Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Pedas!



Raka menatap lekat gerak tubuh Pinkan yang terlihat sangat menggoda dengan balutan gaun ketat berwarna merah pas body di atas lutut yang bahannya kurang semeter, berjalan perlahan bak model, menuju ke arah nya yang kini duduk bersandar di kursi putar ruang kerjanya.


Bibir gadis itu di gigit sebelah tak lupa juga memberikan tatapan yang seolah menusuk hatinya, menarik narik gairah lelakinya,


"Marni. K-kamu di sini? Tidak membawa Baby Zee?" Tanya Raka mengintip sedikit ke belakang tubuh gadis seksi itu.


Pinkan menggeleng "Marni ke sini sengaja mau menemui Tuan muda." Ucap nya.


"Benarkah?" Bibir Raka melongo dengan sensualnya menatap tubuh molek gadis itu yang kini membelenggunya di kursi kebesaran miliknya, belahan indah milik Pinkan menyembul di hadapannya, bahkan saking terperangah nya saliva di mulut sudah hampir menetes.


"Tuan kenapa?" Tanya Marni menyisir kan jari telunjuk nya dari dahi hingga ke hidung lalu ke bibir lanjut ke dagunya.


"Kamu cantik Marni." Ucap Raka.


"Kamu juga tampan Tuan."


"Jadi, Marni boleh kan, cium kamu Tuan? Aku menyukai mu dari pertama bertemu dengan mu Tuan, nikahi aku, tinggal kan pacar mu yang tidak mau Tuan nikahi itu, Marni bersedia menikah dengan mu hari ini juga."


Pinkan memejamkan matanya, memanyunkan bibirnya perlahan memangkas jarak di antara mereka.


"Maaf Rani, aku tergoda, Marni begitu menggoda, aku memilih nya." Batin Raka sambil memejamkan matanya, memanyunkan bibirnya ke depan bersiap menerima ciuman pertama dari Pinkan.


Cup!


Kedua bibir mereka bersatu, Raka yang di cium justru memagut lebih dulu bibir Pinkan dengan rakusnya. Tangannya menekan tengkuk Pinkan demi memperdalam pagutan bibirnya.


"Oh Marni, Emmh, bibir mu lembut."


Dan seperti di film film India tiba-tiba saja gerimis turun, mulai memercik tubuh keduanya, awalnya Raka menikmati percikan air yang menurutnya gerimis, romantis, tapi ia mulai berpikir lagi "Perasaan gue di kantor? Kenapa tiba-tiba kejatuhan air hujan?" Dalam pikirannya tapi bersamaan dengan itu, Raka masih terus memainkan bibirnya menyikat habis bibir Marni nya.


"Raka!! Bangun!! Sudah siang!!" Pekikan yang membuyarkan impian indah pagi harinya bersama Marni.


"Hah??" Raka membuka matanya terkesiap menatap bingung wanita paruh baya yang kini berdiri sembari memegang gelas berisi air putih.


"Kamu mimpi jorok yah hah? Bangun gak kamu!!" Pekik wanita itu lagi sambil memercikkan air lagi ke wajah bingungnya.


"Aaaahhh Mami, Mami ngapain bangunin Raka sih hah?" Protes pria itu ketus.


"Sudah siang, bangun dari mimpi jorok mu itu, kamu sebut sebut nama Marni, memang nya kalian sedang berbuat apa di dalam otak ngeres mu itu hah??" Sela Irma memukuli tubuh putranya dengan bantal.


"Ampun Mi," Raka menangkis pukulan bantal ibunya "Tadi Raka mimpi nyium Marni, hehe." Gigi putih Raka tampak berbaris rapi, nyengir.


"Dasar me sum, pagi pagi gini mimpi nyium perawan! Sekarang mandi, susul Murat sama Marni, cepetan!" Titah Irma kesal.


Raka berkerut kening "Memang mereka kemana?" Tanyanya penasaran.


"Mereka berangkat jalan-jalan pagi dari setelah subuh sampe sekarang belum balik lagi. Hape Murat juga di kamar, gak di bawa, Mami takut kenapa kenapa sama Baby Zee."


Mendengar itu gegas Raka beranjak dari posisinya, keluar dari selimut berlari tergesa keluar dari kamar.


"Raka!!" Panggil Irma berteriak saking gemasnya Irma mere.mas rok span miliknya setelah berdiri di ambang pintu.


"Apa lagi Mi? Raka harus cepat, atau Murat merebut milik Raka."


"Pakai celana mu dulu Raka!!"


Toew wew wew wew!!


Raka menghentikan langkahnya sontak mengerling ke bawah yang ternyata masih hanya memakai bokser kuning ketat dengan gambar Spongebob.


"Xixixixix!!" Beberapa pelayan yang kebetulan berada di sekitarnya terkikik sambil menutup mulut dan matanya melihat singkong bungkus pagi harinya Raka yang terlihat super.


"Ah sialan!!" Umpat Raka lalu berlari lagi ke dalam kamar bergegas meraih celana panjang dari dalam lemari nya.


"Kenapa gue lupa, kalo tadi malam Murat janjian sama Marni, Gara-gara gue mikirin tu cewek seksi mulu, jadi gak bisa tidur, sekarang malah kesiangan gue kan!" Rutuk nya bermonolog dengan raut kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedang di tempat lain, sesuai kesepakatan, pagi ini Pinkan di ajak jalan jalan pagi oleh Murat menikmati udara segar di taman sekitar persawahan kampung tersebut.


Gadis itu mendorong stroller dengan tas berisi semua keperluan Baby Zee, tak lupa juga mencari akal untuk bisa kabur membawa Baby Zee, mumpung ada kesempatan keluar.


Baby Zee sendiri masih anteng karena sepertinya bayi itu menyukai jalan jalan paginya.


"Marni, gimana kalo kita sarapan di kedai bubur itu?" Ajak Murat menunjuk kedai bertuliskan Kang bubur haji Sulam.


Tiba di tempat Murat menarik satu kursi menawarkan nya pada Pinkan "Duduk Marni." Ucapnya.


"Terimakasih Tuan." Pinkan duduk kemudian menempatkan stroller baby Zee di sebelahnya, Baby Zee yang sudah anteng karena sudah lelap tidur sebab malam tadi bayi itu terjaga dari sebelum subuh.


Setelah itu mereka memesan bubur sesuai keinginan dan selera masing-masing tapi sambil menunggu bubur datang Murat izin ke toilet terlebih dulu, Pinkan pun mengangguk tersenyum, setuju sebab itu yang gadis itu tunggu.


"Wah ini kesempatan gue kabur dari sini." Batin Pinkan, gadis itu mulai mengamati punggung Murat, dan setelah memastikan Murat memasuki toilet gegas Pinkan membereskan tas milik Baby Zee. Tapi ternyata keberuntungan lebih berpihak pada keluarga Baskara.


Bruk!


Sesosok pria tampan duduk di kursi sebelah Pinkan membuat gadis itu menoleh padanya "Tuan??" Sapa nya berkerut kening, kecewa.


"Hm??" Raka menampilkan wajah kulkas, masih berusaha menjaga image, sedikit menekan rasa gusarnya yang sedari tadi menderanya. Lalu segera ikut memesan bubur ke pemilik kedai.


"Gagal deh," Batin Pinkan memelas.


Canggung sempat terjadi di antara mereka, Raka yang masih mengingat mimpi ciuman bersama Marni nya seolah tak mau menatap bibir gadis itu, takut tiba-tiba nyerobot kan malu.


Murat yang baru saja kembali dari toilet terkejut tiba-tiba melihat abangnya duduk di sisi kanan Pinkan "Bang, lu ngapain di sini?" Tanyanya usil.


"Makan bubur lah, ngapain lagi? Kalo ini barbershop baru gue mau cukur rambut!" Jawab ketus Raka yang menyulut kekesalan adiknya.


"Kenapa tiba-tiba nongol di sini lu bang? Udah kayak jelangkung aja lu!" Sela Murat menunjukkan wajah kesalnya.


"Lu di cari Mami, Mami bangunin gue nyuruh nyusul lu, balik gih sonoh!" Usir Raka mencuatkan wajahnya ke arah jalan.


"Ogah, gue masih mau sarapan di sini, gue udah pesen, bentar lagi juga sampe tu bubur." Sela Murat menolak seraya duduk di kursi yang menghadap Pinkan.


Sementara Pinkan terlihat menghela napas panjang, mencoba lebih bersabar lagi mendengar perdebatan receh kedua Tuan muda itu.


"Silahkan Mas, Kak, bubur nya." Ucap satu pelayan menyodorkan tiga mangkuk bubur ke meja mereka.


Pinkan tersenyum kemudian membagikan mangkuk berisi bubur itu pada Tuan muda nya. Ketiganya pun memulai sarapan di kedai bubur itu.


Kini mata Raka melirik ke arah Pinkan yang terus menambah sambal ke mangkuk nya dan terlihat menikmati sarapannya.


"Kamu suka pedas Marni?" Akhirnya Murat yang berani bertanya.


"Em em." Pinkan mengangguk tersenyum "Memang nya Tuan muda tidak suka yah?" Tanya balik Pinkan menatap Murat.


"Suka, tentu saja suka, kesukaan kita sama berarti Marni." Sela Murat membual karena sejatinya pemuda itu tak menyukai pedas. Tapi bersamaan dengan itu Murat mengambil dua sendok makan sambal dan menambahkan ke mangkuk buburnya, mencari perhatian (Caper).


"Bang Raka tuh yang gak suka pedes. Cemen dia mah." Sambung Murat menyudutkan abangnya.


"Kata siapa? Gue suka!" Sambar Raka tak terima, gengsi dong, masa kalah sama Murat? Pikir pria itu. Lalu mengambil tiga sendok makan sambal dan menambahkan ke mangkuk buburnya yang juga ikut cari perhatian.


"Benarkah? Bukanya biasanya cowok jarang yang suka pedes?" Sambung Pinkan.


"Hemm, menurutku sih, makan kalo gak pedes gak enak." Raka berbicara dengan percaya dirinya.


"Salut Marni sama kalian." Ucap Pinkan yang membuat GR kedua pria tampan itu.


Ketiganya mulai melanjutkan sarapannya kembali, beberapa suapan Raka dan Murat masih terlihat baik-baik saja, tapi lama-lama bibir keduanya terlihat memerah, matanya mulai berair.


"Huh hah, huh hah." Keduanya kepedasan.


Pinkan yang melihat itu tak kuasa menahan tanya "Kalian kenapa? pedas?"


Raka dan Murat menggeleng secara bersamaan, tapi tubuhnya tak bisa berbohong, terlihat tangan mereka meraih botol minum mereka masing-masing lalu menenggak nya kisruh.


"Hah! Sssshh, huh!" Semakin di beri minum semakin terasa pedasnya.


"Sialan Murat, gara-gara tantangan konyol nya gue jadi ikut makan sambal yang gatau level berapa! Pedesnya level neraka gue rasa ni!" Batin Raka di sela sela mangap mangap nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Eh makasih yang masih mau dukung karya ku Jangan lupa tinggalkan jejak Like, boleh komentar penyemangat, kritik dan saran. ♥️😍😘🤗 Oya cover aku ganti di karenakan sudah ada yang memakai gambar itu.