Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Selimut.



Suasana haru biru prosesi pernikahan Tuan muda sudah berlalu, kini para warga yang menyaksikan pernikahan dadakan si gadis ayu sudah hengkang satu persatu.


Lagi, sudah malam, cuaca pun agaknya mulai tak bersahabat, sedari tadi sang petir rajin menyuarakan keberadaannya tanda sang hujan akan turun ke bumi.


Alhamdulillah, makanan tidak sampai kekurangan meskipun warga yang datang berbondong-bondong sangat banyak, sebenarnya bukan karena mereka perduli tapi, penasaran dengan pernikahan Cinderella yang tak di sangka datang dari desa mereka.


Lagi, mereka juga tergiur dengan jamuan makan yang langsung di datangkan dari katering terenak dan terkenal di kota Boyolali. Pada akhirnya, Hayu yang selama ini di caci maki bisa memanjakan perut mereka yang berbunyi.


"Raka, bungsu mana?" Irma mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari-cari sosok tampan nan gemas putra manjanya.


"Cari signal dia, katanya mau angkat video call dari Tito." Jawab Raka cepat.


"Cari gih, takut nyasar, lagian setelah ini kita langsung pulang ke hotel." Titah Irma. Raka justru mendekati Rahmat untuk kemudian menugaskan kepala cabang itu mencari adik bungsunya.


Seperti biasanya waktu pun berjalan tanpa hambatan, semakin malam semakin deras hujan yang menghantam tanah.


Sebagian orang sudah terlelap nyaman di masing-masing peristirahatan sementaranya, seluruh keluarga Baskara kecuali Murad dan menantu barunya sudah berada di bawah atap mobil yang sama, menerobos hujan menuju wisma.


Awalnya Irma tak tega membiarkan putranya tidur di rumah sederhana menantunya, yang saat hujan tak ada perapian di kala panas tak ada pendingin ruangan, tapi, Murad terus meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja, lagi pula sekarang Hayu berada di sisinya sebagai pasangan halalnya.


"It's so hot!"


Sempat terjadi insiden pada Eric saat Rahmat menemukan pemuda itu dengan kondisi baju yang penuh cipratan lumpur, tapi kemudian Baskara segera membawa pergi putra bungsunya.


Di sepanjang perjalanan Eric terus merutuk bahkan mengumpat kala mengingat baju mahalnya di buat kotor oleh salah seorang gadis yang dia juluki cewek dada rata. Oh Tuhan, kelakuan bungsu memang selalu lekat dengan kontroversinya.


Sementara Raka hanya diam saja tak menyahut sepatah katapun, meski pemuda tampan di sebelahnya terus bergumam tak jelas, Pinkan masih belum mau membalas pesan darinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sejenak kita beralih ke pada ruangan kecil yang tak kedap suara, dua insan rupawan masih tertunduk malu di posisinya masing-masing, dalam rumah sederhana itu hanya ada mereka berdua saja sebab Miko dan Rahmat berjaga di mobil sedang Jenar dan Rendra pulang ke rumah sendiri.


Fikrah sang air begitu terdengar menggelumat telinga, membungkam desiran sayup kata sang pujangga.


Hayu masih dengan kebaya pengantinnya, baru saja wanita itu ingin melepaskannya, berniat mengganti dengan piyama tidur tapi rupanya resleting di tengkuknya sulit sekali di raihnya.


"Maaf, aku bantu saja." Sentuhan lembut menggelitik saat benda mungil di turunkan dengan perlahan dari tengkuknya. Hingga kini sudah tampak penyangga bra di balik sana.


Mulusnya, semoga malam ini gak khilaf gue.


Murad sempat menelan liur menatap jelas punggung lentik isterinya yang sangat eksotis.



"Sudah, aku bisa sendiri." Hayu membalikkan badannya setelah resleting di tengkuknya turun lalu membalut punggungnya dengan handuk, dia berjalan keluar melewati tubuh tinggi sang pemilik hati lumayan acuh.


"Hmm." Belum juga mendapat jawaban Hayu sudah hilang dari pandangan, sebab kamar mandinya memang terpisah, Hayu harus kebelakang hanya untuk membersihkan diri saja.


"Tenang saja Yu, aku tidak akan memaksamu seperti waktu itu." Gumam Murad dengan bibir yang melebar membentuk garis lurus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Susah payah Hayu melucuti kebaya pengantinnya karena agaknya terlalu ketat di tubuhnya, ada dentuman hangat yang tiba-tiba membuncah di relung hatinya, apakah malam ini suaminya akan meminta hak?


"Semoga saja tidak, atau aku pura-pura datang bulan saja, tapi apa dia percaya?"


"Bismillah." Pada akhirnya Hayu keluar dengan pakaian tidur juga wajah yang polos tanpa riasan, bicara kecantikan sudah dari lahir wanita itu berparas ayu bahkan tanpa perawatan mahal sekalipun.


"Bismillah." Kalimat itu saja yang terus menerus menyeletuk dari bibirnya. Langkahnya ragu-ragu menuju kamar sedang hatinya berdebar kencang tak karu-karuan.


"Hah?" Hayu sedikit heran saat melihat Murad sudah menenggelamkan wajahnya di atas meja makan sederhana miliknya.


"Kenapa ni orang tidur di sini?" Gumamnya lagi, tapi di sisi lain wanita itu lega berarti malam ini mereka tidak harus tidur bersama.


Tanpa menegur suaminya Hayu Diajeng langsung masuk ke dalam kamar milik nya lalu menarik selimut bersembunyi di balik sana, doa pun mulai dia lantunkan termasuk mendoakan suaminya yang belum ia berikan senyum perdamaian.


Semakin waktu beranjak semakin Hujan tak juga reda, terus menerus menerpa menemani hati yang gelisah. Di kamarnya Hayu justru tak bisa tidur mengingat sang suami yang mungkin kedinginan di meja makan, belum lagi posisi tidur yang tak teratur.


"Huuh, kenapa aku punya perasaan yang tidak tegaan begini sih? Mata tinggal merem ajah kok susah?"


Tak lama dari itu Hayu keluar lagi dari kamar, dia berjalan sambil sesekali mengepal tangannya berusaha mengurangi gugup. Di lihat nya Murad masih tertunduk di atas meja makan dengan mata yang terpejam.


"Apa dia nyaman tidur di sini?"


Hayu duduk di kursi sebelah kiri Murad, matanya menatap lekat setangkup bibir keriting yang sedikit terbuka, sungguh wajah damai Murad saat tertidur berhasil menggetarkan jiwa.


"Orang bilang aku beruntung, tapi apakah begitu? Aku bahkan belum mengenal mu dengan baik, satu yang aku tahu dari mu, kau mungkin pernah sangat mencintai Marni, nama yang terus kamu sebut saat meniduri ku."


Melihat pulas nya sang suami, Hayu kemudian mengambil selimut dari dalam lemari di sisi ruangan itu, kebetulan di sanalah tempat Hayu menyimpannya.


Berjalan menuju Murad kembali lalu melingkarkan kain poliester itu pada tubuh Murad, Hayu lantas duduk kembali di kursi sebelah kiri suaminya, bibirnya melengkung begitu damai menatap wajah tampan teman hidupnya saat ini, hingga tanpa sadar tangannya menggelenyar ingin sekali menyentuh pipi mulus laki-laki itu.


"Tampan, manis, kaya raya, apakah kamu bisa setia?"


Belum lagi Hayu selesai mengelus semua lekuk wajahnya tangan lembut sang Tuan muda sudah menariknya mendekat membuat mata Hayu membulat tersentak, rupanya pemuda itu masih bisa merasakan sentuhan lembutnya.


"Kenapa ke sini?" Murad bersuara namun sangat lirih terdengar karena bahana dari air hujan masih berderap merayap di atap sana "Aku memberikan mu kesempatan untuk tidur sendiri, kenapa menyusul ku ke sini?" Tanyanya lagi.


Hayu menelan saliva saking gugupnya sedang matanya tak mau meredup, terus melolong ke arah kedua punat sebening embun pagi milik pria itu.


"Apa ini?"


Murad sempat menangkap gurat canggung di wajah isterinya "Boleh kah aku mengurangi kegelisahan mu?" Tanyanya.


"A-aku." Hayu beranjak dari duduk namun sayang tangan lihai Murad begitu impulsif menariknya, hingga kini keduanya sudah duduk berpangku, disandarkannya punggung Hayu pada tubir meja makan itu, sejenak mata mereka saling bertemu tatap.


"Le-lepas Mas!"


Sejuk rasanya mendengar panggilan Mas dari bibir isterinya meski titah tersurat di iringi mimik muka menolak yang juga tersirat di sudut sana.


"Apa? Kamu panggil aku apa tadi? Lagi!" Ucap Murad tersenyum sangat manis, wajah Hayu tiada luput dari gemerlap matanya.


"Lepas Mas!"


"Minta apa pun padaku, tapi takkan ku kabulkan permintaan mu yang satu ini!" Murad mendaratkan ciuman pada setangkup bibir lembut wanita itu sedang tangannya menekan punggung Hayu lalu bersatulah kedua dada yang saling berkonfrontasi itu, hingga tersiar kehangatan diantara keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... maaf sambungannya di tunggu yah, beneran deh, baru bisa up segini dulu sore Up lagi insya Allah, kalo gada kegiatan. Btw. sampai sini apa kalian bosen dengan cerita ku??