
"Hayu Diajeng, tunggu!"
Crack!
Tanpa pikir panjang lagi Murad menghentakkan kakinya menerjang kubangan tanah becek yang sesekali menghadang jalannya, sepatu sneaker mahalnya sudah berlumuran lumpur, tak apa, baginya saat ini dan mungkin untuk seterusnya Hayu lebih penting dari apapun di dunia ini.
"Hayu, tunggu, kasih aku kesempatan bicara, aku benar-benar minta maaf." Pekik keras nya.
"Hhhhh .." Hanya terdengar suara napas ngos-ngosan dari Hayu yang terus bertampiar.
"Kamu pasti capek kan huh? Berhenti saja dulu Hayu, kita istirahat dulu sejenak, terus boleh deh habis tu kamu lari lagi." Ucap Murad bernegosiasi dengan senggal senggal napas nya.
"Gila kali tu orang, kenapa gak berhenti ajah sendiri! Ngapain masih bela-belain ngejar ke sini!" Rutukan Hayu dalam hati sambil mengatur napas yang sudah tak terkondisi saking capeknya lari bermeter meter di pematang sawah yang terkadang membuat kakinya tergelincir kecil. Ternyata Murad sudah benar-benar nekad mengikutinya.
"Aaaaahhh!!" Hayu merasakan tubuhnya berputar haluan bahkan terhuyung tak terkendali saat tangan Murad sudah bisa meraih tangannya.
BRAK!
Ow ow! Tubuh Hayu sudah berada di atas tubuh Murad yang kini jatuh terlentang di kubangan tanah sawah. Angin berhembus meriuhkan pepohonan di sekitarnya seakan menambah kesan romantis. Sinar mentari masih bisa menyilaukan mata Murad namun Hayu melindunginya secara impulsif dengan sedikit membetulkan posisi kepalannya, dan Murad sempat menyadari itu.
".........." Sangat lama hening.
Mata keduanya sibuk bertemu tatap, detak jantung mereka saling bersahutan dan hanya itu yang terdengar di telinga mereka saat ini, entah detakan itu karena lari atau karena perasaan lain, hanya Tuhan lah yang maha tahu. Dan saking tak berjarak nya mereka Murad bahkan sudah bisa mencerup wangi dari hembusan napas Hayu Diajeng yang masih terdengar bertalun.
Entah sejak kapan, tangan Murad sudah berada di punggung bawah gadis itu sedikit meraba posesif, sembari meremang merasakan hangatnya buah kenyal yang menohok dada bidangnya.
Oh Tuhan, bahkan dalam keadaan seperti itu Murad masih sempat-sempatnya tersenyum, saat mengamati setiap lekuk wajah Hayu yang benar-benar ayu seperti namanya.
Wajah yang selama delapan bulan ini terus menghantuinya, mondar-mandir di kedipan matanya, yang tanpa sadar perasaan bersalahnya menuntun nya untuk mencinta, ternyata detik ini juga gadis ayu itu berada dalam dekapan hangatnya. Dia tak sedang berilusi.
"Kamu cantik Hayu, cantik, sangat cantik." Celetuk Murad dengan suara lirih penuh damba.
Terlihat tenggorokan nya mulai bergerak-gerak kala matanya menangkap setangkup bibir lembut yang dulu pernah ia pagut tanpa menyadari rasanya, kali ini biarlah Murad mencicipi rasanya, ya, aku mau sekarang juga sugesti dalam dirinya.
Hingga perlahan wajahnya mulai bergerak mendekat memangkas jarak di antara keduanya tanpa memejamkan mata, Murad terus mengamati raut kikuk gadis cantik itu yang agaknya juga memiliki perasaan yang sama.
"Aakk!!"
"Makan ini!" Hayu memasukkan satu wortel yang tercecer di sekitar tubuh mereka ke dalam mulut Murad, geram "Enak saja main sosor! Dasar Tuan muda messum!" Sarkas Hayu yang lagi-lagi hanya dalam batinnya saja. Padahal, jauh dari lubuk hati yang terdalam, Murad ingin sekali mendengar suaranya.
"Bruihh!!" Murad melepeh wortel dari mulut nya kesamping "Aku bukan kelinci yang suka makan wortel Hayu." Protesnya terkekeh.
".........." Lagi-lagi Hayu hanya hening.
Lalu dengan segera gadis itu beranjak dari posisinya, meskipun sedikit kesulitan karena berat Rok kembang milik Hayu yang sudah bergelut dengan lumpur, ia kemudian berlari kembali meninggalkan Murad yang tampak kesusahan untuk bangun. Sepertinya lumpur-lumpur itu masih betah memeluk tubuh seksi Murad Earl.
"AssSial! Dia benar-benar meninggalkan ku!" Umpat Murad sambil memangkung kan tangannya ke sembarang arah "Oh Tuhan, terus gimana cara gue bangun dari sini? Tega sekali dia!" Gumamnya frustasi.
"Tuan, ..." Suara familiar itu lumayan membuat Murat sedikit lebih lega ia menoleh ke arah kiri, dilihatnya Miko berdiri tegak di pematang sawah.
"Ngapain di situ?" Miko terkikik geli melihat tuan muda yang biasanya berpakaian rapi dan harus perfect dari ujung rambut hingga ujung kaki, kini berada di kubangan lumpur.
"Bantu aku, sekarang!" Pekik Murad melotot "Kenapa malah ketawa?" Teriaknya kesal.
Dengan sedemikian sabarnya Miko membantu Murad keluar dari tanah gembur itu meskipun sering tak kuasa menahan tawanya melihat penderitaan sang Tuan muda, lalu Miko membantu membersihkan sisa lumpur dengan air irigasi.
"Lebih baik kita pulang dulu Tuan muda, Tuan perlu mengganti pakaian." Usul Miko.
"Tapi kita sudah dekat Miko, sebentar lagi saja, kita sudah bisa mengejar ke rumahnya." Tampik Murad.
"Dalam keadaan wangi saja Tuan muda di tolak apa lagi dalam keadaan begini?" Tutur Miko yang masuk akal.
"Aaahhhh, lagian kenapa dia harus melewati jalan ini, ..." Murad mendengus kasar.
Setelah itu keduanya kembali menuju mobil mewah milik Murad yang masih terparkir di jalan. Di sepanjang perjalanan dia menuju mobilnya Murad merutuk tak jelas, bau kotor licin gatal semua itu dia keluh kan tapi tetap saja ketampanan khas nya tak pernah lekang.
Terlihat semua orang masih menatap kagum padanya saat tak sengaja berpapasan "Iku cah ganteng seng di gosip'no ibu ibu warung yow?" Bisik bisik mereka masih seputar itu.
Sedang Murad masih dengan raut kulkasnya memasuki mobil sport miliknya, yang lalu di kemudikan oleh Miko berlalu dari desa K.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di tempat lain, Hayu sudah bisa bernapas lega, saat beberapa menit dirinya memasuki rumah kediaman milik almarhum sang nenek karena sepertinya Murad sudah tidak lagi mengikutinya.
"Alhamdulillah, kayane tu orang gak sampai melihat ku masuk ke rumah ini, semoga saja dia gak tau rumah ku di sini." Gumamnya sembari mengelus dadanya berusaha tenang. Entah perasaan apa yang tiba-tiba muncul, sepertinya degup jantung yang tak beraturan berarti lain.
Sesuai rencana awal, hari ini Hayu memasak banyak lauk pauk karena sudah terlanjur mengundang anak-anak yatim senasib ke rumahnya, sayur yang dia tenteng dari tempat budhe warung sudah sedikit berkurang karena terjatuh berceceran saat dirinya tumbang di atas tubuh gagah Murad, tapi tidak apa, untung masih cukup.
Seperti biasanya setiap bulan Hayu selalu membagikan tiga puluh persen dari gaji nya kepada mereka anak-anak yatim, lalu sisanya ia tabung yang entah untuk apa dan siapa, karena saat ini dia hanya hidup sebatang kara di dalam rumah sederhana itu, nenek yang seharusnya menikmati hasil kerjanya justru meninggal terkena serangan jantung tepat di hari saat wanita tua itu mengetahui cucunya hamil, cercaan dan cacian para warga lumayan menghancurkan Hayu kala itu, tak mudah bagi Hayu memaafkan laki-laki yang menyebabkan semua kekacauan hidupnya.
Sebenarnya ada kakak dari ibu kandungnya bernama Jenar satu-satunya keluarga Hayu yang masih hidup tapi suami Jenar sering merutuk saat Hayu terus menerus merepotkan, sekarang setelah Hayu bisa bekerja mereka justru malu untuk meminta bantuan darinya karena perlakuan mereka yang tidak baik dahulunya.
Ya sudahlah, Hayu juga sudah terbiasa dengan kehidupan sendiri nya, yang penting budhe Jenar masih sering membesuk meskipun kadang-kadang saja karena masih adanya larangan dari sang suami.
"Ayok anak-anak kita makan!" Setelah selesai memasak Hayu memanggil anak-anak itu merapat lalu menikmati makan siang bersama dengan bahagia "Semoga hidup tenang tanpa ada gangguan," Harap dalam doanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Like dulu bab ini, akoh up lagi siangnya. Like geratis kok🤗 Anggap uang parkir 😎