
"Laras?" Dokter wanita itu memastikan sekali lagi pada Pinkan, itu lah yang menyeletuk saat Aryana menanyakan siapa nama dokter yang menanganinya delapan bulan lalu.
"Iya Dok, Larasati." Tambah Pinkan sangat yakin.
"Apa bisa saya bertemu dengan dokter yang di maksud istri saya Dok?" Timpal Raka.
"Bisa, tentu saja bisa, kalo begitu tunggu sebentar, saya hubungi rekan saya terlebih dahulu." Ujar Aryana dengan sikap keibuannya. Wanita itu mengutak-atik gawai tipis miliknya melayangkan pesan teks pada rekan dokternya.
Tak lama kemudian satu wanita berjas putih memasuki ruangan presiden suite milik Pinkan.
"Permisi Dok, ada yang bisa saya bantu?" Tawar wanita itu.
"Iya, dokter Laras, pasien saya ingin menemui mu," Aryana lalu beralih pada Raka "Ini Tuan Raka, rekan saya, dokter Larasati spesialis kandungan." Tambahnya.
"Bukan, bukan ini Dok, bukan Larasati yang ini, dokter yang waktu itu menangani saya, masih lebih muda lagi, mungkin sekitar tiga puluh tahunan."
"Kamu yakin Yank?" Celetuk Raka lalu Pinkan mengangguk "Yakin, aku ke sini di saranin Kania, dia bilang suruh ketemu sama dokter Laras tapi pas dateng ke sini bukan dia orangnya, Daddy." Jawabnya.
Aryana sedikit cengok, lalu jika bukan Larasati yang ini kemudian yang mana? Sementara hanya wanita berusia empat puluh tahun itu saja rekan kerja bernama Larasati spesialis kandungan terbaik di rumah sakit elit tersebut.
Pinkan masih terlihat kebingungan juga penasaran tapi kemudian Raka meminta kedua dokter wanita di hadapannya keluar terlebih dahulu, alasannya supaya isterinya bisa beristirahat.
"Sudah jangan terlalu banyak pikiran sayang, ingat kamu lagi hamil, kamu lihat? Kita akan segera memiliki momongan cowok, pasti setampan Daddy nya, iya kan?"
"Em em." Setelah hanya berdua saja Pinkan justru baru merasakan haru dari dalam dadanya hingga mengalir lah gelintir jernih dari sudut netra yang tiada henti berderai membasahi pipi mulusnya.
Psikis, yah, wanita itu sempat mengalami goncangan yang cukup berat, bahkan sampai tak mampu merasakan geliat bayi dari dalam rahimnya. Ia terus menyangkal setiap kali Raka menanyakan tentang kehamilan, yah, psikis Pinkan sempat tergoncang.
"Hiks, hiks, akhirnya aku hamil Raka, ...." Dalam dekapan hangat suaminya wanita itu tersengut-sengut meluah kan terai bahagia yang tiada tara.
"Maaf selalu membuat mu repot beberapa bulan ini, maaf dalam masa hamil muda Mommy justru tak menyadarinya, maaf Daddy." Ucap Pinkan tulus.
Pinkan kemudian Raka biarkan beristirahat sedang kabar bahagia itu segera meluncur ke group chat keluarga besar mereka.
🔊 "Alhamdulillah, Baby Zee segera punya adik baru, cowok, sedang on the way, di perkirakan empat bulan lagi launching!!" Raka juga mengirimkan foto USG 5D nya.
🟥 "Eh yang bener lu Bang?!! Serius lu hah!?" Eric.
🟨 "Jangan becanda lu Bang!" Tito.
🟪 "Alhamdulillah, akhirnya, semoga bukan prank!" Murad.
🟩 "Alhamdulillah, gue bilang apa kan Bas, anak gue Hamidah 😭" Hardian.
⬛ "Alhamdulillah,😭." Baskara.
🔊 "Ah elah, grand pa, ngapa jadi pada lebay begitu 🤭." Raka.
Justru para pemuda juga bapak-bapak yang antusias nimbrung, sementara Martha dan Irma sudah tak mampu berkata apa-apa meski hanya lewat maya, doa terbaik mereka panjatkan kehadirat Illahi Rabbi, sang khalik, maha menciptakan segala sesuatu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah di rawat satu hari secara intensif, Pinkan di pulangkan kembali ke kediaman utama keluarga besar Baskara, seluruh keluarga tanpa terkecuali menjemput wanita hamil itu dari rumah sakit, termasuk juga Hayu Diajeng.
"Ka, ..." Hayu mendekati Kaka iparnya, wanita yang beberapa bulan ini ia cemburui, Hayu sadar Pinkan tak pernah berbuat tak baik padanya meskipun akhir-akhir ini dia sering menyindir perihal kehamilan.
"Iya Yu." Pinkan menoleh menghiraukan adik iparnya.
"Maaf kan Hayu, sudah sering menyakiti Kaka selama ini, Hayu minta maaf." Wanita itu menyesal setelah sering kali menyindir akan tetapi, Pinkan justru terlihat sibuk saat acara nujuh bulanan Hayu kemarin.
"Salah apa? Kamu ga punya salah, aku tahu kamu ga bermaksud menyakiti ku." Yah, sesimpel itu lah hidup seorang Pinkan Arora gadis cantik dari keturunan berada tapi memiliki hati yang rendah.
"Selamat datang kembali bumil-bumil cantik menantu ku, semoga Tuhan selalu melindungi kalian, sehat sampai melahirkan secara normal." Irma memeluk haru kedua menantu cantiknya, termasuk seluruh orang yang juga menatap haru ketiganya.
Pada akhirnya Murad berhasil meyakinkan isterinya bahwa dirinya hanya mencintai Hayu Diajeng seorang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Esok harinya, di atas jok kemudi mobil sport putih mengkilap, seorang pria dengan style pakaian kasual tengah sibuk memainkan setir.
Ada misi yang tengah pria Casanova itu jalani saat ini "Lu tenang aja udah, bukan Arjuna kalo ga bisa ngurusin hal sepele kayak gini!" Dia tampak menekan earphone di telinganya, rupanya sang Tuan terdengar cemas di seberang sana.
"Ok, sekarang gue minta waktu buat nyelesein pekerjaan gue, lu jangan dulu ganggu, pokoknya tunggu aja kabar dari gue setelah berhasil!" Arjuna mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Mobilnya menepi pada sebuah rumah sakit elit, terlihat di depan sana seorang wanita sepantaran dengannya sedang asyik memainkan gawai persegi.
"Akhirnya, setelah sekian lama, ada alasan untuk kita bertemu lagi, mantan!" Gumamnya dengan seringai di ujung bibirnya.
Ia turunkan kakinya perlahan kemudian berjalan cepat menuju wanita cantik berjas putih itu, sepertinya dokter wanita itu tengah menunggu jemputan dari seseorang.
Greek!
Arjuna merengkuh tubuh mungil wanita itu tanpa izin dari si pemilik "Heh!" Tentunya wanita itu terkesiap mendapati dirinya dalam dekapan seseorang yang belum ia lihat wajahnya "Lepas! Jangan kurang ajar kamu!" Racau nya sembari mengayunkan kakinya meronta.
Sementara tangan kanan Arjuna meraih handle pintu mobil, lalu secara impulsif ia memasukkan wanita berjas putih itu ke dalam mobilnya.
Brugh!
Laki-laki itu sempat menyeringai licik saat melirik mantan kekasihnya menggebrak-gebrak pintu mobil dengan gusar.
Arjuna menyusul masuk ke dalam mobil sport miliknya lalu segera membawa lari kendaraan mahal itu sesuka hatinya.
"Juna!" Wanita itu melotot saat sudah sadar siapa laki-laki yang menculik nya "Apa-apaan kamu hah? Turunkan aku! Apa kau gila Juna??!!" Pekiknya.
"Apa mau mu hah?" Berang Lisya dengan tatapan tajam yang hampir melubangi jantung hati sang Casanova.
"Menurut mu apa lagi hmm? Mantan pacar ku semakin cantik, apakah harus aku diam kan begitu saja?" Ledek Arjuna.
"Maksud mu?"
"Come on sayang. Dua orang berlawanan jenis di dalam mobil, mau kemana lagi enaknya selain ke hotel, kebon, semak-semak, atau mungkin kau punya ide yang lebih seru untuk melakukan pergulatan cinta kita mungkin?" Tawar Arjuna.
"Jangan kurang ajar kamu Juna, aku sudah mau menikah, turunkan aku di sini!" Sentak Lisya melotot.
Arjuna melemparkan satu botol transparan kecil berisikan kapsul pada pangkuan Lisya "Kamu ingat, kamu pernah memberikan obat itu pada salah satu pasien mu?" Tanyanya.
Lisya membulatkan matanya begitu terkejut bahkan sekarang tangannya gemetar saat memegangi botol kecil itu "Ini bukanya pil yang ku berikan ke istri Raka?" Batinnya.
"Kenapa? Apa sudah ingat sayang?" Arjuna menangkap raut gugup yang sudah menjadi pucat milik Lisya.
Wanita itu menoleh dengan gurat ketakutan di wajahnya "Apa mau mu sebenarnya?" Tanyanya.
Brugh!
Kening Lisya hampir terjedot kabin mobil bagian depan ketika Arjuna menekan rem secara rapat juga mendadak.
"Kamu gila Juna!"
Arjuna dengan cepat melepas sabuk pengaman miliknya kemudian mengungkung tubuh mungil wanita itu di joknya. Detak jantung dokter Lisya berdegup begitu kerap dan Arjuna bisa merasakannya dari bagaimana wanita itu menghembus kasar napasnya.
Smirk devil Arjuna kembangkan di sudut bibirnya "Apa hari ini mantan kekasih ku ketakutan? Atau canggung karena berdekatan dengan ku?" Tanyanya.
"T-tolong lepaskan aku Juna." Pinta Lisya memelas.
Tangan kanan Arjuna merebut kembali botol transparan kecil yang masih dalam genggaman tangan Lisya kemudian membuka tutupnya dengan sebelah tangan sedang matanya terus menujum ke arah iris bening milik dokter cantik itu.
"Aku lepaskan, setelah tujuan ku terselesaikan sayang, mari kita bermain main lebih dulu." Arjuna berusaha menyuapkan tiga butir kapsul hitam tersebut pada Lisya.
"Sekarang kamu minum ini sayang, sebelum aku memakai mu, lumayan bukan? Dokter Hera bilang kapsul ini bisa mencegah kehamilan." Ujar Arjuna.
Mata Lisya membulat sempurna ternyata sejauh itu yang Arjuna ketahui "Gamau Juna, tolong jangan, jangan." Dia terus menggeleng hingga pil di tangan Arjuna jatuh satu persatu.
Arjuna yang lelah kini laki-laki itu menggigit satu kapsul hitam tersebut kemudian ia darat kan bibirnya pada setangkup bibir lembut milik Lisya.
"Emmm, Emm, Emm!" Lisya berusaha menutup mulutnya serapat mungkin "Kurang ajar kamu Juna!" Sisi batinnya, yah meskipun Lisya tak menyangkal mereka pernah berkeringat bersama saat masih menjadi sepasang kekasih, Lisya, Rani, Raka dan Arjuna dahulunya memang satu kampus.
Tangan Arjuna sudah menguasai seluruh akses penolakan sang mantan "Ayok Lisya, minum ini, kau sudah membuat istri sahabat ku tersiksa batin selama ini, kau juga hampir membuat Nyonya Pinkan mandul untuk selamanya, sekarang kau yang harus meminum nya." Batinnya.
Tangan Arjuna pada akhirnya berhasil membuka mulut Lisya lalu secara impulsif bibir Arjuna menjatuhkan pil hitam itu kedalam sana, bahkan Arjuna mendongakkan kepala wanita itu agar lebih mudah pil mungil tertelan dengan sendirinya.
Bibir Arjuna terus menggerilya menyikat habis barisan gigi putih wanita itu hingga akhirnya dia melepas pagutan nya setelah Lisya terbatuk-batuk akibat pil yang masuk ke dalam tenggorokan secara paksa.
"Oh Lisya, rasa ciuman mu masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah, sangat manis!" Laki-laki itu tersenyum puas menatap Lisya yang pada akhirnya menelan pil dari mulutnya.
"Hiks hiks, ..." Sekarang, dalam mobil yang terparkir di ujung pantai sana suara isak tangis terdengar begitu menghiba "Kenapa kamu tega melakukan ini padaku Juna!"
"Kenapa lagi? Kalo saja kamu masih kekasihku, mungkin akan ku tutupi kejahatan mu, tapi, sekarang kau mau menikahi laki-laki lain, siapa? Reno? Dokter ahli bedah plastik itu? Aku kecewa, padahal gaji ku terlalu banyak jika ku habiskan sendiri saja, kenapa tidak kamu nikahi saja aku hmm?" Ujar laki-laki itu.
"Kamu gila Juna!" Berang Lisya.
Greek!
Arjuna meremas kedua pipi wanita itu dengan ujung-ujung jemari yang sangat menyakitkan bagi Lisya "Sekarang katakan padaku, siapa yang menyuruh mu?!" Tuntut nya dengan tatapan penuh penekanan.
"Lepas Juna!"
"Katakan Lisya!"
"Kalo kamu bisa mengetahui perbuatan ku sejauh ini, berarti kau juga sudah tahu siapa dalangnya!"
"Tentu saja, Arjuna dengan mudah mengetahui semua yang dia cari tahu hanya dalam jangka waktu kurang dari dua puluh empat jam saja!" Cakap besar laki-laki itu.
"Lalu kenapa harus bertanya!"
"Aku mau kau yang mengakuinya secara langsung Lisya! Katakan saja siapa yang menyuruh mu! Atau aku tak segan memakan mu di sini, bukan kah kita sudah lama tidak melakukannya hmm?" Smirk iblis lagi-lagi tersungging di sudut bibir Arjuna mengancam.
"Bajingan kamu Juna!" Lisya memukul dada bidang sang mantan yang masih terlihat sangat tampan di matanya.
"Katakan!" Pekik Arjuna melotot sembari menekan cengkraman tangannya pada kedua pipi wanita itu.
"Rani," Lisya menyeletuk sambil mengangguk ketakutan, apa lagi tangan kiri Arjuna sudah membuka satu persatu kancing bajunya, sudah bisa di pastikan jika dia tak mengaku maka habislah sudah sarangnya di tembus junior milik Casanova itu.
"Ceritakan semuanya!" Sentak Arjuna.
"Yah, Rani yang mendatangi ku, dia menelepon ku pagi-pagi sekali, dia bilang meminta bantuan pada ku untuk memalsukan rekam medis Pinkan juga memberikan obat mencegah kehamilan yang perlahan mematikan peranakan, saat itu Pinkan mencari dokter Laras, tapi aku mengambil name tag dokter Laras, aku yang berpura-pura menjadi dokter Laras saat itu, aku terpaksa melakukan nya Juna, kamu tahu aku dan Rani sangat dekat dari kita semua masih sama-sama kuliah, aku tidak bisa menolak nya, sekarang ku mohon lepaskan aku!" Ujar Lisya mengakuinya dengan tangan yang menyatu menghiba.
Arjuna mematikan seluruh kamera dashboard mobil setelah berhasil merekam penuturan rekognisi dari aksi kejahatan mantan kekasihnya.
"Sekarang, mari kita mulai sayang!" Laki-laki bergelar Casanova itu menjatuhkan bibirnya kembali pada setangkup bibir sang mantan kekasih.
...Visual Arjuna...
Bersambung.... Jangan lupa, Like komen untuk meng Up novel ini, terimakasih kerjasama nya. 🥰