
...Musim ke dua di mulai, kenapa aku namakan musim ke dua? karena perjuangan Raka sebagai seorang duda Bucin sudah berakhir, kini hanya akan ada Raka si suami Bucin. ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tok tok tok!
Suara itu lumayan mengalihkan perhatian sepasang suami istri yang tengah dalam pergulatan bibir rindunya, tak bertemu satu hari saja seperti satu tahun bagi mereka.
"Kamu buka gih!" Titah Pinkan dengan sesekali menarik rambut lebat suaminya, menjauh darinya, dirinya benar-benar terbelenggu di pojokan sofa hingga tak bisa lagi berkutik.
Raka menarik kembali wajahnya dengan raut kecewa "Itu mungkin Baby Zee, kamu pasti kangen kan hum?" Ucap Pinkan lagi dan nama putrinya lumayan memberinya semangat baru.
"Iyah, aku buka, kamu tunggu di sini." Laki-laki itu beranjak dari duduknya lalu berjalan perlahan menuju pintu.
"Daddy!" Di balik sana teriakan antusias dari gadis mungil berusia dua tahun itu menghambur pada betis ayahnya.
"I mis you Daddy! Hiks.." Ternyata gadis itu pun sudah sangat merindukan ayahnya.
"Oh oh oh, sayang, Zee Ashley, Are you crying hum?" Celoteh Raka sembari berjongkok di hadapan putri mungilnya.
"Emmh, ..." Angguk Zee dengan bibir yang bergetar mengurai tangis rindunya, pipi bakpao juga mata yang terperling membuat gadis itu semakin menggemaskan.
Dari belakang mereka sepasang mata berkaca-kaca menatap keduanya sebelum kemudian Raka berbalik arah padanya.
"Sama Mommy rindu juga gak?" Raka menyeletuk bertanya pada putrinya.
"Em em!" Anggukan ke dua Zee masih dengan bibir yang bergetar.
"Oh, sayang." Pinkan menghambur memeluk erat gadis itu posesif. Satu hal yang tak pernah ia sesali atas kecurangan Miska padanya, yaitu adanya Baby Zee dalam hidupnya saat ini.
"Mungkin ini, alasan Tuhan memilih Raka untuk ku, karena aku tidak akan bisa punya keturunan." Dalam batinnya Pinkan berkata pilu.
Pinkan kembali menitihkan air mata saat hidung bangir nya mengendus aroma damai yang menguar dari tubuh Zee.
"Ssuutt, sudah." Raka mengusap air mata di pipi istrinya seolah tahu apa yang sedang Pinkan pikirkan "Baby Zee milik mu, tidak akan ada yang bisa mengambil nya dari mu." Ucapnya lagi.
"Are you crying Momm?" Baby Zee bertanya dengan bahasa cadelnya.
Pinkan menggeleng menatap nanar gadis mungil itu "Enggak, Mommy cuma kelilipan. Yah, sakit mata Mommy nya." Jawabnya berkilah dengan suara sengau yang bergetar.
"Don't cry." Zee mengusap sisa air mata di pipi ibu tirinya dengan tangan mungil nan lembut itu, suaranya terdengar lirih seperti tahu jawaban bohong yang Pinkan utarakan.
Entah apa yang akan terjadi saat Baby Zee tahu bahwa wanita di hadapannya bukan lah ibu kandungnya, dan ada wanita lain yang belum sekalipun ia kenal tapi justru dialah ibu biologis nya.
Raka sadar semakin besar Zee pasti akan semakin kritis rasa ingin tahu nya, belum lagi ketika nanti Zee sudah bersekolah, bagaimana jika ternyata diam-diam Miska menemui Zee?
Bisa saja gadis itu mendapat goncangan kala tahu yang sebenarnya dari orang lain. Pikiran Raka masih berkecamuk tapi sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan kegelisahan nya pada kedua perempuan cantik miliknya.
"Oya, gimana sama pernikahan Murad? Apa Mami Papi dan aunty baru Baby Zee sudah tiba di Jakarta?" Setelah sama-sama duduk di sisi ranjang Pinkan bertanya pada Raka.
"Alhamdulillah, lancar, mungkin besok mereka baru pulang ke Jakarta, Eric barusan bilang katanya masih mau jalan-jalan di sana, jadi untuk sementara kita menginap lagi saja di sini." Sahut Raka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lagi pun, suasana rumah menjadi semakin ramai setelah kehadiran menantu kedua Baskara. Pinkan merasa lebih bahagia bisa memiliki keluarga baru di rumah mertuanya.
Kebetulan resepsi sudah di langsungkan satu bulan setelah akad, maka lengkap lah sudah ritual penyatuan Murad Hayu.
Hayu yang awalnya kikuk kini mulai terbiasa dengan gaya hidup keluarga suami kaya raya nya, beruntung dia memiliki ipar seperti Pinkan yang selalu dengan senang hati mengajarkan bagaimana mestinya hidup di dalam rumah bangsawan, dari cara berpakaian, berdandan, termasuk berbaur dengan keluarga besar yang lain juga,
Tapi akhir-akhir ini ada suatu hal yang tengah menjadi bahan pemikiran wanita cantik asal Surakarta itu, setelah beberapa hari yang lalu dirinya mendapati KTP palsu milik Pinkan yang masih dengan atas nama Marni.
Jantung berdebar kencang, kebas seketika menjalari seluruh tubuhnya kala membaca nama Marni di KTP palsu milik Pinkan yang ia temukan di laci nakas milik baby Zee saat tak sengaja ia mengambil pakaian ganti untuk keponakan lucunya.
Raka sendiri tak sengaja menyimpan KTP palsu milik Pinkan di laci kamar baby Zee, lagi pula bukan hal yang penting juga.
Tapi sepertinya benda tipis bertuliskan Marni dengan foto dari wajah cantik Pinkan berhasil mengacaukan pikiran Nyonya Murad Earl.
"Bik, ..." Hayu berjalan mendekati Mirah dan Ira yang tengah menyiapkan hidangan makan malam di dapur bersih.
"Iya Nyonya muda, ada apa?" Toleh Mirah sopan. Meskipun asal mereka sama-sama dari desa tapi saat ini Hayu juga Nyonya muda di rumah itu.
"Kalo boleh tahu, sebenarnya nama asli kak Pinkan siapa ya? Marni? Atau Pinkan?" Tanya balik Hayu dengan senyum yang ia buat semanis mungkin agar tidak di curigai.
"Hihihi." Ira dan Mirah justru terkikik geli mendengar pertanyaan itu, mereka mengingat kembali kejadian lucu saat keluarga Baskara di tipu mentah-mentah oleh gadis cantik yang pada akhirnya menjadi menantunya.
"Kok kalian ketawa sih bik? Mbak? Memangnya pertanyaan ku lucu yah?" Hayu terheran-heran semakin penasaran menatap Ira dan Mirah bergantian.
"Iya Nyonya, dulu tuh ada kejadian lucu, Nyonya juga pasti ketawa kalo tahu ceritanya," Ucap Mirah terkekeh.
"Memang cerita apa?" Timpal Hayu.
"Jadi dulu tu, sebelum Nyonya Pinkan masuk sebagai menantu di rumah ini, dia sudah lebih dulu masuk sebagai Marni, babysitter nya Baby Zee," Jelas Mirah antusias.
"Iya, Nyonya Pinkan itu dulu mau menolong temannya mengambil alih baby Zee dari Tuan muda Raka, eh malah saling jatuh cinta mereka! Jodoh memang gak kemana, ada ajah cara Tuhan mempertemukan." Sambung Ira yang juga antusias.
Kedua perempuan itu tergelak renyah bersamaan sedang Hayu seperti mendapat tamparan keras di ulu hati nya.
"Apa? Jadi Marni yang Mas Murad pernah sebut-sebut itu Kak Pinkan? Wanita yang selama ini aku kenal sebagai kakak ipar ku itu wanita yang sama dengan wanita yang dahulu pernah menjadi obyek fantasi suami ku?" Batinnya.
"Pantas saja selama ini Mas Murad terlihat cukup akrab dengan Kak Pinkan, jadi sebelumnya dia pernah menyukainya?" Hayu tergugu dengan berkata pilu dalam hatinya.
"Nyonya, Nyonya kok malah ngelamun?" Mirah menyentuh pundak Hayu dan cukup membuat wanita itu beranjak dari lamunannya.
"Eh. Iya bik, ... Hihi, iya, ceritanya lucu, Hayu sampe gak bisa ngomong lagi." Kilah Hayu memaksakan senyumnya. Ada pergulatan batin di balik senyuman manis Hayu Diajeng.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Minta Like nya 😍🥰...