Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Syah!



"Mereka sudah pergi! Sekarang pergilah dari sini!" Usir Murad dingin.


"Tapi, ..." Gadis itu tampak enggan meninggalkan tempat itu.


"Siapa nama mu?" Sambar Murad bertanya masih dengan raut datarnya.


"Hayu Diajeng Tuan. Tuan sendiri siapa?" Tanya baliknya.


"Murad. Salam kenal, pakai jaket ku untuk menutupi tubuh mu." Murad membetulkan mantel mahalnya serapat mungkin menutupi tubuh molek gadis itu "Sekarang pergilah! Aku masih mau melanjutkan kesendirian ku!" Usir Murad.


"Tapi, aku tidak punya tujuan, aku tidak tahu harus kemana Tuan." Lirih gadis itu menunduk pilu lalu duduk tepat di sebelah pemuda tampan itu.


"Terserah kau saja kalo begitu!"


Sekitar setengah jam mereka duduk berdampingan tapi Murad tak sedikitpun menghiraukan keberadaan gadis itu, dia sibuk meneguk koktail miliknya sambil sesekali memejamkan mata mencoba mengingat kembali wajah cantik Pinkan yang sudah susah payah dia lupakan.


"Bodoh! Kenapa aku ingin terus mengingat senyumnya? Lalu apa gunanya aku di sini?!"


Crack!! Murad melemparkan satu gelas koktail kecil membuat gadis di sebelahnya menaikan kedua bahunya tersentak.


"Kau bilang membenci bang Raka, lalu kenapa tiba-tiba mau menikahi nya? Kau bilang tak menyukai bang Raka, lalu kenapa sekarang bersamanya? Aku sengaja mengambil satu tahun pendidikan, hanya karena masih ingin mengejar mu! Tapi, ternyata kau munafik Marni!"


Murad bergumam dengan smirk dinginnya dan Hayu masih terus menyimak racauan demi racauan Murad dalam diam.


Tak lama kemudian pemuda itu lantas beranjak dari duduknya setelah membuang banyak tips di meja VVIP tersebut lalu melangkah cepat keluar dari ruangan itu di ekori gadis cantik berwajah Asia bernama Hayu Diajeng.


Murad hanya meminum satu botol maka tak mampu membuat pemuda bugar itu sempoyongan, yah, hanya pusing sedikit saja. Tiba di lobby Murad melirik sekilas ke arah kiri, di lihatnya gadis itu masih mengikuti langkahnya.


"Kamu kenapa masih mengikuti ku?" Tanyanya dengan nada sedatar jalan tol.


"Ikut Tuan, saya mau ikut Tuan kemana pun Tuan pergi." Sahut Hayu Diajeng membuat Murad melepas senyum cibirnya.


"Aku tidak mau berurusan dengan mu! Pergilah! Aku tidak tertarik memakai mu! Meskipun aku mabuk di sini, tapi aku masih laki-laki baik-baik, pergi!" Usir nya dengan langkah yang tak sedikitpun ia pelan kan.


"Maaf Tuan, tolong jangan tinggalkan aku sendiri di sini, ajak aku bersama mu Tuan." Rengek Hayu Diajeng menghiba. Kini keduanya sudah keluar dari klub malam yang cukup besar itu.


"Tuan." Hayu terus mengiringi langkah Murad bahkan sampai berlari kecil agar bisa mensejajarkan langkah mereka.


"Sudah ku bilang, aku tidak mau berurusan lagi dengan mu!" Sambung Murad acuh.


"Tapi Tuan, di sini aku benar-benar tidak punya tempat tinggal, teman atau bahkan pekerjaan, aku tidak punya siapa-siapa di negara ini." Timpal Hayu Diajeng terus menghiba.


"Lalu apa urusannya dengan ku?" Murad menghentikan langkahnya lalu menatap wajah cantik gadis itu dengan alis yang naik sebelah.


"Kita satu negara bukan? Di negara ini hanya kau yang bisa ku ajak bicara selugas ini, karena pengetahuan bahasa Inggris ku terlalu minim Tuan. Tolong aku, pekerjakan aku di tempat mu, aku bisa memasak, mencuci baju dan mencuci piring, bersih-bersih rumah, tidak perlu di gaji juga tidak apa-apa Tuan, cukup di kasih sedikit makan saja, asal jangan tinggalkan aku sendiri di sini." Pinta gadis itu memelas.


"Di rumah aku sudah punya asisten pribadi juga asisten rumah tangga, kau tidak di perlukan!" Murad hendak melangkah pergi tapi Hayu memberanikan diri meraih tangan pemuda itu "Tuan, ku mohon, ... hiks!" Bujuknya yang mulai memperdengarkan isak nya.


Dan mata Murad membesar saat melihat segerombolan pria tinggi kekar yang salah satunya sempat dia lihat saat menyembunyikan gadis itu di ruang VVIP miliknya.


Gep!!


Murad merangkup kepala gadis itu menempatkan nya di belahan dada bidang nya "I love you baby." Ucapnya sambil mengecup singkat puncak kepala gadis itu membuat seorang Hayu Diajeng membesarkan matanya terenyuh, sungguh tiba-tiba saja detak jantung gadis itu berdegup sangat kencang hingga Murad bisa ikut merasakannya.


"T-tuan, a-apa yang k-kau lakukan?" Tanyanya gugup terbata.


"Diam saja, tepat di belakang mu ada pria yang ingin menjual mu, sepertinya dia masih mencari mu." Bisik Murad di telinga gadis itu.


"A-apa?" Hayu tersentak tubuhnya bergetar hebat ketakutan, tangannya reflek melingkar erat ke punggung pemuda itu.


"Tolong selamatkan aku dari orang orang itu Tuan, aku tidak mau di jual, aku takut!"


"Sekarang masuk ke mobil ku!" Setelah beberapa saat menatap hening gadis itu, Murad menuntun Hayu Diajeng memasuki mobil sport miliknya lalu memakai jasa sopir dadakan yang sudah di sediakan oleh bar tersebut, sebab biasanya orang akan membutuhkan sopir saat sudah mabuk.


"Kenapa kamu menjadi tunawisma di negara ini? Kemana ayah ibu mu?" Di tengah perjalanan Murad bertanya asal usul gadis itu.


Hayu menoleh memberi tundukkan khidmat pada pemuda yang sudah menolongnya "Saya yatim piatu Tuan, di kampung saya Solo saya hanya tinggal dengan nenek saya saja, saya ke sini di iming-iming menjadi TKW, sebagai asisten rumah tangga, tapi ternyata saya di tipu Tuan, keperawanan saya justru di jual orang orang kekar itu." Jawabnya berkata pilu.


"Lalu, bagaimana caramu lari dari mereka? Apa kau sudah, ...?"


"Tentu saja belum Tuan." Hayu Diajeng melambaikan tangannya secepat kilat menangkis pikiran buruk pemuda itu "Aku lari sebelum di pakai orang orang itu, mereka gangster mafia yang mau memakai ku beramai ramai, tapi di sela doa ku, Tuhan menyelamat kan ku, mereka asyik berdebat siapa yang lebih dulu menikmati ku di saat itu lah aku mengambil kesempatan lari dari ruangan itu, dan entah kenapa langkah ku ingin sekali memasuki ruangan mu. Terimakasih, mungkin Tuhan menunjukkan jalan padaku untuk meminta bantuan dari mu." Ungkapnya berangsur lirih seakan lega.


Murad mendekat dan tak memberi jarak untuk kedua wajah mereka "Bagaimana kalo ternyata aku yang meniduri mu? Aku juga laki-laki normal, aku bisa saja khilaf padamu, apa lagi kau sudah berjanji akan melakukan apapun untuk ku, jika aku menolong mu! Lalu, apa kau siap melakukan nya dengan ku?" Tanyanya.


"Emm, a-aku, ..." Hayu mulai gemetaran tangannya meremas ujung mantel yang ia kenakan, gadis cantik kembang desa itu memang masih sangat sangat polos, saking polosnya mudah di tipu daya yayasan ketenagakerjaan gaib.


Melihat itu Murad tersenyum cibir "Tenang saja, lagi pula aku tidak tertarik padamu, aku hanya menyukai satu perempuan, dia sangat cantik, lebih cantik dari mu! Wajah Jawa mu takkan mampu membuat ku melirik mu!" Ucap Murad lalu mengalihkan pandangan ke arah depan dengan hawa dingin yang mencekam di raut wajahnya.


Perlahan Hayu menunduk sedikit lebih lega tapi juga sedikit merasa sakit saat pemuda tampan itu menghina suku bangsanya, Jawa.




...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Indonesia pukul 09:00.


...Syah?...


^^^Syah!^^^


Syah!


Kata yang terdengar di segenap penjuru ruangan mewah berdominasi warna pink putih itu, sunggingan senyum manis terpampang di sudut bibir kedua mempelai yang terlihat sangat menawan.


Pinkan yang memakai gaun indah berwarna putih mengembang dengan rambut yang di sanggul sederhana begitu menampilkan kecantikan hakiki nya, lalu Raka juga tak kalah memesona sedari tadi semua wanita takjub menatap ke arah nya yang mengenakan tuxedo hitam, juga rancangan Martha.


Semua kerabat dekat memakai kebaya yang sama, termasuk Baby Zee yang juga menggemaskan dengan kebaya bayinya.


"Akhirnya, halal lu Bro, nah setelah ini boleh dah tu lu acak acak lahan pertanian istri lu, biar makin subur." Bisik Arjuna di telinga atasannya sambil terkekeh.


"....." Raka tak menyahut bibirnya sibuk tersenyum sedang hatinya tengah merasakan kebahagiaan yang tiada tara membuncah di dadanya.


"Alhamdulillah, kita jadi besan juga Yan!" Baskara memeluk haru sahabatnya dengan kaca-kaca di matanya yang sungguh tak di buat-buat.


"Iya Bas, gue titip anak gue ke lu, awas, jangan sampe anak lu nyakitin anak gue! Biar kata lu CEO, bakal gue acak-acak singgasana lu!" Ancaman yang di selingi dengan air mata haru dari pria paru baya itu.


"Selamat ya jeng, semoga putra putri kita menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah." Ucap Irma memeluk besan perempuannya.


"Aamiin. Hiks hiks." Martha tak kuat menahan kucuran bening yang mengintip di sudut netra nya.


Suasana haru biru tengah terjadi di gedung megah itu, bibir mereka seakan tiada luput dari sunggingan senyum bahagia.


"Suamiku. Kamu sekarang suami ku!" Ucap Pinkan menggenggam tangan sosok imamnya.


"Dan kamu istri ku!" Balas pria itu yang lalu mengecup lembut bibir isterinya, dan tepuk tangan dari para tamu undangan menjadi backsound romansa cinta mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Like dulu ya, biar sore othor khilaf buat up lagi, kalo like nya dikit berasa nulis sendiri gue😁 See you next episode.🤗