
Malam semakin larut, dingin mulai mencekik tubuh lelaki tampan yang kini duduk di sofa balkon dengan wajah galaunya, Raka masih belum bisa memejamkan matanya padahal di jam dinding kamar nya sudah menunjukkan pukul 02:15. Marni, Marni dan Marni yang terus melintas di dalam pikirannya.
"Apa gue lamar aja Marni? Lengkap sudah kebahagiaan Baby Zee, kalo Marni yang jadi isteri gue, mau sudah di jodohkan kek, enggak kek, gue gak peduli, bapak Marni pasti seneng dapet mantu oppa oppa imut kayak gue."
Raka bergumam dengan percaya dirinya, lalu menghela nafas panjang sambil terpejam.
"Kayaknya Rani gak kan pernah bisa menerima Baby Zee sebagai bagian dari hidup gue." Gumamnya lagi, tiba-tiba saja terpikirkan hal itu.
Raka kembali menghela nafas menghirup udara dingin yang menusuk hidung bangir nya.
"Lu ngapain di sini bang!"
"Hah?" Sontak Raka menoleh tersentak kaget mendengar sapaan dari arah kanan, dan Murad sudah duduk di sofa balkon kamarnya sendiri. Karena kebetulan kamar mereka bersebelahan.
"Sialan lu! Ngagetin aja lu! Gue pikir lu demit!" Pekik Raka menatap tajam adiknya.
"Lu mikirin Marni ya?" Tanya seseorang lagi dari arah kiri Raka, dan Eric berdiri di pembatas balkon kamarnya sendiri menatap tidak suka pada Abang sulungnya sebab cemburu masih mendera pemuda itu.
Kamar mereka memang berjejer tiga namun balkon mereka terpisah sekat besi.
"Lu lagi, ngapain lu di sini di jam begini hah?" Pekik Raka pada adik bungsunya.
"Suka suka gue!" Sahut Eric judes.
Kini ketiganya duduk di sofa balkon kamarnya masing-masing, tatapan mata mereka terarah pada rembulan yang tampak berseri-seri menyambut subuh hari.
"Apa kalian, juga lagi mikirin Marni? Sama kayak gue yang gak bisa tidur gara-gara senyuman manis nya?" Murad memecah keheningan di antara mereka.
Eric melirik sinis ke arah Murad "Gak usah terlalu ngarep lu bang! Kasian deh lu! Udah di dahului bang duda." Tegur nya "Licik emang tu orang! KKN, Kakak tapi nikung!" Tambahnya melirik sinis ke arah Raka yang menatapnya dengan kening yang mengerut, bingung.
"Maksud lu bang Raka? Mendahului gimana?" Tanya Murad penasaran, saking penasarannya pemuda itu sampai berdiri mendekati pagar besi pembatas balkon.
"Tanya aja sama bang Raka tu yang curang! Gak sangka, udah punya pacar, udah pernah nikah, masih aja ngincar Marni, dasar duda playboy!" Tuduh Eric jutek.
"Lu kenapa Ric? Ngelindur lu ya?" Raka menyahut menatap bingung adiknya.
"Gak usah pura-pura bego lu bang! Eric juga liat tadi sore lu nyium Marni!" Tukasnya
"APA?!" Pekik Murad tersentak kaget, pemuda itu mengerutkan keningnya kuat-kuat "Lu serius Ric?" Tanyanya memastikan.
Dan Eric membuang muka ke arah depan dengan acuhnya "Ngapain gue bohong! Untung juga enggak!" Jawabnya.
"Lu serius bang hh? Lu udah punya pacar! Mau di kemanain tu Ka Rani? Kalian udah pacaran ampe lumutan juga! Lu berniat mau jadiin Marni madu lu hah?" Sambung Murad ketus menatap tajam abangnya.
"Aaaah! Auk ah!" Merasa tersudut Raka beranjak dari duduknya, masuk ke dalam kamar miliknya.
"BANG! Lu mau kemana hh? Jelasin dulu ke gue!" Murad gusar sedang Raka sudah menutup pintu kamarnya, acuh.
"Hasial!" Umpat Murad kesal sembari menendang pagar besi pembatas balkon.
Sementara di dalam kamar Raka menghela napas panjang sekali lagi berusaha mengontrol emosi "Huh! Kenapa gue harus punya adik yang super menyebalkan! Mana dua lagi! Satu aja enek, ini dua!" Rutuk nya.
Kini pikiran Raka mulai bercelaru kembali, tak tenang mulai menderanya, tak bisa tidur, duduk, bangkit, berjongkok, nungging, semua posisi ia coba tapi tetap saja tidak bisa memejamkan matanya.
Tanpa basa-basi lagi, Raka melangkah keluar dari kamar lalu berjalan menuju kamar putrinya, dan ternyata lampu kamar itu masih belum di matikan, bisa di lihat dari celah transparan di atas pintu masih terang.
"Apa Baby Zee begadang lagi?" Gumamnya yang lalu mengetuk pintu, dan tak mendapat respon.
Meskipun sebenarnya pintu kamar itu tak pernah di kunci, karena begitu lah aturan nya, berjaga jaga, kalau kalau Baby Zee menangis dan Marni ketiduran, bagaimana pun juga Marni juga manusia biasa yang bisa luput dari salah.
Dan benar saja, saat Raka membuka pintu Pinkan sudah terlelap tidur sedang Baby Zee masih berceloteh dengan segarnya "Sayang."
Dengan senyum Raka berjalan mendekati ranjang queen size milik putrinya, duduk di sisi ranjang menatap wajah Pinkan lalu menatap ke arah Baby Zee yang mulai meraih tangannya minta di sentuh.
"Baby Zee kenapa belum tidur hm? Gak mungkin kan Baby Zee lagi gundah kayak Daddy?" Raka mencoba mengajak bayi mungil itu mengobrol.
"Ssuutt! Biar calon Mommy mu istirahat!" Bisik Raka mendesis pada bayinya, saat Pinkan bergerak membetulkan posisinya.
"Hum? Baby Zee mau Daddy bobok di sini? Di selimut yang sama dengan mu?" Tanya Raka memastikan dan bayi mungil itu tertawa seolah berkata setuju.
"Ok! Tapi ini permintaan mu ya Baby, bukan mau Daddy loh, ini mau mu, nanti kalo calon Mommy mu bangun, kamu harus menjelaskan padanya." Raka berucap lirih berusaha tak terdengar oleh Pinkan.
Kemudian Raka memasuki selimut yang sama dengan kedua gadis cantik itu. Baby Zee terlihat sangat bahagia melihatnya, wajar, terkadang bayi terkesan lebih mengerti perasaan orang dewasa meskipun belum bisa berbicara.
Raka merebahkan kepalanya di bantal yang berseberangan dengan bantal Pinkan, kini mata lelaki itu menatap intens setiap lekuk wajah lelap Pinkan Arora yang selalu terlihat cantik.
"Gimana kalo kita menikah?" Raka hanya berani berucap dalam hati saja "Mungkin saja Baby Zee alasan Tuhan mempertemukan kita." Tambahnya.
Entah kenapa, setelah berada di selimut yang sama, perlahan Raka bisa memejamkan matanya begitu juga dengan Baby Zee yang ikut menyusul Pinkan masuk ke alam mimpi, malam ini mereka bertiga tidur di atas ranjang dan di bawah selimut yang sama.
Detik demi detik berganti menit, menuju jam, dan kini embun pagi mulai melayang di udara, singgah di antara dedaunan dan bunga bunga.
Pinkan pun mulai menggeliatkan tubuhnya mengerutkan keningnya, sudah terlalu puas dengan tidurnya, Pinkan mengerjap kan matanya memastikan bahwa saat ia membuka matanya yang pertama kali di lihat adalah seorang pria tampan. Mimpi kah? Atau nyata kah? Pikir gadis itu di sela sela menyadarkan dirinya.
Matanya membesar saat sudah bisa memastikan bahwa makhluk indah di hadapannya bukan lah ilusi. Itu nyata!
"Aaaaaaaaa!!!" Teriaknya histeris kakinya reflek menendang tubuh lelaki itu hingga jatuh ke lantai.
BRAK!
"Aaw! Ahh!" Raka meringis sambil memegangi pinggang yang terasa nyeri.
"Eeeeeeeee." Baby Zee terkejut lalu menangis.
"Hah? Baby Zee, maaf, maaf kan Tante, cup cup cup..." Pinkan duduk lalu merengkuh tubuh kecil Baby Zee ke dada nya, merasa bersalah, sudah membuat bayi mungil itu ketakutan.
Sedang Raka yang masih tenggelam di sisi ranjang mulai menampakkan separuh wajah nya nongol di tepi ranjang.
"Sakit Marni! Kamu kenapa menjatuhkan ku?" Tanyanya sembari mengelus pinggang sakitnya.
"Sejak kapan Tuan tidur di sini hah?" Tanya balik Pinkan dengan tatapan tajam hampir menembus jantung pria itu.
"Lupa, mungkin jam dua aku pindah ke sini." Jawab Raka enteng.
"Apa? Jam dua? Jadi sudah berjam jam kita tidur bersama begitu?" Pinkan memekik dengan kening yang mengerut.
"Memang kenapa? Aku tidak menyentuh mu! Judulnya saja tidur bersama, tapi tidak bersentuhan." Sanggah Raka yang terkesan meremehkan.
"Dasar messum!" Pinkan mengumpat dalam batinnya saja, sambil menepuk nepuk punggung baby Zee berusaha menidurkan nya lagi sedang tatapannya masih tajam pada Raka.
Kemudian dengan tertatih Raka beranjak dari posisinya, berdiri bertumpu pada sisi ranjang, pinggang nya terasa sangat sakit, sepertinya lebam.
"Maaf!" Ucap Raka memelas saat melihat ekspresi wajah Pinkan yang tampak murka hanya saja tak bisa mengutarakan.
Tapi kata maaf Raka tak sedikitpun mendapat respon dari Pinkan. Terlihat gadis itu justru memalingkan wajah cemberutnya ke arah lain dan hening setelah itu.
"Tadi malam Baby Zee yang meminta ku tidur di sini, tanyakan saja padanya." Raka berujar dengan nada memelas dan Pinkan masih tak mau menjawabnya.
"Yang benar saja, bayi dua bulan setengah bisa meminta Daddy nya jadi orang messum!"
"Kalo begitu, sekarang kamu mandi gih, aku pindah kamar saja. Selamat pagi." Ucap Raka lagi masih dengan nada memelas.
Raka keluar dari kamar, melihat itu Pinkan segera mengikuti langkah pria itu dan menutup pintu kamar dengan menghentakkan nya keras keras.
BRAK!
Pinkan sempat melihat wajah memelas Raka yang terkejut di balik pintu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.....