Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Syah²



"Shaka, mereka mau ngapain? Nonton ondel-ondel?" Dari dalam mobil Eric mengedarkan pandangan ke segala arah, tempat yang di padati para warga berdesakan seperti mau menonton konser BTS.


"Mereka mungkin mau melihat calon mertua dari calonya Tuan Murad, Tuan muda." Jawab asisten personal Baskara berusia 30 tahun, kebiasaan anak-anak Baskara memang selalu memanggil asisten asisten mereka dengan sebutan nama saja meskipun usianya lebih tua.


"Hah?" Eric terheran-heran secara rumahnya sendiri jauh dari pemukiman, pemuda manja itu seakan aneh dengan antusiasme masyarakat setempat melihat acara dadakan Hayu Diajeng yang katanya di lamar putra pemilik perusahaan besar.


"Memangnya kita ini ondel-ondel di liatin begitu?" Rutuk Eric.


"Sudah kita langsung saja turun, usahakan supaya secepatnya urusan Murad selesai," Sambar Raka yang sepertinya sudah tak betah berlama-lama jauh dari anak isterinya "Gue udah kangen Baby Zee sama Mommy nya." Lanjutnya curhat.


"Mommy yang mana bang? Kan Mommy Baby Zee ada dua!" Sentil Eric.


PLAK! Bukanya kesakitan Eric justru terkikik meledek abangnya.


Irma melirik tajam ke arah sulungnya "Raka, jangan kebiasaan mukul kepala bungsu!" Protesnya.


"....." Raka tak menyahut sepatah kata pun lagi, pria itu masih setia dengan raut gelisah.


Satu persatu mereka turun dari kendaraan beroda empat itu dan sambutan hangat dari tetangga depan rumah Hayu merayap.


"Monggo silahkan." Sambut nya tersenyum ramah yang lalu di jawab dengan senyuman ramah Baskara dan Irma, sedang Raka masih dengan raut gegana, sementara Eric tampak berkerut kening menatap lubang-lubang di tanah becek yang terhantam hujan lebat semalaman.


"Aduuuh, Pi, serius kita melewati ini? Sepatu Eric yang limited edition bisa kotor Pi." Protes Eric berbisik di telinga ayahnya lalu beralih pada asisten personal ayahnya "Shaka, lu coba gelarin karpet merah buat gue!" Usulnya songong. Dan laki-laki itu hanya memperlihatkan senyum manisnya.


"Sudah, sekarang kita ikuti alurnya, kasian bang Murad mu di dalam sendiri." Irma yang menyambar kegelisahan bungsunya.


Dengan di iringi beberapa orang-orang setia juga di tonton para warga, Baskara dan keluarganya memasuki gang menuju rumah calon menantunya.


"Oalah, ganteng ganteng tenan ee, ..." Bisik bisik tetangga saat melihat kedua putra tampan Baskara.


Setelah melewati kubangan tanah becek akhirnya keempatnya bisa juga menyatroni rumah sederhana milik Hayu, rupanya bungsu masih merutuk tak jelas mengeluh kan sepatu mahalnya kotor.


"Pi, ..." Murad menyambut kedatangan mereka dengan mencium punggung tangan ayah dan ibunya, khidmat.


"Mana calon istri mu?" Tanya Baskara.


"Ada di dalam, tapi, bibik nya tidak mengizinkan kita membawanya sebelum di nikahi secara resmi. Jadi Miko dan pak Rahmat membawa penghulu juga," Jelas Murad mengutarakan informasi pada keluarganya terutama ayahnya "Jadi, apa Papi merestui? Kalo hari ini juga Murad menikahi Hayu?" Tanyanya dengan tatapan penuh harap.


"Semua Papi serahkan padamu, begitu juga lebih baik, apa lagi calon istri mu yatim-piatu, semoga kamu mendapatkan pahala, menikahi wanita untuk di sejahtera kan." Baskara menepuk punggung putranya bangga.


"Hieleh, bener menikah untuk mensejahterakan bang? Palingan karena tuh cewek bohay semok." Sambar Eric mencibir sambil menaikkan ujung bibirnya.


"Riiiic..." Irma melirik pada putra bungsunya, kebiasaan mencibir pemuda itu memang suka memancing kemarahan kedua abangnya, tak heran jika sering menerima pukulan di kepalanya. Sedang Raka masih asyik dengan ponselnya sendiri, terus mengirim pesan teks pada isterinya.


Detik detik berlalu dengan cepat setelah acara lamaran selesai Baskara dan keluarganya pulang ke hotel untuk beristirahat lalu tepat setelah melaksanakan ibadah shalat Maghrib mereka kembali mendatangi rumah Hayu.


Sang penghulu sudah tak sabar mengesahkan pernikahan Hayu Diajeng dengan Murad Earl di jam delapan malam ini. Orang kaya, bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan cepat tanpa kendala, dari katering makanan hingga pakaian kedua mempelai, lagi pula ini acara sederhana maka tak memerlukan hal rumit.


Murad sudah bersiap dengan kemeja mahalnya duduk bersila di hadapan sang penghulu di dampingi Eric dan Raka yang juga duduk bersila di sisi kanan dan kirinya, sedang Baskara dan Irma duduk di sisi Jenar dan Rendra, rupanya hanya dua orang saja keluarga yang menghadiri pernikahan Hayu selebihnya para tetangga.


Acaranya mendadak maka Baskara hanya membawakan uang tunai untuk menjadi mahar nya. Dan gepokan merah yang berjejer di atas meja akad sempat membuat tercengang seluruh mata yang memandang saking banyaknya.


Sampai pada akhirnya semua mata tertuju ke arah yang sama, yaitu calon mempelai wanita yang baru saja keluar dari kamarnya dengan riasan flawless dan kebaya cantik berwarna hijau yang Rahmat dan isterinya siapkan secara mendadak.



"Gila, cantik banget bini lu bang, ..." Celetuk Eric dengan mulut yang menganga kagum menatap lekat wajah cantik Hayu Diajeng.


"Awas ajah sampai lu naksir calon bini gue!" Murad berucap tanpa menoleh adiknya, tatapannya justru melekat pada wajah cantik Hayu Diajeng.


"Ada lagi gak bang? Yang begini di kampung ini? Gue juga mau!" Sambung Eric.


"Gada lagi, cuma istri gue yang cantik begitu!" Timpal Murad kedua abang beradik itu masih sempat bersahutan tak jelas, sedang Raka hanya tersenyum menyambut datangnya calon adik ipar, bicara tentang rasa Raka sudah stuck pada satu wanita cantik, tiada wanita lain yang mampu menyaingi kecantikan Pinkan di mata calon presiden direktur itu.


Perlahan Hayu duduk di sebelah Murad dengan wajah yang menunduk malu, di hatinya berdebar kencang tak karuan, ternyata malam ini juga dia sudah akan menjadi isteri pemuda tampan yang delapan bulan lalu menolongnya di Britania raya.


Salah satu alasan yang membuat Hayu mau menerima, Murad lah yang sejatinya menolongnya dari para mafia, karena pemuda itu dia bisa kembali ke tanah air tercinta tanpa kendala, jika tidak ada Murad mungkin saat ini dia masih menjadi tawanan cinta mafia kejam yang senjatanya sudah berlabuh ke banyak lubang buaya, Hayu juga sempat memikirkan hal itu semalaman tadi.


"Kamu cantik, Baby." Bisik Murad di telinga calon istri nya membuat Hayu semakin menunduk malu dibuatnya, meskipun belum menampilkan wajah perdamaian pada pemuda itu.


"Gimana? Sudah bisa kita langsung kan akadnya?" Tanya pak penghulu.


"Langsungkan saja, lebih cepat lebih baik!" Titah Baskara yang membuat putra keduanya tersenyum bahagia, ternyata ayahnya masih menganggap nya sebagai seorang putra, beliau tidak membeda-bedakan anaknya, terbukti dari cara Baskara yang sangat antusias mendukung usahanya meskipun Hayu bukan dari keluarga berada.


"Baiklah, assalamualaikum, ...." Penghulu menguluk salam sebelum kemudian menyampaikan ijab dan di jawab qobul dari Murad Earl.


"Syah? Syah! Syah!"


Secepat itu status Hayu Diajeng berubah menjadi seorang istri, meskipun selama ini Rendra dan Jenar tak mengurusi gadis itu tapi saat ini mereka tampak bahagia.


Seluruh orang juga terlihat sangat bahagia dengan raut wajah girang masing-masing.


"Kamu sekarang istri ku Baby." Ucap Murad lalu mengecup lembut kening wanita itu.


Air mata yang mengintip di sudut netra Irma mulai terjun bebas tanpa kompromi "Selamat ya sayang, selamat datang di keluarga kami." Wanita itu juga mengecup lembut kening menantunya membuat Hayu semakin tak kuasa menahan buliran bening yang sudah penuh di balik pelupuk mata.


"Nggih ibu." Untuk yang pertama kalinya setelah ibunya meninggalkan dirinya lima belas tahun yang lalu, Hayu baru menyerukan panggilan itu kembali. Sungguh, rasa haru begitu membuncah di dalam dadanya.


"Panggil Mami, kamu juga sekarang putri ku." Ucap wanita itu, wanita baik yang sangat mencintai putra putranya, dan itu yang membuat Irma Ratri tiada pernah luput dari kedipan mata Baskara Lindu selama lebih dari tiga pulu lima tahun bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung..... Terimakasih yang masih stay tune di sini.🤗