Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Nyengir.



Brugh!


Suara pintu mobil yang di hentakkan, dan Rani mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil tersebut sementara tangan kirinya masih mempertahankan kaitan handuk putihnya.


"Raka, percaya padaku, jangan sampai kamu menyesal setelah bayi mu di culik!" Bulir bening meleleh di pipi jernihnya, terisak, sesak.


"Jangan tinggalkan aku Raka! Ku mohon!" Bujuknya menggebrak gebrak pintu mobil milik Raka. Tapi mobil itu tetap melaju meninggalkannya.


"Raka! Jangan pergi!" Teriaknya sejadinya.


Seorang wanita paruh baya mendekap erat Rani dari belakang, menghalangi Rani yang berlari mengejar mobil hitam milik kekasihnya "Rani, kamu apa-apaan sih hah?"


"Rani mau mengejar nya Mah, Rani tidak terima di putus begini."


"Rani!" Pekik wanita itu keras dan Rani menunduk terisak, bahkan saat ini kondisinya terlihat menyedihkan.


"Sekarang kamu lihat! Ini salah mu sendiri Rani, laki-laki itu banyak godaan nya Rani, harusnya sudah dari dulu kamu menikah dengan nya! Kamu yang terlalu sibuk dengan karir mu! Sekarang lihatlah, kau membuat calon direktur utama memutuskan mu!" Rutuk wanita itu menyalahkan putrinya.


"Huhu, hiks hiks ..." Rani semakin tersedu. Sungguh, kehilangan Raka bukanlah impiannya, itu hal yang paling tak bisa di terima oleh nya.


"Sudah sudah, bisa di bicarakan lagi nanti, mungkin Raka lagi emosi, Mamah yakin Raka akan segera meminta maaf pada mu, sekarang ganti pakaian mu dulu, setelah itu, kamu bujuk dia lagi." Tutur wanita itu, lalu menuntun putrinya masuk kedalam rumah nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedang di dalam mobil, Raka juga tak kalah sedihnya, pria itu sudah melelehkan bulir bening di pipi mulus nun jernih nya, seketika sesak menyeruak, meski akhir akhir ini perasaannya sering goyah oleh kehadiran Pinkan, tapi jauh di lubuk hati yang terdalam, Raka masih sangat menyayangi Rani yang sekarang sudah menjadi mantan kekasihnya.


"Kesalahan mu kali ini tak bisa ku maafkan Rani, bukan tidak mungkin di masa depan, kau akan melakukannya lagi, berusaha membunuh putri ku lagi." Gumamnya sembari menyeka kasar air mata nya.


"Ternyata kau masih belum berubah, tetap Rani yang arogan, kamu bahkan masih sempat sempat nya memfitnah Marni ku."


Meski berkata benar, ucapan Rani sudah tak di percaya oleh pria tampan ini, ucapan Rani tentang jati diri Pinkan beberapa saat yang lalu, tak ia masukkan ke dalam hati.


Kini Raka menambah kecepatan laju mobilnya segera mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit, ingin memastikan keadaan Pinkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari pun berganti tak terasa hari ini sudah hari Rabu saja, dari kamera drone di atas sana, ibukota terlihat sesak. Udaranya penuh polusi, sebab hiruk pikuk perkotaan mulai aktif.


Sedang di dalam kamar pasien, Pinkan baru saja terbangun dari tidurnya, matanya langsung di sambut oleh wajah tampan Murad yang kini menumpu kan kepalanya di sisi ranjang pasien, tangan Pinkan juga di genggam erat olehnya.


Sedang di sofa Eric masih tidur terduduk di sana, dengan kedua tangan yang di lipat. Kondisi Pinkan sendiri sudah bisa di katakan sembuh setelah menjalani perawatan intensif selama dua hari dan rencananya malam ini juga dokter beri izin Pinkan pulang.


Pelan pelan sekali Pinkan menarik tangannya dari genggaman Murad, berusaha tak membuat pemuda itu terbangun, namun tak berhasil, Murad tetap bisa merasakan gerakan di tangannya.


"Marni." Sapa Murad menegakkan kepalanya, bibirnya tersenyum "Kamu sudah bangun hm?" Tanyanya yang lalu di jawab dengan anggukan kecil dan senyuman gadis itu.


Ceklek!


Pintu terbuka seiring dengan masuknya Raka yang mendorong stroller Baby Zee, membuat keduanya menoleh serentak padanya, sudah dua hari ini baby Zee bolak balik ke rumah sakit demi menuntaskan rasa rindunya, atau mungkin rasa rindu milik Daddy nya.


Melihat kedatangan Baby Zee Pinkan lalu duduk menyadarkan punggung nya pada tumpukan bantal, menyambut, sedang Murad beranjak dari duduknya berjalan perlahan ke arah sofa.


"Ric, bungsu!" Ucap Murad menggoyangkan tubuh adiknya, membangunkan.


"Hm?" Eric sedikit berjingkrak terkejut, matanya merah khas bangun tidur.


"Kita pulang, bang Raka sudah di sini, lu masih harus sekolah." Ajak Murad.


"Hm, em em.." Sahut Eric mengangguk sambil menyapu matanya, lalu meregangkan otot-otot pegalnya karena tidur dalam keadaan duduk.


Kemudian Murad dan Eric bergantian memakai toilet, sekedar untuk mencuci mukanya, lalu berpamitan dengan Pinkan dan juga Raka, sejatinya, Murad masih ingin menemani Pinkan, tapi, hari ini ia sudah ada janji dengan dosen pembimbing dan itu sangat tidak mungkin di batalkan, jadi kali ini Murad harus rela membiarkan Raka hanya berdua saja dengan Pinkan.


Murad dan Eric sudah berlalu, Raka lantas membiarkan Pinkan memangku putrinya, lalu duduk di kursi pendek yang bersebelahan dengan ranjang pasien.


"Sepertinya Baby Zee sangat merindukan mu." Ucap Raka tersenyum menatap wajah Pinkan dan Baby Zee secara bergantian.


"Apa Tuan sudah tahu? Apa penyebab susu Baby Zee beracun?" Pinkan bertanya memastikan, berharap Raka menjawab sesuai kenyataan yang sesungguhnya, setelah dua hari, Pinkan baru sempat menanyakan itu.


"Mungkin susunya sudah kadaluarsa." Jawab Raka berbohong. Sebab sejatinya Raka tak mau Rani sampai masuk penjara, jika di tanya alasannya kenapa? tentunya karena masih adanya rasa cinta yang tertinggal di dalam hatinya.


"Oh." Pinkan manggut-manggut.


Tentu saja Pinkan tak semudah itu percaya pada Raka, tak mungkin tiba-tiba susu Baby Zee kadaluarsa, tak masuk akal, tapi gadis ini sudah tak berani menanyakan apapun lagi, yang jelas Pinkan yakin, kejadian yang menimpa dirinya masih ada hubungannya dengan Rani.


"Kamu tenang saja, sekarang, tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti Baby Zee, dan ..." Raka menatap damba wajah gadis itu "Kamu." Lanjutnya tersenyum.


Kemudian tangannya meraih tangan mulus Pinkan yang awalnya menolak tapi pada akhirnya mau juga ia sentuh.


"Terimakasih, sudah menyelamatkan nyawa putriku." Ucap Raka dengan nada yang menyentuh.


Pinkan menggeleng "Tidak perlu berterima kasih Tuan, saya sangat menyayangi Baby Zee, itu yang menjadi alasan saya melakukan itu, tidak lebih dari itu." Pinkan berusaha tak terkesan menyukai Raka. Sebab rencananya setelah ada kesempatan, Pinkan akan langsung pergi, tak mau lagi berurusan dengan keluarga Baskara.


"Apapun alasannya, aku berhutang nyawa padamu." Perlahan Raka menarik tangan Pinkan Cup! Lalu menciumnya sedang matanya masih menatap damba gadis itu.


Mata Pinkan membelalak dengan cepat gadis itu menarik kembali tangannya "M-maaf Tuan jangan seperti ini." Tolak nya gugup.


Raka meraih kembali tangan itu lalu mengelusnya dengan ibu jarinya lembut "Bagaimana jika ternyata aku menyukai mu? Bagaimana jika Baby Zee alasan Tuhan mempersatukan kita? Apa kamu mau menerimanya? Menerima lamaran ku?" Ungkap nya tunai.


"Saya sudah bilang kan Tuan, saya sudah di jodohkan!" Tekan Pinkan yang mulai bosan dengan tembakan demi tembakan yang di utarakan oleh kedua Tuan muda di rumah Baskara.


"Kenapa tidak kamu tolak saja? Lalu menerima lamaran ku, aku yakin bapak mu setuju dengan hubungan kita."


"Lalu bagaimana dengan pacar Tuan?"


"Aku sudah memutuskan nya dua hari yang lalu, aku serius ingin menikahi mu. Jadi bagaimana? Kamu mau kan menerima lamaran ku?"


Pinkan mendengus kasar, sudah benar benar bosan menjawab pertanyaan dilema ini, pasti lelaki ini terus punya kalimat sahutan lagi, jadi sekarang gadis itu hanya diam, mengalihkan pandangan ke arah lain, wajahnya mulai frustasi.


"Aku anggap diam mu berarti setuju." Ucap Raka, sepihak.


"Ya Tuhan, segeralah bantu hamba mu ini keluar dari jeratan duda tampan ini, aku menyerah."


"Terserah!" Sahut Pinkan. Namun di dalam pikirannya gadis itu sudah ingin pergi menjauh dari laki-laki ini, bukan karena tak menyukai, tapi karena lelaki ini milik Miska sahabatnya.


Mendengar itu Raka tersenyum "Bagus." Ucapnya kepalanya ia tumpu kan ke paha empuk milik Pinkan yang masih tak mau menatapnya, sedang tangannya menoel noel pipi lembut baby Zee yang masih dalam pangkuan gadis itu.


"Kamu lihat Baby Zee, wanita cantik ini menerima lamaran Daddy, jadi sekarang kamu harus memanggil wanita cantik ini, Mommy. Mengerti!" Dan kali ini tangan Raka menoel noel pipi lembut Pinkan yang lalu di respon dengan melotot nya mata gadis itu.


"Hehe ..." Nyengir Raka kemudian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.....