
Sejatinya Pinkan sudah tak mempermasalah kan lagi perihal dokter Laras yang tiba-tiba menghilangkan jejaknya, akan tetapi Raka masih mengusut penasaran hingga pada akhirnya Pinkan mau bercerita bagaimana kronologi kejadian saat dirinya bercakap-cakap dengan dokter Laras palsu.
"Dia juga memberi ku obat, tapi ga aku minum satu pun, lagian buat apa obat? Bukanya aku sudah di vonis anovulasi? Lalu buat apa lagi perlu obat? Kecuali kalo aku kurang subur, mungkin masuk akal kalo aku harus minum obat, iya kan Raka?" Saat itu Raka hanya menjawab dengan mengangguk.
Kemudian Raka menanyakan di mana obat yang di berikan secara langsung oleh dokter Laras, lalu Pinkan memberitahukan padanya.
Berbekal obat tersebut Raka mencari tahu kepada Hera yang lalu di jawab dengan kerutan di kening dokter itu.
"Ini obat yang biasanya di cari para wanita penghibur Tuan, fungsinya untuk mencegah kehamilan bahkan bisa mematikan peranakan, ini sangat berbahaya jika di konsumsi secara berlebihan." Celetukan dari Hera yang sempat membuat Raka semakin curiga.
Pada akhirnya Arjuna lah yang turun tangan menyelidiki kasus sang Tuan, lantas dengan cepat Arjuna meretas CCTV yang ada di rumah sakit elit tersebut tapi yang lebih membuat Arjuna semakin tertarik lagi adalah ternyata ada mantan kekasihnya di balik kasus ini.
"Jahat kamu Juna!" Wanita itu terus maracau demikian akan tetapi gerakan pinggulnya terus mengiringi tempo irama hentakan sang Arjuna cintanya.
Mobil yang terparkir di tepi pantai itu bergerak-gerak berfluktuasi seirama dengan hentakan gagah perkasa laki-laki ini. Cucuran peluh membasahi tubuh sixpack miliknya di atas jok yang ia turunkan sandarannya.
Rupanya tempat sempit tak menjadi bahan pertimbangan untuk tetap melanjutkan kegiatan nikmat cinta yang salah.
"Jangan di dalam Juna, kamu ga pake pengaman sebentar lagi aku mau menikah!" Rengek Lisya memelas.
"Bagus dong, kamu menikahi Reno tapi mengandung anak ku, atau kamu harus rela aku nikahi, batalkan pernikahan mu lalu menikah dengan ku!" Arjuna terkekeh iblis di sela hentakan nya.
"Kalo begitu jangan laporkan aku ke polisi Juna, ku mohon." Bujuk Lisya.
"Apa nantinya!" Arjuna sengaja memberi harapan palsu demi membuat sang mantan sedikit lebih tenang.
Dreeetttt dreeetttt ..... Gawai persegi di storage mobil sudah meminta pengindahan dan itu lumayan membuat Arjuna gerah sedari tadi getaran ponselnya terus mengganggu konsentrasi ******* nya.
"Hassial." Meski mencaci Arjuna tetap meraih gawai tersebut kemudian mengangkat panggilan telepon dari bos muda nya.
"Hmm, ..." Responnya tanpa menghentikan aktivitas.
"Lu bilang udah tau siapa dalangnya, kenapa lama hah!" Arjuna menjauhkan ponselnya saat teriakkan sang Tuan terdengar memekik telinganya.
"Emmh, Juna, ah....." Rupanya desah kenikmatan yang mencelos dari bibir dokter wanita itu menjawab semua pertanyaan sang Tuan tanpa harus bersusah payah memberitahunya. Arjuna tersenyum manis tanpa mengeluarkan sedikitpun suara.
"Setan lu Juna! Cepet kirim bukti yang lu bilang itu! Segera!" Tuuuuttt terputus, sepertinya Tuan muda di seberang telepon marah besar atau mungkin iri dengan kegiatan yang tengah Arjuna lakukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Esoknya pukul 09:00, Raka sudah bergumul dengan setir mobil mewahnya, kendaraan beroda empat itu ia tepi kan di sebuah rumah minimalis modern yang sudah sangat lama tak ia datangi.
"Tuan muda!" Satu wanita yang agaknya asisten rumah tangga di rumah tersebut menyambut kedatangan nya.
Pria itu tak mengindahkan, ia tetap melanjutkan langkah menerobos kepada pintu masuk utama yang tak terkunci "RANI!" Senggak nya keras, pandangannya mengedar ke segala arah mencari sosok yang membuatnya naik pitam.
"RANI!!"
"Raka!" Tiba di ruang tengah wanita yang ia cari asyik duduk dengan seorang pria.
Seketika itu juga senyum manis tersungging di bibir Rani "Raka, akhirnya kamu ke sini." Bahagianya wanita itu kala mendapat secercah harapan saat sang mantan yang sudah menjadi presiden direktur itu berkunjung ke rumah nya kembali.
Mungkin saja karena Pinkan belum bisa memberi Raka keturunan maka sekarang laki-laki itu mencarinya lagi, pikir Rani seperti itu.
"Siapa dia Ran?" Pria bertubuh tinggi gagah di sebelah Rani bertanya dengan gurat bingung.
Rani dilema, biar bagaimanapun Zyan juga seorang direktur "Emmh, dia, ..."
"Sini kamu!" Raka begitu geram mencengkeram kuat lengan Rani hingga kerutan kening tertampil di wajah bingung Zyan, kenapa tiba-tiba ada laki-laki asing berani berlaku seperti itu pada wanitanya.
"Masih berlagak polos kau huh!" Raka semakin menekan cengkraman tangannya.
"Hei, ..." Zyan turun tangan "Siapa Anda? Tidak malu kah Anda? Berbuat seperti itu pada seorang wanita?" Sindirnya dengan bahasa sebaku eksekutif.
Raka menarik sudut bibirnya menghiraukan laki-laki itu namun matanya terus menujum pada wajah takut mantan kekasihnya "Sekarang aku tak pandang bulu! Pria, wanita, semua sama di mata ku, barang siapa berani menyakiti perempuan kesayangan ku! Tak kan ku beri ampun meski menangis darah sekalipun!" Ucapnya lugas.
"A-apa maksud mu Raka, tolong lepas, ini sakit!" Keluh Rani menghiba.
Baru saja Zyan mau membantu Raka sudah lebih dulu mendorong dada bidangnya "Berhenti di situ!" Matanya menatap tajam pria itu hingga Zyan gagu di buatnya.
"Jangan ikut campur urusan ku! Aku tidak tau siapa Anda! Tapi, pikirkan matang-matang jika Anda mau menikahinya! Dia wanita iblis tak berperasaan!" Sarkas nya dan Zyan semakin tergugu mendengar setiap kata yang berderai dari mulut Raka.
"Kamu bicara apa sih Ka!" Sambar Rani berpura-pura bodoh.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang sudah kau lakukan terhadap keluarga ku Rani!" Bentak Raka melotot. Rani berkaca-kaca bahkan air mata sudah mengintip di sudut netra nya.
"A-apa? Memangnya apa Raka?" Jawab Rani terbata dengan wajah yang ia paling kan.
Raka tersenyum sinis "Masih sanggup pura-pura polos kamu Ran?" Tanyanya.
Raka meraih gawai tipis dari dalam saku celananya, tak butuh waktu lama ia sudah bisa menekan satu tombol yang menghasilkan suara gugup seorang wanita.
"Yah, Rani yang mendatangi ku, dia menelepon ku pagi-pagi sekali, dia bilang meminta bantuan pada ku untuk memalsukan rekam medis Pinkan juga memberikan obat mencegah kehamilan yang perlahan mematikan peranakan, saat itu Pinkan mencari dokter Laras, tapi aku mengambil name tag dokter Laras, aku yang berpura-pura menjadi dokter Laras saat itu, aku terpaksa melakukan nya Juna, kamu tahu aku dan Rani sangat dekat dari kita semua masih sama-sama kuliah, aku tidak bisa menolak nya, sekarang ku mohon lepaskan aku!"
Suara yang terdengar dari ponsel milik Raka berhasil menggetarkan tubuh ramping Rani Alika.
"Aku yakin, kamu masih menyukai ku, aku yakin kamu masih menyayangi ku, aku tau alasan mengapa sampai sekarang kamu tak melaporkan ku ke polisi, aku tahu kamu masih sangat menyayangi ku, selamanya kamu tak kan tega memasukkan ku ke dalam penjara meskipun aku sudah berusaha meracuni bayi mu, aku tahu kau masih sangat sangat mencintai ku, seperti aku yang tak pernah bisa melupakan mu, begitu juga dengan mu, iya kan Ka? Jawab Ka, ku mohon!"
Tubuh Rani lebih bergetar hebat setelah mendengar rekaman yang satu ini, dulunya Raka hanya tak sengaja merekam momen saat dia melamar Pinkan kala itu dan Rani meninggalkan bukti-bukti pengakuannya tanpa ia sadari.
"Rani! Apa kau setega itu?" Celetuk Zyan menatap wajah Rani dengan polosnya.
"Jadi kau berusaha membunuh seorang bayi?" Lanjutnya penuh tekanan, Zyan laki-laki saleh tak mungkin diam saja ketika menangkap perangai tak baik dari sosok wanita yang ingin ia jadikan istri.
"T-tidak, tentu saja tidak!" Sangkal Rani, gugup dan takut semua terukir di wajah cantik wanita itu.
"Ada apa ini Raka?" Rupanya ibu dari Nona muda di rumah itu muncul juga, Raka memang sengaja datang pagi supaya ayah Rani yang punya penyakit jantung tak berada di rumah.
Bahkan sampai detik ini Raka masih memikirkan nyawa orang lain meskipun keluarganya sudah berkali-kali mencoba Rani sakiti, yah, selagi kebaikan ia tanam maka karma akan terbalas sesuai perangainya, Allah yang maha melindungi dan tiada pernah tidur.
"Permisi, Nona Rani Alika?" Beberapa pria berseragam satuan pengaman juga muncul dari arah lainnya.
Semua terkejut terkecuali Raka karena dialah yang menggiring pria-pria gagah itu ke sana.
"Tangkap dia pak! Dia Rani Alika!" Raka menunjuk lurus ke arah mantan kekasihnya dengan gigi yang menggertak geram.
Rani melotot, sungguh tak percaya bahwa laki-laki yang sepuluh tahun bersamanya tega menjebloskan dirinya ke dalam penjara "Raka! Apa kau serius melaporkan ku ke polisi?" Celetuk nya gusar.
"Raka, nak, ada apa ini sebenarnya?" Sambar ibu Rani kebingungan dan Zyan masih hanya kelu tak mampu berucap lagi meskipun pilu.
"Silahkan ikut kami Nona, anda berhak mendapat bantuan hukum dari penasehat hukum selama dalam waktu pemeriksaan!" Tegas salah satu pria berseragam itu lalu mengapit tubuh ramping Rani yang meronta sekuat tenaga "RAKA! Lepas!" Teriaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung........