Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Hujan²



Kembali ke kamar Hayu Diajeng, gadis itu sudah lelah dengan jalan mondar-mandir tak jelas, kemudian tanpa mau berlelah pikir lagi, dia membuka lemari kecil miliknya lalu meraih switer abu-abu milik Murad yang masih ia simpan dengan baik bahkan sangat wangi. Dulu saat pulang kampung Hayu memang sengaja membawa switer itu sebagai kenang-kenangan tapi sepertinya hari ini si pemilik sedang membutuhkannya.


"Aku balikin saja switer ini." Gumamnya, untuk sejenak Hayu memejamkan mata sambil menghela napas, berusaha kuat menemui pemuda tampan yang delapan bulan lalu merenggut kesucian nya.


"Aku memang sakit hati, tapi aku bukan orang jahat yang tega membiarkan pemuda mati kedinginan di depan rumah ku sendiri!" Hayu berusaha menampik perasaannya, sebisa mungkin beralibi bahwa dia melakukan itu bukan karena perduli tapi atas dasar kemanusiaan saja.


Dengan mantap Hayu berjalan membuka pintu kamar lalu pintu keluar, dirasakannya angin kencang menyambut kedatangannya, sejenak Hayu berdiam diri menatap tubuh gagah pemuda itu dari ambang pintu.


Posisi Murad tak beralih selain dari tangannya yang sibuk menggesek lengannya mencari kehangatan. Melihat itu Hayu melangkahkan kakinya mendekati pemuda yang masih memeluk betisnya sendiri.


"Pakai ini!" Hayu menyodorkan sweater abu-abu itu pada si pemilik, lalu Murad mendongak, tersenyum menatapnya meskipun dalam keadaan yang sudah menggigil hingga menggoyangkan kursi kayu itu "Kamu bisa pulang sekarang! Aku sudah memaafkan mu! Pulang lah!" Titah Hayu kemudian memberikan satu payung padanya.


Greek!


Ditariknya tangan Hayu hingga terduduk dalam pangkuannya lalu membelenggunya sepihak dengan lingkaran tangannya "Aku kedinginan Yu, aku membutuhkan mu." Cup, di kecup nya bibir lembut milik Hayu dengan mata yang terpejam, menggesek gesekkan hidung bangir yang terasa dingin itu ke wajah Hayu berusaha mengurangi gigilan nya.


Hayu Diajeng hening menerima sentuhan dari pemuda bertubuh dingin itu, rasanya ingin sekali melepas hawa dingin yang menyergap Murad saat ini, meski mulut berkata benci tubuhnya sulit sekali ia paling kan, perlahan tangannya naik ke tengkuk yang juga terasa sangat dingin milik Murad seraya memejamkan matanya menikmati permainan bibir sang pemilik hati.


Yah, selama ini Hayu sering diam-diam mengingat kembali kala dirinya berada satu nikmat dalam satu selimut dengan Murad delapan bulan lalu, meskipun sedikit meronta tapi saat itu dia tidak terlalu terpaksa, rontaan itu hanya sekedar untuk membenarkan dirinya sendiri saja yang tak sadar juga menginginkannya.


Bibir mereka tak mau diam keduanya saling membelit satu sama lain. Hanyut dalam permainan benda tak bertulang yang mencari kehangatan, tangan Murad juga tak mau kalah, ia bergerak sesuka hati mencari bagian tubuh yang terasa lebih hangat, hingga pada akhirnya tangan kanannya berlabuh menyelundup masuk ke piyama milik Hayu.


Sontak mata Hayu terbelalak raba tangan yang terasa dingin milik Murad mengembalikan kewarasan gadis itu saat itu juga. Di dorong nya bahu Murad hingga terpentok sandaran kursi kayu "Kamu! Beraninya kau!" Berang nya lalu membalikkan tubuhnya berjalan cepat memasuki rumah.


BRAK!


Belum sempat tertutup pintu itu sudah di tahan oleh kaki panjang Murad lalu ikut masuk secara impulsif. Secepat kilat, hingga kini keduanya sudah berada dalam satu ruangan yaitu ruang tamu berukuran kecil milik Hayu.


"Mau ngapain kamu masuk kes sini hah?" Hayu membelalakkan matanya heran "Keluar!" Usir nya memekik.


BRAK!


Tangan Murad membelenggu tubuh mungil Hayu, menyudutkannya pada pintu tanpa menyentuh kulitnya sedikitpun "Kamu juga menyukai ku, iya kan hmm?" Tanyanya dengan tatapan yang melekat pada wajah cantik gadisnya.


"Aku tidak pernah terpikir untuk menyukai mu!" Sergah Hayu dengan cepat menjawab.


"Lalu kenapa kau membalas ciuman ku hm? Kamu juga tidak tega membiarkan ku kedinginan di luar. Apa arti itu semua?" Sambar Murad, Hayu sampai menelan saliva saking gugupnya, di cuaca dingin begini bulir keringat mengembun menghiasi dahi.


"Jawab Hayu, kamu juga menyukai ku bukan? Buktinya kamu masih menyimpan baju ku dengan baik, bukan kah seharusnya kamu tidak menyimpan satu benda pun milik ku?"


"Teriak saja, kalo begitu kebetulan, biar semua tetangga mu datang ke sini, aku tidak akan lari, justru aku akan berbuat nekad padamu, paling-paling hukumannya di nikah kan! Di suruh bertanggung jawab padamu, dengan senang hati aku akan menikahi mu." Tantang Murad enteng.


"Kamu gila hh?" Hayu semakin di buat heran dengan ucapan demi ucapan pemuda itu.


"Ya, aku memang gila, aku sudah gila karena mu Hayu!" Pekik nya mengaku "Kamu tahu Hayu? Karena rasa bersalah siang malam pagi sore aku terus memikirkan mu, sekarang wajah dan namamu sudah terbiasa bersemayam di pikiran ku, ternyata delapan bulan ini tanpa sadar aku betah memikirkan mu Yu, aku sudah menyukai bahkan mencintai mu!" Ungkapnya emosional membuat Hayu semakin tercengang, apa ini pria yang sama dengan pria yang dulu menghardiknya? Pikir gadis itu.


"Sehari saja, sehari saja aku tak mendengar kabar mu, aku gusar, nomor pak Rahmat terus menerus aku teror, aku telepon aku SMS tiada hentinya!" Beber nya. Hayu berkerut kening menatap bingung pemuda itu, sungguh gadis itu tak tahu menahu tentang hubungan Rahmat dengan Murad.


"Kamu penasaran kan? Kenapa aku mengenal suami majikan mu?" Tanya Murad setelah melihat ekspresi bertanya-tanya Hayu di balik kediamannya.


"Aku yang menyuruh pak Rahmat merekrut mu, aku yang selama ini melindungi mu dari kejauhan, aku yang menggaji mu, aku yang terus berada di belakang mu selama ini." Timpalnya jujur, biarlah malam ini Hayu mengetahui semuanya.


Hayu memejamkan mata yang menggelinding kan buliran kristal sebening embun pagi ke pipi lembutnya, gadis itu sudah tak mampu berkata apa-apa. Dadanya begitu terasa sesak. Selama ini dia bahkan tak bisa berdiri di kakinya sendiri, Hayu merasa tidak berguna.


"Hiks hiks, ..."


"Maafkan aku." Murad menyeka buliran bening di pipi gadis itu, lembut sedang matanya mengamati setangkup bibir Hayu yang bergetar mengurai tangis.


PLAK


Tepis Hayu "Sudah ku bilang aku memaafkan mu, sekarang pergi dari sini!" Hayu menunjuk ke arah pintu, mengusir dengan berteriak.


"Bukan dengan cara itu kamu memaafkan ku Yu." Tampik Murad.


"Lalu bagaimana? Aku harus apa? Apa aku harus menyiarkan ke semua orang bahwa aku memaafkan pemuda yang sudah memperkosa ku begitu?" Berang Hayu menceku.


"Menikah lah dengan ku! Hanya dengan cara itu saja, aku bisa menganggap mu sudah benar-benar memaafkan ku!"


Sontak mulut Hayu terperangah mendengar kalimat itu.



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Spesial bab ini panjang kan? ✌️😁 Terimakasih yang masih mengikuti cerita ini dari awal sampai bab ini, tunggu juga kabar terbaru dari babang Raka dan neng Pinkan yah🤗 See you next episode. Monggo di Like dulu.