Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
S2/ Chapter 19 (Melamar)



Eric menggandeng erat tangan Lidya keluar dari ruangan presidential suite miliknya.


Di luar sudah ada Arya tengah duduk-duduk pada sofa ruang kopi bersama beberapa rekan setimnya, dan Eric memilih meninggalkan tempat tanpa memberi tahu laki-laki itu, Eric mencari jalan lain agar Arya tidak menyadari kepergian nya.


Eric dan Lidya menaiki lift untuk turun ke lantai satu, syukurlah Arya tidak sampai memergokinya hingga mulus perjalanan mereka keluar dari bangunan tersebut.


Lidya tak sempat membawa apa-apa, karena mereka langsung turun tanpa mengambil barang-barang Lidya yang masih tertinggal di kamarnya.


"Kira-kira ada nggak kereta jam segini Yank? Kereta yang bisa langsung cepat sampai ke Kota mu hmm?" Tanya Eric.


"Iya ada, tapi mau apa? Kamu mau apa ke sana?" Sela Lidya bertanya.


"Melamar sekaligus menikahi mu, aku mau hubungan kita resmi sebagai pasangan suami istri, baru setelah itu kamu aku bawa pulang ke rumah Papi Mami." Jawab lugas Eric tanpa ragu.


"Ric, jangan gila deh." Lidya menarik tangan Eric dan keduanya saling menatap.


"Gimana sama perasaan orang tua mu? Kamu nggak mikirin perasaan mereka apa? Gimana malunya mereka nanti?" Tutur Lidya, masih ada rasa takut untuk melakukan pengkhianatan ini, sudah pasti Irma dan Baskara sakit jika sampai itu terjadi.


"Kalo begitu aku lanjutkan saja menikahi gadis yang tidak aku cinta, lalu setelah itu aku mencari mu lagi dan kita selingkuh karena kita masih sama-sama saling mencintai, menjadi simpanan ku, kamu mau hmm?" Sambung Eric ketus.


"Eric!"


Pemuda keras kepala itu mengalihkan pandangan ke depan dan melanjutkan langkahnya "Kita pulang ke kota mu, aku akan melamar sekalian menikahi mu, setelah itu baru kita pikirkan nasib selanjutnya. Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu lagi Lidya." Ungkapnya.


Lidya hening lalu menuruti kemana arah langkah kaki Eric berayun, cinta yang di dasari keegoisan membuat keduanya kelimpungan sendiri pada akhirnya.


Setelah seperti ini mereka baru menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang mampu saling melupakan kenangan indah saat bersama.


Saling menyakiti sudah mereka lakukan, kini biarlah keduanya silih membahagiakan satu sama lain.


Tantangan apa yang akan mereka hadapi setelah ini, sudah berani Eric hadapi, kehilangan Lidya yang tak mampu ia lupakan bukan lah hal yang ingin dia lakukan kembali.


Eric melambaikan tangan pada taksi dan membuka pintu mobil tersebut sebelum kemudian mempersilahkan kekasihnya masuk.


"Masuk sayang." Ucapnya, Lidya menurut lalu Eric pun ikut menyusul masuk.


Mobil itu bergegas pergi menuju stasiun terdekat, beruntung mereka mendapatkan kereta yang sudah langsung berangkat.


Memang setiap harinya selalu ada jadwal kereta malam yang menuju ke Jawa tengah meskipun terkadang sepi karena hanya ada barang paket saja yang berserakan di gerbong peti kemas.


Sebelumnya Eric juga mengambil uang di ATM untuk bekal melamar dan menikahi perempuan kesayangannya.


Setelah mendapat tiket keduanya masuk di kursi yang berjejer, ada penumpang lainnya tapi jaraknya masih lumayan jauh dari kursi duduk mereka karena kebetulan sedang sepi penumpang.


Lidya menoleh ke arah Eric "Kamu yakin mau naik kereta Ric?" Tanyanya.


"Kenapa memangnya?" Tanya balik Eric sembari menoleh ke arah Lidya menghiraukan gadis itu.


"Aku takut kamu mabuk karena tidak terbiasa."


"Ada kamu, aku pasti tidak akan kenapa-kenapa." Eric tersenyum lalu merangkul dan menempatkan tubuh Lidya ke dalam dekapan hangatnya.


Kecupan lembut Eric labuh kan pada kening gadis itu "Jangan pernah pergi lagi dari ku Lidya, sudah cukup banyak kemarahan yang ku luapkan karena tidak mampu menahan kerinduan, sudah cukup lama aku merasakan penderitaan yang hanya sebatas memandangi foto mu saja, sekarang jadilah istri ku, kita berdua hidup bersama, menjadi pasangan sakinah mawadah warahmah." Ujarnya.


"Aamiin." Hanya itu saja yang bisa Lidya sahut kan. Bahagia sudah pasti, meskipun ada ketakutan yang masih menyelimuti hatinya.


Keretanya sudah bergerak. Di atas kursi penumpang, keduanya saling memeluk, silih memberikan kehangatan pada malam yang dingin ini. Sesekali tangan Eric meraba bagian pinggang Lidya lalu kebawah lagi.


"Eric jangan nakal, kamu nanti khilaf loh!" Lidya mendongak, yang meskipun menolak tapi tersenyum.


"Aku merindukan mu!"


"Sekarang jawab aku, apa bibir ini sudah di singgahi bibir lain selain bibir ku?" Tanya Eric.


Lidya mengangguk "Aku pernah menikah, tentu saja sudah." Jawabnya "Apa kamu tidak mau menerima ku?" Tanyanya kemudian.


"Aku hanya cemburu, karena sampai detik ini, bibir ku hanya untuk mu." Kata Eric lirih.


"Aku tidak pantas untuk mu bukan?" Tanya Lidya.


"Bukan begitu, aku hanya cemburu, aku tidak sedang membicarakan pantas atau tidak pantas." Sela Eric.


"Lalu, apakah mantan suami mu sempat menyentuh mu? Maksud ku, apa kalian pernah, ..."


"Dia tidak sudi bersama ku yang sudah bekasan mu." Lidya menyela pertanyaan Eric sambil mengalihkan pandangan ke depan, ada gurat sendu yang tertampil di wajah cantiknya ketika mengingat kembali peristiwa itu.


"Dia menolak ku karena tanda cinta yang kamu ukir di leher ku waktu itu, dia menceraikan ku karena sebuah pengakuan ku yang masih mencintai mu, dia menceraikan ku karena aku salah menyebut nama suami ku saat aku berdesah, bayangan wajah mu terus menghantuiku bahkan ketika laki-laki lain menjamah tubuhku." Jelasnya lirih.


Eric meraih pipi Lidya agar kembali menatapnya "Maaf kan aku, maaf kan keegoisan ku, maaf kan sifat kekanak-kanakan ku." Ucap Eric dan Lidya mengangguk "Aku yang salah padamu, aku yang dari awal tidak berani mengatakan perasaan ku padamu, aku yang terlalu keras kepala." Ungkapnya mengaku.


Eric menyatukan kembali bibirnya pada bibir merona janda kembang itu, belitan indera perasa lumayan liar hingga berhasil menegangkan tubuh mereka.


Dingin nya malam lumayan memeluk tubuh keduanya, karena di salah satu sisi ada jendela yang terbuka hingga angin kelam lolos menerjang masuk begitu saja.


Tangan Eric juga tak mau kalah, ia mulai berkelana menyelusup masuk ke dalam kaos tipis yang Lidya kenakan. Goyangan dari alat transportasi umum panjang itu lumayan terasa karena kecepatan laju yang tinggi.


"Ekm ekm!" Suara kondektur yang tengah bertugas berhasil melerai penyatuan bibir mereka.


"Tiket nya, Mas, Mbak."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Perjalanan yang di mulai dari jam dua pagi itu berakhir pada pukul 09:00. Kecepatan yang lumayan untuk sebuah kereta, tidak terlalu lambat juga tidak terlalu cepat.


Dewasa ini ada kereta yang hanya memakan waktu tiga jam saja, dari stasiun Jakarta ke Jawa tengah.


Sampai di rumah Lidya, Rahmat tercengang mendapati lamaran dari Tuan muda nya, tadinya Rahmat sudah ke kantor, tapi mendadak pulang karena kedatangan sang Tuan muda.


Di sofa ruang tamu klasik ala kampung itu, Eric Lidya, Rahmat, dan ibu Lidya duduk melingkar.


"Melamar Lidya? Apa tidak salah Tuan muda? Saya tidak berani menerimanya, saya, ..." Belum lagi selesai penolakan Rahmat, Eric sudah lebih dulu menimpali.


"Ini perintah terakhir ku sebagai Tuan muda mu Pak, karena setelah itu aku akan menjadi menantu mu!" Katanya lugas.


"Tapi Tuan muda." Rahmat menggeleng dengan raut wajah memelas, mencari ribut dengan Tuan besar Baskara bukanlah cita-citanya.


"Lidya janda karena ku bukan, aku mau bertanggung jawab sekarang, maaf Pak, tapi aku memang sudah sering menyentuh nya, sekarang resmikan hubungan kami, sebelum dosa kami semakin bertambah besar." Ujar Eric kembali.


"Tapi bagaimana dengan, ...." Rahmat dilema, satu sisi dia senang karena pada akhirnya ada laki-laki mau menikahi Lidya yang sudah di cap bekasan oleh para warga, sisi lainnya lagi Rahmat tidak berani mengambil resiko jika sampai Lidya menjadi janda lagi setelah Baskara tahu dan menyuruh Eric menceraikan putrinya.


"Itu urusan ku." Sela Eric cepat.


"Setelah resmi menjadi suami istri, aku yakin Papi tidak akan menolaknya, Papi tidak akan menentang hubungan yang sudah di syah kan agama!" Lanjut Eric meyakinkan.


"Anggap saja ini perintah dari Tuan muda mu, yang menginginkan putri cantik mu!" Timpalnya mendominasi.


Rahmat tak berdaya karena kalimat dominasi dari putra bungsu Baskara. Di lihat dari sudut manapun, Eric benar-benar serius ingin meminang putri cantiknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.....