Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Melamar



Sebelumnya saya mau bilang yah gais, di depan sudah aku kasih tanda 🔞 maka resiko membaca ini berarti akan banyak adegan yang menerbangkan pikiran halu emak-emak semua tercemar!! Mohon maaf yang tidak satu server dengan tulisan saya Monggo silahkan menepi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Ok!! back to the story...


Senja mulai mengalah pada malam, petang pun mulai menyergap, udara dingin berbau polusi, dari knalpot kendaraan juga asap di tukang sate sudah menyatu dan menyebar mengudara di iringi adzan Maghrib yang baru saja berkumandang.


Di dalam mobil, Raka masih menampilkan ekspresi kecewa, semenjak keluar dari kantor duda tampan itu tak mau mengeluarkan satu patah katapun, ngambek.


Pinkan yang melihat itu mulai mencoba mencari topik untuk membuka obrolan, rasanya tak nyaman sekali satu mobil tapi diam diaman "Setelah ini aku boleh liat Baby Zee kan Ka? Kita langsung kerumah kamu saja, aku rindu baby Zee, boleh kan?" Tanyanya.


Raka melirik sekilas ke arah Pinkan lalu fokus kembali dengan kemudinya "Hemm." Jawabnya irit sembari memberhentikan mobilnya tepat di depan tiang lampu berpijar merah.


"Kamu marah Ka?" Tanya Pinkan lagi memiringkan kepalanya berusaha melihat lebih intens wajah datar pria itu.


"........" Dan Raka hanya diam saja, sungguh kediaman itu membuat pertahanan seorang Pinkan Arora runtuh seketika.


Cup!


Satu kecupan singkat mendarat di pipi kiri Raka membuat pria itu menoleh dengan binar senang di matanya.


"Kamu menggoda ku?" Tanyanya.


"Jangan marah lagi." Ucap Pinkan tersenyum sangat manis.


Kucing di kasih peluang. Dengan cepatnya tangan kiri Raka memberanikan diri lagi meraih tengkuk gadis itu lalu memiringkan kepalanya berusaha menyatukan bibir mereka. Cup! Akhirnya setelah sekian purnama menanti Raka berhasil juga memagut lembut bibir sensual Pinkan yang terbuka hingga dengan mudahnya pria itu menyelundupkan benda tak bertulang miliknya masuk ke dalam, menyisir setiap inci isi dalam bibir sensual kekasihnya


Pinkan seakan di buat menyerah menerima setiap pagutan demi pagutan lembut Raka yang sebegitu indahnya seakan-akan membuat nya melayang tinggi ke angkasa, rasa candu itu mengalahkan damai nya ketika sang pujangga meneguk koktail di malam harinya, mungkin benar kata orang, cinta dan napssu berdampingan.


Tangan kanan Raka mulai menggelenyar ingin segera menaiki kedua bukit tinggi milik Pinkan yang selama ini mengintip kan belahannya di balik kerah blazer, gairah muda Raka menginginkan itu lalu tubuhnya pun ikut mendukung.


Hingga dengan perlahan tangan kanan Raka menyusuri lutut paha perut lalu ke bukit tinggi itu "Aahh." Desah reflek yang mencelos dari bibir gadis itu saat Raka meremas nya bagaikan squishy. Pinkan hening tak meronta sedikitpun, tubuhnya benar-benar menginginkan itu.


Tin Tin Tin Tiiiiiiiiiiin...... Klakson panjang yang mengembalikan kewarasan Pinkan Arora.


"Raka!" Gadis itu menghempas tubuh kekasihnya kuat-kuat hingga terpentok kaca jendela mobil "Aw!"


Raka tak menanyakan apapun lagi, dia segera melajukan mobilnya sebab barisan mobil di belakang sudah gaduh membunyikan klakson panjang mereka seakan protes, untung saja merek mobil Raka limited edition dan hanya jajaran billionaire saja yang mampu menunggangi nya, maka tidak satupun orang yang berani mengetuk kaca mobilnya. Entah apa yang akan terjadi jika mobil itu berjenis ****, mungkin sudah di tabrak dari belakang.


Suasana mobil berubah dari yang tadinya Raka hening kini giliran Pinkan yang hening, gadis itu terus memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"Maaf, aku kelepasan tadi." Ucap Raka sambil meraih tangan kanan Pinkan lalu menempatkan tangan itu di pahanya.


"......" Pinkan hening.


"Ok, gak lagi-lagi sebelum halal." Ucap Raka lagi berjanji dan Pinkan masih setia dengan geming nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua bulan kemudian.


"Duduk sayang." Raka mempersilahkan kekasihnya duduk di kursi VVIP restoran mewah langganan nya.


Malam ini malam Minggu, layaknya pasangan kekasih Raka mengajak Pinkan makan malam romantis, malam Minggu kali ini Raka menitipkan Zee ke orang tuanya, duda tampan ini juga perlu waktu untuk urusan hatinya. Lalu seorang wanita berseragam pelayan mendekati mejanya membawa note catatan lengkap dengan pulpennya.


"Mau pesan apa Nyonya, Tuan?" Tanyanya menunduk sopan.


"Salmon salad, ..." Jawab Pinkan.


"Minum nya?" Sambung Raka.


"Lemonade sama air mineral."


Raka mendongak menatap waitress itu "Kamu dengar kan yang kekasih ku sebutkan? Semuanya di pesan dua!" Ucapnya.


Pelayan itu mengangguk lalu pergi setelah merepeat orderan pelanggan VVIP nya.


"Yank, .." Raka menyibak rambut yang menutupi pundak kekasihnya, malam ini Pinkan memakai gaun sabrina kerah yang melebar mendekati bahu membuatnya lebih sensual karena lebih menampilkan bagian punggung dan bahu indahnya.


"Hmm?" Pinkan menoleh menatap dalam wajah tampan Raka yang kini mengambil sebuket bunga dari salah seorang pengawal.


"For you Baby." Ucapnya tersenyum sambil menyodorkan satu buket bunga besar padanya.


"Raka, ..." Pinkan menutup mulut yang terperangah, gadis itu tak menyangka Raka menyiapkan bunga untuknya, karena Raka yang dia kenal biasanya hanya bisa nyosor saja.


"Kamu suka?" Tanya Raka lalu Pinkan mengangguk sambil tersenyum "Terimakasih Ka." Ucap nya menghirup aroma alami serbuk sari bunga bunga berwarna pink itu.


Setelahnya Raka meraih tangan mulus Pinkan lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana bahannya, terlihat kotak berwarna biru bertuliskan brand perhiasan terkenal sudah ada dalam genggaman tangannya.


"Will you marry me?" Ucap Raka dengan suara berat yang mengalun indah, hingga menyentuh kalbu gadis cantik ini.


"Jadi kamu melamar ku? Di sini?" Pinkan menatap haru pria tampan itu.


"Aku sudah sering melamar mu, tapi selalu kamu tolak, sekarang, katakan padaku, kau menerima ku, besok, aku bawa keluarga ku melamar mu secara resmi. Kita menikah secepatnya, aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anak ku, termasuk putri pertama ku Baby Zee." Ucap Raka.


Pinkan tertegun menatap haru wajah senyum pria tampan ini, sejatinya hidup membina rumah tangga bersama Raka sudah menjadi cita-cita nya setelah dua bulan ini menjadi kekasihnya, apa lagi selama dua bulan ini pula dia sudah begitu akrab dengan baby Zee.


"Will you marry me Baby?" Ulang Raka lagi menyodorkan kotak berisi cincin berlian yang terbuka, sedang tatapan matanya terus lekat pada wajah cantik kekasihnya.


"Aku mau, ..." Angguk Pinkan sambil tersenyum.


Dengan refleks nya Raka menyematkan cincin pertunangan itu pada jari manis kekasihnya, lalu mengecup lembut kening Pinkan dengan mata yang terpejam, seakan menikmati rasa damai nya.


"I love you." Raka merengkuh tubuh Pinkan, menyatukan bibirnya dengan puncak kepala gadis itu.


Cup! Di kecup nya ubun-ubun Pinkan sekali lagi membuat gadis itu memejamkan matanya terasa damai, Pinkan benar-benar merasa di cintai sepenuh hati oleh pria tampan ini.


Tak berapa lama pesanan mereka datang, keduanya pun melangsungkan ritual makan malam bersama sambil membicarakan rencana pernikahan mereka, sebelumnya Raka memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya, maka tidak akan terlalu mendadak jika di langsungkan satu dua bulan lagi pun.


"Sayang, aku ke toilet sebentar, kamu selesaikan makannya." Di sela makannya Raka pamit undur diri, lalu Pinkan mengangguk sambil menyeka ujung bibirnya dengan tissue, Raka mengecup singkat kening gadis itu lalu pergi ke arah kanan menuju toilet.


Punggung Raka masih terlihat dan Pinkan belum melepas pandangannya dari pria yang kini menjadi tunangannya, tapi, keningnya mengerut saat melihat seorang wanita mengekori tunangannya.


"Rani! Itu bukanya Rani?" Tanpa pikir panjang Pinkan juga berinisiatif mengikuti keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Bersambung....