
Setelah mandi sore dan rapi dengan pakaian barunya, Pinkan keluar dari kamar, lalu berjalan menuju dapur, di sana sudah ada mbok Mirah yang sedang memasak makan malam.
"Mbok." Pinkan memberi sapaan senyum sopan dan wanita itu menoleh membalasnya dengan senyuman "Baby Zee kemana ya?" Tanya Pinkan kemudian, sebab sebelum mandi Pinkan menitipkan nya pada Raka, tapi malu rasanya jika harus menanyakan Raka pada mbok Mirah.
"Di kamar Tuan Raka Marni, Oya, tadi Tuan Raka pesan kamu suruh ambil Baby Zee ke sana katanya." Jawab Mirah sambil mengayuh sayur beningnya.
Pinkan mengerutkan kening "Ke kamarnya mbok? Saya? Apa tidak salah?" Tanyanya memastikan.
"Iya, suruh cepet katanya malah." Sahut Mirah melirik sekilas ke arah Pinkan yang masih ragu, bahkan sempat melamun, gadis itu masih mengingat kejadian canggung beberapa saat yang lalu di halaman belakang.
"Tunggu apa lagi Marni, nanti di marah Tuan muda loh kamu!" Tegur Mirah lagi mengagetkan.
"Hah?" Sontak Pinkan beranjak dari lamunannya "Iya deh, makasih ya mbok."
Tapi meskipun berujar demikian Pinkan tak menuju kamar Raka, justru ia kembali ke kamar Baby Zee lagi, menunggu Raka yang akan mengantar Baby Zee ke kamar pink gemas itu sendiri.
Sambil menunggu, seperti biasa Pinkan melakukan percakapan melalui pesan teks dengan Miska sahabatnya, dan hampir semua kejadian yang ia alami di rumah besar itu, Pinkan ceritakan pada Miska kecuali hubungan aneh yang akhir akhir ini terjadi di antara dirinya bersama Raka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hingga tibalah saat meja makan panjang milik keluarga Baskara di penuhi lauk pauk, Raka belum juga keluar dari kamar, padahal sudah berjam jam duda tampan itu berada di dalam sana bersama bayinya. Pinkan yang saat ini berjalan mendekati meja makan langsung di sambut oleh Irma.
"Marni, Baby Zee mana? Kok kamu sendiri?" Tanyanya menatap Pinkan sedang Eric dan Murad sepertinya belum keluar dari kamar nya masing-masing.
"Saya belum melihatnya dari sore Nyonya, Tuan Raka membawanya ke kamar." Jawab Pinkan sopan.
"Begitu ya? Kalo gitu sekarang kamu panggil gih. Ajak Baby Zee keluar, suruh Raka makan malam." Titah Irma.
Pinkan sedikit membulatkan matanya "Saya Nyonya? Ke kamar Tuan Raka?" Tanyanya memastikan.
"Terus siapa lagi? Kamu mau nyuruh balik saya?" Sanggah Irma dengan senyum secuil nya.
Pinkan menggeleng "Tentu saja tidak Nyonya, hehe." Senyum gadis itu nyengir.
"Ya sudah sekarang pergi, panggil Raka di kamarnya." Ulang Irma memberi titah.
Dengan wajah ragu-ragu Pinkan lantas melangkahkan kakinya menuju kamar lelaki tampan yang sore tadi, ia kecup. Dan tiba-tiba saja irama degup jantung nya naik. Sekujur tubuhnya gemetar karena grogi, tak menyangka Pinkan yang pribadinya exstrovert sering mengalami gemetar di dalam rumah itu.
"Gue sengaja menghindar dari kamar ini dari sore, tapi tu bang duda belum juga keluar, sebenernya lagi ngapain si di dalem?" Gerutunya pelan.
Ceklek!
Pinkan mendorong pintu kamar milik bang duda dan itu pertama kalinya gadis itu masuk ke dalam sana. Warna yang di dominasi putih abu-abu itu terlihat sangat monoton di matanya, suasananya remang remang karena begitulah original kamar itu, Raka tak menyukai kamar yang terang.
"Uh? Baby Zee? Kamu di situ sayang?" Pinkan tak sempat mengedarkan pandangannya lagi, ia langsung fokus pada bayi mungil yang kini terlentang di atas ranjang bayinya, anteng.
Di samping ranjang Baby Zee Daddy nya sudah lelap dalam mimpi, lelah menunggu Pinkan mengambil bayinya malah dia yang ketiduran, maklum, seharian ini lelaki itu belum beristirahat.
Pinkan pun segera mendekati ranjang rotan itu lalu mengambil Baby Zee dari sana.
"Uluuh tayang, Tante kangen, berapa jam kamu di kurung sama Daddy mu hm? Kasian."
"Ya ampun, ganteng nya." Entah kenapa, Pinkan tertarik untuk duduk di sisi ranjang dan menatap lekat wajah tampan Raka yang masih terlelap.
"Seandainya saja, dia bukan mantan suami Miska, mungkin gue berani jatuh cinta sama ni orang, kalo di pikir lagi, alasan bang duda ini ninggalin Miska sepertinya bukan sepenuhnya kesalahan nya, mungkin saja karena hasutan si Rani perawan tua itu, di lihat dari sikap nya selama ini, bang duda gak sekejam yang gue pikirin, dia termasuk orang yang hangat malah."
Pinkan berujar dalam hati sembari menepuk nepuk punggung rapuh baby Zee. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah bayi mungil yang masih anteng dengan empeng nya "Baby. Kita keluar yuk, biar Daddy mu istirahat." Ajak nya tersenyum.
Baru saja Pinkan akan beranjak dari duduknya, tangan Raka menarik t-shirt miliknya "Sejak kapan kamu di sini?" Tanyanya dengan suara berat khas bangun tidur.
"Hah?" Pinkan terkejut seketika matanya membesar. Dan tanpa menoleh gadis itu mengangguk "Emm b-baru saja Tuan, Tuan muda sudah di tunggu Nyonya besar di meja makan." Jawabnya gugup.
"Kenapa lama sekali mengambil Baby Zee nya hm? Aku sampe ketiduran." Raka masih di posisinya masih juga menarik t-shirt milik Pinkan, sesekali menggeser kepalanya berusaha melihat wajah cantik Pinkan yang masih berpaling dari nya.
"S-saya takut ke sini Tuan, kan ini kamar laki-laki. Kata nenek saya yang di kampung, anak gadis, pamali masuk ke kamar laki-laki." Pinkan berucap dengan nada yang sedikit gugup.
Tanpa melepas t-shirt milik Pinkan, Raka duduk bersandar di kepala ranjang "Aku mau tanya padamu." Ucapnya.
"Tanya apa Tuan? Kenapa tidak di luar saja?" Lagi-lagi Pinkan berucap tanpa menoleh tangannya masih menepuk nepuk punggung rapuh baby Zee.
"Ini sedikit pribadi, kamu pasti malu kalo aku tanya di depan banyak orang." Sambung Raka.
"Memang Tuan mau tanya apa?"
"Kenapa tadi sore, kamu, tiba-tiba saja mencium ku? Apa alasan nya? Apa ... kamu menyukai ku?" Tanya Raka to the point.
Pinkan pun menoleh dan mulai berani menatap wajah duda tampan itu meski masih sedikit gugup "Maaf Tuan, kalo saya lancang, tapi saya benar-benar tidak bermaksud apa-apa, sebenarnya saya sendiri tadi sore tak begitu sadar saat melakukan itu, jadi maafkan saya sebesar besarnya Tuan." Ucapnya yang lalu menurunkan pandangan matanya.
"Kenapa minta maaf? Aku tidak keberatan, aku tidak akan memecat mu hanya karena itu, tenang saja, yang aku tanyakan adalah, apa kau menyukai ku?" Ulang Raka masih penasaran.
Pinkan menggeleng cepat "T-tidak Tuan, tentu saja tidak, lagi pula di kampung, saya sudah di jodohkan sama bapak saya Tuan, gak mungkin saya berani menyukai pria lain, apa lagi majikan saya sendiri, itu tidak akan pernah terjadi Tuan." Jelasnya.
"Begitu kah? Jadi kau sudah di jodohkan?" Raka bertanya memastikannya sekali lagi dan Pinkan mengangguk mengiyakan.
Entah kenapa mendengar itu Raka reflek melepas tangannya dari t-shirt milik Pinkan yang hampir melar saking lamanya pria itu tarik. Untuk sesaat Raka tertegun.
"Kalo begitu kamu boleh pergi, bilang ke Mami, aku masih tidur." Titahnya yang pada akhirnya berucap demikian.
"Baik." Pinkan mengangguk "Kalo begitu, saya permisi Tuan." Pamitnya kemudian beranjak dari duduk berjalan perlahan keluar dari kamar.
Sementara di tempatnya Raka masih bergeming menatap kecewa berlalunya gadis itu.
Setelah ciuman pertama mereka sore tadi, Raka berharap Marni nya menjawab pertanyaan sesuai dengan keinginannya "Ya, Marni menyukai mu Tuan." Itu yang sebenarnya pria itu ingin dengar dari bibir Marni nya tapi tak terucap.
"Mikir apa aku? Bukanya aku sudah punya Rani? Lalu kenapa bisa aku berharap Marni menyukai ku? Sejak kapan kamu mengkhianati Rani, Raka?"
Raka berucap seraya menyugar rambut nya ke belakang dengan wajah gundahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Eh bosen pasti dapet notifikasi terus 😅 Maaf yak!✌️ Terimakasih like nya 🤗