
"Eh, itu bukannya yang dulu jadi pengasuh bayi pak Raka yah?"
"Mana?"
"Itu, yang lagi makan siang sama Dimas."
"Oh iya, kok mirip yah, tapi gak mungkin ah, kebetulan aja cuma mirip kayaknya."
Bisik bisik staf perempuan yang dahulu sempat melihat wajah Pinkan saat menjadi babysitter terdengar riuh heboh menatap ke arah Dimas yang kini duduk berhadap-hadapan dengan Pinkan di meja kantin.
Sedang di tempatnya Pinkan tampak sedang mengulas senyum tipis saat berbicara dengan kakak kelas gantengnya, sejenak gadis itu melupakan rasa penasarannya pada kasus Miska dan Raka.
"Jadi kebiasaan makan siang dengan pisang mu belum ilang juga hm?" Dimas bertanya sambil tersenyum memperlihatkan lesung di pipinya.
"Hehe," Nyengir Pinkan "Ini bukan kebiasaan kak, tapi kesukaan." Jawabnya.
Mendengar itu Dimas terkikik geli seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangan tatapan matanya tak pernah luput dari wajah cantik Pinkan "Kesukaan yang aneh." Ucapnya, pikiran pemuda itu sudah pasti ke arah lain.
Dan benar saja senyum manis Dimas berubah menjadi senyum ngilu saat Pinkan mulai membuka kulit pisang dengan segala pesonanya, bahkan angin berhembus dari arah depan wajah Pinkan hingga menyibak rambut panjangnya kebelakang seakan mendukung dengan khidmat.
"Emmmm." Seru para staf laki-laki yang berada di sekitarnya, mereka beramai-ramai menatap penuh hayat ke arah bibir Pinkan yang memagut lembut buah pisang kesukaannya, bicara soal pikiran, tentu saja ada sarang-sarang yang perlu di sapu dari otak para laki-laki itu.
"Gila, tu cewek cantik banget, seksi nya, ..." Celetuk pemuda A yang hampir saja meneteskan saliva.
"Dia anak magang baru ya? Siapa namanya? Bukan pacar Dimas kan?" Sambung pemuda B.
"Kayaknya sih bukan, sebelum ada yang mengaku pacarnya, gue ikutan usaha deh, siapa tau aja gue tipe nya, gue mau cari tahu siapa nama tu cewek!" Timpal pemuda C.
"Gue juga deh kalo gitu, kita bersaing secara sehat aja, gimana?" Imbuh pemuda D.
"Setuju.!" Sambar pemuda E, mereka sepakat untuk bersaing mendekati gadis cantik pemakan pisang itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sudut tempat itu, ada pria tampan menegaskan rahangnya yang juga menatap tajam ke arah Pinkan, yes, bukan napssu melainkan murka.
Detik detik berlalu lagi, kali ini Raka harus rela melepas wajah cantik pujaan hatinya untuk sesaat, sebab dia harus mengikuti pertemuan penting dengan seluruh jajaran direksi perusahaan, dari direktur utama yaitu ayahnya, direktur yaitu pamannya (Adik dari Baskara), dan direktur personalia sepupunya, dan dirinya sendiri yang menjabat sebagai direktur keuangan, seperti biasa yang mereka bahas masih seputar pengembangan pabrik, pembukaan cabang baru dan perekrutan ketenagakerjaan.
"Ok meeting selesai, kalian boleh kembali ke ruangan masing-masing." Kata penutup dari seorang CEO tampan yang wajahnya ala ala hot water, eh salah hot Daddy mencelos.
Lalu tanpa bertanya apa pun lagi Raka segera beranjak dari duduknya keluar dari ruang pertemuan. Hatinya masih dongkol perkara pisang yang menjadi selingkuhan Pinkan.
"Sudah Bro?" Tiba di luar Arjuna menyambut atasannya.
"Baby Zee sudah kamu antar ke rumah kan?" Tanya Raka tanpa menoleh, pandangannya lurus ke depan masih setia dengan rahang tegasnya.
"Udah, tenang aja." Sahut Arjuna yang kini mengiringi langkah pria itu.
"Terus gimana Marni? Apa masih sama Dimas?" Tanya Raka lagi melirik sekilas ke arah Arjuna.
"Marni sudah kembali kerja, tapi, dari tadi banyak yang bolak-balik ke mejanya."
"Mau ngapain?" Raka menoleh ke arah pria itu dengan kening yang mengerut.
"Ngasih minuman, makanan, cokelat, mereka berbondong-bondong mau kenalan sama Marni lu." Jelas Arjuna.
Tangan Raka mengepal kuat langkahnya pun ia percepat "Sial!" Umpatnya.
Dan benar saja matanya di sambut oleh minuman dan makanan yang tertata rapi di meja kerja Pinkan, sedari tadi sudah ingin marah tapi tidak mungkin marah hanya karena makan pisang, oh rupanya sekarang sudah ada alasan untuk pria itu mendeklarasikan dirinya.
"Juna!" Raka menghentikan langkahnya tepat di sebelah meja Pinkan. Gadis itu menoleh ke arah nya dengan wajah polos.
"Panggil seluruh karyawan yang menyampah di kantor ku!" Raka mulai menunjukkan kekuasaan nya.
"Siap Bro!" Arjuna melangkah pergi melakukan tugasnya.
Sedang Pinkan dan Kania masih hanya diam saja, belum cukup tahu hal apa yang sebenarnya Raka akan lakukan. Pandangan Pinkan menurun saat melihat tatapan Raka begitu marah padanya, apa lagi setelah mendengar gosip dari mulut Kania, kini Pinkan mulai mempunyai empati terhadap pria itu meskipun belum sempat membuktikannya.
Tak lama dari itu derap kaki para staf laki-laki terdengar riuh lalu Arjuna mengatur bawahannya berbaris rapi tepat di tengah-tengah antara ruangan Raka dengan meja Pinkan. Para staf menunduk karena sedikit banyak mereka tahu alasannya di panggil atasan, pasti akan mendapat teguran.
Sedang Raka menatap jutek ke seluruh staf laki-laki itu kalau saja tidak dosa mungkin sudah Raka jadikan rujak bebek mereka semua.
"Kalian tahu apa ini?!" Raka mengambil satu coklat dari meja kerja Pinkan yang sama sekali belum Pinkan sentuh, menunjukkan pada staf yang berbaris rapi di hadapannya.
"Emm, itu punya dek Pinkan dari saya Pak!" Celetuk salah satu pria itu.
"Saya tidak sedang bertanya itu, saya mau kalian tahu, kalian di larang membuat sampah di kantor saya! Paham!" Nada Raka naik ke level pedas.
Pria-pria itu saling melirik dengan kecumikan bibirnya masing-masing, perasaan itu bukan sampah tapi makanan dan minuman yang masih baru.
"Paham tidak!" Kali ini nada Raka sudah naik ke level pedas gila.
"Paham pak!" Jawab mereka serentak sedang Pinkan dan Kania tampak mengelus dadanya berusaha menenangkan detak jantung yang hampir lompat karena teriakkan Raka.
"Ingat peraturan baru yang harus kalian patuhi, tidak boleh memberikan apa pun pada karyawan lainnya di jam kerja! Kalian paham!"
"Paham Pak!"
"Satu lagi, di kantor ini, tidak boleh ada yang memakan pisang!!" Raka mengerling sadis ke arah Pinkan yang kini berkerut kening seakan protes, salahnya di mana makan pisang? Apa ada peraturan seperti itu? Sungguh otoriter sekali!
"Kalo sampai saya tahu kalian melanggar aturan aturan saya lagi, saya pecat kalian!" Timpal Raka masih setia dengan suara pekikan nya membuat seluruh staf mengangkat kedua bahunya sedikit tersentak, ini kali pertama Raka memarahi mereka.
"Kalian boleh kembali!" Raka mengibaskan tangannya mengusir lalu secepat kilat pria-pria itu menghilang dari pandangan.
Tanpa menoleh ke arah Pinkan lagi Raka kembali memasuki ruangannya masih tetap mempertahankan rahang tegasnya sedang Arjuna juga kembali ke ruangannya sendiri.
Sreeek!
Tiba di dalam Raka menutup seluruh hordeng otomatis lalu duduk di kursi putar miliknya "Apa apaan, baru juga sehari magang sudah banyak yang mengincar! Ck!" Rutuk nya seraya mendorong kecil map di mejanya, emosi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di mejanya Pinkan dan Kania masih gentar dengan amukan Raka yang tiba-tiba, bagaikan petir di siang bolong melompong.
"Seumur gue kerja di sini, baru pernah gue liat pak Raka marah, sumpah!" Ucap Kania dengan heran.
"Lagian tu cowok cowok kurang kerjaan banget, masa kenalan di jam kerja, bikin gue jantungan aja." Timpalnya.
"Lu si, terlalu cakep Pink, jadi, ganggu konsentrasi tu cowok cowok!" Kania terkikik kecil setelah mengucapkan itu namun Pinkan masih berkutat dengan pikirannya.
"Eh Pink," Kania menyentuh pundak gadis itu "Eh iya, kenapa?" Kejut Pinkan menoleh.
"Lu ngapain ngelamun gitu? Lu gak trauma kan? Besok lu masih mau berangkat magang kan? Jangan bilang lu menciut gara-gara liat pak Raka marah." Tanyanya.
"Gue gapapa, gue cuma masih penasaran aja sama video pak Raka yang virall itu." Jawab Pinkan lirih.
"Ya elaaaah lu masih mikirin itu Pink?" Lalu Pinkan mengangguk dengan wajah memelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung....