
Setelah mengantar Baby Zee ke rumah sakit, siangnya Raka mendatangi gerai perhiasan, melamar Marni secara resmi, sudah pria itu mantap kan, tentunya setelah meminta restu dari kedua orang tuanya, dan dengan bebasnya Baskara mengizinkannya, meskipun sampai detik ini CEO itu belum pernah melihat wajah asli seorang Marni ataupun Pinkan Arora.
Irma sempat menanyakan bagaimana dengan Rani yang sudah sangat lama berhubungan? Lalu Raka hanya menjawab, Rani terlalu sibuk dengan karirnya, sedang Raka sudah ingin menikah, usia Raka sudah tiga puluh tahun, lalu kapan lagi Raka menikah, pernikahan darurat bersama Miska benar benar tak Raka inginkan karena Raka benar-benar tak bisa menyukai nya, Baby Zee sudah klop bersama Marni, lalu apa alasan untuk tidak melamarnya? Dia cantik, baik, begitulah yang Raka katakan saat meyakinkan ibunya dan Irma merestui.
Secepatnya Raka juga ingin memberi tahu keluarga Marni di kampung, itu niat duda tampan satu ini, yang tiba-tiba mantap, setelah berhari-hari tak tidur memikirkan rencananya, meskipun kedepannya mungkin akan mendapat tatapan sinis dari kedua adiknya yang kaget mendengar berita lamaran dadakan nya, tak masalah, itu urusan nanti, pikir Raka seperti itu.
"Akhirnya, lu bisa pindah hati juga dari Rani bro!" Kata seorang pria yang seumuran dengan Raka menepuk pelan pundak duda tampan itu. Dia tak lain adalah sahabat sekaligus tangan kanan Raka di kantor. Raka memang sengaja mengajak Juna, memilih cincin pertunangan di gerai mewah itu.
"Jangan bahas itu lagi! Sekarang lu bantu gue milih cincin yang kira-kira cocok di jari manis Marni!" Ucapnya tanpa menoleh, pandangannya terus ke etalase yang menyajikan cincin cincin berlian super cantik.
"Yang mana aja yang menurut lu pantes, gue bingung sendiri milihnya, lagian sampe sekarang gue juga belum pernah liat yang namanya Marni, lu kan gak bolehin gue masuk ruangan lu, kalo lagi ada Marni, gimana bisa gue mutusin yang mana yang cocok."
Raka menoleh sinis ke arah pria itu "Marni Marni! Nona! Dia calon istri gue!" Pekik nya melototi sahabatnya.
"Hehehe, sorry sorry, lupa ane!" Sanggah Juna nyengir.
Dan sepertinya kali ini Raka butuh waktu memilih cincin pertunangan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedang di rumah sakit "Halo moto." bunyi suara ponsel milik Pinkan yang baru saja di aktifkan.
Sudah hampir tiga hari dari semenjak ponsel itu di sentuh Rani, Pinkan baru mengaktifkannya kembali, sebab selama dua hari ini, ponsel itu tak terurus hingga lemah baterai, bahkan sampai mati total, pagi tadi Raka yang membawakan untuk nya, karena malam nya Pinkan memintanya, alasannya takut bapak di kampung menelepon dan Raka percaya.
Kini Pinkan mulai membuka satu persatu pesan teks dari Miska, Tito, Papah, Mamah dan masih banyak lagi teman teman yang lainnya, berderet di sana.
📩"Pink, lu gapapa kan? Kok gak aktif? Gimana kabar Baby Zee?" Salah satu pesan terbaru Miska dan dari sekian banyak pesan kontak itu lah yang pertama kali Pinkan balas.
📨"Gue lagi di rumah sakit, sekarang gue lagi sama Baby Zee, tapi, di luar ada bodyguard suruhan Raka, gue masih gak bisa keluar dari sini."
Sebenarnya, meskipun ada bodyguard, Pinkan masih bisa keluar dengan akal cerdasnya, tapi entah kenapa gadis ini beralasan seperti itu, apakah Pinkan mulai nyaman berada di sisi Raka? Mungkin saja!
📩"Gue bantuin lu keluar deh, rumah sakit mana, kalo masih di tempat umum mah gampang Pink, yang penting lu pastikan aja, kalo Raka sama kedua adiknya gak lagi sama lu." Balasan Miska yang terkesan memaksa, membaca itu Pinkan mendengus kasar, seperti tak rela meninggalkan Raka yang baru saja melamarnya, kemudian melamun setelah itu.
📩"Gimana Pink? Kok gak bales? Gue beneran udah kangen banget sama anak gue." Pesan Miska lagi, menyusul yang akhirnya di balas lagi.
📨"Iya, lu dateng aja ke rumah sakit M, gue bakal ajak Baby Zee jalan-jalan ke taman, tapi ingat usahakan sebelum malam ya, karena malam ini juga Raka jemput gue."
📩"Ok Beib, tunggu gue ya." Pesan penutup dari Miska.
Pinkan menghela napas berat, ricuh, bercelaru yang ia rasakan saat ini "Apa lagi yang lu pikir Pink? Harusnya lu gunakan kesempatan ini dari kemarin, tapi kenapa lu seolah olah memilih hidup bersama duda tampan itu?" Gumamnya gundah.
Pandangannya lalu beralih ke arah kiri, di sana Baby Zee tengah riuh mengoceh bahagia di kereta dorong nya setelah kenyang dengan susu formula nya, mereka memang hanya berdua saja, sebab tiga jam yang lalu Raka pamit pulang, dan mengatakan akan datang lagi malam nanti, seharusnya Pinkan sudah boleh pulang, tapi sorenya Baby Zee ada janji dengan dokter untuk menerima suntikan vaksin, jadi, mau tak mau Pinkan harus betah betah dulu di ruangan elit itu.
Pinkan pun melangkahkan kakinya menuju Baby Zee lalu mengambil bayi mungil itu dari keretanya "Semoga saja, Mami mu bisa secepatnya membawa kita keluar dari sini." Meski berdoa seperti itu, Pinkan seakan tak sudi mengucapkan aamiin. Karena tanpa sadar hatinya sudah terbelenggu oleh ketampanan dan kehangatan bang duda.
Satu jam setelah itu, ponsel Pinkan bergetar lagi, dan Miska lagi yang mengirimi nya pesan teks.
📩 Gue udah sampai ni Pink, lu di mana? Gue tunggu lu di taman ya, di sisi kiri koridor bangsal elit." Pesan Miska.
📨 Ok" Singkat Pinkan, kemudian mendorong stroller baby Zee keluar dari kamar pasien, di luar dua bodyguard tersenyum padanya.
"Nona mau kemana?" Tanya satu pria itu.
"Saya mau cari udara segar pak, lagi pula, saya sudah tidak di infus kok, biarkan saya mengajak baby Zee jalan-jalan ke taman ya." Jawab Pinkan meminta.
Kedua lelaki kekar itu sempat saling menatap, saling meminta pendapat, hingga akhirnya salah satu dari pria itu mengangguk setuju dengan permintaan Pinkan.
"Ok, tapi Nona tetap akan saya kawal, karena ini sudah aturan dari Tuan Raka." Ucap satu pria kekar itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedang di tempat lain, yang tak jauh dari sana, Miska sudah mengumpulkan beberapa orang pria, dan memanipulasi mereka.
"Benarkah begitu Nona? Hari gini, masih ada saja penculikan!" Ucap satu pria di antara mereka berapi-api.
"Iya pak, dua orang berbadan kekar yang mengiringi teman saya itu, sindikat penculik bayi." Hasut Miska menunjuk ke arah dua pria kekar yang mengiringi langkah Pinkan.
"Wah, harus di musnahkan ni orang kaya gitu! Ayok bapak bapak, kita sama-sama selamat kan bayi ibu ini!" Seru satu pria lainnya.
"AYOK!" Jawab pria pria di sana kompak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiba di taman beberapa orang yang termakan hasutan Miska dengan sepihak menyerbu kedua laki-laki berbadan kekar yang mengiringi langkah Pinkan.
"Woy, penculik bayi bajingan!" Teriak salah seorang yang menyerang kedua laki-laki kekar itu.
"Dasar penculik bayi! Orang kaya gini perlu di keroyok ini! Bisa-bisa semakin banyak korban kalo di biarkan!" Sahut satu pria lainnya yang kini sudah menyergap kedua bodyguard suruhan Raka.
"Saya bukan penculik bayi!" sanggah satu bodyguard itu menampik, tapi tak di dengar, sebab pria pria itu sudah kepalang emosi dan termakan hasutan Miska, mereka tetap lanjut mengeroyoknya.
Pinkan menoleh dengan raut bingung dan sempat merasa iba melihat kedua laki-laki itu, baru saja tangannya mau menghentikan aksi beberapa pria penyerang, tapi tangan seseorang menariknya, membuat Pinkan menoleh padanya.
"Miska, lu di sini?" Sontak Pinkan memekik menatap wajah Miska yang tiba-tiba muncul.
"Iya, cepet kita lari dari sini. Sebelum tu bodyguard di lepas lagi sama orang orang itu." Ucap Miska mengajak, dengan gusarnya.
"Tapi, kasihan mereka Mis, mereka gak salah. Mereka cuma suruhan Raka." Sambung Pinkan yang masih tak tega, sesekali menoleh ke arah para pria itu, iba.
"Udah biarin aja, gue memang sengaja menghasut orang orang itu, apa jadinya kalo lu tolongin mereka dan mengatakan yang sebenarnya? Pasti gue yang di incar setelah itu." Sambung Miska masih gusar.
"Ayok Pink tunggu apa lagi!" Pekik Miska saat melihat Pinkan diam mematung menatap iba ke arah dua pria suruhan Raka yang sudah hampir babak belur dihakimi massa.
Miska lantas mengambil tubuh kecil Baby Zee dari kereta dorongnya, lalu, lari mendahului Pinkan yang pada akhirnya mengekor di belakangnya.
"Hati-hati larinya Mis, lu bisa jatuh, inget lu bawa Baby Zee sekarang!" Pekik Pinkan di sela larinya, masih menunjukkan kepedulian pada bayi mungil itu.
Setelah lelah berlari, keduanya pun menghentikan langkahnya di halaman parkir, mengatur napas yang masih tersengal-sengal.
"Makasih Pinkan, gue utang budi banyak banget sama lu." Miska menatap wajah Pinkan sambil tersenyum sedang tangannya merengkuh putrinya rindu.
"Iya, sama-sama." Pinkan sempat tersenyum melihat bersatunya Miska dan bayinya.
Brugh!!
Suara sebuket bunga yang terjatuh membuat kedua perempuan itu menoleh bersamaan ke arah suara. Dan tatapan tajam mengarah pada wajah cantik Pinkan.
Mata Pinkan membesar, saliva tiba-tiba meluncur ke tenggorokan, melihat pria tampan berdiri tegak di hadapannya menenteng paper bag kecil bertuliskan brand perhiasan terkenal.
"Pinkan! Jadi itu nama mu?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir keriting laki-laki itu dengan tatapan tajam yang sulit sekali di artikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung....