
Di bawah tetesan air dari shower yang perlahan membasahi tubuhnya perlahan pula mengembalikan kewarasan pemuda itu, puing-puing ingatan saat dia memaksa Hayu Diajeng sebegitu rakusnya mulai terkumpul satu-persatu.
"Jangan Tuan, jangan!"
Kata-kata Hayu yang tiba-tiba terngiang di telinganya
"Ku mohon, jangan lakukan ini!"
Murad memejamkan matanya erat mencoba eling dari pengaruh Vodka yang dia minum. Tangannya meremas rambutnya sendiri penuh penekanan.
"Tuhan, sebenarnya apa yang sudah ku lakukan? Apa aku yang memaksanya?" Murad bergumam sembari mengingat ingat kembali kejadian di antara dia dan Hayu Diajeng berjam-jam yang lalu.
Masih penasaran dengan apa yang terjadi, Murad lantas mempercepat mandinya, tak ada tiga puluh menit pemuda itu sudah keluar dengan handuk kimono nya.
CCTV, bukan kah dia punya CCTV? Lalu untuk apa susah payah mengingatnya? CCTV tidak tidur, benda itu pasti sudah merekam seluruh kegiatan di rumah tersebut termasuk CCTV yang ada di kamarnya.
Setelah rapi dengan pakaian mahalnya, Murad duduk di kursi putar meja belajarnya, membuka laptop miliknya lalu mengakses folder rahasia di sana, di mana hanya dia yang bisa memiliki akses melihat folder tersebut, yaitu video CCTV yang merekam kejadian di dalam kamarnya sendiri.
"Sial!" Murad mengumpat dirinya sendiri kala melihat adegan demi adegan saat dirinya merebut paksa mahkota gadis desa itu. Tiba-tiba saja aliran darah seakan mendidih, begitu beringsang tak karuan rasanya.
"Oh Tuhan, aku bahkan sudah memaksanya berkali-kali! Lalu aku menuduhnya yang tidak-tidak!" Murad menyugar rambutnya ke belakang dengan kedua tangan, merasa sangat bersalah. Ternyata dia sudah dengan teganya merenggut kesucian seorang gadis tak berdosa lalu menyakiti hatinya pula. Sejatinya Murad bukan lah laki-laki yang buruk, dia hanya terpengaruh minuman setan saja.
Dengan wajah yang sukar di jelaskan Murad meraih coat panjang miliknya yang lalu ia pakai, kemudian mengambil kunci mobil dari dalam lacinya. Berjalan menuruni anak tangga berniat menyusul Hayu Diajeng yang entah masih hidup atau sudah mati kedinginan, pikiran Murad mulai tak karuan.
"Come on, jangan sampai dia hilang di kota ini, atau aku akan terus merasa bersalah seumur hidupku!" Gumamnya gelisah.
"Miko mana mbak?" Di lantai bawah, Ira sang asisten rumah tangga tengah sibuk menyiapkan makan malam.
"Tuan Miko pergi tidak lama setelah Hayu pergi Tuan muda." Jawabnya.
Murad sedikit lega, setidaknya sebelum dia, Miko sudah lebih dulu mencari, atau bahkan mengikuti kemana perginya Hayu Diajeng.
"Kamu jaga rumah Ya mbak, saya mau menyusul mereka!" Pamitnya gugup lalu keluar dari unit apartemen itu setelah melihat anggukan kepala wanita itu.
Murad berjalan cepat sembari memainkan gawai miliknya mencoba menghubungi asisten pribadinya. Berkali-kali pemuda itu menekan kontak bertuliskan Miko tapi tak jua mendapat jawaban.
"Sial, ... Siang malam panggilannya mengganggu ku! Kenapa di saat seperti ini malah susah di hubungi!" Sarkas Murad bergumam gusar.
Murad terus melanjutkan langkah turun dengan lift kemudian berjalan cepat menuju halaman parkir dia Lalu segera memasuki mobil sport hitam miliknya.
"Semoga belum jauh dari sini" Gumamnya penuh harap.
Dengan kecepatan sedang Murad melajukan mobilnya, mulai menyisir seluruh kota dari yang ramai hingga yang sepi, di beberapa titik tidak bisa ia kunjungi kendala salju yang turun semakin menutupi pandangan, portal polisi di mana-mana menutup jalur curam yang rawan terjadi kecelakaan.
"Kemana mereka?" Gumamnya lagi terus setia dengan wajah cemas penuh sesal. Setelah empat jam menyisir kota dan tak menemukan sosok yang ia cari, Murad pun memutuskan untuk kembali ke apartemen miliknya, mungkin saja Miko sudah pulang, dan lagi sudah larut malam, jalanan semakin mencekam.
Satu jam berlalu. Tiba di rumah, Murad kembali menemui Ira di dapur bersih minimalis apartemen miliknya "Tuan muda." Sapa wanita itu menyambut.
"Miko sudah pulang mbak?" Murad merotasi kan matanya melihat ke sekeliling yang masih terlihat sepi.
"Belum Tuan muda, dari tadi mbak sendiri di sini." Jawab Ira.
"Oh." Murad lantas berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar miliknya, tempat di mana dia memperdaya seorang wanita.
Langkah Murad langsung mengarah pada ranjang yang masih porak-poranda, di singkap nya selimut tebal berwarna hitam itu hingga tampak lah sprei putih di mana bercak merah terlihat lamat-lamat tercecer.
Bersamaan dengan itu ponsel di saku celananya bergetar, dengan cepat pemuda itu menyambar gawai persegi miliknya.
"Halo." Sapa nya lirih.
"Maaf Tuan, hape saya baru aktif lagi. Tadi tidak sengaja saya matikan." Ucap laki-laki di seberang telepon sana.
"Gimana sama Hayu?" Tanpa ragu Murad menanyakan itu.
"Saya baru saja mau memberi informasi tentangnya, Tuan muda tidak perlu khawatir, saya sudah mengurusnya." Ucap pria itu terdengar yakin.
Mata Murad terpejam perlahan sambil menghembus napas lega "Syukurlah." Ucapnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Indonesia pukul 03:00.
Raka yang baru saja selesai dengan perang keringat nya, kini duduk di kursi balkon masih sibuk dengan gawai pipih miliknya, sedari tadi pria tampan itu terus melayangkan panggilan telepon pada Murad dan Miko. Sudah puluhan kali namun tak jua mendapat respon.
"Murad gamau angkat, ini si Miko malah gak aktif! Pada kemana mereka? Bukanya seharusnya belum tidur, di sana masih sore kan?" Gumamnya merutuk sambil menggaruk sebelah alisnya.
📨 "Lu serius marah sama bang Raka hah?" Tulisnya yang lalu ia kirim secara singkat pada nomor adiknya.
Wajah Raka muram matanya menujum gawai pipih miliknya, serius "Dasar adik durhaka lu!" Sarkas nya merutuk.
Lalu suara langkah kaki terdengar mendekat membuat Raka menoleh dengan kening yang mengerut menatap adik bungsu yang ternyata belum juga tidur di jam begini, Eric melangkah melewati pagar pembatas balkon membawa satu cangkir kopi di tangannya.
"Lu juga, ngapain di sini? Bukanya besok lu sekolah hah?!" Tanyanya sedikit meradang, terbawa suasana.
"Eric kangen bang Murad." Ucap Eric.
"Sama, bang Raka juga." Sambung Raka.
"Biasanya kita kan ngopi bertiga di sini, biar kata kalian suka pedes kalo ngomong, tapi Eric kangen kumpul-kumpul."
Pemuda manja itu lantas menyodorkan kopi miliknya pada abangnya dan Raka menerima dengan senyum di wajahnya "Sekarang bang Raka ajah yang minum, Eric bisa kembung minum satu gelas sendiri." Ucapnya dengan nada sendu, lalu kembali melangkah lagi ke balkon kamarnya sendiri.
Raka terkikik melihat tingkah manja adik bungsunya yang meskipun banyak fans cewek di sekolah tapi sifatnya masih mirip anak-anak "Makasih yah bungsu ganteng." Ucapnya lalu menyeruput kopi pemberian adiknya, dini hari begini di beri kopi, sungguh nikmat mana yang kau dusta kan Raka?
"Brrruuuusssshhhh!!" Raka menyemburkan kembali kopi racikan adik bungsu tercintanya yang terasa pedas, asin, asam tak jelas juntrungannya.
"Eric!!" Teriak Raka "Sialan lu!!" Pria itu berdiri melototi Eric yang asyik memegangi perut sambil menertawakan dirinya.
"Wkwkwkwk! Itu pembalasan buat Abang yang suka nikung gebetan adiknya!"
"Bungsu durjanaaa!!" Senggak Raka sembari menyiram kan sisa kopi pada adiknya yang agaknya tak tepat sasaran, Eric sudah minggat memasuki kamar miliknya.
"Astaghfirullah, sabar, Raka sabar!" Pria itu mengembang kempiskan dadanya menahan emosi sebisa mungkin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.....