
Seperti yang Raka perintah kan siang ini Pinkan sudah berada di kantor pusat Key-food, dengan seragam Pink di atas lutut yang terlihat ketat karena buah semangka kembar nya yang sedikit lebih besar dari ukuran pada umumnya tapi meski begitu Pinkan memiliki pinggang yang ramping, gadis itu berjalan mendorong stroller baby Zee, dan membawa bekal makan siang juga untuk Raka sang Tuan muda, karena sebelumnya Ismi juga begitu.
Di sepanjang perjalanan dari lobby menuju ruangan direktur seluruh pasang mata menatapnya kagum, cantik nya, yaah, begitu lah, orang orang menyanjung nya, di belakang Pinkan dua orang bodyguard mengawasi.
Tok Tok!
Setibanya, Pinkan mengetuk pintu ruangan bang direktur "Masuk!" Seru dari dalam sana dan Pinkan segera mendorong pintu kaca itu, lalu mendorong stroller baby Zee masuk ke dalam juga.
"Selamat siang Tuan muda!" Ucap Pinkan memberi tundukkan kepala pada Raka yang masih bergulat dengan laporan laporan dari devisi keuangan.
"Hmm. Apa baby Zee sudah kenyang?" Tanya nya tanpa menoleh, terus bergumul dengan map map nya yang tanggung di kerjakan.
"Sudah Tuan, baru saja, saya kasih dia susu." Jawab Pinkan.
"Bagus!"
"Sekarang siapkan makan siang ku, di meja sofa, setelah ini saya mau langsung makan." Titah Raka.
"Baik Tuan!" Mulutnya berkata demikian tapi hatinya menggerutu "Sok ngatur, kalo aja bukan karena Miska, ogah gue berurusan sama cowok kejam kayak lu, apa lagi harus meladeni lu!" Pinkan menaikan sudut bibirnya.
Kemudian melangkah ke sofa, mengambil bekal kotak dari storage stroller baby Zee, lalu menyiapkan, memindahkan makan siang Raka ke meja lengkap dengan minumannya.
Raka yang baru selesai membenahi laporan, mulai merentangkan kedua tangannya, meregangkan otot-ototnya seraya menyandarkan punggung dan tengkuk pegalnya pada sandaran kursi putar.
Alangkah mujurnya hari ini, saat menoleh ke arah kiri, paha mulus baby sitter barunya memanggil manggil gelora lelakinya. Pinkan yang bertubuh tinggi tentu saja harus menundukkan tubuhnya saat menyiapkan makanan di atas meja sofa yang rendah.
"Ya Tuhan, dia ini kenapa sembrono sekali!" Raka mengalihkan pandangan namun hanya sekilas karena masih ingin melihat.
"Mubazir" Pikirnya.
Kemudian tak lama dari itu, Pinkan membalikkan badannya ke arah stroller dan baby Zee sudah tersenyum manis minta di gendong.
"Baby bosen di dalam sana hm?" Pinkan mengangkat tubuh kecil Baby Zee, kemudian merangkum tubuh mungil itu ke dadanya, nyaman, anteng, Baby Zee setelah bersama Pinkan, sebelumnya tak pernah seperti itu dengan siapapun, bahkan dengan Ismi baby sitter yang lama pun tidak.
Raka yang melihat itu tak terasa bibirnya tersenyum menatap lekat gerak tubuh Pinkan yang menggerakkan badannya menimang putrinya.
Dan mata Pinkan tak sengaja melirik ke arah bang duda tampan yang masih menatapnya lekat.
"Emm." Pinkan memberi senyuman menyapa. Tapi Raka justru tersadar bahwa dirinya sudah larut dalam lamunan.
"Emm." Raka berdiri kemudian melangkah ke sofa dan duduk di sana "Kau duduklah di sini, aku mau makan siang di temani putriku." Titahnya menepuk permukaan sofa yang tepat di sebelahnya.
"Hh?" Pinkan terdiam, hanya matanya saja yang mengedip ngedip "Jadi gue harus duduk di samping tu laki?" Batinnya.
"Kenapa melamun? Duduk!" Kejut Raka sedikit keras.
"Oh, iya, baik Tuan."
Pinkan menurut, duduk di sebelah kanan lelaki itu, meski harus dengan wajah canggung, dan lagi-lagi konsentrasi Raka terganggu saat melihat paha mulus Pinkan, tubuh gadis itu terlalu tinggi, maka rok yang seharusnya di bawah lutut harus di atas lutut.
Raka lantas melepaskan jas nya dan menutup paha mulus baby sitter cantiknya "Pakai ini, rok mu terlalu pendek, besok, jangan kamu pakai lagi, mengerti!" Pekiknya.
Pinkan mengangkat Baby Zee keatas membiarkan Raka menutup pahanya "Emmh, maaf Tuan, tapi, ini seragam yang Nyonya besar kasih ke saya." Sahut nya.
"Besok minta lagi yang baru, atau tidak usah pakai seragam saja." Sambung ketus Raka. Padahal tak di pungkiri lelaki itu juga menikmati pemandangan indah itu, alasannya sih, tidak mau terganggu saja konsentrasi nya saat bersama Baby Zee.
"Kalo tidak pake seragam. Jadi saya telanjang dong Tuan?" Sindir Pinkan yang pura-pura polos.
"Ck!" Raka mempertajam tatapan nya.
Raka memulai ritual makan siang di temani putri dan baby sitter cantiknya, sesekali lelaki itu menundukkan kepalanya menciumi wajah Baby Zee yang masih dalam dekapan Pinkan, tangan Raka bahkan sering tak sengaja menekan punggung bawah Pinkan sekedar untuk mendekatkan Baby Zee padanya.
Risih, tentu saja Pinkan risih, tapi semua itu resiko yang harus di jalani sebagai seorang baby sitter. Setelah selesai makan Raka memasuki kamar mandi di ruang itu, mencuci tangan.
Setelah keluar dari kamar mandi, barulah lelaki itu teringat bahwa pengasuh putrinya mungkin belum makan "Apa kau sudah makan?" Tanyanya pada Pinkan dan duduk lagi di sebelah gadis itu.
Pinkan menggeleng perlahan dengan wajah laparnya "Belum sempat Tuan." Jawabnya.
"Kalo begitu, kamu makan lah, biar baby Zee aku yang gendong." Suruh Raka meraih tubuh kecil putrinya.
"Emm, t-tidak perlu Tuan, biar saya makan setelah baby Zee tidur saja, nanti di rumah saja." Tolak Pinkan tak nyaman.
"Makan sekarang, kamu lupa hh? Tadi pagi saja kau hampir menjatuhkan putriku, itu karena kau yang lemah, aku tidak mau kau menjatuhkan putriku lagi karena lemas belum makan." Rutuk nya "Sini, biar Baby Zee bersama ku saja." Paksa nya kemudian.
"Emm, iya." Pinkan menyerahkan baby Zee pada Tuannya.
Kemudian mulai menatap ke arah meja yang masih lengkap dengan makan siang, bekal yang Irma siapkan memang banyak, cukup untuk dua orang, karena biasanya Raka makan siang bersama kekasihnya. Tapi kali ini jatah kekasihnya ia berikan pada baby sitter nya, dan baru kali ini Raka berbagi makanan dengan pelayan nya.
"Kenapa tidak makan nasinya saja dulu, kau bisa kenyang sebelum makan, jika terus memakan buah!" Tegur Raka saat melihat Pinkan hanya memakan buah saja.
"Saya terbiasa makan buah dulu sebelum makan nasi Tuan, itu bisa mencegah kita makan kalori berlebih, menjaga tubuh, sehat, itu penting Tuan." Sahut Pinkan.
"Jadi kamu menggurui ku? Aku juga tahu itu! Kamu bisa lemas, jika terus mementingkan penampilan mu!" Sambung Raka ketus.
"Satu buah lagi Tuan, hehe, aku suka pisang ini, boleh kan?" Tanya Pinkan membujuk.
"Hmm!" Sedikit respon yang membuat Pinkan mengembangkan senyumnya. Kemudian mengupas kulit pisang yang menurut Raka penuh penghayatan.
"Eemmmmhh..." Raka ngilu saat Pinkan memagut lembut pisang itu seolah pisangnya lah yang di pagut "Sialan ni cewek, apa sengaja menggoda gue! Sorry aja, secantik apapun lu, gue setia sama pacar gue! Miska aja gue cerai." Batinnya yang lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, cenut cenut jika terus menatap cara makan Pinkan yang menggoda.
Lama menunggu Pinkan mengambil nasi mulut Raka mulai gatal lagi "Kamu sengaja yah, mau aku di tegur perlindungan ketenagakerjaan gara gara tidak memberi mu makan nasi hh?" Tanyanya kemudian.
"Yeeeh ni laki, emang ngeyel banget, gue emang biasa makan buah doang, lama-lama pengen gue tampol tu muka ganteng nya!" Batin Pinkan kesal kemudian mengambil nasi secuil sekedar untuk membuat Raka tak protes lagi.
Dan dentuman pelan dari sepatu heels milik wanita cantik terdengar memasuki ruangan.
"Raka!"
Wanita itu berkerut kening saat melihat wanita lain dengan seragam baby sitter memakan jatah makanannya dan duduk di sofa yang sama dengan kekasihnya.
"Sayang! Rani." Raka berdiri tersenyum seraya mendekati wanita itu, mencoba mencium pipi kanan wanita itu, tapi, wanita itu justru mundur, menolak.
"Aduh Ka, aku kan bilang, gak suka sama aroma bayi, jauh-jauh gih!" Tolaknya pada Raka yang masih mendekap erat Baby Zee.
"Hah? Sayang?" Pinkan mendongak, menatap sepasang kekasih itu dengan kening yang mengerut "Jadi cowok kejam ini udah punya pacar? Kebangetan banget ni cowok! Miska masih nangis-nangis, baru juga kemarin di cerai, bayinya di ambil, dia malah enak-enak kan punya pacar?!" Sinis tatapan gadis cantik itu saat ini.
"Lagian kamu ngapain duduk berdua sama pelayan hah?" Protes pacar Raka lagi ketus menatap tajam bang duda itu.
"Dia lagi makan Yank, biar saja lah." Bela Raka yang tiba-tiba terlihat, entah sejak kapan lelaki itu menjadi pembela pelayan, Rani pun baru melihatnya, bahkan Miska mantan isterinya saja tak pernah di bela.
Rani melangkah mendekati Pinkan "Bangun kamu! Ambil bayi kamu, kerjain tugas kamu! Kamu pikir kamu di gaji cuman buat enak-enakan makan siang sama Tuan mu hah!!" Susul nya lebih ketus dari sebelumnya, dan kali ini tangannya menunjuk geram wajah Pinkan yang masih terdiam menatap sinis wanita galak itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Terimakasih yang udah mampir 💕💕💕🤗