
Sore ini seluruh karyawan yang tidak lembur sudah mulai berhamburan, ada yang masih dandan menunggu jemputan, ada yang sudah naik lift ada juga yang masih ngobrol asyik dengan temannya.
Pinkan sendiri sudah berjalan keluar dari lobby kantor, menuju mobil pink miliknya yang masih terparkir.
Siang tadi Pinkan benar-benar di buat terperangah oleh rekaman CCTV yang beredar di internet, ternyata benar semua yang Kania katakan padanya, Pinkan benar-benar melihat detik detik di mana video itu menunjukkan kecurangan sahabatnya.
Bahkan beredar juga saat Miska dan Raka memasuki hotel, di sana Miska lah yang mengambil kunci kamar sendiri di bagian resepsionis, Pinkan benar-benar terperanjat dengan aksi sahabatnya yang selama ini ia bela mati-matian, jadi, itu alasan Miska selama ini? Pantas saja selama berhubungan dengan Raka, dia tak pernah memperkenalkan Raka sebagai suaminya, sudah jelas dari awal Raka memang tak pernah menerima atau hanya sekedar mengakuinya.
"Oh ya ampun, gue kenapa? Kenapa tiba-tiba pusing begini?" Ucapnya.
Tangannya memegangi kepala yang terasa mengambang, sesekali Pinkan memejamkan matanya karena pandangan yang mulai kabur.
Greek!
Jalan Pinkan sempoyongan hampir terjatuh untung saja seseorang menangkap tubuh nya dari belakang.
"Emmh, maaf." Pinkan menoleh ke arah pria itu dilihatnya senyum manis menyapanya "Kak Dimas. Terimakasih." Ucapnya seraya membetulkan posisi berdiri nya.
"Iya, lu kenapa? Lu sakit hm?" Tanya Dimas.
"Gapapa kok." Pinkan menggeleng namun tangannya masih rajin mengelus dahinya.
"Aku antar yah, kayaknya kamu gak bisa nyetir dalam keadaan seperti ini." Ajak Dimas.
Derap langkah kaki terdengar mendekat membuat Pinkan dan Dimas menoleh, melihat sosok indah dengan wajah jutek berdiri di hadapannya.
"Ikut aku!" Pria itu meraih lengan Pinkan menariknya, sepihak.
"Bang!" Dimas mencegah jalannya, menatap protes Raka "Lu ngapain? Main tarik tarik Pinkan sembarangan?" Pekiknya. Kenapa seorang manager berani memekik direktur nya? Kenapa memanggilnya dengan sebutan abang? Yah, Dimas masih saudara sepupu Raka, Baskara dan ayah Dimas kakak beradik.
"Lu minggir, gue mau antar calon istri gue!" Pekik balik Raka melotot sedang tangannya masih mempertahankan tangan Pinkan yang masih rajin mengerjap kan matanya pusing, tak mengurus kedua laki-laki yang berseteru.
Dimas tersenyum cibir "Calon istri? Sejak kapan? Kok Pinkan gak pernah cerita ke gue?" Sambung nya.
"Ya ngapain dia cerita ke elu, penting banget lu?" Sindir Raka "Minggir!"
"Pink!" Dimas hanya menatap nanar punggung kedua orang itu yang perlahan menghilang dari pandangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedang di tempatnya Pinkan mulai berontak mencoba menarik tangannya dari Raka "Ngapain si kamu hah!" Pekiknya.
"Aku antar kamu pulang, lihat lah kamu lemes, pucat, muka kamu sudah mirip zombie! Ini pasti gara-gara kebiasaan diet gak jelas kamu itu!" Rutuk Raka.
"Siapa juga yang diet." Pinkan mengalihkan pandangan ke arah lain, cemberut, dan itu terlihat menggemaskan bagi laki-laki ini.
"Kamu bilang gamau berurusan sama pegawai magang, kamu tuduh aku sembarangan siang tadi, terus ngapain sekarang kamu antar aku pulang!" Pinkan mendemonstrasikan perasaannya.
"Ya ya, aku minta maaf!" Ucap Raka jutek.
"Sekarang masuk!" Raka memaksa Pinkan masuk ke dalam mobilnya.
"Gamau, aku bawa mobil, gimana sama mobil ku!!" Tolak Pinkan.
"Biar Arjuna yang bawa mobil mu, sini kuncinya!" Raka merebut kunci mobil Pinkan seenaknya.
"Raka! Ih kamu tu, ..!!"
"Apa?" Tukas Raka mencuatkan wajahnya dengan alis yang naik sebelah "Sekarang masuk gak! Atau aku kasih laporan dengan nilai nol ke kampus mu!" Ancamnya.
Pinkan mendengus lalu dengan cepat gadis itu masuk ke dalam mobil hitam milik Raka "Dasar manusia kejam!" Umpatnya menggerutu.
Di luar Raka melemparkan kunci mobil milik Pinkan pada asisten personal nya "Lu bawa mobil pink di ujung itu, alamat nya gue kirim." Titahnya kemudian masuk ke jok bagian kemudi setelah Arjuna mengangguk setuju.
Tanpa basa-basi lagi Raka langsung melajukan mobilnya berlalu dari halaman parkir kantor membelah jalanan ibukota Jakarta di sore hari dengan segala hiruk pikuk para pejuang rupiah yang sudah menampilkan wajah lesu.
Di dalam mobil mewah itu Pinkan masih tak mau membuka suara begitu juga Raka yang masih fokus dengan kemudinya, mereka masih setia menggulati pikirannya masing-masing. Hingga tiba lah mobil itu di sebuah restoran romantis yang enam bulan lalu menjadi tempat pertemuan terakhir mereka.
"Makan!" Raka turun dari mobil lalu membuka pintu lainnya, tangannya ia letakkan ke atap mobil "Turun." Titahnya.
"Gamau, ngapain, aku mau makan di rumah, kenapa kita gak langsung pulang aja si!" Tolak Pinkan tak mau bergerak sedikitpun dari posisinya.
"Oh, kamu mau aku kasih nilai jelek ke kampus mu hum?" Ancam Raka lagi-lagi.
"Huff!" Dengus Pinkan lalu turun dari mobil dengan lesunya, kemudian berjalan beriringan memasuki restoran mewah tersebut, seperti biasa langkah keduanya menuju meja VVIP.
Layaknya pasangan kekasih, Raka menarik satu kursi menawarkan pada pujaan hatinya "Duduk di sini." Ucapnya lalu Pinkan menurut dari pada di beri nilai jelek atau mungkin memang sudah mulai empati.
Setelah itu Raka juga ikut duduk tepat di sebelah gadis itu bahkan menggeser kursinya lebih dekat lagi "Mau makan apa hm?" Tanyanya lembut.
"Terserah."
"Gada menu terserah Pinkan, sushi? Pasta? Ramen? Cordon blue? Teriaki? Steak? Nasi goreng? Yang mana?" Tawar Raka.
"Nasi goreng!"
"Gitu dong, ..." Raka memanggil pelayan lalu memesan makanan lengkap dengan minuman dan snack nya. Kemudian bersabar menunggu pesanan sambil memainkan ponsel nya masing-masing.
Beberapa menit berselang, satu pelayan menyajikan makanan sesuai pesanan mereka lalu Raka segera mengambil alih piring Pinkan.
"Aaakk!" Seperti biasanya Raka menyuapi gadis itu makan.
"Aku bisa sendiri, .."
"Emm, ..." Pinkan tak bisa menolak jika duda tampan ini sudah beraksi.
"Hilangkan kebiasaan diet kamu itu, boleh suka makan buah, tapi jangan lupa makan karbohidrat juga, lagi pula gak perlu takut gemuk, yang penting sehat, gak loyo." Di sela menyuapinya Raka merutuki gadis itu.
Sedang mata Pinkan terus menatap lekat wajah tampan Raka yang begitu hangat padanya, setelah mengetahui kebenaran dari Kania, sudah tak ada alasan bagi Pinkan membenci pria ini, Pinkan sempat marah pada Miska tapi di sisi lain Pinkan bahagia ternyata Raka bukan laki-laki kejam seperti yang ia bayangkan selama ini, bahkan ia sempat menepis jauh-jauh perasaan sukanya.
"Apa aku harus menjilat ludah sendiri? Aku sudah menolak perjodohan ini, lalu kenapa aku sepasrah ini menerima perlakuan manisnya?" Batin Pinkan berkata pilu. Matanya menyimak Raka yang kini mengambil tissue dan mengelap ujung bibirnya.
"Kenapa menatap ku begitu? Baru sadar aku tampan hm?" Goda Raka dengan wajah yang ia condong kan pada gadis itu.
"GR!" Pinkan mengambil alih tissue dari tangan Raka lalu mengelap bibirnya sendiri, pandangannya ia paling kan ke arah lain.
"Makan lagi, habiskan." Raka memberikan suapan lagi.
"Udah, gamau, lagian aku lemes bukan karena diet, tapi emang lagi datang bulan." Jelas Pinkan cemberut.
"Hah?" Raka tertegun mendengar pengakuan gadis itu "Memang kalo cewek datang bulan begitu?" Tanyanya.
"Hmmm." Respon singkat dari Pinkan tanpa menoleh.
Raka mengulas senyum tipis menatap wajah cantik Pinkan, sepertinya gadis itu sudah mau di ajak berdamai dengan nya. Selanjutnya tangan Raka mulai meraih tangan Pinkan lalu menggenggam nya dengan kedua tangan.
"Aku merindukan mu." Ucapnya yang sudah tak bisa menahan kata-kata romansa dari bibirnya membuat jantung gadis itu berdetak lebih kencang dari biasanya seakan ingin melompat dari tempatnya, kali ini Pinkan benar-benar tak mau menatap wajah Raka.
"Apa kamu yakin, akan terus menolak ku? Kamu tau aku tulus padamu." Ucap Raka lagi dengan suara lirih penuh harap.
Dan Pinkan menarik tangannya tanpa menggerakkan kepalanya sedikitpun "Ini sudah sore, aku takut telat, Mamah pasti khawatir, sekarang antar aku pulang!" Pintanya.
Raka menyugar rambutnya ke belakang menampilkan raut kecewa, tapi, masih banyak hari untuk melanjutkan usahanya, mungkin untuk hari ini ia harus rela menutup dahulu upayanya.
"Ok, kita pulang!"
Raka menjentikkan jarinya memanggil pelayan lalu membayar bill dengan kartu kredit no limit nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Semangati author dengan like dan komentar nya, biar terus update ❤️you all.