Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Beku.



Suara isak tangis terdengar lirih di dalam kamar yang berdominasi warna hitam, di atas ranjang berukuran 200x200, gadis yang sudah tak perawan lagi meratapi nasibnya setelah hilangnya mahkota berharga miliknya yang di renggut paksa oleh seorang pemuda.


"Hiks hiks."


Dalam dekapan posesif gadis itu tak mampu berkutik meskipun napas terasa sesak saking eratnya pelukan itu.


Rupanya tangis yang semakin kerap membuat pemuda di belakangnya menggeliat dan semakin mendusel ke tengkuknya menghirup aroma damai di sana "Hangatnya kamu Baby."


"Hiks, ..." Isak nya sekali lagi yang berhasil membuat pemuda itu tersadar dari ruang halusinasi.


"Kau!"


Pekik pemuda yang tak lain adalah Murad Earl, dia duduk melotot sambil memegangi kepala yang masih terasa sangat berat dengan kerutan di keningnya.


"Hiks hiks." Jawaban dari gadis bukan perawan itu membuat ingatan Murad seketika berlayar ke sepuluh jam yang lalu.


Flashback on


"Tuan muda jangan terus minum minuman, tubuhmu bisa rusak! Lebih baik Tuan muda lepaskan dengan ikhlas Nona Pinkan, dia sudah bahagia bersama Tuan Raka, jodoh sudah ada yang atur Tuan." Rutukan dari Miko yang kini memapah tubuh lunglai pemuda tampan berwajah sendu itu memasuki kamar nya.


"Berisik! Kamu tidak tahu rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama, aku bisa melupakan cinta pertama ku cuma karena dia, lalu sekarang aku di suruh melupakan nya juga begitu?" Murad membuang senyum sinis di sudut bibirnya "Dengan cara apa? Setelah lulus dari sini, aku pasti satu rumah dengan nya, melupakannya pasti akan sulit sekali di lakukan." Racauan nya dengan nada lengar.


Brugh!


Tanpa menjawab apapun lagi Miko membaringkan tubuh Murad di atas ranjang king size lalu melucuti sepatu, jam tangan dan long cardi pemuda itu sebelum kemudian ia melangkah keluar dan menutup pintu, membiarkan sang Tuan berisitirahat.


Miko segera memasuki kamar miliknya sendiri yang terletak di lantai bawah karena sudah terlalu letih dengan tugasnya yang begitu menguras energi, meladeni pemuda yang patah hati cukup membuatnya frustasi. Sejenak Miko juga ingin beristirahat di atas ranjang empuknya meregangkan otot-ototnya di atas pembaringan sementaranya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak lama dari itu di dapur minimalis yang masih berada dalam lingkup apartemen mewah itu, Hayu Diajeng sudah menyibukkan dirinya, sudah menjadi kebiasaan di kampung bangun subuh hari, gadis itu lantas menyingsing lengan bajunya lalu mulai berkutat dengan piring di wastafel setelah mengikat rambutnya ke atas hingga tampak lah leher jenjang mulusnya.


"Semoga saja, mbak Ira merasa terbantu dengan adanya saya di rumah ini." Hayu bergumam dengan bahasa daerahnya sendiri, Solo.


Sudah satu hari lebih gadis itu tinggal di apartemen ini, yang awalnya Miko tak setuju karena Baskara tak memperbolehkan putranya membawa gadis asing masuk ke apartemen nya, tapi, yang namanya Tuan muda mana ada yang mau kalah dari asisten, Murad tetap memperkerjakan Hayu Diajeng di sana, lagi pula sebelum dia bisa membantu mengurus kepulangan Hayu ke Indonesia kembali, untuk sementara Murad memakai jasanya terlebih dahulu, selain novel NT di dunia ini tiada yang gratisan bukan?


Tangan Hayu masih sibuk dengan busa sabun tapi tiba-tiba saja sebuah sentuhan erotis melingkar di perutnya mematuk leher jenjang yang tampak lapang "Jadi kamu di sini Marni? Orang-orang bilang hari ini kamu menikahi bang Raka." Bisikan yang menyusul di telinganya.


Hayu menggeliat geli lalu reflek menoleh ke arah pemuda berbau alkohol itu "Tuan, maaf, a-apa yang T-tuan lakukan?" Gugupnya gemetar.


"Sudah ku bilang jangan panggil Tuan Marni, panggil aku Murad!"


"T-tapi, ..." Belum rampung ucapan gadis itu Murad membalikkan tubuh Hayu lalu mendaratkan hidungnya di ceruk lehernya.


Aroma damai seorang Hayu Diajeng menyedot seluruh gairah di dunia halusinasi sang Tuan muda.


"Tuan, ku mohon jangan, jangan lakukan ini, sadar Tuan, Tuan sedang mabuk, saya bukan wanita yang Tuan sebut namanya itu, saya Hayu Tuan." Gadis itu berusaha menyadarkan Murad namun sayangnya senyawa dari Vodka yang sudah menjalari aliran darahnya terus melesat kan halusinasi nya.


"Ahh, j-jangan, ..." Hayu tak bisa terlepas dari belitan pemuda itu, Murad terus menggerilya dengan tubuh sekal berkulit bening sawo matang milik Hayu yang lebih tepatnya eksotis,


Setelah di sisir seluruh lekuk tubuhnya, Hayu merasakan tubuhnya melayang ke udara, rupanya tanpa aba-aba Murad menggendongnya secara sepihak.


"Turunkan aku Tuan!" Hayu meronta memukuli punggung gagah pemuda itu. Ternyata dalam keadaan mabuk pun Murad masih sanggup membawa gadis itu menaiki anak tangga.


Brugh!


Di baringkan nya tubuh Hayu di atas ranjang king size miliknya, lalu mendekat seraya mengutak-atik kepala ikat pinggang mahalnya, switer, t-shirt ia lepas serampangan.


"Jangan Tuan, jangan!" Rontaan Hayu tak berarti apa-apa Murad terus menuruti keinginan halusinasi nya.


"Jadilah milikku selamanya!" Bergetar hebat tubuh Hayu dengan debaran jantung yang berdetak kencang mendengar kata manis dari bibir Tuan muda tampan itu.


Pada akhirnya, menurut yang Hayu lakukan, gadis itu terbuai dengan ketampanan dan kegagahan yang Murad miliki, tubuh atletisnya saat bertelanjang dada meruntuhkan pertahanan seorang Hayu Diajeng, si gadis desa.


Entah suka atau candu dalam jangka waktu tujuh jam saja Murad melakukannya sampai tiga kali membuat tubuh ranum Hayu Diajeng remuk redam.


Flashback end


"Jadi kau merayu ku? Kau sengaja menjebak ku huh?" Tuding Murad pada Hayu yang tak henti-hentinya menangis.


"........" Hayu tak bisa berkata apa-apa, bahkan untuk membela diri pun tak mampu.


"Jawab! Kau merayuku? Kau sengaja menjebak ku kan? Kau mau aku nikahi? Lalu bisa hidup enak sebagai nyonya muda? Begitu?" Sarkas Murad menimpalinya lagi.


"Tuan! Ada apa ini? K-kenapa kalian?" Miko yang baru saja tiba terperanjat melihat Tuan muda nya berada satu selimut dengan seorang gadis, ceroboh sekali dia sampai terjadi hal seperti ini dia baru menunjukkan batang hidungnya.


Murad menatap Miko "Dia, dia sengaja menggoda ku dalam keadaan mabuk, aku tau gadis seperti ini memang punya niat terselubung!" Murad terus berargumen dengan pikirannya sendiri sambil menunjuk wajah gadis itu mencemooh.


Murad lalu beralih pada Hayu "Aku sudah berniat menolong mu, tapi, ini kah balasan mu padaku huh? Kau mencoba membuat ku menghamili mu, lalu meminta pertanggung jawaban dari ku begitu huh?" Ironi nya.


"Cukup!" Hayu tak kuasa menerima tudingan demi tudingan yang terlontar dari mulut pedas pemuda itu.


Sayangnya tidak semua wanita yang di tiduri lalu berniat buruk seperti Miska mantan kakak iparnya.


"Kau yang memaksa ku! Kau yang menganggap ku Marni, kau, kau yang terus menyebut nama Marni saat kau melampiaskan hasrat mu padaku! Lalu sekarang kau menuduh ku?" Berang Hayu menceku.


"Apa kau bilang Tuan? Aku sengaja menjebak mu? Cih!" Gadis desa itu berani berdecih "Aku tidak pernah sedikitpun bermimpi menjadi nyonya muda dari Tuan muda seperti mu!" Ungkapnya.


Dengan pakaian seadanya Hayu keluar dari kamar melewati Miko yang masih terperangah dengan situasi tak terduga itu, untungnya sebelum Murad terbangun Hayu sempat memakai switer milik Murad sekedar untuk menutupi tubuh moleknya.


"Aaaagghhh! Pergilah! Jallang!" Berangsang Murad menghentakkan tangannya pada ranjang spring bed miliknya, mengejar pun tak mungkin, pemuda itu masih polos tanpa sehelai benang pun, selain dari pada selimut yang menjadi penutup nya.


"Apa Tuan muda yakin, dia yang menggoda mu?" Miko seolah tak percaya dengan tukasan Tuan mudanya, di lihat dari mimik muka Hayu dia bukanlah wanita murahan, meskipun tak jelas asal usulnya.


Membuat Murad berkerut kening menatap tajam laki-laki itu "Tentu saja! Kau meragukan ku?" Sambaran nya ketus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara Hayu sudah menuruni anak tangga, mengemban kepingan hati yang luka, pada akhirnya di negara ini dia benar-benar terlepas dari mahkota berharga miliknya, meskipun beruntung nya bukan dengan laki-laki yang sudah banyak menikmati wanita, karena ini juga perdana bagi seorang Murad Earl.


Sambil menyeka air mata yang berderai di pipinya Hayu terus berjalan kearah pintu utama, lalu keluar dari apartemen itu, tak perduli dengan nasib yang menanti setelahnya, Hayu hanya tak kuat jika terus mendengarkan ujaran sarkas pemuda yang mengambil keperawanan nya juga meninggalkan rasa nyeri di tubuh inti nya.


"Ampurone Mbah, Hayu wes hancur!" Di sela larinya Hayu mengingat nenek yang membesarkan nya di kampung sana. Senyum manis orang tua itu tiba-tiba saja berkelebat di kedipan matanya.


Apa yang bisa Hayu lakukan di negara asing, dengan pakaian ala kadarnya, berlari serampangan tanpa arah dan tujuan, apakah harus bunuh diri? Terjun dan menghanyutkan tubuhnya di sungai Effra?


Tunggu, berlari tanpa membawa sepeserpun uang, dengan kaki polos menerobos musim dingin yang sedang turun salju pun mungkin dalam hitungan jam sudah akan mati dengan sendirinya. Beku, sebeku hati yang menghancurkan nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Terimakasih yang masih setia mengikuti cerita ini 😍 Love you all🤗 Karya baru ku. Buat selingan baca, silahkan.