
"Hayu, tambah ayu'e. Arep belanja tha?" (Hayu, makin cantik saja. Mau belanja kah?) Seorang wanita paru baya menawarkan dagangannya pada gadis cantik itu.
"Nggih budhe," (Iya bude) Sambung gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Lalu mulai memilih milih sayuran juga rempah rempah yang sudah tidak nampak di dapur sederhana nya.
"Eh si Hayu, belanja Yu?" Beberapa wanita mendatangi warung tersebut, karena memang sudah memasuki jam belanja para ibu-ibu.
"Nggih budhe." Lagi-lagi senyuman manis Hayu lempar dengan khidmat.
"Loh belanjaan nya bhuanyak banget mau buat apa Yu?" Satu ibu lagi bertanya saat melihat belanjaan Hayu yang memang lebih banyak dari biasanya, apa lagi Hayu hanya tinggal sendiri di rumah karena neneknya sudah meninggal tepat satu bulan setelah Hayu pulang dari Inggris.
"Oh nggih budhe, Hayu mau ngundang anak-anak, biar rame begitu rumahnya, makan sama-sama di rumah. Budhe kalo mau ikutan monggo, Hayu tunggu." Jelas Hayu tak luput dari sunggingan senyum manis nya.
"Alaaah, Ojo gelem buk ibu, nanti perutnya sakit makan makanan dari uang haram!" Sarkas satu ibu lainnya yang terlihat lebih dominan dari mereka semua.
"Astagfirullah, Anin!" Pekik pemilik kedai tersebut yang tampak tak terima dengan ucapan wanita itu "Kamu kok ngomonge gitu? Gak boleh suudzon Anin, ya jelas halal, sudah jelas-jelas Hayu bekerja." Bela nya. Seperti biasa Hayu hanya bisa menunduk sendu tak bisa berkata apa-apa selain daripada menerima cercaan demi cercaan orang lain padanya.
"Hieleh, kerja opo?" Cibir Anin lebih memekik dari sebelumnya "Nek ghaweane mung nglayani toko roti tok! Moso iyo bayarane sepuluh yuto? Mung ning kampung tok neh! Yo rak mungkin lah! Seng arep ngandel sopo budhe?" (Kalo pekerjaan nya cuma menjadi pelayan toko roti doang, masa iya gajinya sepuluh juta? Cuma di kampung doang lagi! Ya gak mungkin lah! Yang mau percaya siapa budhe?) Tepis nya dengan tatapan sinis penuh caci maki.
"Pulang dari Inggris hamil, terus keguguran, mboh kue di gugur no opo keguguran aku rak ngerti!" Lanjutnya berargumen dengan pikirannya sendiri, padahal gugurnya kandungan Hayu tak lekang dari andil mereka yang terus menerus mengejek nya tanpa belas kasih. Bukan kah ibu hamil tak boleh memiliki banyak pikiran?
"Eh tiba-tiba dapet kerja di toko roti, gajinya besar, lebih besar dari pada anak saya yang lulusan S2. Apa lagi coba kalo bukan jadi simpanan nya pak Rahmat itu? Yang kepala cabang itu?" Ironi nya.
"Buk Anin, mungkin Hayu sudah seperti anak sendiri, makanya gajinya besar, kan saiki lagi musim sing jenengane sugar Daddy koyok ning nopel nopel iku loh buk eeeee!" Sambar satu wanita lainnya yang agaknya lebih muda dari Anin juga ikut menimpali ujaran sarkas nya.
"Hayu tidak seperti yang di tuduh kan ibu ibu, Hayu benar-benar bekerja secara halal di tempat majikan Hayu. Sumpah." Tempik Hayu yang sudah tak kuat lagi dengan tudingan demi tudingan yang terdengar di telinga nya, meskipun terkadang dia sendiri merasa janggal dengan gaji yang ia terima tak sama dengan pekerja lainnya.
"Iya, kalian ini jangan suka suudzon kenapa sih? Hayu ini yatim piatu, gak boleh kalian menghardik nya seperti itu, inget dosa ibu ibu, lagian kalo jadi simpanan, masa iya isterinya pak Rahmat sebaik itu sama Hayu? Kemarin saja Hayu sakit di besuk sama dia, berarti memang tidak ada hubungan seperti yang kalian tuduhkan itu." Bela pemilik kedai lagi dan lagi.
"Budhe, bisa saja isterinya pak Rahmat orak ngerti, nggak tahu sama sekali hubungan perselingkuhan mereka! Mangkane iso apik karo Hayu. Padahal ditikung, dia melihara pelakor di toko roti nya. Coba, bayangno wae, kalau gadis yang baik-baik itu mbok ya cari pacar atau calon suami dijadikan suami yang bener," Arahan yang menurut Anin benar sendiri.
"Lah ini malah nolak bujang yang bener-bener sayang sama dia. Kasihan itu si Damar ditolak mentah-mentah sama Hayu gara-gara kerjaannya nggak jelas." Lanjutnya menghardik.
"Hayu itu kan lebih suka jadi pelakor dari pada di per istri." Timpal wanita lainya lagi mencemooh.
Bibir Hayu masih kelu, bahkan untuk membela diri sendiri pun gadis itu tak mampu.
"Kata siapa?" Suara celetukan dari belakang para ibu-ibu rempong itu terdengar, dan seketika membuat semua orang menoleh padanya "Saya calon suaminya!" Ucapnya lantang.
Semua orang hening menatap ke arah yang sama yaitu pemuda tampan yang baru saja turun dari mobil mewah dengan kacamata mahalnya.
"Kenapa diam? Saya lah calon suaminya! Delapan bulan yang lalu, dia hamil anak ku, tapi karena perselisihan remaja Hayu meninggalkan ku, Hayu lari sebelum aku nikahi, dan sekarang aku menyusul untuk melamarnya kembali, jadi untuk apa Hayu menerima lamaran dari bujangan yang tak jelas pekerjaan nya?" Timpal pemuda itu dengan wajah santainya.
Sedang di tempatnya, Hayu sibuk mengondisikan getaran hebat ditubuhnya saat melihat laki-laki yang delapan bulan lalu mencaci makinya setelah berkali-kali memaksanya.
"Hayu." Murad tersenyum rindu menatap gadis itu seraya mendekat "Apa kabar?" Tanyanya lirih.
"Mau apa kamu?" Berang Hayu menceku. Sedang semua orang hanya diam saja menyimak percakapan keduanya, rasa penasaran sudah bertengger di otak ibu-ibu penggosip itu, lumayan bisa di jadikan santapan lezat di hari esok.
"Melamar mu!" Tegas Murad.
"Haaah? Melamar?" Semua orang tersentak kaget, apakah pantas gadis tak berpendidikan tinggi mendapat pemuda tampan yang tunggangannya kereta besi beroda empat super mengkilap?
"Hh??" Hayu membuang smirk menatap sinis pemuda itu, sungguh kata-kata pedas ibu-ibu rempong lebih terasa adem dari pada mendengar kata melamar dari bibir Murad.
Hayu beralih pada pemilik kedai "Budhe, ini bayar nya yah, Hayu mau langsung pulang." Ucapnya pamit setelah menyodorkan satu lembar uang merah pada wanita itu kemudian bergegas pergi menenteng belanjaannya.
"Hayu, ... Tunggu!" Murad berusaha membegal jalannya dengan meraih lengan Hayu, tapi gadis itu menepis dan tetap berlari menghindar darinya. Tak pernah bercita-cita dirinya akan bertemu kembali dengan pemuda perebut mahkota nya. Hayu berlari dan terus berlari tak ingin melihat wajah pemuda itu lagi.
"Hayu, tunggu, tolong beri aku kesempatan bicara. Maaf kan aku Yu, maaf dulu aku menghina mu, sumpah, aku menyesal!" Murad terus mengoceh sembari berlari mengiringi gadisnya.
"Hiks hiks, ..." Hanya itu yang terdengar dari Hayu saat ini. Sambil menutup mulutnya dengan sesekali menyeka air mata di pipinya secara kasar "Semua ini karena mu! Aku di cemooh karena mu! Aku benci, sangat membenci mu!" Hardik Hayu yang hanya berani terucap dalam hati saja.
"Yu, tolong berhenti, sebentar saja, aku mau bicara!" Bujuk Murad dengan senggal senggal napas nya, pemuda kaya itu tak terbiasa berlari di bebatuan kerikil penuh gundukan tanah yang tak rata.
Masih dengan tangisan, Hayu tetap melanjutkan larinya, entah harus melakukan apa setelah ini dia sendiri bingung, sedang sepertinya Murad masih akan terus mengejarnya "Tuhan, aku tidak ingin melihat wajah Tuan muda congkak sepertinya lagi!"
Hingga pada akhirnya otak Hayu mulai terpikirkan sesuatu, untuk segera melewati jalan pintas ke rumahnya dengan melewati persawahan, dia berjalan di pematang sawah atau biasa disebut galengan di mana jalan setapak itu sangat licin juga penuh dengan semut api, mungkin saja dengan begitu Murad yang pemuda kota nan sultan akan segera hengkang dari niatnya.
Why not? Hayu akan mencoba nya. Dan benar saja baru akan memasuki galengan Murad sudah memikirkan sepatu mahalnya yang sedikit terperanyak dalam kubangan lumpur.
"AsssSial!!" Umpat Murad lalu mengangkat kakinya ragu, antara melanjutkan untuk mengejar atau berhenti di sana "Hayu! Tunggu!" Panggil nya berseru sedang gadis itu sudah sedikit menjauh dari pandangannya.
"Aaaagghhh!!!" Tempik nya kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Like, komen sembarangan juga gak papa buat isi isi kolom komentar 😂