Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Bibit presiden.



...Saat pagi datang, senyumanmu memeluk pikiranku, saat siang datang kau bagaikan payung yang selalu membuatku teduh, dan saat malam kau adalah kehangatan yang selalu membuatku jauh dari kedinginan. Senyuman mu mengawali hariku, bahkan akan selalu ada tidak hanya di awal saja....


...Bucin Raka Cyril....


Bulan sudah mulai memudar namun tidak dengan gelora asmara dua mempelai di kamar pengantinnya, mereka saling melempar sentuhan dan kecupan lembut yang begitu memabukkan satu sama lain, sisiran jemari yang mulai menggerilya di permukaan kencang padat penuh nan kenyal lalu terus melintasi liak liuk jalur indah hingga akhirnya jemari itu memutuskan untuk berlabuh ke liang surga dunia.


"Ahh! Daddy!" Pekik Pinkan menggeleng memohon tapi di sisi lainnya lagi menginginkan lebih.


"Gapapa Yank, biar nanti gak terlalu sakit, kita bikin jalan dulu buat masuk nya Hippo jadi nurut yah hum?" Bujuk Raka.


"Kamu pengalaman banget kayaknya!" Pinkan sempat sempatnya cemburu di pertengahan engah-engah napasnya sambil sesekali membetulkan posisi duduknya di sofa empuk kamar hotel itu.


"Arjuna sudah sering mengajari ku secara online Yank, jangan suka suudzon kenapa si! Baru kali ini aku menyentuh wanita secara sadar." Sambung Raka.


Mendengar itu Pinkan menatap penuh arti suaminya "Janji, hanya aku, tidak boleh ada yang lain!" Pintanya lalu Raka mengangguk "Atau Hulk mu benar-benar aku buat gak bisa bangun lagi!" Ancam Pinkan di sela pengaturan napasnya.


"Hehe jangan nanti baby Zee gak punya Adek dong Yank." Sambung Raka nyengir.


"Ciyee, Mommy udah mulai nyemek-nyemek keluar kuah nya nih." Goda Raka di sela aktivitas jemarinya yang terus menari-nari di liang sana, sembari menikmati wajah cantik Pinkan yang terlihat lebih imut saat dalam keadaan seperti itu.


"Kamu cantik Yank." Bisik Raka di telinga isterinya "Dari dulu!" Sahutan songong Pinkan, sambil memainkan tangannya di wajah dan tengkuk Raka.


Posisi keduanya sama-sama duduk di sofa, bedanya Pinkan bersandar sedang Raka menghadap sandaran, bersiaga penuh kalau-kalau bibir candu isterinya meminta dilummat.


"Kok makin banjir Yank? Memangnya segitu renyahnya yah hum? Sampe-sampe sebanyak ini?" Raka merasakan lelehan hangat baru saja menyergap jemarinya.


"Apa sih, itu bukannya kamu yang gali." Sela Pinkan beralasan.


"Sumur kali di gali keluar kuah!" Timpal Raka. Mereka sempat sempatnya berdebat tak jelas.


"Yank, kayaknya kamu udah mau sampe puncak yah hum?" Tanya Raka saat merasakan beberapa kedutan di liang sana.


"Enggak, aku tahan di perbatasan, emang kamu gak mau nyusul hm?" Tanya balik Pinkan memelas.


"Memangnya kamu siap? Aku susul?" Pinkan mengangguk karena dia sudah menginginkan sesuatu yang lebih liar lagi.


Melihat itu Raka menjatuhkan kepala isterinya berbaring ke permukaan sofa, di sanalah laki-laki itu memulai kembali aktivitas berpahala nya. Helai demi helai yang tersisa Raka hempas serampangan.


"Tahan yah Yank, katanya untuk pertama akan terasa sakit, jadi bersabar yah hum?" Pinkan mengangguk setuju, gadis itu benar-benar sudah siap dengan segala sesuatunya, seakan hanyut dalam buai asmara cinta mereka yang terasa begitu candu.


Wajahnya kian memerah saat Raka menerjang kan bang Hulk menembus selaput dara miliknya yang lalu terciprat berceceran percikan merah segar di atas sofa.


Erangan kenikmatan dan desah kesakitan beradu, mereka saling menonjolkan onggokan nya masing-masing.


Lelehan bening berderai dari sudut netra Pinkan, entah itu tangis haru atau tangis kesakitan Raka pun tak mau menubuatkan pasti.


Yang pasti, Raka sudah di buat hanyut dalam mahligai cinta halal itu, dencitan dari sofa yang ikut maju mundur seirama dengan hentakan gagah dari pinggul sang Tuan muda terdengar begitu kerap.


Ini bukanlah ilusi, ini nyata, wanita yang berdesah di hadapannya benar-benar isteri tercintanya, yaitu Pinkan Arora. Peluh Raka bercucuran menyapu tubuhnya dari pelipis lalu meluncur ke dadanya. Sesekali Pinkan menyesapnya, keduanya melayang bebas di iringi suara oh Emmh ah, kamu sempit kamu kenyal Yank.


Sesekali keduanya menoleh ke arah ranjang, di mana masih ada bayi mungil terlelap dalam tidurnya, takutnya tiba-tiba Baby Zee bangun lalu sengaja menonton streaming adegan biru orang tuanya kan gak lucu.


"Dia keasyikan Yank, ternyata tempat sempit ini membuatnya betah maju mundur!" Jawab Raka masih sempat terkekeh.


"Yank, ..." Setelah mencoba berbagai macam gaya selama satu jam setengah, Raut Raka kali ini sudah memelas.


"Hmm?" Pinkan menghiraukan laki-laki itu.


"Tembak di tempat ya?" Usul Raka tanpa menghentikan aktivitas nya.


Dan dengan cepat Pinkan menggeleng sambil mengibaskan tangannya "Gamau, aku masih kuliah Raka!" Tolaknya.


Mendengar itu Bibir Raka melengkung ke bawah sangat kecewa "Ini perdana loh Yank, masa gamau sih?" Tanyanya memastikan sekali lagi yang lalu di jawab dengan gelengan kepala Pinkan.


"Boleh di dalam tapi nanti setelah aku lulus kuliah! Untuk sekarang no!" Tolak Pinkan lagi dan lagi.


"Jadi mau dibuang ni? Gimana kalo ternyata ini bibit calon presiden Yank? Kamu gak sayang di buang-buang hum?" Raka membujuk.


"Gamau! Lagian aku gamau punya anak yang jadi presiden!" Tepis Pinkan beralasan.


Dengan mengemban rasa kecewa Ritme permainan cinta sang Tuan muda mulai di percepat "Kalo gitu di sini saja yah!" Raka meremas gundukan padat milik isterinya yang lalu di setujui si pemilik.


"Sssssshhh!!"


Dan Pinkan meremas kuat bahu suaminya saat lahar putih di alirkan ke gunung tinggi besar itu, hingga tanpa sengaja dia meninggalkan goresan kuku panjangnya di bahu polos Raka.


"Seksinya istri ku." Raka masih di posisinya sembari mengoles mayonaise di kulit kenyal dua buah mangga yang besar itu.


"Emmh, ..." Pipi Pinkan semu-semu merah menikmati setiap putaran jemari tangan suaminya yang begitu erotis.


Cup! Bibir mereka tak bosan bosannya beradu.


Lalu untuk sejenak mata mereka saling menatap penuh damba, ternyata cinta ini begitu indah, Raka benar-benar merasa bahagia bisa memiliki Pinkan Arora seutuhnya.


Raka tumbang ia berbaring di sebelah kanan Pinkan, dan untuk beberapa saat keduanya sibuk mengatur napas masing-masing.


"I love you sayang."


"I love you too, Daddy!"


Setelah bisa mengondisikan napasnya Raka meraih dan memakai kimono berwarna putih yang terselampai di kepala sofa lalu menggendong tubuh polos isterinya memasuki kamar mandi.


"Mau ngapain, Raka?" Pinkan berkerut kening curiga.


"Kamu langsung mandi, ini sudah masuk waktu subuh, jadi sekalian saja subuhan, setelah itu baru kita perang lagi! Pokoknya sebelum Baby Zee bangun aku tidak akan memberi mu kesempatan bernapas!" Ucap Raka di sela langkahnya, Pinkan sempat bergidik ngeri mendengar kalimat suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung....🏃🏃🏃🏃✌️✌️✌️ See you Next episode.