
"Minta apa pun padaku, tapi takkan ku kabulkan permintaan mu yang satu ini!" Murad mendaratkan ciuman pada setangkup bibir lembut wanita itu sedang tangannya menekan punggung Hayu lalu bersatulah kedua dada yang saling berkonfrontasi itu, hingga tersiar kehangatan diantara keduanya.
"Emmph, ...." Murad sedikit melonggarkan tautan wajah mereka, memberi celah untuk isterinya menghirup oksigen sedikit demi sedikit sebab saat ini dia belum berniat melepasnya.
Beberapa pukulan beruntun di bahu pria itu namun sayangnya tak jua berpengaruh apa pun padanya, Murad justru semakin memperdalam pagutan bibirnya dengan menekan tengkuk Hayu Diajeng.
Lelah memukuli, perlahan rontaan Hayu Diajeng berangsur lirih sepertinya Hayu sudah mulai ikut menggelenyar candu, normalnya wanita siapa sih yang menolak laki-laki setampan Murad Earl.
"Bodoh! Kalo kamu menolaknya Hayu!" Bahasa tubuhnya yang mengumpat dirinya.
Murad tahu isterinya sudah berada dalam kendalinya, sengaja pria itu mengulurkan benda kenyal tak bertulang miliknya masuk ke dalam ruang berair senikmat es krim itu.
Rupanya dengan cepat di sambar oleh deretan gigi putih yang sedikit memberi rasa sakit di sana, bahkan Murad sempat reflek menariknya kembali tapi dengan cepat Hayu merangkum kedua pipinya untuk tetap stay di tempat.
"Wild and sexy! (Liar dan seksi!)" Batin Murad. Matanya terus menatap lekat wajah cantik Hayu dari jarak sedekat itu.
Mungkin benar kata orang, biasanya gadis pemalu cenderung memiliki sifat diam-diam menghanyutkan "OMG Baby, apa kamu mau menghabisi ku di sini hm?" Masih dalam batin, sebab bibirnya masih di kuasai wanita ayu di hadapannya.
Pernikahan dadakan, hubungan dadakan, cinta dadakan, gelora asmara yang juga dadakan "Malam jangan dulu berlalu Tuhan, biarkan kali ini waktu berjalan perlahan, akan ku nikmati setiap inci sensasi erotis isteri ku." Murad terus membatin di sela aktivitas romantis nya.
"Ahh! Baby!" Untuk yang ketiga kalinya Hayu memberikan rasa sakit di bibir suaminya, pertama kedua masih bisa Murad tahan tapi barusan terlalu pedih, hingga kini pria itu menarik kembali bibirnya tanpa izin dari si pemilik sejati.
"Sakit Beib! Apa kamu sengaja menyiksa ku hh?" Tatapan tajam dari Hayu tertuju padanya sekarang.
"Kenapa memangnya? Bukanya kamu mau? Kenapa menyerah?" Sindir Hayu.
"OMG, ini gadis desa yang aku tolong waktu itu kan? Apa jangan-jangan dia kembarannya? Kenapa tiba-tiba wajah polosnya tak terlihat lagi?" Batinnya.
Susah payah Murad menelan saliva saat Hayu Diajeng melepas satu persatu kancing piyamanya "Oh my God. Apa dia pasrah?" Batinnya lagi dan lagi.
Perlahan bukit kembar nan eksotis mulai menampakkan belahan indahnya, bahana dari air hujan yang berderap merayap di atas atap bahkan sudah tak terdengar lagi, seolah hanya ada suara jantung Murad saja yang berdetak kencang seakan sedang bersiap melompat dari tempatnya.
Delapan bulan lalu Murad memang mengakui pernah meniduri isterinya sebelum halal, tapi itu secara tidak sadar.
Meskipun tak di pungkiri pikiran kotor Murad sering berfantasi dengan video CCTV adegan dua satu plus nya sendiri bersama Hayu kala itu, tapi tak pernah menyangka bahwa bukit indah ini begitu menakjubkan di lihat dari dekat dan waras.
"Tu bra pasti menjerit histeris saking lelah menahan beban berat dada bini gue! Jadi kasihan sama bra nya!" Batin Murad yang tiada henti hentinya melototi bukit tinggi miliknya seorang.
"Kenapa di buka Beib? Mas takut khilaf." Ucap Murad sok mengingatkan "Caile Mas." Dalam batinnya dia geli sendiri.
"Lakukan sekarang, lalu kamu boleh memutuskan, akan tetap tinggal bersama ku atau mengejar Marni mu!" Batin Hayu Diajeng, dia sengaja menggoda suaminya, apakah kali ini juga akan sedahsyat saat laki-laki itu menganggap nya Marni? Atau tidak? Hayu terpikirkan ide untuk mengetes kesungguhannya.
Greek!
Tanpa basa-basi lagi Murad menaikan pangkal paha isterinya, mendudukkannya di atas meja, dia lantas menyantap hidangan nikmat di malam yang dingin ini.
Wajahnya mulai tenggelam di antara dua bukit kembar milik isterinya sedang wanita itu mendongak ke atas melepas desah "Andai aja ni gunung keluar syusyu nya, gemuk gue lama-lama." Murad terkekeh kecil di tengah tegukan nya membuat si pemilik semakin mengeras kan bukitnya, kegelian.
"Emmh."
Greek!
Satu jambak kan mendarat di kepala Murad begitu liar "Dosa dosa dah gapapa, nakal nya kebangetan!" Batin Hayu. Keduanya memang tak saling bersahutan, tapi batin mereka berkata-kata sesuka hatinya.
Pria itu sempat nyengir sambil melempar tatapan nakalnya ke atas, sedang bibirnya masih mereguk manisnya puncak gunung tinggi itu.
Murad seperti bayi dehidrasi yang tak di beri susu lima hari, sangat rakus, pagutan nya bahkan lebih menggila membuat "Ahh Emmh ooghh." Semakin kerap terdengar dari mulut Hayu Diajeng.
Tangan kirinya Murad gunakan untuk meremas bukit di seberangnya "Untung yang ini bukan milik tetangga depan, yang ini juga masih punya elu Murad, yok, jangan di anggurin!" Pekiknya dalam hati.
Ternyata gelenyar itu semakin menjadi-jadi, terbukti dari balik celana jeans hitam milik Murad yang mulai sesak "Ahh." Pekiknya mengernyit lalu melepas pagutan nya spontan kemudian berdiri hingga kini wajah keduanya sejajar.
"Hmm? Kenapa?" Hayu heran, menatap Murad dengan kening yang mengerut, perasaan dia tak mengigit nya lalu apa lagi sekarang?
Hayu sempat menelan saliva saat matanya mengamati tubuh atletis suaminya ketika kemeja putih slim fit itu di hempas serampangan.
"Boleh kan Beib?" Setelah bertelanjang dada Murad baru menanyakan hal itu untungnya di jawab dengan anggukan kepala wanita nya.
"Kamu yakin hh? Sepertinya malam ini gairah ku tidak terkendali, apa kamu yakin, menanggung resiko nya hmm?" Dera napas yang bergemuruh begitu menggebu terdengar sangat tertahan hingga mengembang kempiskan dada bidangnya.
Hayu mengangguk lagi dan dengan cepat bibir Murad di jatuhkan pada ceruk leher mulus wanitanya, tapi kemudian Hayu berseru kembali.
"Tapi sebelum itu, kamu jawab dulu siapa Marni? Aku mau tau, apakah kamu masih mencintainya? Apakah saat ini aku terlihat sepertinya lagi?"
Deg!
Murad terdiam tak berkutik, perlahan dia menarik wajahnya dari leher milik Hayu, menatap paku wajah cantik itu, apakah pantas menanyakan wanita lain saat berhubungan? Apa lagi malam ini malam pertama bagi mereka.
Lagi pula, Murad yakin seyakin-yakinnya bahwa dirinya benar-benar sudah melupakan Pinkan semenjak insiden one night stand bersamanya delapan bulan lalu.
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu?" Murad mendadak down setelah mendengar pertanyaan aneh isterinya, apa ini? Apa dia sedang memojokkannya?
"Kamu tahu, kamu orang pertama yang singgah di hatiku, rasanya tidak adil saat tahu pasangan ku bahkan suami ku pernah mencintai wanita lain sebelum bersama ku!" Ujar Hayu mengaku. Tis, air mata meluncur bebas dari sudut netra nya, menyusuri pipi lembut wanita ayu itu.
"Sekarang dengarkan aku baik-baik Hayu Diajeng isteri ku, karena aku hanya akan mengatakan satu kali ini saja. Kau harus tahu! Aku sudah melupakannya, tidak ada nama Marni lagi di hatiku, kau juga harus tahu Hayu, saat ini dan untuk selamanya aku hanya milik mu! Mengerti!" Pekiknya.
"Tidak ada siaran ulang, selain kata I love you yang akan selalu ku ucapkan pagi siang sore malam, setiap saat selama napas ini masih berhembus." Lanjutnya penuh penekanan berusaha meyakinkan isterinya.
Sambil terisak Hayu menyilang kan kedua tangannya menutupi dada yang beberapa saat lalu sudah di acak-acak suaminya, dan itu membuat Murad tahu arti dari pasrah nya barusan.
"Jadi kamu mengetes ku?" Tanyanya "Kamu pikir aku mabuk dan berfantasi dengan halusinasi ku?" Lanjutnya menyudutkan.
"Dengar Hayu, kalo kamu tak mengizinkan ku menyentuh mu, aku tidak akan pernah memaksa mu, tapi, bukan berarti aku tidak menyukai mu, justru karena aku sangat perduli padamu, aku tidak mau membuat mu terpaksa, saat ini aku sudah cukup senang, akhirnya kau mau menikah dengan ku. Selebihnya aku serahkan padamu. Percaya atau tidak, rasakan saja ketulusan ku dengan perlahan. Aku akan menunggumu sampai saat nya kau percaya padaku sepenuhnya." Ujarnya panjang lebar.
"Sekarang pakai lagi, dingin." Murad baru akan mengaitkan kancing piyama isterinya tapi Hayu sudah lebih dulu mendaratkan ciuman pada bibirnya, menyerah.
"Yes! Yakali gak di lanjut, tanggung jawab Beib, si Dede udah tegang ini!" Murad meremas rapat rambut di tengkuk isterinya menambah gelenyar candu wanita itu. Sementara tangan kanan nya membantu isterinya melepas satu persatu pakaian yang masih tersisa di tubuhnya.
Crack!
Murad menyingkirkan beberapa piring berisi buah sisa hidangan dari katering sore tadi lalu membaringkan Hayu di sana, piring yang terpecah belah tak menjadi bahan pikiran, kali ini tekadnya sudah bulat, misi mempertemukan sang junior dengan sarangnya harus berhasil malam ini juga.
"I love you, Hayu Diajeng ku." Murad meracau saat melahap setiap lekuk tubuh isterinya di atas meja makan berukuran 100x150 cm tersebut.
"Emmh, Mas, tuuuutt, sensor ❌." Desah itu semakin menjadi-jadi saat bibir Murad sudah berlabuh pada pintu surga dunia miliknya.
Sepertinya makan malam kali ini sangatlah spesial, bahkan sampai berkali-kali Murad menyantapnya, di meja makan, di sofa, rupanya di tempat tidur pun masih menjadi cemilan wajibnya semalaman suntuk.
Hujan berangsur reda, dentingan pun sudah tak terdengar lagi, kini hanya ada suara desah wanita itu saja yang sedari tadi tiada luput dari celetukan bibirnya.
"Sssutttt, jangan keras-keras Beib, nanti tetangga sebelah denger." Murad mengingatkan setelah bahana hujan tak lagi membungkam kegaduhan isterinya, kamar kecil itu tidak kedap suara.
"Emmh." Hayu mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya menahan serapat mungkin cemelos bibirnya.
"OMG, seksi nya!! Kasih Mas lagi!!" Rasa manis itu akan terus menjadi alasan utama Murad mencecap bibir isterinya, semakin di tahan desah nya semakin tampak seksi Hayu Diajeng di matanya.
Rupanya kali ini wanita itu hanya mendengar kata Hayu Diajeng yang terus menyeletuk di iringi desah kenikmatan Murad Earl.
Biarlah malam ini menjadi malam penyatuan cinta dadakan mereka, oh tunggu, mungkin tidak terlalu dadakan juga, karena sepertinya keduanya sudah mendamba satu sama lain sebelum malam penuh peluh ini, tak heran jika keduanya saling menerima sentuhan nikmat masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Yang kangen babang Raka di tunggu ajah yah. Insya Allah up lagi kita beralih ke part lainnya. maaf kalo kurang HOT ✌️😁 takut di tolak reviuw nya 🏃🏃, terimakasih yang masih bertahan sampai di episode ini.🤗