Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Berdalih



Penderitaan Raka dan Murat tak hanya menahan pedas saja, tapi berlanjut saat perut mereka harus ia remas karena terasa sangat mules, bagaimana tidak, pagi-pagi makan sambal sedang itu bukan kebiasaan mereka.


Pinkan yang melihat itu mulai tak tahan membuka pertanyaan lagi "Tuan muda kenapa lagi?" Tanyanya menatap Murat dan Raka secara bergantian.


"Perut ku mules Marni." Sahut Murat meringis sembari meremas perutnya.


"Hu'um, sama." Sambung Raka dengan ekspresi wajah yang sama seperti adiknya.


"Mungkin gara-gara sambal yang kalian makan." Terka Pinkan.


"Kok kamu enggak Marni?" Sambung Murat.


"Marni kan udah biasa, makan pedes."


"Ini mungkin bukan gara-gara sambal, tapi perut ku gak cocok makanan di tempat biasa seperti ini." Sela Raka berkilah, gengsi mengakui terkaan Pinkan.


Murat mengangguk "Iya, kali ini gue setuju sama lu Bang!" Ucapnya.


Preett!


Suara dari knalpot pemuda tampan itu, yang lepas juga pada akhirnya, Pinkan terkejut sambil mengatupkan bibirnya menahan tawa dan menutup hidung bangir nya reflek.


"OMG! Sorry Marni gue kelepasan." Murat berujar dengan ekspresi wajah yang sukar di jelaskan, malu sudah pasti, buang gas dihadapan cewek cantik "Gue harus ke toilet! Sekarang juga!" Murat undur diri lari terbirit-birit menghindari kecepirit.


"Xixixixix!" Raka terkikik puas melihat adiknya terlihat konyol di hadapan Pinkan "Kebiasaan dia mah begitu!" Ucap Raka masih terkikik namun tawanya tak berangsur lama sebab pria itu juga mulai menunjukkan wajah meringis nya lagi.


"Ah! Aw!" Keluhnya memegangi perutnya kembali saat merasakan sesuatu yang juga akan keluar dari knalpot nya.


"Tuan Raka juga, kenapa lagi?" Tanya Marni curiga.


Preett!!


"Hehe, sorry, kayaknya aku juga harus ke toilet Marni!" Ucapnya nyengir "Aku, titip Baby Zee sebentar ya, oke." Pamit Raka yang juga lari terbirit-birit menghindari kecepirit.


Sedang Pinkan menutup hidung bangir nya dengan sebelah tangan sambil menatap berlalunya pria tampan itu.


"Dasar! Gak abangnya, gak adiknya, sama aja, ternyata setampan apapun, bisa kentut juga." Gerutunya menggeleng kan kepalanya.


"Eh, tapi bukannya ini kesempatan bagus, gue bisa lari sekarang juga, sebelum mereka balik ke sini lagi!" Ide cemerlang mulai terlintas.


"Baby Zee, kita pergi saja dari sini, menemui Mami mu, kita tinggalkan saja Daddy kejam mu." Meski terus menghardik Raka manusia kejam tapi sejatinya Pinkan tak pernah melihat kekejaman dari seorang Raka Cyril.


Setelah itu gegas Pinkan membereskan tas milik Baby Zee, dan mendorong stroller Baby Zee pergi keluar dari tempat itu.


Langkahnya ia percepat agar cepat pula ia menjauh dari Raka dan Murat yang masih membuang racun dari dalam tubuhnya.


Kepala Pinkan rajin menoleh ke arah belakang, mengamati keadaan, mungkin saja dua Tuan muda keluarga Baskara sudah mengejarnya.


"Semoga mereka masih mules, jadi gak sadar kalo gue kabur." Harapnya bergumam.


Bruk!!


Karena ke asyik kan menoleh ke belakang Pinkan malah tak fokus dengan jalanan yang di tempuhnya, di pertengahan jalan stroller baby Zee menabrak sesuatu, sontak Pinkan menoleh ke arah depan.


Dan senyum manis mengembang di wajah tampan seorang pemuda "Hai Kaka, hai Baby Zee ku, annyeong!" Ucapnya ramah.


Mata Pinkan membulat "Tu-tuan muda Eric!" Pekiknya terkejut, lama menunggu kabar dari Raka ternyata Irma mengutus satu puteranya lagi.


"Iya," Sahut pemuda itu dan senyum nya memudar saat melihat ekspresi wajah Pinkan yang terkesan gugup, cemas, takut.


"Kak Marni kenapa? Apa barusan ada yang menggoda mu?" Tanya Eric menerka.


"Emm, iya Tu-tuan." Angguk Pinkan masih gugup, tangannya bahkan masih sedikit gemetar.


"Siapa?" Eric menyingsing lengan bajunya tentang tenteng "Mana orang nya biar Eric gibeng sekalian tu orang! Beraninya godain Kaka! Hekm!" Eric menarik sudut bibirnya.


"Emm, orangnya sudah kabur Tuan." Kilah Pinkan berdalih.


"Ya Tuhan, ternyata berusaha kabur tak semudah saat memasuki rumah besar itu." Batin Pinkan menatap nanar Eric lekat-lekat.


Tap Tap Tap!


Tak lama kemudian dari belakang tubuh Pinkan dua orang membungkuk kan tubuhnya sambil bernapas ngos-ngosan setelah lari dengan wajah cemasnya.


"Bang Murat, bang Raka, jadi kalian beneran joging?" Tanya Eric menatap kedua abangnya secara bergantian.


Tapi Raka justru menatap ke arah gadis itu "Kamu kenapa tiba-tiba pergi Marni?" Tanyanya dengan senggal senggal napas nya.


"Iya, aku cemas, aku kira kamu sama Baby Zee di culik." Sambar Murat yang juga tersenggal senggal.


Pinkan menggaruk pelipisnya gugup "Emm, Marni tadi,"


"Siapa?" Raka dan Murat penasaran.


"Sudah tidak ada Tuan, lagi pula Marni gak papa kok!" Sela Pinkan kemudian.


Kecewa sudah pasti di rasakan oleh gadis ini, ternyata sesulit itu kabur dari lingkaran mewah keluarga Baskara.


"Ok, kalo begitu kita pulang sekarang." Ajak Raka pada akhirnya.


Ke empatnya pun pulang ke rumah utama, bergantian mendorong stroller baby Zee yang masih lelap dalam tidurnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan hari pun berganti begitu saja, hari-hari Pinkan lalui bersama Baby Zee, kini sudah semakin lekat saja kedekatannya dengan bayi mungil itu, sekarang Baby Zee mulai candu pada gadis cantik itu, Baby Zee menangis jika sebentar saja tak melihat wajah cantik pengasuhnya.


Hingga satu Minggu sudah Pinkan menghiasi rumah besar Baskara, setiap harinya Pinkan menemani Raka makan siang di kantor, malam nya Raka menyuapi Pinkan makan malam, alasannya baby Zee yang tak bisa lepas dari Pinkan, membuat gadis itu susah jika harus makan sendiri di waktu yang tepat, sedang Pinkan harus memiliki tenaga ekstra mengurus bayinya.


Dan sudah satu Minggu ini Pinkan mencari kesempatan kabur dari tempat itu, tapi terus menerus gagal, dan ini misi terberat yang pernah ia jalani, sebab sebelumnya gadis itu selalu bisa menyelesaikan misi dengan mudahnya.


Selama satu Minggu ini pula perasaan suka mulai tumbuh dan sebegitu subur nya di hati Murat, Raka, dan Pinkan sendiri, sedang Eric masih hanya mengagumi Pinkan cengengesan saja, maklum, masih ABG labil.


Dan hari ini hari Minggu, semua orang mendapatkan waktu liburnya, begitupun dengan Rani kekasih Raka, rindu membawa langkahnya memasuki rumah besar milik Baskara, wanita dewasa ini melangkahkan kakinya gontai menuju kamar Raka, tapi ternyata si pemilik sedang tidak di tempat, akhirnya Rani keluar lagi dari kamar itu dan berjalan ke arah kanan menuju kamar Baby Zee.


Mungkin saja Raka lagi di goda sama Marni, pikiran negatif wanita itu mulai melintas.


Ceklek!


Ia membuka pintu kamar baby Zee dan sesosok gadis cantik tengah merengkuh tubuh kecil Baby Zee, keduanya sama-sama terlelap tidur di ranjang queen size di tengah kamar tersebut.


Rani menyisir seluruh sudut tempat itu dan tak terlihat sosok yang ia cari "Jadi Raka gak di sini. Terus di mana?" Gumamnya. Rani melangkah masuk tentunya setelah menutup pintu kamar tersebut, di sisi ranjang ia menatap wajah Pinkan yang ia akui sangat cantik, bahkan lebih cantik darinya.


Cemburu pun mulai membuncah di dalam hatinya, apa lagi semenjak Pinkan hadir sikap Raka mulai berubah, terbesit seketika itu juga ingin mengusir gadis itu pergi dari rumah besar ini, tapi bagaimana caranya? Rani berpikir keras sambil menatap lekat wajah cantik alami Pinkan Arora yang masih terpejam.


Dan Rani tersenyum miring saat sudah mulai bisa menemukan cara licik "Selamat tinggal gadis-gadis sialan."


Matanya mengarah ke Bantal di samping Baby Zee, wanita itu mengangkat bantal berbetuk hati dan perlahan mendekatkannya pada wajah mungil bayi itu, tidak salah lagi, Rani mencoba membekap wajah cantik bayi yang tak berdosa itu, sesekali Rani menoleh ke arah pintu memastikan tidak ada yang akan masuk ke dalam.


"Dengan tewasnya kamu bayi sial, pembantu sial ini juga akan di depak jauh dari calon suami ku!" Gumamnya.


Bugh!


Sontak tangan Pinkan menampik bantal yang sudah sedikit lagi mengenai wajah mungil Baby Zee.


"Kau!!" Pekik Pinkan melotot, seraya duduk dengan gerakan yang sangat cepat, terperanjat, sungguh tak menyangka wanita dewasa yang katanya berpendidikan itu akan melakukan hal yang bisa di katakan kriminal.


"Kau mau membunuhnya?!" Tukas Pinkan lagi lebih memekik dari sebelumnya, tak perduli dengan posisinya yang hanya Baby sitter di rumah itu.


"A-apa?" Gugup Rani sambil menelan saliva yang tiba-tiba mengganjal di tenggorokan nya. Takut, sudah pasti di rasakan wanita itu.


"Jangan sembarangan kamu! Aku t-tidak sejahat itu! Beraninya kau menuduh ku hah?!" Tambahnya yang sudah berani membalas pekikan pada gadis itu.


"Eeeeeeee.. hiks hiks!" Baby Zee menangis tantrum setiap mendengar suara keras Rani.


"Sayang, maafkan Tante, Tante ketiduran." Pinkan mengambil Baby Zee dan merengkuhnya posesif. Jika saja tidak terbangun mungkin Baby Zee sudah kehilangan nyawanya, dan Pinkan menyesali kelalaiannya.


"Ingat ya, aku tidak melakukan apapun padanya!" Rani mencoba meyakinkan Pinkan tapi gugup terus tertampil di wajahnya.


"Sssuuuuutttt, cup cup sayang, jangan takut, ada Tante sayang." Pinkan menenangkan Baby Zee yang masih menangis ketakutan mendengar suara Rani.


Gaduh itu membuat Raka yang tengah berjalan menuju kamar itu segera mempercepat langkahnya memasuki ruangan tersebut dan keningnya mengerut saat melihat kekasihnya berdiri di dalam sana dengan wajah gugup.


"Rani." Sapa nya seraya mendekat.


Sebelum Pinkan mengadukannya Rani berinisiatif terlebih dahulu menghiba pada lelaki itu, mendekati Raka dan merengkuh lengan kekar kekasihnya, bergelayut "Raka, pembantu baru kamu barusan menuduh ku, dia bilang aku mau membunuh putri kita, kurang ajar banget dia Ka, huhu.." Kilahnya menghelat dengan wajah memelas.


"Maksudnya?" Raka semakin berkerut kening kebingungan, menatap Rani dan Pingkan secara bergantian.


"Kenapa tidak kamu pecat saja dia Ka, dia berani menuduhku yang tidak tidak! Kau mengenal ku sudah sangat lama bukan? Tidak mungkin aku mau membunuh seseorang apa lagi seorang bayi, tapi barusan dia berteriak padaku, dia bilang aku mau membunuh Baby Zee." Lanjut Rani berdalih.


"Benar begitu Marni?" Raka menatap kecewa Pinkan, dan entah kenapa, gadis itu sedikit merasakan sakit saat mata Raka seakan menyudutkan nya, selama satu Minggu ini Pinkan pikir Raka sudah menyukainya.


".........." Pinkan hanya diam saja matanya nanar menatap sepasang kekasih itu sedang tangannya masih merengkuh tubuh kecil Baby Zee posesif penuh sesal.


"Jadi ini, alasan Tuhan mengirim ku ke sini, karena di sangkar emas ini, nyawa Baby Zee terancam? Miska benar, wanita ini benar-benar ular."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Terimakasih like dan dukungannya 🤗😘