayu masih mengondisikan gemetar lemas dalam dirinya.


"Sabar Tuan muda, sepertinya dalam perut Nyonya muda sedang ada isinya." Ucap Hera menjelaskan meskipun belum yakin karena belum membuktikannya pasti, lagi pun dia bukan spesialis kandungan.


"Apa?" Hayu menitihkan bulir bening hingga melelehi telinganya, ada gurat kecewa di wajah cantik nya.


"Alhamdulillah, akhirnya!" Murad justru terlihat sangat bahagia.


"Saya akan ambil beberapa testpack dari ruangan saya, setelah itu kita langsung tes, apakah benar Nyonya muda hamil atau tidak, berdoa saja, semoga benar begitu yah Tuan."


"Aamiin, sekarang pergilah, cepat, ambil yang Anda perlukan!" Murad begitu senangnya hingga tanpa sadar mengurak dokter itu.


Hera kembali menuruni anak tangga lalu keluar dan memasuki ruangan medis yang sedikit terpisah dari mansion tersebut. Ruangannya justru berdampingan dengan paviliun kaca di sudut taman.


Ia mengambil testpack kemudian doppler atau biasa di sebut dengan alat dengar detak jantung janin, berjaga-jaga mungkin saja sudah bisa terdengar, pikir wanita itu.


Hera segera memasuki mansion milik Baskara, melangkah cepat menuju kamar Murad kembali.


"Akhirnya, aku berhasil sayang! Yeay, kamu mau jadi Mamah muda." Tiba di kamar rupanya Murad tengah berceloteh bahagia dengan mengibas-ngibas kan ujung hidungnya pada ujung hidung isterinya.


"Mari Nyonya kita langsung periksa!" Ajak Hera tanpa basa-basi, tak perduli kedatangannya mengganggu kemesraan pasangan suami istri itu.


"Oh," Murad menoleh kearah nya kembali lalu beranjak dari posisinya memberikan kesempatan dokter Hera melakukan tugasnya.


"Ayok sayang, gih, cepet, aku ga sabar lagi!" Girang Murad.


Hayu yang masih setia dengan wajah lemahnya turun dari ranjang kemudian di papah Hera masuk ke dalam kamar mandi. Dengan sabar Hera menelateni pekerjaan nya sambil menanyakan seputar kapan terakhir menstruasi dan tanggal biasanya tamu itu datang. Hingga senyum manis kembali mengembang saat melihat dua garis merah pada benda mungil itu.


"Alhamdulillah, ..." Setelah membantu Hayu keluar dari kamar mandi kata hamdalah yang menyeletuk dari bibir Hera.


"Positif Dok? Istri ku hamil Dok?" Murad masih terlihat antusias.


"Selamat yah Tuan muda, kandungan Nyonya muda sudah memasuki Minggu ke delapan."


"What? Minggu ke delapan?" Murad menatap protes isterinya "Baby, jadi kamu gatau kalo kamu lagi hamil anakku hah?" Pekiknya.


Hera tertawa "Maklum Tuan muda, ini kan kehamilan pertama, jadi mungkin sedikit masih bingung."


"No, ini kehamilan ke dua mu sayang, harusnya kamu tahu dong, gimana kalo aku merusak janin kita hmm?" Murad tampak kecewa pada isterinya, setiap malam dia bahkan terus membombardir isterinya dengan hujaman nikmat.


Hera berkerut kening, setahunya mereka baru menikah dua bulan lebih saja. Lalu kapan hamil pertama kali nya? Pikir wanita itu yang tak berani dia luapkan.


Hayu duduk di sisi ranjang lalu Hera segera meninggalkan kamar sang Tuan, memberikan kesempatan kepada sepasang suami istri itu berduaan, tentunya setelah berpamitan terlebih dahulu.


"Beib, kamu kenapa diam saja? Kamu mau apa? Bilang, apa pun yang kamu mau, aku turuti." Murad juga duduk di sebelah kanan isterinya.


"Aku mau pulang!" Ucap Hayu.


"Ke solo? Ok, tapi setelah janin mu kuat, bila perlu setelah melahirkan saja yah. Kalo kamu kangen budhe biar mereka saja yang datang ke sini." Tutur Murad.


"Aku mau sekarang, pulangkan aku, aku mau kita cerai." Lirih Hayu Diajeng menatap nanar iris indah milik suaminya.


"Apa?!" Murad seperti mendengar gelegar petir di siang hari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...