Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Gaun.



"Raka! Bangun!" Irma memercikkan air ke wajah putera tampannya, seperti biasa pagi ini wanita itu membangunkan Raka dengan cara yang sama.


"Bangun kamu Raka!" Teriaknya.


"Emmh, kenyal, besar, ...." Igau Raka sambil meremas bra berwarna pink milik Pinkan yang dia peluk semalaman, kebetulan malam tadi sebelum tidur, Raka sempat memboyong semua barang barang milik Pinkan yang tertinggal di kamar baby Zee, dan satu bra berwarna pink yang Raka ajak tidur.


"Dasar!! Kamu ini emang pantes di juluki duda messum! Raka! Bangun gak kamu! Bisa tidak sih shalat subuh tanpa di teriakin dulu?" Kali ini Irma bertindak dengan tangannya, dijewer nya telinga Raka geram.


"Ah aw aw, sakit sayang, aku kan cuma pegang dikit doang Yank." Raka meringis namun masih memejamkan matanya, mengigau, sepertinya di dalam mimpi sana Raka masih bersama wanita kesayangannya.


"Sayang sayang palamu peyang! Bangun Raka!!" Irma menarik lebih kuat lagi dan berhasil membuat pria itu berjingkrak, terbangun seraya duduk.


"Mami." Raka berkerut kening tapi matanya membulat menatap ibunya.


"Kamu ngapain meluk bra punya Marni? Kamu tau gak sih Raka, dosa Raka dosa! Uuuuhhh!!" geram Irma saat merutuki putranya.


"Eh?" Mendengar itu Raka mengerling ke tangan kirinya di mana dia masih menggenggam erat bra milik Pinkan yang size nya lumayan besar.


"Emm." Raka menyembunyikan benda itu di belakang tubuhnya "Hehe, maaf Mi, tadi malam Raka gak bisa tidur, eh pas ngelonin ginian, tidur nyenyak Raka." Ucapnya enteng sambil menggaruk kepalanya nyengir.


"Sini balikin ke Mami, Mami mau simpan, kalo nggak, bisa bisa kamu terus gelayutan sama tu kacamata kuda."


"Jangan Mi." Rengek Raka tapi Irma berhasil mengambil alih bra Pinkan dari tangan Raka, biar kata emak-emak tapi Irma juga punya keahlian dalam bidang serobot menyerobot.


"Kamu ingat Raka, semua tindakan kamu itu akan di pertanggung jawabkan di akhirat nanti sama Mami Raka, kamu ini suka bener nambah beban tanggung jawab Mami!" Rutuk Irma.


"Kan Raka gak berzina, itu cuma benda mati, cuma meluk doang gak meluk isinya, terus salahnya di mana?" Jawab Raka enteng.


"Ini memang benda mati." Irma menunjukkan bra pink itu pada wajah putranya geram, dan Raka manggut-manggut takut.


"Tapi pikiran kamu itu yang hidup, yang terus berpikir jorok sama benda ini, itu sama saja kamu berzina Raka, zina pikiran namanya zina qalbi paham ...." Irma semakin menggertak kan giginya geram.


"Iya iya, gak lagi-lagi."


Dari belakang tubuh Irma suara langkah kaki dari sepatu mahal Baskara terdengar mendekat "Kalian kenapa setiap pagi ribut begini?" Tanyanya menatap keduanya secara bergantian.


"Tanya aja sama anak messum Papi ini!" Irma melengos pergi dengan raut kesal keluar dari kamar, tentunya setelah memboyong semua barang barang milik Pinkan yang masih tersimpan di dalam lemari putranya.


BRAK!


Baskara dan Raka menaikan kedua bahunya saat Irma menghentak kan pintu kamar keras-keras. Baskara menoleh ke arah pintu, memastikan pintu itu tak sampai jebol saking kerasnya di banting, kemudian menatap ke arah Raka kembali.


"Kamu mandi, shalat, lalu siap-siap ke kantor, jangan sampai lupa hari ini akan ada rapat penting dengan pemegang saham, lalu di jam makan siangnya Papi mau mengenal kan mu dengan putri teman Papi." Titah Baskara.


"Maksudnya?" Raka mengerutkan keningnya, bingung.


"Papi kan sudah pernah bilang, mau menarik putri dari teman Papi menjadi menantu, jadi kamu yang akan Papi jodohkan dengan nya." Jelas Baskara.


"Apa?!" Raka membulatkan matanya terkesiap "Kenapa tidak sama Murad saja, Raka masih mau mengejar cinta Raka sendiri Pi, no no no, Raka menolak!" Tolak pria itu menyilang kan kedua tangannya membentuk huruf X.


"Kamu yakin?" Baskara melemparkan satu lembar foto Pinkan yang sudah ia siapkan sebelumnya "Dia Pinkan, putri sulung Hardian, kuliah semester enam di universitas Xx. Cantik bukan?" Ujarnya.


"Pinkan?" Awalnya Raka berpaling tak mau melihat foto itu, tapi saat mendengar nama Pinkan pria itu berhasil di buat penasaran.


"Jadi ini yang mau Papi jodohin sama Raka Pi?" Raka antusias saat mengambil foto Pinkan, sambil nyengir kuda dia.


"Hmm, kata Mami, dia itu yang namanya Marni, apa benar begitu?" Baskara memastikan karena sebelumnya ia sudah menunjukkan foto itu pada isterinya, bahkan setelah tahu Pinkan adalah Marni, Baskara tak mengurungkan niatnya.


"Iya Pi, bener, dia itu pacar Raka." Raka manggut-manggut mengiyakan masih sambil nyengir kuda "Apa Murad sudah melihat foto ini Pi?" Lanjutnya bertanya.


"Belum, kan Papi mau jodohin nya sama kamu, jadi buat apa Murad harus melihatnya?"


"Bagus." Batin Raka di balik senyumnya, akhirnya, seperti biasanya, Baskara selalu mengutamakan dirinya.


"Terus kapan nikah nya?" Lanjut Raka bertanya.


"Kita ketemuan dulu saja, lalu memastikan Pinkan nya mau apa tidak kamu nikahi, setelah itu baru kita cari tanggal pernikahan." Sambung Baskara.


"Kenapa tidak langsung melamar, terus menikah saja? Papi kan kaya, tekan keluarganya supaya mau tidak mau Pinkan harus tetap menerima ku." Usul Raka penuh penekanan.


"Sekarang kamu mau mulai bersiap? Atau Papi batalkan saja pertemuan nya? Banyak sekali ngatur!" Baskara naik pitam.


"Hehe, ok, Raka mandi sekarang juga Bos!" Pria itu berlari secepat kilat, memutar keran shower memejamkan matanya menikmati guyuran air hangat dari atas, itu pun setelah mengalami drama terpeleset di kamar mandi terlebih dahulu, sedang Baskara menggeleng kan kepalanya melihat tingkah konyol putranya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah bangunan yang di dominasi cermin dan kaca transparan, gaun gaun indah berjajar rapi di rak ada juga yang terpajang di manekin. Butik itu di namakan Pink boutique, yang di kelola oleh Marta istri Hardian, butik itu sudah berdiri dari semenjak Pinkan berusia tiga tahun dan masih berjalan sampai sekarang.


Siang ini Pinkan masih duduk di meja kasir, sedari pagi tadi gadis itu memang membantu melayani pelanggan di butik ibunya.


"Pink." Suara itu beriringan dengan suara langkah dari sepatu heels milik Marta "Ini sudah hampir makan siang loh, kita harus cepat datang ke restoran, kita kan ada janji ketemu sama anaknya Om Bas kan? Kamu gak berniat membatalkan nya kan Pink?" Marta menatap curiga putrinya yang masih bergulat dengan ponselnya di meja kasir.


Pinkan mendengus "Iya, tenang aja Mah, Pinkan gak bakal ingkar janji, kita tinggal datang aja kan beres, kenapa ribut bener sih Mamah?" Jawabnya tanpa menoleh.


"Masa pake baju begitu sih Pink? Ini kan acara resmi. Kamu harus ganti baju dulu, pake gaun yang cantik, biar Tuan muda nya Om Bas langsung suka sama kamu. Ayok ganti, pake ini." Marta menyodorkan gaun berwarna hitam pada putrinya.


Sementara Pinkan berkerut kening saat membentangkan model gaun yang Marta berikan "Gak salah Mah?" Ucapnya menoleh ke arah ibunya.


"Masa pake baju begini? Ini sih bukan Tuan mudanya doang yang naksir, Om Bas juga ikut kepincut sama Pinkan kalo pake ini, ogah ah. Itu terlalu terbuka, gamau." Tolak nya menyodorkan kembali gaun hitam itu pada ibunya.


"Pink, Mamah buat ini dari hati loh, sengaja Mamah jahit sendiri, Mamah mau kamu yang pake ini, makanya ukuran nya juga pas banget sama badan kamu. Coba dulu saja, kalo kamu rasa gak cocok, boleh kamu pilih gaun sesuai selera kamu, lagi pula kalo kamu rasa atasnya terbuka kamu kan bisa pake blazer lagi."


Pinkan mendengus tapi kali ini pasrah, akhirnya mau juga dia membawa gaun hitam itu ke ruang ganti, lalu mencobanya, dan ternyata memang nyaman di pakai, karena ukurannya yang sangat pas.


"Gimana Pink? Kamu suka?" Tanya Marta menatap Pinkan yang kini memutarkan badannya di depan cermin.


"Suka kok, gapapa deh pake ini, sekali sekali pake gaun begini." Jawab Pinkan.


Marta tersenyum menatap putrinya "Ya sudah, kita langsung berangkat, soalnya Papah juga sudah on the way ke restoran, kita ketemuan di sana." Ajaknya menawarkan gandengan tangan pada putrinya. Pinkan mengangguk tersenyum. Kemudian keduanya berjalan menuju mobil pink milik Pinkan dan segera berlalu dari butik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Dukung author dengan Vote, Like, komen tekan tombol love.