
"Apa?" Jenar terperangah saat tahu yang melamar keponakannya adalah Tuan muda dari pemilik perusahaan besar "Jadi, calon suami ponakan ku putra ke dua nya pemilik Key-food pak Rahmat?" Tanyanya memastikan.
"Iyah, makanya tolong jangan sia-sia kan kesempatan ini, aku yakin Tuan muda kami akan membahagiakan Hayu, sudah hampir satu tahun Tuan muda menugaskan ku untuk menjaga putri Anda sambil menunggu dia lulus kuliah S2 di Britania raya." Jelas Rahmat panjang lebar sekaligus promosi dengan menggunakan bahasa jawanya.
"Tapi bagaimana dengan keluarga mereka yang lain? Apa mereka mau menerima Hayu yang cuma anak yatim-piatu? Pendidikan nya juga cuma SMP saja." Jenar mendadak down setelah mengetahui asal-usul calon mantunya.
"Insya Allah mereka setuju, yang penting tugas Anda sekarang yakin kan saja Hayu, supaya tidak menolak Tuan muda kami." Ucap Rahmat.
Sekitar satu jam mereka mendiskusikan rencana lamaran juga pernikahan yang akan segera berlangsung di kediaman keluarga Baskara.
Sebenarnya Rendra sendiri masih belum terlalu setuju ibunya memutuskan apapun untuk adik sepupunya sebab di sisi lainnya lagi ada Damar sahabatnya yang meminta di jodohkan dengan Hayu. Tapi yasudah lah biarkan orang tua itu memenuhi tugasnya sebagai seorang bibik.
Mereka duduk melingkar di sofa ruang tamu sedang Hayu dan Murad duduk berhadap-hadapan di kursi meja makan sederhana milik Hayu.
"Aw, sakit Yu, ini sakit banget." Pemuda tampan yang meringis itu berkeluh kesah pada calon isterinya.
"Terimakasih ya, akhirnya kamu mau menerima ku, terimakasih juga sudah memaafkan ku, mungkin sekarang ini terpaksa tapi aku yakin kamu akan segera mencintai ku dengan suka rela." Murad menatap lekat wajah cantik Hayu yang masih sibuk mengompres luka lebamnya. Sepertinya tonjokan Rendra benar-benar tidak main-main terlihat sekali dari bekas lebamnya yang membiru.
"Kenapa diam? Perasaan dari tadi aku ngomong sendiri." Protes Murad.
"Aku ngantuk, sekarang kamu pulang lah." Hayu menghentikan aktivitasnya lalu membereskan baskom berisi air hangat dan handuk kecil dari meja makan, baru saja mau beranjak dari duduk Murad mencegah.
"Apa sebenci itu kamu padaku Yu?" Tanyanya memelas.
Hayu mendengus "Memangnya ada orang yang di paksa lalu senang?" Ketus nya.
"Maaf, aku memaksa mu, tapi, ..."
"Aku terpaksa menerima mu, yah benar terpaksa, lagian siapa yang akan mau menikahi ku selain dirimu? Semua orang sudah tahu aku pernah hamil anak mu, barusan kita kepergok ciuman padahal bukan muhrim, ini kampung bukan kota seperti di tempat tinggal mu! Kamu tahu apa pandangan orang kampung padaku sekarang?"
"Kamu gadis desa ayu yang beruntung mendapat pemuda tampan kaya raya, berpendidikan, apa lagi selain mereka iri padamu?"
PLAK!
"Aw!" Murad meringis menerima pukulan kecil Hayu di luka lebamnya. Dengan wajah judes Hayu lantas masuk ke dalam kamar miliknya meninggalkan calon suami tampannya sendiri di meja makan.
"Gapapa pukul aja lagi Yu, yang galak biasanya setia." Gumam Murad Nyengir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari pukul 09:04 Raka baru menggeliat di atas pembaringannya, subuh tadi setelah shalat calon presiden direktur itu baru bisa tertidur perkara memikirkan ucapan jandanya juga kemarahan isterinya di malam yang sama.
Tangannya meraba permukaan kasur di sebelahnya yang terasa kosong "Sayang." Matanya mengerjap dan perlahan terbuka dengan kening yang mengerut.
Kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tak terlihat satupun perempuan cantik yang biasa menemani tidurnya "Sayang, kamu di kamar mandi?" Tanyanya berseru. Namun tak mendapat jawaban.
Tok tok tok! Pintu di ketuk, Raka lantas berjalan tak seimbang menujunya lalu segera membukanya.
Dan wajah Mirah yang tertampil di balik sana "Maaf, permisi, Tuan muda sudah di tunggu Tuan besar di ruang tengah." Ucapnya dengan tundukkan kepala sopan.
"Oh, iya, bilang sebentar lagi."
Raka menutup pintu lagi kemudian masuk ke dalam kamar mandi sekedar untuk mencuci muka lalu keluar dari kamar berjalan menuju ruang tengah, terlihat di sana Eric ayah dan ibunya sudah rapi dengan pakaian mahalnya masing-masing, namun belum melihat anak dan istrinya.
"Kamu kenapa lama sekali bangun nya?!" Sambar Baskara ketus.
"Papi gak ke kantor? Eric juga gak ke sekolah?" Bukanya menjawab Raka justru balik bertanya.
"Murad, adik mu sudah menyuruh kita datang ke Surakarta, dia bilang lamarannya sudah di terima, kita jemput anak itu sekarang juga." Jawab cepat Baskara yang di angguki Irma.
"Kenapa mendadak dan buru-buru sekali? Pinkan Baby Zee kemana? Mereka gak ikut?" Sambung Raka.
"Pinkan bilang gamau ikut, jadi tadi pagi pulang ke rumah Iyan bawa Baby Zee. Biar saja lah, lagian takut baby Zee rewel di jalan. Sekarang kamu siap-siap gih! Kita langsung jemput Murad." Titah Baskara.
"Iya." Raka berucap lirih sambil mengangguk pelan lalu segera melakukan perintah ayahnya.
Urusan Pinkan biar lah nanti saja, mungkin isterinya butuh waktu untuk merindu, Raka yakin takkan terjadi apa-apa dalam rumah tangganya, buktinya Pinkan masih membawa Baby Zee ke manapun.
Tapi sebelum bersiap Raka terlebih dahulu mengirim pesan teks pada isterinya.
📨 "Sayang, Daddy pamit yah, doakan Daddy selamat sampai tujuan, i love you, Mommy Baby." Tulisnya. Lalu meraih satu persatu pakaian yang akan dia kenakan setelah mandi nantinya, biasanya Pinkan lah yang menyiapkan perlengkapan miliknya, dari sepatu hingga sapu tangannya tapi kali ini Raka harus mengambilnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu bergulir begitu saja. Tiba di Boyolali keluarga Baskara langsung di sambut hangat oleh Rahmat dan bawahan lainnya, mereka kemudian berbondong-bondong menuju desa kecil tempat tinggal Hayu Diajeng. Tapi agaknya si bungsu tak bisa diam merutuki jalanan yang berlubang.
"Sebenernya secantik apa sih cewek bang Murad? Jadi penasaran gue, sampe mau bela belain nyusul ke sini, mana jalannya gak rata begini, capek deh." Keluh nya.
"Awas kamu sayang, jangan sampe naksir lagi sama calon istri Abang mu, nanti gamau makan lagi kayak waktu bang Raka nikahan." Sela Baskara mengingatkan bungsunya.
"Iya, lagian kamu masih lama nikahnya, nunggu lima tahun lagi baru boleh menikah." Timpal Irma.
"Gak janji, selera wanita kita bertiga kan emang sama, ya gak bang!" Eric melirik ke arah abangnya yang masih setia dengan raut sendu, di Jakarta Raka meninggalkan anak dan isterinya dalam keadaan tak baik, tadi malam Pinkan marah dan sampai sekarang belum membalas satu pun pesan darinya.
"Bang! Lu kenapa ngelamun?" Eric berhasil membuyarkan lamunan abangnya namun tetap tak membuatnya mau menjawab sepatah katapun, Raka terus bergumul dengan pikirannya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Insya Allah secepatnya up lagi. Minta Dukungan like nya yah, Sekalian barang kali yang mau baca karya ku yang lain, boleh.