Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
S2/ Chapter 9 (Pelet, santet.)



Di sebuah kamar mewah yang di dominasi warna biru putih, seorang wanita merengek sendu pada pangkuan laki-laki paruh baya. Seperti biasanya Miska belum mau berhenti dari pekerjaannya sebagai perayu pria berjas.


Kemarin saat di hukum oleh anak buah Arjuna pun dia berhasil melarikan diri karena batuan dari laki-laki tersebut.


"Om, jadi kapan dong Om mau bantu Miska balas dendam ke keluarga Baskara? Katanya Om mau bantu Miska hah?" Tuntut nya.


Laki-laki itu mengusap wajah Miska penuh kelembutan "Kamu tenang saja, Om cari waktu yang tepat dulu, mengalahkan keluarga berpengaruh itu terlalu sulit, harus bersabar mempersiapkan segala sesuatunya matang-matang Baby." Ujarnya dengan nada mesra.


"Janji yah Om." Rengek Miska dan laki-laki itu mengangguk penuh kepastian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di rumah besar keluarga Baskara "Eeeeeeeee"


Usai berjuang sekuat tenaga akhirnya Hayu mampu mengeluarkan putri perdananya menghirup udara dunia fana tepat di pukul 10:00 14 Januari.


Setelah di mandikan juga di bedong serapi mungkin keluarganya bergantian menggendong bayi mungil itu dengan raut senang di wajahnya masing-masing.


"Masya Allah, mirip Hayu cantiknya." Ucap Irma.


"Masa sih." Celetuk Murad lalu beringsut melirik putri mungilnya "Harusnya mirip Murad dong, anak perdana masa mirip ibunya!" Protesnya.


"Yang penting sehat Murad." Hayu hanya tersenyum menatap wajah protes suaminya.


Irma, Raka, Eric, Pinkan sangat bahagia, terutama Hayu dan Murad, sedang Baskara sendiri masih berada di Thailand, seperti biasanya laki-laki itu mengunjungi kakak perempuan nya setiap dua bulan sekali dan kali ini Baskara membawa cucu pertamanya bersama beberapa pengasuhnya, sekarang Zee sudah sering merengek minta ikut keluar negeri. Akan tetapi, setelah mendengar berita kelahiran cucunya, beliau segera melakukan penerbangan kilat ke Indonesia.


Acara syukuran mendadak pun segera di persiapkan, seluruh asisten rumah tangga di rumah besar itu mulai ripuh melakukan tugasnya masing-masing.


"Selamat yah Hayu, ..." Pinkan tersenyum menatap adik iparnya, wanita hamil itu duduk di sofa kamar berdampingan dengan suaminya.


Dari ranjang empuknya Hayu mengangguk "Terimakasih Kak, ini semua berkata dukungan mu." Jawabnya haru.


"Selamat juga dari ku yah Kak." Lidya yang berdiri di sisi ranjang menyeletuk sambil memperlihatkan deretan gigi gingsul nya.


Hayu beralih pada Lidya "Iya, Lidya, makasih juga ee, kamu mau repot-repot antar kain-kain dari bude ke sini." Ucapnya.


Lidya mengangguk "Sama-sama Kak. Tapi Lidya langsung pulang yah Kak, Lidya masih ada urusan, kapan-kapan Lidya jenguk Dede bayinya lagi." Pamit gadis itu.


"Loh kenapa cepat sekali? Kenapa tidak menginap saja?" Irma menyambar percakapan mereka.


"Ga Tante, hari ini Lidya ada jadwal ngeles anak-anak." Jawabnya.


"Oh, begitu?"


"Hati-hati dek." Ucap Murad, pria itu sangat berterimakasih pada Lidya sudah mau repot-repot datang hanya untuk mengantar titipan dari bude isterinya.


"Iya Mas." Lidya mengangguk.


Di sofa Pinkan mengusap lembut perutnya sambil menatap gadis itu, kagum melihat wajah cantik Lidya. Semoga gigi putranya juga gingsul semanis gadis itu harap dalam batinnya. Sementara Lidya sudah berlalu keluar dari kamar.


"Raka." Bisik Pinkan di telinga suaminya "Hmm?"


"Itu tadi yang Papi bilang mau di jodohin sama Eric?" Tanyanya.


"Rencananya begitu, kenapa?"


"Cantik banget Ka, beruntung Eric kalo jadi sama tu cewek."


Raka terkikik mengingat adik bar-bar nya "Tapi sayangnya dia bukan tipe Eric. Bocah manja itu tipe nya yang seksi kayak kamu Yank." Ucapnya.


"Hieleh, ga mungkin cewek secantik itu Eric ga ngelirik. Biasanya justru yang bukan tipe nya yang jadi jodoh kita."


"Hmm? Masa? Memang Daddy bukan tipe Mommy hmm?" Raka mendorong tubuh berisi wanita itu bersandar pada kepala sofa, sesekali mengelus lembut perut buncit isterinya.


"Kan biasanya Daddy."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, Eric sedang asyik bersiul sambil memandikan mobil kesayangannya, seharusnya dia masih ingin melihat keponakan barunya akan tetapi Lidya membuatnya tak betah berlama-lama di dalam sana.


Ada sesuatu yang membuat pemuda tampan itu begitu riang gembira. Apa lagi saat melihat Lidya keluar dari rumah besarnya "Hmm, cewek kampung! Dulu lu bikin baju mahal gue kotor, sekarang nikmati pembalasan dari gue!" Gumamnya.


Matanya membesar saat melihat kedua roda tunggangannya kempis tak berangin sama sekali "Oh Tuhan! Motor ku!" Pekiknya sembari menepuk jidat.


"Xixixixix." Suara tawa dari pemuda tampan itu berhasil menyulut emosi nya, sudah pasti pemuda itu yang menjahilinya.


"Eric!" Toleh nya sambil melotot.


Eric tak mengindahkan dirinya, pemuda itu terus berpura-pura memainkan selang menyiram kan air pada mobil sport merah miliknya masih sambil bersiul siul tak jelas.


"Heh!" Kata Lidya mendorong lengan pemuda itu kuat-kuat, raut murka tertampil di wajah cantiknya sekarang "Jangan pura-pura bego lu!" Sarkas nya lalu merebut selang dari tangan Eric yang kemudian di buang nya.


Eric mengernyit bola matanya naik turun menyusuri tubuh ranum gadis itu "Lu cewek apa cowok sih? Kasar bener!" Berang nya.


"Tanggung jawab lu, itu motor gue lu apain hah? Benerin gak!" Tuntut Lidya sembari menghujani pukulan pada pemuda itu.


"Ogah!" Tepis Eric.


Lidya menggertak kan giginya geram "Gila lu yah! Sebenarnya ada masalah apa sih lu sama gue hah?" Berang nya.


"Ga papa, gue benci ajah liat muka lu! Apa lagi setelah Papi gue bilang mau jodohin gue sama elu! Uh gue jadi lebih ilfil banget sama lu!" Ejek Eric.


"Oya? Lu ilfil ke gue? Lu ga nyadar kalo gue secantik ini hmm?" Sela Lidya sambil menunjuk wajahnya sendiri.


Bibir dan alis Eric naik sebelah secara bersamaan "Cantik dari mananya lu? Body tipis begini lu bilang cantik?" Cemooh nya.


"Eh Lidya, lu dengerin ya! Kalo semisal di dunia ini cuma ada lu cewek jomblo yang tersisa, gue lebih milih gak nikah seumur hidup deh!" Lanjutnya.


Sakit, Lidya sangat sakit dengan ejekan demi ejekan pemuda itu. Akan tetapi dirinya tak yakin jika Eric benar-benar tak bisa melihat kecantikannya, bukan kah manusia di ciptakan berbeda.


Orang bilang Lidya manis, imut, lucu, pintar, baik, pemberani, kulitnya juga sangat bening meskipun mungkin saat ini tubuhnya masih sangat ranum, belum memiliki tonjolan. The human body changes, tubuh manusia mengalami perubahan di setiap fasenya.


Cup!


Eric melotot saat merasakan kelembutan bibir ranum gadis itu mendarat di bibir sensualnya. Bibirnya kelu bahkan beringsut pun sudah tak mampu. Dirinya hanya bisa pasrah menikmati keadaan indah itu.


Lidya sengaja memagut lembut bibir Eric sambil merangkup kedua pipi pemuda itu mempertahankan posisinya bahkan benda tak bertulang miliknya berkelana mencari lawan gerilya nya, matanya tak berkedip terus mengamati wajah Eric yang terkesan menyukai penyatuan bibir mereka.


"Lu yakin ga suka sama gue hah! Lu yakin nolak gue hah? Ayok lawan gue! Singkirin bibir gue dari bibir lu! Bisa gak lu hah!" Lidya membatin merutuki pemuda tampan itu.


Seakan terhipnotis dengan kenikmatannya, perlahan Eric membalas pagutan bibir gadis itu seraya memejamkan mata. Namun sayangnya setelah menerima feedback Lidya justru melepas bibirnya lalu berdecih kesamping "Cih!"


Eric tersentak kaget tapi sedikit protes, kenapa harus berhenti padahal dirinya baru saja akan menikmatinya.


"Kenapa lu hah? Lu bilang gak akan mau sama cewek model gue? Ngapain lu bales ciuman gue lu?"


Eric membulatkan matanya penuh bahkan mulutnya melongo dengan penuturan gadis itu, dia seperti terjatuh dari ketinggian 3280,84 kaki, sangat malu. Tapi, mau bagaimana lagi? Barusan bibir lembut Lidya benar-benar membuatnya penasaran.


"Dasar cowok lemah ga konsisten!" Hardik Lidya.


"Lu inget ya Ric, mau lu putra bangsawan, mau lu cowok paling tampan, sampe kapan pun gue gak kan pernah sudi di jodohin sama lu! Lain kali jaga tu mulut! Lu tahu hah, di Indonesia bisa nyakitin tanpa menyentuh!" Ancam nya lalu meninggalkan pemuda itu dalam keadaan bergeming.


"Cowok lemes kaya gitu emang perlu di kasih pelajaran tu anak! Awas ajah, sampe lu jatuh cinta ke gue! Lu ngejar sampe nangis darah juga ga kan gue terima lu!" Gumamnya.


Lidya mengambil ponsel dari dalam tas selempang miliknya kemudian memesan ojek online. Biarlah motornya dia ambil nanti saja, saat ini gadis itu sudah muak berurusan dengan Tuan muda bar-bar bermulut lemes itu.


Sementara di tempat nya Eric masih hanya menatap berlalunya punggung gadis itu "OMG! Bibir ku sudah tak perjaka lagi! Dia merenggut ciuman pertama ku!" Gumamnya lirih.


"Oh Tuhan! Maaf kan Eric! Ini semua gara-gara tu cewek kampung!" Pemuda itu mengusap letak jantungnya berada di mana suara degup yang tak beraturan bertampiaran "Sialan tu cewek! Kenapa aneh begini rasanya! Jangan-jangan dia mau nyantet gue lagi!" Gerutunya.


"Ekm ekm." Suara dari belakang membuatnya menoleh secara cepat. Dilihatnya Raka dan Arjuna berdiri menatapnya penuh cemoohan.


"OMG, ngapain ni dua orang pada di mari?" Batinnya.


"Awas lu, kena pelet cewek Surakarta lu!" Arjuna terkekeh geli melihat wajah cengok pemuda itu.


"Emang gue ikan ****** di kasih pelet." Eric berlalu begitu saja dengan perasaan tak keruan, ciuman pertama, yah dia sedang merasakan goncangan dari jiwanya karena sebuah ciuman pertama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung..... Sampai urusan Raka dengan masa lalunya selesai, novel ini masih akan terus berlanjut 🤗 Biarkan cerita ini mengalir sesuai alur. Jangan lupa Like nya KK 😍.