Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Lepas!



"Pak Raka." Miska membelalakkan matanya terkesiap, melihat mantan suami yang masih menatap tajam wajah Pinkan dengan rahang yang tegas.


"Miska!" Dari belakang tubuh Raka seorang wanita paruh baya memekik seraya mendekat, matanya melotot ke arah wanita yang kini menggendong bayinya.


"Mamah." Sahut Miska lebih terkejut lagi dari sebelumnya, saat melihat mantan mertuanya, begitu juga dengan Pinkan yang juga ikut terkejut.


"Berikan baby Zee padaku Miska! Kau sudah berjanji, tidak akan mengambilnya dari kami, baby Zee akan hidup sebagai bagian dari keluarga kami, kau boleh melihatnya dengan cara yang baik-baik, tidak menculiknya seperti ini!" Pekik Irma sekali lagi. Ternyata niat ingin menyusul cucu dan calon menantunya justru bertemu dengan mantan menantunya.


"Jangan Mah, dia putriku." Miska menggeleng sembari melangkah mundur, namun di belakang tubuhnya, dua orang berbadan besar sudah siap mengapit nya.


"Lepaskan aku!" Pekik Miska menoleh ke arah kedua bodyguard keluarga Baskara secara bergantian "Jangan, jangan pisahkan aku dengan putriku!" Miska menghiba, kali ini tatapannya nanar pada mantan mertuanya.


Sedang Irma sudah berhasil mengambil alih Baby Zee dari tangan Miska "Cup cup cup, sayang, ini Oma, tenanglah." Desis nya menenangkan bayi menangis itu.


"Raka, biar Baby Zee Mami yang bawa pulang, kamu urus mantan istri mu!" Ucap Irma.


"Nyonya, tolong jangan pisahkan Baby Zee dari ibunya, kasihan dia Nyonya, ku mohon!" Pinkan ikut menghiba dengan menyatukan kedua tangannya memohon pada Irma.


Membuat wanita itu beralih pandang ke arah nya "Jadi selama ini kamu membohongi kami Marni? Aku tidak menyangka, kamu tega." Irma menatap kecewa gadis itu.


"Maafkan aku Nyonya, aku terpaksa melakukan ini, sebagai sesama perempuan tolong lihatlah dari sisi Miska, Nyonya sendiri memiliki tiga putra bukan? dan pasti takkan rela jika satu saja terpisah dari mu." Nada Pinkan terdengar lirih, memohon pada wanita yang ia anggap wanita baik, pasti Irma mau mengerti nya.


"Sini kamu!" Raka yang sedari tadi diam mematung menatap tajam Pinkan, kini mulai berani menarik lengan Pinkan menjauh dari tempat itu. Miska sempat melihat bunga dan paper bag di tangan Raka, sepertinya itu sudah di siapkan khusus untuk Pinkan.


"Lepas!" Pinkan histeris sambil meronta, tapi Raka berhasil menjauhkan Pinkan dari Irma dan juga Miska.


Brugh!


Di sela sela mobil yang terparkir pria berwajah kecewa ini menghempas tubuh tinggi Pinkan hingga sedikit terpelanting.


Greek!


Tangan Raka melingkar di pinggang ramping Pinkan, dan kini wajah mereka sudah tak berjarak, bahkan hembusan napas Raka terasa menggelitik di ujung hidung gadis itu.


"Lepas!" Pekik Pinkan meronta.


"Jadi kamu menipu ku hm?" Dari jarak yang sedekat itu, suara Raka terdengar lirih dan bergetar. Kecewa sudah pasti teramat sangat, matanya berkaca-kaca dengan hati yang sangat pedih, bagai di tembus hujaman belati.


"Lepaskan aku, biarkan kami membawa Baby Zee, tolong, ku mohon! Lepas! Kau sadar hah? Kamu sudah memisahkan bayi dari ibunya, itu tindakan yang sangat kejam!" Pinkan berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari penyatuan tubuh mereka, tapi tinju kecilnya tak cukup mempan menggoyahkan dada bidang nun bugar laki-laki ini.


"Selama ini aku percaya padamu, harap ku sudah besar padamu, tapi kau menipuku mentah mentah?!"


"Hiks, tolong biarkan aku pergi." Lirih Pinkan frustasi, air mata mulai mengalir bebas.


Angin berhembus dari belakang tubuh Pinkan, desiran nya menerbangkan rambut hitam kecoklatan, panjang yang sedikit ikal milik Pinkan melayang ke wajah Raka.


Pinkan sempat terpaku menatap wajah damai Raka saat memejamkan matanya dan itu berhasil menggetarkan hati gadis cantik ini.


"Ya Tuhan, apa kisah ku akan berakhir seperti ini? Apa aku jatuh cinta pada laki-laki yang sudah ku tipu? Apa aku jatuh cinta pada pria yang tega menceraikan istrinya setelah melahirkan putrinya?" Ungkapnya yang hanya berani terucap dalam batin saja.


Perlahan Raka menyibak rambut yang menutupi wajah cantik Pinkan dengan sebelah tangan, sebab sebelah tangannya lagi masih mempertahankan penyatuan tubuh mereka, bahkan semakin menekan pinggang ramping gadis itu.


"Jangan kurang ajar kamu! Lepas!" Pekik Pinkan dengan suara gemetar yang sudah mulai di selingi tangisnya, tubuhnya meronta sekuat tenaga namun hanya sia-sia.


"Setelah membuat ku jatuh cinta padamu, berhari-hari membuat ku tak bisa tidur memikirkan mu, secepat kilat kau mencuri hatiku, lalu sekarang, kau memohon padaku supaya ku lepas uh?!" Geram Raka saat mengucap.


"Seharian ini aku menyiapkan semuanya untuk melamar mu! Memesan buket bunga, memilih cincin, aku bahkan menyuruh orang-orang ku mempersiapkan acara pernikahan kita!" Lanjutnya.


"Aku sudah bilang aku ..."


Cup!


Dengan emosi yang masih membuncah Raka menjatuhkan bibirnya pada bibir gadis itu, sedang Pinkan mendorong kuat-kuat bahu pria tampan ini, tapi sebelah tangan Raka terus menekan tengkuk Pinkan demi memperdalam pagutan bibirnya.


"Emmhh!!" Keduanya sama-sama mencecap rasa asin dari air mata yang berlabuh menjadi satu di bibir mereka.


Tak pernah Pinkan bayangkan sebelumnya bahwa dilema ini, akan berakhir tragis, kenapa harus seperti ini? Ciuman kali ini Pinkan lebih merasa di lecehkan! Isak tangis terus menerus terdengar, tangannya memukuli dada bidang Raka seolah berkata lepaskan aku!


Dan sejenak Pinkan bisa bernapas lega saat Raka melepas bibir dan pinggangnya, namun tak berangsur lama, sebab setelah gadis itu membalikkan badannya mencoba kabur kedua tangan Raka kembali merengkuhnya, dan kali ini di bagian perut, memeluk erat gadis itu dari belakang.


"Never!" Ucap Raka berbisik di telinga Pinkan dan tangis gadis itu semakin menjadi. Raka menyibak rambut yang menutupi pundak gadis itu dengan sebelah tangan, hingga kini terlihat jelas ceruk leher jenjang Pinkan, yang lalu ia gigit kecil.


Untungnya tempat itu terbilang cukup sepi, sebab yang boleh memarkirkan mobilnya di sana hanya staf yang mungkin masih sibuk merawat pasien pasien di rumah sakit tersebut.


"Tolong lepaskan aku!"


"Selamanya kamu takkan ku lepas! Kamu harus bersedia ku nikahi! Itu hukuman yang pantas untuk mu!" Geram Raka saat mengucap.


"Kenapa tidak kamu nikahi saja ibu dari putri mu! Miska sudah jelas-jelas mengharapkan mu! Baby Zee akan mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungnya!"


"Aku tidak pernah menyukai teman sundall mu itu! Saat ini dan mungkin seterusnya aku hanya akan menyukai mu!" Raka semakin memperkuat lingkaran tangannya, mendominasi.


"Bang!"


Dari arah kiri seorang pemuda membantu Pinkan melepaskan diri dari jeratan duda tampan ini.


"Apa apaan lu hah!" Pekik pemuda yang tak lain adalah Murad, tatapannya tajam mengarah pada abangnya, meskipun sesungguhnya Murad belum mengetahui duduk masalah yang terjadi di antara mereka, Murad hanya tak suka dengan cara Raka memperlakukan Pinkan.


"Hiks hiks!" Pinkan berlari serampangan entah kemana arah nya yang pasti mata Raka masih terus menatap lekat punggung gadis itu lalu berusaha mengejar namun Murad menghalangi jalannya.


"Lu gila hh? Memperlakukan seorang gadis dengan cara seperti itu?" Pekik Murad keras namun pandangan Raka masih tak mau lepas dari punggung gadis itu.


"Gue tau lu suka sama Marni! Gue sadar kalo ternyata kita sama-sama menyukai gadis yang sama. Tapi bersaing lah dengan sehat! Jangan dengan cara curang seperti ini!" Pekik Murad lagi sembari mendorong kecil dada bidang abangnya hingga membuat Raka mundur satu langkah namun Raka masih menatap nanar berlalunya Pinkan, dan itu berhasil membuat Murad menyadari betapa Raka terlihat sangat menyukai Marni.


"Bang!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, Pinkan sudah duduk di dalam taksi masih dengan air mata yang berderai, meraung menangisi dilemanya, memilih antara pria yang beberapa waktu ini membuat nya nyaman? Atau Miska? Sedang mengkhianati sahabat belum pernah terjadi di sepanjang sejarah hidupnya.


"Huhuhu.. hiks! Semudah itu kamu bilang tak pernah menyukai Miska yang melahirkan anak mu, bukan tak mungkin kamu juga akan mencampakkan ku, saat kau tak lagi menyukai ku! Dasar bajingan!" Umpat Pinkan.


Sopir taksi sampai melirik bingung ke arah spion, menyimak, namun belum berani bertanya, masih membiarkan gadis ini meluah kan semua emosi nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung..... Dukung author dengan Vote, Like, komen dan tekan tombol love nya.