
Sudah dua Minggu setelah Raka mengantar Pinkan pulang, direktur keuangan tampan itu tak juga menampakkan batang hidungnya. Selain rindu Pinkan juga semakin dibuat cemas oleh ketidak hadiran duda beranak satu itu. Langkahnya lesu melewati lobby kantor meskipun udara pagi masih terasa menyemangati, padahal sedari tadi para staf laki-laki menyapanya kagum, tapi tak satupun yang ia hiraukan.
"Huff, Raka kemana sih? Udah dua Minggu ini gak masuk kantor! ... Apa dia beneran sakit gara-gara anunya gue tendang? ... Masa iya gue SMS duluan sih, gengsi banget gue!" Pinkan mendengus pelan bahunya tampak turun tak bersemangat "Tapi pikiran gue jadi gak tenang begini!"
Lalu tak berapa lama matanya membesar saat tak sengaja menyergap punggung gagah seorang pria yang sangat ia kenal sudah akan memasuki lift ekslusif "Raka!" Melihat itu Pinkan segera berlari menyusul, lalu tangannya menghalangi pintu geser yang sudah sedikit lagi tertutup hingga kini pintu lift terbuka kembali.
"Sayang, ..." Pekik Raka tampak berkerut kening lalu menarik gadis itu masuk ke dalam dengan raut posesif, di dalam sana mereka hanya berdua saja karena kebetulan Arjuna sudah naik ke lantai atas "Bahaya Yank, gimana kalo sensor nya rusak hm? Kamu bisa kejepit!" Dan Pinkan hanya diam menatapnya rindu.
"Kenapa? Kamu lari-lari sengaja menyusul ku hmm?" Tanya Raka lagi, tangannya menyibak sejumput rambut yang menutupi sebagian wajah kekasihnya. Lalu gadis itu mengangguk dengan perlahan.
Dan seperti biasa setiap ada kesempatan Raka selalu reflek menyambar bibir gadis itu tapi dengan cepat Pinkan memukul dada bidangnya.
"Raka!!" Pekikan itu membuat Raka menghentikan gerakannya, wajahnya ia tahan tepat di depan bibir gadis itu.
"Aku merindukan mu, kenapa terus menolak ku hmm?" Bola mata Raka menyisir setiap lekuk wajah gadis itu.
"Kamu bilang merindukan ku, tapi sudah dua Minggu ini ngilang gitu ajah!" Kesal Pinkan lalu mencebik kan bibirnya sangat manis.
"Aku sengaja membiarkan mu bahagia tanpa gangguan dari ku. Gimana? Dua Minggu ini kamu bahagia kan? Aku lihat kamu makin dekat ajah sama Dimas." Sambung Raka dengan suara berat yang terdengar mesra di telinga Pinkan.
"Aku, ..." Pinkan ragu tapi tak sedikitpun menggerakkan kepalanya meskipun wajah mereka begitu dekat jaraknya.
"Kamu membuat ku bingung Yank, sebentar cemburu, sebentar menolak ku, jadi aku sengaja menghilang dari pandangan mu, aku mau tau dua Minggu ini kamu bahagia tidak tanpa gangguan dari ku? Kalo memang kamu bahagia, aku akan berusaha tidak menggangu mu lagi." Ucap Raka kemudian.
"Katanya kamu mencintai ku, sulit melupakan ku, sekarang begitu ngomong nya! Kamu yang membuat ku bingung! Dua Minggu setelah mengantar ku kenapa gada kabar sama sekali hh! Kamu tu sebenarnya serius apa nggak si!" Pinkan memukul dada bidang pria itu hingga kini Raka terhuyung ke belakang, bersandar pada dinding lift.
"Serius, sangat-sangat serius malah, aku cuma ragu ajah sama perasaan mu yang sulit sekali di tebak, baru ku tinggal dua Minggu ajah udah makin akrab sama Dimas." Rutuk nya.
"Bukan makin akrab, emang aku udah akrab dari SMA kok sama dia, dulu satu ekskul selama satu tahun." Sangkal Pinkan "Kamu sendiri kemana dua Minggu ini? Pasti ngajak balikan lagi sama Rani si nenek lampir itu!" Pinkan membalikkan badannya berpaling dengan raut kesalnya.
"Aku dari Inggris Yank, .." Raka berucap seraya menenggelamkan dagunya pada ceruk leher Pinkan yang tampak lapang karena rambut panjangnya ia ikat ke atas, pria itu memeluknya mesra dari belakang "Kemarin aku mengantar Murad ke sana, mengurus administrasi kuliahnya, sekalian nunjukin apartemen Papi yang di sana, kebetulan Murad belum hapal jalannya, dia kan jarang ikut jalan jalan keluar negeri, terlalu cupu." Jelasnya.
"Hmm?" Pinkan melirik ke arah Raka masih dari posisi yang sama "Jadi Murad udah ke Inggris?" Tanyanya memastikan.
"Udah, mungkin udah mulai masuk." Jawab Raka.
"Jadi, kamu ngilang, bukan karena sakit kan?" Tanya Pinkan lagi sedikit menampilkan wajah khawatir.
"Sakit apa?"
"Anu apa? Yang jelas, sebut namanya!" Raka berucap sambil menahan tawanya, sudah tahu apa yang Pinkan tanyakan.
"Apa mau sekalian aku tendang lagi hah?!" Ancam Pinkan kesal.
"Gimana bisa sakit? Dia ajah udah tenang di alam sana, burung ku sudah almarhum Yank." Sambung Raka membual.
"Hah?" Pinkan melepas tangan yang melingkar di perutnya lalu membalikkan badan menghadap ke arah Raka kembali.
"Kamu serius? Jangan bohong!" Polos Pinkan.
"Serius, ya kalo kamu gamau aku nikahi ya udah gapapa, aku juga gak akan nikah lagi kalo gak sama kamu! Kamu cari pemuda lain ajah yang burung nya masih hidup, biar bisa menghibur malam-malam mu." Ujar Raka.
"Kamu ngomong apa si!" Pinkan mencebik kan bibirnya dan itu terlihat sangat seksi di mata pria ini " Kamu kenapa suka banget nyuruh aku nyari orang lain! Cinta mu cuma di mulut doang! Orang mah buktikan Raka! Buktikan keseriusan kamu, bukan cuma bisanya nyosor doang!" Tuntut nya.
"Jadi kamu mau menerima ku apa adanya hmm? Meskipun gak bisa oh yes oh no pas malam pertama?" Tanya Raka mencondongkan wajahnya mendekati gadis itu.
"Memangnya apa masalah nya? Kamu dengerin ya Raka, pernikahan itu bukan sekedar kebutuhan ranjang semata! Yang namanya kesenangan seperti itu mah sekarang bisa di akalin dengan yang lain, asal melakukan nya bersama orang tercinta pasti akan terasa nikmat apapun caranya."
"Hmm?" Raka terhenyak mendengar kata-kata bijak dari gadis itu, matanya menatap lekat wajah cantik Pinkan Arora.
"Apa kamu tau Raka? Relationship bukan sekadar ikatan dua orang yang saling jatuh cinta saja, melainkan juga alasan untuk menolak menyerah saat keduanya menghadapi masalah, merindu saat jauh, khawatir saat tak mendengar kabarnya, saling membutuhkan satu sama lain, yang namanya kebutuhan bukan sekedar sensasi ranjang saja, tapi hati yang terasa damai saat bersama."
Raka tertegun mendengar setiap jawaban Pinkan yang tak pernah ia sangka sebelumnya, jelas, gadis ini lain dari yang lain "Jadi kamu damai saat bersama ku?" Tanyanya lalu Pinkan mengangguk sambil tersenyum.
Dan kini keduanya saling tenggelam dalam tatapan paku masing-masing, ada getar-getar bahagia yang merasuki perasaan mereka, dua Minggu setelah mengetahui kebenaran dari Kania, Pinkan benar-benar di buat berani untuk merindukan pria ini, sebelumnya Pinkan terus menepis rasa aneh yang tersemat dalam hatinya.
Dua Minggu ini pula meskipun berada di negara orang, Raka terus memantau gadis pujaan hatinya lewat Arjuna, rindu, pria ini sangat merindu, sungguh Bibir senyum Pinkan masih menjadi candu bagi laki-laki tampan ini, baru saja Raka mendekati wajah gadis itu namun sayangnya Pinkan sudah lebih dulu melangkah pergi setelah mendengar suara Ting! Saat pintu lift terbuka.
"Jangan harap bisa mencium ku sebelum halal!" Ucap tegas Pinkan di sela langkahnya.
"Ck, mau nyium ajah susah bener, kapan halalnya Tuhan!" Gumam Raka sambil melepaskan hembusan napas singkat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung... Like komen sekilas nya. Jejak kalian mampir ke sini.