Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
S2/ Chapter 8 (Melahirkan.)



Adapun sanksi terhadap pelaku tindak pidana percobaan pembunuhan diatur dalam Pasal 338 Jo 53 Ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).


Dua bulan semenjak penangkapan, palu pun sudah di ketok dengan adanya saksi-saksi juga barang bukti yang memberatkan Rani Alika, dia di jatuhkan hukuman paling lama lima belas tahun penjara.


Ayah Rani masuk rumah sakit dan itu membuat wanita dewasa ini semakin ingin membalas dendam kembali "Awas Raka, aku balas semua perlakuan mu padaku!" Entah apa lagi, sebab kali ini jeruji besi sudah terlancap menghalangi.


Sementara Lisya sudah di cabut izin prakteknya. Juga kehilangan pekerjaan lalu di mendapat kurungan berdasarkan putusan pengadilan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kita beralih kepada bangunan mewah megah di mana dua orang ibu hamil besar tinggal satu atap yang sama.


Hayu sudah mulai merasakan kontraksi yang semakin sering terjadi, semenjak memasuki bulan kelahiran putrinya Murad membawa isterinya pindah ke rumah utama kembali.


Guna mendapatkan perhatian dari keluarga sebagai dukungan psikis sang istri. Dokter spesialis kandungan pribadi juga sudah siap siaga di rumah itu, kalau-kalau Hayu akan melahirkan.


Akhir-akhir ini Pinkan dan Raka sibuk mengatur rencana acara nujuh bulanan yang akan di langsungkan beberapa hari lagi, undangan, juga souvernir tentunya sudah di pesan.


Di ruang tengah istana Baskara Lindu yang sangat luas itu, Raka duduk bersama asisten personalnya, keduanya masih ripuh dengan laporan-laporan dari berbagai pabrik cabang yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.


Akhir-akhir ini mereka memang sering lembur bahkan membawa pekerjaan ke rumah, karena sudah memasuki pembukaan tahun, menutup buku di tahun sebelumnya.


"Mbok." Raka menoleh setelah menangkap sekelebat bayangan wanita paruh baya itu di ruang tersebut.


"Iya Tuan muda." Angguk Mirah.


"Nanti, kasih tahu orang depan, kalo ada cewek sepantaran Eric, langsung suruh masuk saja." Titah Raka.


"Oh, baik Tuan." Jawab Mirah kemudian melaksanakan tugasnya.


"Memangnya siapa? Dedek-dedek gemes yang mau dateng ke rumah ini?" Arjuna sang Casanova penasaran mendengar cewek sepantaran Eric akan datang.


"Itu, anaknya pak Rahmat, dia mau nganterin paket dari budenya Hayu." Jawab Raka tanpa menoleh, matanya terus sibuk dengan gawai miliknya.


"Dari Surakarta, tu cewek ke sini?" Desak Arjuna.


"Dia kuliah di sini bareng Eric sama Tito, mungkin kemarin liburan pulang kampung, terus budenya Hayu nitipin sesuatu. Yah, namanya orang tua suka inget anak." Sambung Raka. Pagi tadi Rahmat sendiri yang menyampaikan kedatangan putrinya pada Raka.


"Apa bang? Si cewek kampung dada rata itu mau ke sini?" Dari belakang suara Eric terdengar terhenyak, pemuda itu memang selalu menunjukkan ketidak sukaan pada Lidya anak gadis dari kepala cabangnya yang dulu sempat membuatnya bermandikan lumpur saat menghadiri acara akad nikah Murad di Surakarta.


Raka menoleh sekilas menghiraukan pemuda manja itu "Hmm." Jawabnya.


"Dada rata?" Arjuna terkekeh menatap adik sang Tuan "Lu belum tau ajah Ric, kalo yang rata berarti masih orisinil!" Ungkapnya.


"Hieleh!" Eric hanya merespon sedikit dengan cibiran di bibirnya kemudian berjalan menuju pintu utama, acuh, mumpung libur hari ini jatah dia memandikan mobil sport merah kesayangannya, mobil yang biasanya ia pakai untuk berangkat kuliah dan mendapatkan perhatian dari seluruh gadis-gadis kampus.



Tiba di luar satu buah skuter matik baru saja parkir di sebelah mobil sport miliknya dan itu terlalu mengganggu pemandangan baginya.


"Eh eh!" Sela Eric berlari ke arah skuter matik tersebut dengan kernyitan di dahinya "Jangan parkir sembarangan di sini! Aaaah, motor butut jelek begitu di jajarin sama mobil mahal gue!" Sarkas nya songong.


Gadis cantik itu melepas helm kemudian sedikit memposisikan motornya menjauh dari mobil Eric tanpa menjawab sepatah katapun pada pemuda ini.


Dia ambil tas berisi titipan bude Jenar lalu melangkah melewati Eric dengan acuh nya.


Eric melotot bukan apa-apa, hanya heran saja dengan sikap acuh tak acuh gadis itu, siapa dia? Cewek kampung anak kepala cabang saja berani mengacuhkan dirinya?


"HEH!" Kata Eric sambil menarik kerah bagian belakang gadis itu bagaikan kucing.


"........" Lidya hanya melirik kecil tanpa bersuara, yah gadis itu sudah tak suka Eric dari awal pertemuan.


"Mau kemana lu hah? Ga sopan! Gue yang punya rumah ini, sapa dulu kek gue!" Ketus Eric.


"Oh, lu yang namanya Baskara Lindu?" Lidya sengaja berkata demikian, menyindir bahwa pemilik rumah ini sudah tua bukan pemuda manja seperti nya.


"Eric Lindu, gue Eric Lindu! Lu tau kenapa dari sekian banyak anak cuma gue yang di beri nama belakang Papi? Karena gue yang akan mewarisi rumah ini! Jadi yang sopan lu di sini!" Catuk Eric.


"Gila ni cewek! Omongannya datar bener kayak jalan tol! Gue kira cuma dadanya doang yang rata!" Batin Eric.


"Lu sengaja pasti ke sini cari perhatian ke bokap gue, biar rencana perjodohan kita segera di resmikan iyakan?" Tuding Eric dengan bibir yang naik sebelah.


"Hah?" Lidya melepas smirk, tahu saja tidak tentang rencana itu "Di jodohin? Sama anak manja berotak dangkal kayak lu? Ogah!" Tolaknya mencibir.


Eric berkerut kening tak terima mendengar penuturan Lidya "Otak dangkal kata mu?" Sungutnya, aliran darahnya mendidih seketika itu juga.


"Iya, cuma cowok berotak dangkal yang menilai wanita hanya dari fisik saja!" Lidya sering mendengar Eric mendeklarasikan pandanganya terhadap kekurangan fisiknya, yah Lidya tak menyukai cara bar-bar Eric dalam mengutarakan sesuatu.


Kemudian Lidya melanjutkan langkah acuh memasuki rumah besar itu meninggalkan Eric yang masih bergeming dengan pemikirannya.


"Sialan tu cewek, mulutnya udah kaya ketoprak yang karetnya dua! Pedes gila!" Gerutu nya.


Tap tap tap, suara langkah lari dari seorang wanita berpakaian putih melawati tubuhnya seperti terburu-buru.


"Dok, itu dokter Aryana kenapa?" Eric kebingungan bertanya pada dokter Hera yang mengekor di belakang rekan kerjanya.


"Nyonya Hayu mau melahirkan Tuan muda!" Jawabnya.


"Hah?!" Tanpa basa-basi lagi pemuda itu juga ikut mengekor memasuki rumah kembali, di dalam sudah pasti Lidya kebingungan dengan pemuda itu yang berlarian bersama dua dokter wanita.


"Kenapa tu cowok?!" Gumam Lidya.


Raka yang masih duduk dengan Arjuna juga kebingungan menatap Eric dan dua dokter wanita itu berlari menaiki anak tangga.


"Ada apa Ric?" Tanya Arjuna sedikit mengeraskan suaranya.


"Kaka, mau lahiran!" Jawab Eric "Aduh, Eric ga sabar mau liat Dede bayinya ini!"


Hal itu membuat Lidya juga ikut berlari mengikuti pemuda itu "Jadi Kak Hayu, sudah mau lahiran?" Gumamnya di sela larinya.


"Lu di sini ajah Juna! Gue ke atas dulu!" Raka juga menyusul mereka meninggalkan Arjuna dan berkas-berkas yang masih berserakan di meja ruang tengah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lantai atas ternyata Pinkan dan Irma sudah siaga menemani Murad dan Hayu tapi setelah dokter Aryana dan dokter Hera masuk kamar, Pinkan dan Irma keluar membiarkan Murad menemani isterinya melahirkan seorang diri. Gurat panik cemas tertampil di setiap wajah semua orang.


"Gimana Hayu Yank?" Raka bertanya pada isterinya sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar Murad yang sudah di tutup.


"Sudah ada Murad di dalam, semoga lancar, tanpa kendala." Ucapnya penuh harap.


Raka menangkap ukiran cemas di wajah isterinya "Kamu ga takut kan Yank?" Tanyanya.


Pinkan menggeleng "T-tidak juga." Elaknya terbata. Mungkin itu pengaruh dari psikis ibu hamil saat melihat ibu hamil lainya tampak kesakitan.


"Kamu tenang, semuanya akan baik-baik saja, termasuk baby kita juga." Raka memberikan pelukan pada wanita cantik itu mencoba menenangkan isterinya.


Di tengah kecemasan Irma melirik ke arah Lidya yang tiba-tiba muncul di antara mereka.


"Loh, kamu bukanya anak gadisnya pak Rahmat kan?" Tanyanya. Eric, Pinkan dan Raka juga menoleh ke arah gadis itu.


Lidya tersenyum "Iya Tante." Angguk nya seraya mendekat "Lidya bawa titipan dari bude Jenar buat kak Hayu." Jelasnya sopan.


"Oh, iya terimakasih yah." Irma menerima bingkisan dari gadis cantik itu dengan senyum manis di wajahnya.


"Hieleh, carmuk lu sama nyokap gue!" Hardik Eric dalam batin.



...Visual Lidya Natalia Shinta...


Bersambung..... Like nya yah Kaka🤗 Tolong tulis Up di kolom komentar juga😉 Mohon kerjasama nya 🤗