
Guyuran air hujan berserta angin yang riuh menggoyangkan pepohonan, alam gelap ini lumayan mencekik kedua insan rupawan yang kini meringkuk di atas serakan daun kering.
Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka tak mengeluarkan suara, Lidya yang takut mulai melirik ke arah pemuda tampan di sebelahnya.
"Eric, lu ga tidur kan? Jangan tidur dong!" Ujarnya takut.
Lampu senter sudah mulai meredup wajah keduanya sudah tak saling terlihat.
"Eric!" Lidya menggoyangkan tubuh Eric dan tak sengaja menyentuh lengan beku pemuda itu.
"Hmm." Sahut Eric yang tak seperti biasanya. Eric tak banyak bicara kali ini, Lidya sampai curiga.
"Kamu dingin, kamu kenapa hmm?" Lidya menempel kan telapak tangannya pada dahi pemuda itu "Panas banget Ric, lu sakit hah?" Tanyanya gusar.
Eric menoleh meskipun wajah Lidya tak terlihat dalam pandangannya karena gelap, hanya sesekali saja ia bisa menatap wajah ayu itu saat cahaya kilat berpendar sekilas "Lidya, seandainya gue mati beku di sini, apa lu seneng?" Celetuknya dengan pertanyaan yang menyeramkan bagi Lidya.
"Jangan becanda lu, gue serius, lu sakit hah?" Gusar Lidya.
"Gue juga tanya serius Lidya, apa lu benci gue?" Tanya Eric lagi lirih dan gemetar.
"Enggak, makanya jangan mati lu! Gue takut sendirian di sini!" Sambung Lidya.
"Kalo gitu, peluk gue, gue butuh kehangatan!" Pinta Eric.
Lidya mengernyit "Jangan kurang ajar lu! Awas ajah cari kesempatan lu hah!" Tukasnya.
"Maaf!" Lagi-lagi respon tak biasa terdengar dari pemuda itu "Lu bener sakit Ric?" Lidya menempel kan telapak tangan pada dahi Eric kembali dan terasa lebih panas dari sebelumnya.
"Ck!" Eric menepis "Gue baik-baik ajah!" Ucapnya menampik.
Lidya kemudian merapat dan merangkul tubuh dingin pemuda tampan itu "Ok! Gue peluk lu, tapi jangan berpikir macem-macem, ini gue lakuin karena, ...."
Cup!
Eric menyambar bibir ranum gadis itu tanpa izin dari si pemilik ia pagut bibir itu dengan mata yang terpejam menikmati hawa dingin yang mendorong kegiatan romansa hangat mereka.
Lidya hening meskipun melotot, entah kenapa, gadis itu pun masih belum tahu penyebabnya. Tubuhnya seakan kaku tak mampu beringsut barang secuil.
Bahkan di pagutan Eric yang ke lima Lidya ikut membalasnya sambil menutup matanya perlahan.
Tangan amatir Eric mulai mencari sela bahkan masuk ke dalam jaket tebal yang ia pakaikan pada Lidya.
Tangannya mulai menyelusup ke punggung gadis itu "Emmhhh." Terdengar suara desah malu-malu dari Lidya.
Sejatinya ketampanan Eric sempat membuatnya jatuh hati tapi rupanya tingkah laku Eric tak sesuai ekspektasi, Eric yang bar-bar lumayan membuat Lidya hilang feeling.
Entah lah, lalu kenapa sekarang bibir keduanya bersatu di bawah derasnya hujan yang menyelimuti.
Cukup lama kedua bibir itu bertautan, sesekali Eric melepas lalu mengusap bibir basah Lidya sebelum kemudian ia cecap kembali.
Tanpa sadar kedua tubuh itu sudah menyatu, kini Lidya berada di atas pangkuan Eric dengan tangan yang mengalungi leher pemuda itu.
Eric sudah memanas.
Di bawah Lidya ada sesuatu yang menjadi tajam dan lumayan mengembalikan kewarasan gadis cantik ini hingga dengan cepat matanya ia buka kembali kemudian melepas penyatuan bibir mereka secara tiba-tiba.
"Eric! Lu!" Lidya melotot "Apa di bawah ini hah?" Lirihnya namun ketus.
"Maaf, dia bangun." Bisik Eric tanpa dosa sembari menekan punggung Lidya hingga semakin menyatu.
"Lepas! Lepasin gue!" Lidya memukuli pundak pemuda itu sambil bergoyang gusar di atas pangkuan Eric. Jangan sampai ada kejadian cinta satu malam hanya karena hawa dingin saja, Lidya sadar mungkin Eric melakukan itu karena kebutuhan naluri saja, setelah tersadar Eric bisa saja menyangkal dan tak mau bertanggung jawab.
"Jangan macam-macam Eric!"
Eric tekan pundak gadis itu "Diam saja, kamu semakin membuat nya kekar! Diam lah atau aku tidak bisa mengendalikan diriku!" Pekiknya.
Lidya terdiam "Aku? Kamu? Sejak kapan Eric berbahasa sopan begini?" Batinnya masih sempat memikirkan hal itu.
"Gila apa lu?" Sergah Lidya.
"Kenapa kamu mau, ku cium? Kamu juga suka padaku kan?" Sambung Eric.
"Gue cuma, ga mau lu mati kedinginan di sini! Itu ajah!" Sangkal Lidya terbata.
"Bagaimana kalo aku benar-benar menyukai mu Lidya? Ciuman pertama yang kau berikan padaku, berhasil membuat ku candu padamu!" Jelas Eric mengaku.
"Lu ngomong begini karena punya niat terselubung kan?" Tukas Lidya.
"Aku serius, aku tidak pernah menaiki gunung, ini pertama kalinya karena aku terlalu khawatir pada mu! Meskipun harus kedinginan, setidaknya aku puas, bisa bermalam dengan mu di sini."
Cahaya kilat yang lumayan lama berpendar hingga Lidya mampu menangkap gurat ketulusan hati dari kalimat yang Eric presentasi kan.
"Mau kah kau menjadi milikku?" Ulang Eric sekali lagi dan terdengar sangat serius hingga Lidya sempat hening di buatnya.
Setelah itu Lidya beranjak dari posisinya lalu duduk kembali di sebelah kiri Eric, ia lepas jaket Eric kemudian menjadikannya selimut untuk keduanya.
"Kita pake sama-sama saja" Ujar Lidya pelan.
"Kamu menolak ku?" Tanya Eric menatap dalam gelap gerakan Lidya.
"Bukan menolak, tapi aku bukan gadis yang sempurna untuk mu! Kamu pewaris Eric, mungkin godaan mu banyak setelah menduduki singgasana ayah mu. Aku bukan gadis yang pantas bersanding dengan mu Aku bukan gadis yang mampu bersaing dengan wanita lain Aku tidak sanggup." Batin Lidya.
"Yah, kita cukup berteman saja." Lidya menghambur memeluk Eric dibawah jaket tebal yang menyelimuti tubuh keduanya.
Eric balas pelukan Lidya sambil memejamkan matanya berusaha menerima kenyataan, bahwa dirinya sudah di tolak oleh gadis yang pertama kali merenggut hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hujan yang mulai reda justru membangunkan tidur kedua insan rupawan ini, Eric dan Lidya bersamaan menggeliat sambil mengerjap kan matanya.
Lidya sempat tersentak saat bibirnya bertautan dengan leher Eric, rupanya dalam alam bawah sadar Lidya membutuhkan kehangatan pemuda itu.
"Jam berapa?" Eric melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya "Baru jam empat." Gumamnya lirih dan Lidya masih sempat mendengar.
"Berarti masih ada waktu buat kita ke puncak lagi Ric! Gimana kalo kita ke sana sekarang? Kita liat matahari terbit!" Usul Lidya bersemangat, gadis itu sangat antusias jika sudah berhubungan dengan keindahan alam.
Melihat antusiasnya Lidya, Eric mengangguk dengan cepat "Ok, tapi kamu pake jaketnya!" Ucapnya.
Lidya menurut kemudian keduanya beranjak untuk bangkit menepuk seluruh celana yang terlihat kotor.
"Ayok Ric!" Lidya tarik tangan Eric berlari menuju puncak gunung di kota hujan ini.
Dinginnya angin, juga percikan embun yang mulai mengudara tak menjadi halangan kedua insan rupawan ini, mereka terus mendaki puncak gunung sekali lagi.
Tibalah keduanya di atas sana, dan atraksi geologi mulai menyambut kedatangan mereka "Ohh, Eric, lihat, indah nyaaaaa!" Lidya berteriak, berdecak sumringah sambil melompat lompat kegirangan hingga lesung dan gigi gingsul yang menjadi ciri khasnya tertampil dan membuat Eric semakin terpana.
"Ric, sayang banget kamera kita mati, kita ga bisa mengabadikan momen ini!" Keluh Lidya mendadak sendu.
Sesekali telapak tangannya menyatu sambil di gesek dan meniup dengan hembusan hangat dari mulutnya.
Sementara Eric sudah berdiri di samping Lidya sembari menyembunyikan kedua tangan ke dalam saku celana jeans hitam miliknya.
"Sudah terabadikan." Kata Eric sambil menatap lekat wajah cantik Lidya penuh damba dan Lidya membalas tatapan mata Eric yang sangat menyentuh relung hati "Aku mengabadikan momen ini, di memori ku, sampai kapan pun, momen intens bersama mu tidak akan pernah ku lupakan meski kau menolak cinta ku!" Lanjutnya dengan senyum tipis yang membuat pemuda itu semakin tampan saja.
Lidya terhenyak mendengar penuturan kata yang terdengar sangat tulus itu "Apa ini Eric bungsu bar-bar dan manja yang ku kenal?" Batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung....... Visual Eric biar ga lupa.....