Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Hujan.



..."Derasnya rintik hujan dan gemuruh petir tak ku pedulikan ketika kau tahu bahwa aku mencintaimu" Bucin Murad Earl....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aaaaah sakit Miko. Bisa pelan sedikit tidak kamu?" Bentak Murad meringis sambil melototi pria itu.


"Ini sudah paling pelan Tuan muda." Miko masih sibuk mengoleskan krim alergi ke seluruh tubuh anak majikannya "Sabar, ..." Sisi batinnya.


Keduanya duduk di sofa hotel kamar VVIP milik Murad, setibanya dari kampung Hayu kulit bening sang tuan muda muncul ruam merah yang terasa sangat panas. Sepertinya Murad alergi dengan rumput persawahan.


"Kalo aku saja begini, apa lagi Hayu yang kulitnya selembut itu? Dia pasti juga gatal-gatal lebih parah dari ku!" Rutuk Murad menatap tangan Miko yang masih mengobatinya.


"Belum tentu Tuan muda." Sambung Miko melirik sekilas ke arah wajah Murad di sela aktivitas nya "Nona Hayu sudah terbiasa dengan udara juga lingkungan hidup di sana, jadi pasti kulitnya lebih bisa beradaptasi, saya yakin Nona Hayu tidak akan apa-apa." Lanjutnya menenangkan.


"Semoga saja." Anggukan kecil Murad penuh harap "Tapi, sepertinya dia sangat membenciku, aku memang pantas di benci." Timpalnya sendu.


"Semangat Tuan muda, saya tahu ini tidak mudah, tapi tetap berusaha, kita ini laki-laki. Setelah Tuhan memilihkannya. Tinggal bagaimana cara manusia nya mendapatkan." Kata penyemangat dari Miko sambil tersenyum.


"Bicara mu sudah seperti punya pacar saja!" Sindir Murad mencibir asisten bujang akut nya. Lalu Miko hanya tersenyum murah.


Sembari menunggu ruam di kulitnya membaik Murad duduk-duduk di balkon kamar hotelnya, dengan bibir yang terus berkecumik kesal, seandainya saja tidak alergi mungkin sekarang dia sudah bertemu dengan gadisnya. Tapi ya sudahlah, nasib berkata lain.


Setelah Maghrib pemuda itu bergegas pergi menuju kampung K kembali, meskipun masih ada sedikit ruam yang belum hilang, tak apa, malam hari ruam itu tidak terlalu ketara, kaki Murad sudah gatal ingin segera bertemu gadisnya.


Tentunya masih di temani oleh Miko sang asisten setia nan penyabar. Perjalanan dari hotel ke kampung tersebut hanya butuh waktu lima belas menit saja, dekat, namun sepertinya cuaca kali ini tak mendukung, lamat-lamat sudah terdengar gelegar kecil petir tanda akan datangnya sang hujan, angin pun mulai menggoncang pepohonan di iringi suara riuh dari daun yang bersahutan.


Tapi hal itu tak mengurungkan niat mantap Murad, pemuda itu tetap mengeluarkan sepatu sneaker mahalnya, menginjakan kaki ke depan gang, di mana dia bisa langsung menuju halaman rumah Hayu Diajeng. Sebelumnya Murad memang sudah mengetahui alamat gadisnya dari Rahmat.


"Mau saya temani Tuan?" Tanya Miko.


Murad menggeleng "Tidak perlu, aku bisa sendiri Kamu tunggu di sini saja. Mungkin sebentar lagi pak Rahmat juga ke sini." Titahnya yang lalu dijawab dengan anggukan kecil laki-laki itu.


Murad melanjutkan langkah menuju tempat di mana dia bisa menemukan gadis cantiknya, jantungnya mulai berdegup kencang kala mengingat akan pertemuannya dengan Hayu Diajeng kembali. Huff, semoga kali ini Hayu mau diajak bicara, harap dalam doanya.


Seperti biasa kemeja dan celana jeans kasual yang Murad pilih, aroma parfum maskulin yang ia pakai lumayan memberinya kepercayaan diri.


Tis tis, Murad mendongak merasakan rintik gerimis yang masih jarang-jarang mengenai kulit wajahnya, pemuda itu lantas menengadahkan tangannya memastikan bahwa yang mengenainya benar-benar tetesan air hujan.


Tis tis, kali ini tetesannya lebih kerap dari sebelumnya rupanya memang benar malam ini akan hujan yang lebat.


Oke tak masalah, Murad sudah bertekad bahwa malam ini juga dia harus bisa mendapatkan Maaf Dari Hayu Diajeng. Jangan kan hanya gerimis, hujan badai pun Murad akan tetap meneruskan niatnya.


Setelah melewati beberapa hunian kecil, kini langkah Murad sudah akan memasuki pagar rumah yang dia tuju namun tiba-tiba saja suara berseru dari belakang tubuhnya.


"Cah ganteng mau kemana?" Tanya wanita itu memastikan dengan suara yang lumayan membuat Murad tersentak kaget.


"Eh," Toleh nya menatap satu orang ibu menggandeng satu orang anak perempuan membawa perlengkapan shalat seperti baru pulang dari musholla, mungkin baru saja mengikuti ibadah shalat isya "Saya mau cari hayu Bu." Murad tersenyum ramah pada wanita ramah itu.


"Oh, Hayu, anak itu kalau jam segini masih di masjid, tapi mungkin sebentar lagi pulang kok. Jadi tunggu saja di depan rumah nya," Jelas wanita itu memberikan informasi.


"Oh begitu," Murad manggut-manggut.


"Kalo begitu saya langsung masuk, hujan." Pamit wanita itu yang lalu dijawab dengan anggukan kecil Murad "Iya, silahkan, terimakasih Bu." Ucapnya sembari memberikan tundukan kepala sopan.


Kedua perempuan itu pun pamit lalu memasuki rumah yang berhadap-hadapan dengan rumah milik Hayu. Mereka memang tetangga baik Hayu yang sudah seperti keluarga.


Setelah itu Murad kembali melanjutkan langkah menuju teras rumah sederhana Hayu yang menurut Murad sangat kecil bahkan luas tanahnya tidak lebih besar dari satu kamar di rumah utama Baskara.



"Jadi ternyata ini rumah Hayu?" Gumamnya pelan lalu duduk di kursi panjang yang terletak tepat di depan kamar Hayu Diajeng. Keadaan kampungnya sepi rintikan gerimis juga semakin kerap saja bahkan sudah mulai turun hujan.


"Apa, Hayu kehujanan? Atau Jangan-jangan dia berteduh di tempat lain?" Murad mulai gelisah. Tapi tidak melakukan apa-apa selain dirinya setia menunggu di kursi panjang milik Hayu. Lagi pula mau menyusul ke mana? Di desa itu Murad belum tahu banyak rutenya.


Klik Miko mengirim kan pesan padanya dan lumayan sedikit mengobati kesendirian pemuda itu.


📩 "Hujannya deras Tuan, apa mau saya jemput saja? Kita pulang?" Pesan Miko.


Murad menggeleng sambil memainkan jemarinya di atas layar tipis miliknya "Ti...." Belum rampung Murad menulis balasan, matanya di kejutkan dengan sosok seorang gadis yang menampakkan dirinya mendekat ke arah nya. Gadis itu menerjang derasnya hujan dengan payung kecil yang sedikit menutupi pandangannya hingga tak menyadari bahwa di teras rumah kecil itu ada pemuda tampan duduk di kursi kayu panjang.


"Hayu!"


Sontak Hayu menoleh ke sumber suara dengan tatapan tajam yang langsung tertuju pada pemuda itu "Kamu! Mau apa lagi kamu kesini?" Berang nya.


Murad tersenyum "Aku masih mau bicara denganmu." Jawabnya penuh harap.


Namun tak Ada jawaban apapun dari Hayu, gadis itu hanya langsung melangkah menuju pintu masuk utama kediaman sederhana miliknya tapi secara impulsif Murad membegal jalannya, bahkan tangannya menahan lengan gadis itu "Hayu, Tolong kasih aku kesempatan, please." Lirihnya dengan tatapan penuh harap.


Hayu masih tak mau mengatakan sepatah katapun, dia hanya menatap tangan Murad yang menyentuh lengannya dengan tatapan menusuk, hingga dengan sendirinya tangan itu terlepas, kali ini Murad membiarkan Hayu masuk, tapi sebelum itu, pemuda itu lebih dulu berucap.


"Aku akan terus menunggumu di sini, sampai kamu mau memaafkan ku!" Murad setengahnya mengancam namun sepertinya ancaman itu tak berarti apa-apa baginya. Hayu tetap melanjutkan langkah memasuki kediamannya lalu menutup pintu tak mau memperdulikan Murad yang masih setia menatap tenggelamnya Hayu di balik pintu berwarna hijau tersebut.


Hujan semakin deras, angin pun sudah bercampur badai, hawa dingin mulai mencekik tubuh pemuda nan tampan itu, sesekali tangan Murad menggesek lengannya sendiri sekedar mengurangi hawa dingin yang membuatnya menggigil, bahkan tak jarang Murad mengelap wajahnya yang terkena tampias air hujan.


"Hukum aku sepuas mu, asalkan pada akhirnya kau bisa memaafkan ku!" Gumamnya lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedang di dalam, Hayu sudah memasuki kamar mandi kecilnya mengganti pakaian yang basah dengan piyama, sebelumnya Ia juga sempat mencuci muka dan menggosok gigi karena setelah itu Hayu langsung menaiki tempat tidur lalu memasuki selimut bahkan menenggelamkan seluruh tubuh dan wajahnya di bawah sana, cuaca hujan yang sebegitu derasnya mungkin bisa membuatnya lebih mudah terlelap.


"Bismillah." Ucapnya.


Namun kenyataannya tak semudah yang dibayangkan, Hayu justru tak bisa tenang membiarkan pemuda tampan kedinginan di luar rumahnya. Mata yang ia pejamkan secara paksa sudah tak kuat lagi untuk terbelalak sedang tangannya menyingkap selimut yang menutupi wajah.


"Ya Tuhan, kenapa dia harus ke sini lagi? Sebenarnya dari mana dia tahu alamat rumahku? Bikin pusing saja!" Monolog nya gundah.


Dengan perasaan yang bercampur aduk Hayu menyingkap selimut dari tubuhnya lalu berjalan perlahan mendekati jendela kamarnya, di intip nya pemuda yang masih duduk setengahnya meringkuk di kursi panjang terasnya.


"Ngapain dia masih di sini? Apa orang tuanya tidak mencari nya? Gimana kalo dia sakit? Mana hujan makin lebat. Kebanyakan nonton FTV dia pasti, jadi niruin adegan konyol mereka!" Rutuk nya lalu berjalan mondar mandir dengan jari yang mengetuk ngetuk dagunya, bingung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di luar, Murad sudah sedikit meringkuk kan tubuhnya di kursi kayu itu, kakinya ia tekuk lalu ia peluk sendiri, seadanya saja Hayu mau menggantikan betisnya mungkin akan terasa lebih hangat.


Dering dari gawai tipis di dalam saku celana terus memanggil-manggil, sudah lama minta di perhatikan tapi tak sedikitpun Murad hiraukan.


Bibirnya mulai membiru saking menusuknya angin malam bercampur air hujan yang menerpa tubuh "Kamu belum tahu Hayu, aku punya sifat yang pantang mundur, sebelum lembur." Batinnya masih sempat membuang smirk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Like sebelum Next.