
Siang ini, Irma baru saja selesai memanjakan dirinya dengan treatment treatment yang di tawarkan salon kecantikan langganannya, wanita paru baya itu memang selalu menjaga kecantikannya mengingat suami yang kaya dan tampan mungkin berpotensi selingkuh, apa lagi sekarang ini hot Daddy menjadi salah satu buruan para sugar Baby yang haus cinta.
Padahal di lihat dari segi manapun, Baskara lah yang menjadi budak cinta isterinya, Irma memang wanita cantik yang selalu terlihat menarik meski sudah berumur, tubuhnya masih sangat kencang karena rajin berolah raga.
"Makasih ya jeng, ..." Irma tersenyum sambil cipika cipiki dengan sahabatnya, owner dari salon tersebut.
"Iya, sama-sama sayang, sekali kali ajak calon menantu mu ke sini dong jeng Irma, aku juga mau liat calon mantu yang katanya cantik banget itu." Sahut Aryani menepuk pelan tangan sahabatnya.
"Iya, segera deh. Aku belum tau putraku sudah berhasil menggaetnya apa belum." Irma dan Aryani terkikik bersamaan setelah itu "Ya udah sekarang aku langsung pulang, takutnya suami ku pulang cepet." Sambung Irma pamit.
"Iya, salam buat keluarga yah jeng!"
Setelah itu Irma berjalan gontai menenteng tas clutch brand ternama di dunia miliknya keluar dari salon kecantikan itu, setibanya di halaman parkir langkahnya terhenti saat tak sengaja berpapasan dengan seseorang yang sangat ia kenal.
"Tante, ..." Sapa wanita itu seakan berbunga bunga.
"Rani, kamu di sini?" Sapa balik Irma pada wanita itu seraya mendekat.
"Iya Tante, Tante gimana kabar?" Rani meraih tangan Irma lalu menciumnya dengan khidmat.
"Baik, kamu sendiri gimana kabar? Kenapa gak pernah main ke rumah?" Tanya Irma.
"Yah beginilah Tante, sekarang Raka gak ngizinin Rani masuk ke kantor nya, apa lagi rumahnya, Raka selalu menyuruh anak buahnya menghalangi Rani, Rani sedih Tante, sampai sekarang Rani masih belum bisa move on dari Raka, selama ini Rani cuma cinta sama Raka ajah, Tante tau kan, Rani sudah sepuluh tahun hubungan sama Raka, gak mudah buat Rani melupakan kenangan indah bersama nya." Wanita dewasa itu menghiba.
"Kamu yang sabar Rani, jodoh tidak kemana, mungkin kalian memang tidak berjodoh, atau mungkin belum berjodoh." Sambung Irma memberi ketenangan.
"Lalu, gimana sama Raka sekarang Tante? Apa Raka sudah punya pacar baru?" Tanya Rani.
"Tante belum tau, dia belum cerita apapun ke Tante." Jawab Irma.
"Bisa gak Tante bantu Rani buat ketemu Raka, ada yang mau Rani bicarakan penting banget sama dia Tante." Pinta Rani kemudian.
"Gimana ya sayang, Tante sendiri gak pernah ikut campur urusan cinta anak-anak Tante, jadi, kayaknya Tante gak bisa." Irma menolak halus karena sejatinya wanita itu belum tahu alasan mengapa Raka memutuskan Rani, selain dari Raka yang berpaling pada Pinkan.
"Tante pliiis, Rani mohon sekali ajah Tante, bantu Rani ketemu sama Raka." Bujuk Rani memelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan layung senja mulai mencuat, keindahan sementaranya sudah mengiringi berhamburan nya para insan yang mulai menampilkan wajah lelah. Sore ini sebagian meja kerja kantor pusat Key-food sudah kosong, karena satu persatu dari mereka sudah hengkang dari tempatnya.
"Pink, gue pulang duluan yah, cowok gue udah nunggu di depan!" Pamit Kania seraya berdiri membetulkan map map bawaannya.
"Oh, iya, hati-hati ya Beib." Keduanya cipika cipiki lalu gegas Kania berputar haluan meninggalkan tempat itu, hingga kini hanya tinggal lah Pinkan seorang diri.
Posisi Pinkan berdiri sambil membuka tas selempang miliknya lalu meraih lipstik dan cermin berbentuk love, gadis itu mengulas tipis lipstik nude di bibir lembutnya yang sempat terhapus saat terbasuh air wudhu beberapa saat yang lalu.
Tak terdengar suara langkahnya tiba-tiba sentuhan lembut melingkar di perutnya "Sayang." Raka membenamkan wajahnya di leher jenjang gadis itu membuat Pinkan menggeliat kegelian.
"Raka!" Pinkan tersentak kaget lalu reflek menoleh padanya "Lepas gak, ini kantor Raka!" Pinkan menepuk keras tangan nakal yang masih membelenggu perutnya.
"Tenang saja, yang lain sudah pulang Yank." Pria itu sengaja membalikkan tubuh Pinkan menghadap ke arah nya lalu berusaha menyatukan bibir mereka.
"Gamau! Raka! Kamu gila hh!" Tubuh Pinkan sudah terduduk di meja kerjanya bahkan terhuyung ke belakang karena dorongan dari wajah Raka yang terus mengejarnya.
"Gamau, ini kantor Raka!" Pinkan terus menghalangi wajah Raka yang sudah sedikit lagi sampai, bahkan rok span nya sudah terangkat tak karuan.
"Dikit ajah Yank, hum, pliiiis." Rengek Raka terus berusaha.
PLAK!
"Aw!" Raka mengelus kepalanya akibat dari pentungan yang baru saja mendarat.
"Apa apaan kamu hah!" Sentakan keras Baskara menggema di ruangan itu, CEO tampan ala hot Daddy ini melototi putranya.
"Om!" Pinkan mendorong kuat-kuat dada bidang kekasih messum nya lalu berlari, bersembunyi di balik tubuh tinggi calon mertuanya.
"Pukul dia Om! Dia mau kurang ajar sama Pinkan Om!" Ucapnya mengadu.
"Dasar anak kurang ajar!!" Bentak Baskara.
"Papi, ..." Raka menatap protes ayahnya "Ngapain Papi ke sini, ganggu ajah!" Entengnya.
"Kamu ini, ..." Baskara melotot sambil melayangkan tongkat besi miliknya lalu menahannya di udara.
"Kamu belum menikahi Pinkan sudah mau di sosor sosor begitu! Papi asing kan ke planet Pluto baru tau rasa kamu!" Ancam pria itu.
"Ya makanya cepet nikahkan Raka sama Pinkan, udah ngebet Raka nya!" Sahut Raka memelas.
"Kamu! ..." Lagi-lagi tongkat besi Baskara melayang mengancam membuat Raka bersiaga menangkisnya.
"Memang menikah sama kayak beli permen kaki Raka! Menikah juga butuh persiapan! Harus dengan persetujuan kedua belah pihak." Bentak Baskara lagi dan lagi.
"Yayang Pinkan udah setuju Raka nikahi, makanya buruan, keburu Raka khilaf terus un boxing duluan."
"Raka!!"
PLAK!
Kali ini pentungan Baskara benar-benar mendarat sempurna di lengan putranya "Ah. Ampun Pi, sakit! Jangan pukul lagi, itu tongkat besi asli, jangan main-main, Papi mau putra gantengnya babak belur?" Tangkisnya.
"Putra ganteng, yang benar putra messum kamu tu!" Sambar Pinkan judes.
"Messum juga cuma sama kamu doang Yank." Tampik Raka.
"Banyak cincong kamu!!" Sela Baskara "Udah sekarang antar Pinkan pulang, tapi ingat jangan macam-macam! Atau, ..." Baskara mengancam dengan tongkatnya lagi.
"Iya iya, ..." Pinkan mengatupkan bibirnya menahan tawa melihat kekasih messum nya tampak sengsara.
Dengan wajah lesu Raka kembali ke ruang kerjanya mengambil ponsel, dompet juga kunci mobil lalu keluar lagi menuju Pinkan yang sudah menunggu dengan tas selempang nya.
"Ingat langsung antar Pinkan pulang! Jangan macam-macam!" Baskara berucap setelah putranya menggiring calon menantunya menuju lift ekslusif.
"Hemmm!" Respon tak ikhlas yang keluar dari mulut putranya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... dukung author dengan Vote Like komen hadiah nya seikhlasnya.😍