Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Caiyo!!



Pinkan keluar dari ruangan Raka kemudian menuju meja kerjanya kembali dengan raut kecewa.


Brugh!


Gadis itu duduk di kursi kerjanya sambil menghentakkan laporan keuangan perusahaan garapan Kania di mejanya.


Membuat gadis di sebelahnya menoleh dengan raut penasaran "Kok tumben cepet pak Raka ngecek laporan gue? Biasanya lama banget saking detil nya." Tanyanya.


"Belum di periksa, dia nolak gue, dia maunya elu yang yang ke sana, ..." Pinkan ngedumel.


"Kenapa?"


"Dia bilang gamau berurusan sama karyawan magang, lu bilang baik, buktinya dia songong begitu ke gue." Dengus Pinkan dengan wajah muramnya.


"Ya Tuhan!" Sontak Kania menepuk jidatnya membuat Pinkan berkerut kening "Gue lupa, kalo pak Raka emang anti banget sama yang namanya karyawan magang, duh, gue jadi takut di semprot sama dia setelah ini, gue lupa kalo dia pernah mengalami trauma sama yang namanya karyawan magang." Sambung takutnya gusar.


Dan Pinkan semakin dibuat penasaran mendengar penjelasan gadis itu "Emangnya kenapa?" Tanyanya seraya mendekat.


"Gimana yah, gue dosa gak yah kalo gosip?" Kania ragu mau bercerita, padahal lidahnya sudah gatal ingin berolahraga, bergosip ria.


"Gapapa, gue yang tanggung dosanya, sekarang lu cerita dong, gue udah terlanjur penasaran nih." Pinkan memelas saking penasarannya dan Kania sempat berdiam diri sejenak mengumpulkan keberanian untuk menceritakan gosip yang dulu sempat menjadi trending topik di kantornya.


"Sini-sini." Gadis itu mendekati telinga Pinkan, berbisik bisik dan Pinkan pun menurut untuk menjaga jarak kedekatan mereka.


"Jadi tu dulu yah, mungkin sekitar dua tahun yang lalu, gue lupa-lupa inget, ada karyawan magang yang suka sama pak Raka, anaknya sih lumayan cantik, tapi sayangnya dia pake cara licik buat deketin pak Raka, itu yang jadi alasan pak Raka gamau lagi berurusan sama cewek magang." Jelas Kania sambil sesekali melirik ke arah ruangan Raka yang sudah terbuka kembali hordeng nya.


"Oya? Cara licik gimana maksudnya?" Lagi-lagi Pinkan semakin dibuat penasaran dengan gosip yang keluar dari bibir Kania.


"Hm, licik selicik licik nya pokoknya, gue aja sampe malu jadi kaum perempuan kalo inget kejadian itu, masa, tu cewek pake obat perangsang buat tidur bareng sama Pak Raka di hotel, terus ujuk ujuk minta tanggung jawab setelah hamil, gila gak tu cewek!" Kania berapi-api sedang Pinkan masih setia menyimak.


"Makanya sekarang Pak Raka jadi duda, ya jelaslah, orang pak Raka udah punya pacar, jadi setelah bayinya lahir langsung di tendang gitu aja tu cewek sundal bolong, suruh siapa main kotor, kan cinta itu gak bisa di paksakan." Tiba-tiba saja nada Kania naik kala mengingat kembali kejadian sekitar dua tahun lalu dengan salah satu junior nya.


"Obat perangsang?" Pinkan memastikan sekali lagi masih belum paham dengan yang Kania bicarakan.


"Iya, ibunya Baby Zee yang lucu itu, lu liat kan bayi imut yang barusan lewat? Yang sekarang di ruangannya pak Raka, nah tu bayi anak cewek sundal bolong itu." Sambung Kania tampak menikmati gosipnya.


"Maksud lu Miska? Ibunya Baby Zee bukannya Miska kan namanya?" Sambar Pinkan memastikan.


"Loh, kok lu tau?" Giliran Kania yang penasaran.


"Miska itu temen gue Kania, gue gak percaya kalo Miska ngelakuin hal itu, dia cewek baik-baik kok, bisa aja lu salah, lu cuma denger dari pihak Raka doang mungkin." Tepis Pinkan masih membela temannya.


"Yee, lu kali yang cuma denger dari pihak Miska doang, jelas-jelas CCTV nya ada kok, semuanya, dari awal sampai akhir, detik-detik pas sundel bolong itu masukin obat ke minuman pak Raka sampe dia keluar bawa pak Raka pake mobilnya, kita semua saksinya." Sambung Kania yang masih berapi-api.


"Masa bisa sampe kecolongan si? Bukanya pak Raka punya sekertaris atau asisten pribadi gitu ya? Kemana mereka pas kejadian itu? Gue masih gak percaya." Tampik gadis itu lagi-lagi.


"Kebetulan waktu itu kita semua udah pada capek, kan pas lagi rancu rancunya keuangan perusahaan, jadi, seluruh karyawan devisi keuangan di minta lembur, menyelesaikan masalah dalam satu hari itu juga. Ternyata keadaan itu malah di manfaatin sama tu cewek sundel bolong." Jelas Kania lagi.


Pinkan tertegun mencerna ucapan demi ucapan yang berderai dari mulut Kania, di lihat dari sudut manapun sepertinya Kania yakin seyakin-yakinnya "Lu bilang CCTV nya ada, gue mau liat dong, lu masih punya gak vidio nya?" Tanyanya yang pada akhirnya berucap demikian.


"Yaaah, udah gue hapus dari hape gue, tapi kalo lu mau liat, videonya masih kok di link, kan udah terlanjur kesebar tu waktu itu, emang lu gak pernah liat sosial media ya Pink? Sempet virall loh Pink." Jelas Kania.


"Gue mana pernah ngurusin begituan!" Batin Pinkan.


"Gak sempet liat gue, sekitar dua tahun lalu gue lagi sibuk ngurusin olimpiade mungkin." Sambung Pinkan kemudian.


"Ekm ekm!" Suara dahaman dari seorang pemuda tampan yang berdiri di belakang tubuh kedua gadis itu membuat Pinkan dan Kania menoleh serentak padanya.


"Eh, Dimas." Celetuk Kania.


"Pak." Pinkan menundukkan wajahnya sedikit menyapa seniornya.


"Kalian ngapain masih gosip di sini? Gak pada mau makan siang memangnya hm?" Tanya pria itu menatap Pinkan dan Kania secara bergantian.


"Astaga, gue lupa kalo gue masih banyak kerjaan, gara-gara keasyikan gosipin orang!" Kelakar Kania sambil menepuk jidatnya.


Dimas terkikik "Yah, gue maklumin, emak-emak kalo lagi kumpul emang berasa jadi menteri penerangan." Sindirnya.


"Ya udah Pink, lu makan siang gih, lu bilang laper tadi, gue mau selesein kerjaan gue dulu." Sambung Kania.


"Emm, ..." Pinkan mematung di kursinya, gadis itu masih ingin mencari informasi terkait vidio CCTV yang katanya sempat virall.


"Kita makan siang bareng aja gimana?" Ajak Dimas dan gadis itu masih setia dengan lamunannya.


"Pink!" Dimas menepuk pelan pundak gadis itu dan berhasil membuat lamunannya membuyar.


"Eh, iya, kenapa?" Tanyanya.


"Kita makan siang bareng." Ulang Dimas mengajaknya lagi, tapi, Pinkan masih melongo belum sepenuhnya konek dengan ajakan Dimas "Ayok, ..." Pemuda itu lantas menarik paksa tangan Pinkan berjalan menuju kantin meninggalkan Kania yang sudah fokus mengerjakan tugas-tugas nya.


"Iya, ..." Sahut Pinkan lalu pasrah mengikuti langkah Dimas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di ruang kerjanya, tangan Raka terlihat mengepal dengan tatapan mata yang menusuk pada Dimas.


"Ow noo Bhi-bhi, ..." Zee menggeleng kan kepalanya perlahan, bayi itu tampak kecewa melihat Pinkan di boyong laki-laki lain, apa lagi setelah mengamati raut kesal Daddy nya.


Raka kembali menatap wajah cantik bayi cerdasnya "Baby, kamu dukung Daddy kan? Kamu mau Tante cantik itu jadi Mommy mu kan hm?" Tanyanya dan Zee mengangguk sambil mengedipkan kedua matanya.


"Jadi sekarang, kamu harus bantu Daddy oke! Jangan lupa doakan Daddy juga."


Zee tersenyum "Bu lap Bhi-bhi iayo! (Good luck Daddy Caiyo!)" Zee mengepal kan kedua tangan di depan dadanya penuh kemantapan, berusaha menyemangati ayahandanya.


"Good luck!" Raka juga ikut mengepalkan tangan di depan dadanya "Semangat!" Ucapnya sambil tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung...