
Hari-hari Eric lalui menjadi teman Lidya saja, pergi berbelanja, pergi mendaki gunung sesekali, pergi nonton film, dan lain sebagainya.
Semua yang pasangan kekasih lakukan, juga di lakukan oleh Lidya bersama Eric, meskipun Lidya menolak akan tetapi persahabatan mereka justru lebih intens.
Tito sampai cemburu di buatnya, pasalnya sahabat terbaiknya sudah jarang bersama dengan dirinya, Eric justru terkesan sibuk seperti sudah memiliki istri saja.
Eric selalu menjadi teman yang siaga untuk Lidya selama bertahun-tahun ini, yah, sudah tiga tahun berlalu. Eric, Tito dan Lidya sudah meraih gelar S1 nya masing-masing.
Hari ini Eric tampak bersemangat keluar dari kamar kemudian menuruni anak tangga menuju meja makan.
"Pagi semua!" Eric menyapa seluruh keluarganya, Raka, Pinkan, Murad, Hayu dan juga kedua orang tuanya.
Terlihat Zee sudah memakai seragam sekolah sangat cantik, Atha adiknya juga sudah bisa berbicara lugas, sepertinya otak encer Pinkan dan Raka menurun pada Atha.
Di usianya yang baru tiga tahun Atha sudah bisa berpose manja sebagai model butik neneknya. Tak jarang juga di lirik brand lainnya untuk di jadikan model.
Sungguh seru kehidupan Raka dan Pinkan sekarang, cinta sejati mereka cecap dan pertahankan untuk hidup rukun sampai maut memisahkan.
Sesekali Miska mengancam tapi sering kali Arjuna menggagalkan rencana busuk wanita itu, sekarang Arjuna sudah menikahi mantan kekasihnya, wanita yang ia hamil di mobil saat mencari bukti kejahatan Rani.
Putri Murad dan Hayu juga sudah hampir empat tahun, sangat cantik mirip ibunya. Ceriwis, lebih suka menyanyi. Lucu sekali.
"Pagi sayang." Sapa Irma saat di berikan kecupan singkat oleh putra bungsunya.
"Eric buru-buru, Eric sarapan di luar! Bye!" Pemuda itu berlari setelah mengecup singkat pipi ayahnya.
Yang lain hanya menggeleng melihat berlalunya Eric.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiba di luar Eric menyambar mobil sport miliknya, mobil merah yang sengaja ia buka atapnya.
Udara pagi ingin Eric rasakan sebelum menemui sang pujaan hati "Lidya, apa kamu masih menolak ku?" Sekilas Eric mengingat percakapan bersama Lidya saat di telepon malam tadi.
"Ric, jangan terus bertanya itu, sudah jelas aku menolak mu, kita cukup berteman saja!" Jawab Lidya kala itu.
"Beri aku kesempatan menjadi pacar mu sehari saja, sebelum aku berangkat ke luar negeri, aku harus melanjutkan S2 ku di Inggris. Kamu tahu kan, aku pasti merindukan mu."
"Ric, ..."
"Please!"
"Ok, sehari saja, aku mau menjadi kekasih mu, lalu setelah itu tolong jangan lagi menuntut ku."
Eric tersenyum saat mengingat percakapan membahagiakan itu, akhirnya setelah tiga tahun menunggu, Eric memiliki kesempatan untuk bisa menjadi kekasih Lidya walau hanya sehari saja.
Setengah jam berlalu, setelah menikmati pemandangan kota Jakarta yang mulai hiruk pikuk. Di persimpangan jalan Eric memutar setir karena sudah harus memasuki halaman kontrakan milik temannya, ralat, kekasihnya.
Terlihat di sana Lidya sudah rapih dengan pakaian kasual yang justru terlihat elegan. Rambut lurus Lidya sudah di cepol ke atas sangat seksi jika di lihat dari leher jenjangnya.
Kaos putih ketat yang di balut jaket jeans berwarna merah muda di padukan dengan celana jeans biru yang berlubang di bagian pahanya membuat penampilan Lidya lebih terlihat kekinian apa lagi di tambah dengan sepatu putih dan tas selempang yang simpel.
Jangan di tanya yang di pakai Eric, sudah pasti kaos mahal dan celana jeans yang juga sangat mahal. Kacamata hitam tersemat di wajahnya, sangat tampan.
Eric keluar lalu berjalan memutari mobil dan membuka pintu untuk kekasihnya "Silahkan Nona." Ucapnya tersenyum.
Entah lah, semenjak jatuh cinta pada Lidya banyak perubahan yang Eric presentasi kan. Eric lebih dewasa, dan tidak bar-bar lagi kata-katanya.
Eric menutup pintu mobilnya lalu berjalan lagi menuju pintu bagian kemudi.
"Kamu mau ajak aku kemana Ric?" Tanya Lidya.
"Ke mana saja asal bersama mu sebagai sepasang kekasih." Sahut Eric.
Lidya ingin memakai sabuk pengaman tapi Eric lebih dulu menarik juntaian hitam itu "Aku pacar mu bukan? Jadi kali ini aku yang memakai kan nya." Katanya.
Lidya hanya menaikan ujung bibir tapi tetap menuruti keinginan pemuda itu. Gegas Eric melajukan mobil setelah keduanya aman di joknya.
Di sela menyetir pada sepanjang perjalanan tangan Eric terus menggenggam tangan Lidya sambil tersenyum.
Entah lah meskipun hanya satu hari saja, Eric merasa sangat bahagia, sudah berpuluh-puluh kali Eric mengutarakan cintanya dan selalu Lidya tolak. Maka untuk hari ini biarlah Eric bahagia, sebelum keberangkatannya ke luar negeri.
"Ric, kamu bilang mau ikut sarapan bubur ayam langganan ku, berhenti di depan." Titah Lidya.
"Pinggir jalan?" Tanya Eric.
"Iya, tapi asyik tempatnya, ada tempat duduknya di sekitar taman depan itu."
"Emmhh." Eric mengangguk sambil menepikan mobilnya.
"Yuk turun." Ajak Lidya kemudian keduanya turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju gerobak bubur berwarna hijau yang lumayan ramai.
Lidya dan Eric duduk di satu bangku panjang tanpa meja "Bang, dua yah, seperti biasanya." Lidya tahu betul Eric tidak menyukai pedas dan kesukaan mereka sama.
Eric mengedarkan pandangannya ke segala arah, asing, aneh, tak pernah sekalipun memakan makanan luar karena dia selalu sarapan pagi bersama keluarganya.
Beberapa menit kemudian kang bubur mengantar pesanan Lidya dan Eric, tempatnya memang tidak di sediakan meja, maka mereka harus rela menyangga mangkuk saat makan.
"Kita makan begini? Kamu ga panas hmm?" Tanya Eric.
"Makanya aku sedia sapu tangan, satu untuk mu satu lagi untuk ku." Lidya membagi sapu tangan merah pada kekasihnya kemudian keduanya memulai ritual sarapan pagi bersama.
Meskipun baru pertama kali makan di tempat seperti itu, Eric tak merasa terbebani justru sangat menikmati.
"Kamu suka?" Tanya Lidya saat mengamati gurat kenyamanan pada wajah tampan Eric.
"Suka, asal bersama mu, semuanya aku suka." Kata Eric yang selalu tersenyum.
Lidya sempat tersedak mendengar pengakuan itu. Meski sudah sering kali melihat cinta Eric acap kali Lidya salah tingkah.
"Minum dulu." Eric memberikan satu botol berisi air mineral kemudian menyeka bibir basah gadisnya dan cukup di saksikan banyak pasang mata.
Lidya tersenyum kikuk mendapati sebuah perlakuan manis Eric "Kenapa rasanya seneng banget, padahal cuma satu hari saja kita menjadi kekasih." Batinnya.
Sarapan romantis di pinggir jalan sudah selesai, Eric membayar dengan uang merah dan tak mau menerima kembalian.
Eric gandeng tangan kekasihnya kembali menaiki mobil sport kesayangannya nya.
"Sekarang, kamu harus nurut, aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Ucap Eric sambil memakai kan kembali sabuk pengaman Lidya.
Lidya mengangguk.
Eric menstater mobilnya kembali dan kali ini lumayan sedikit lama perjalanannya, bahkan melewati tol, Lidya menikmati keindahan alam pagi hari bersama kekasih satu harinya.
Sesekali tangan Eric mengelus rambut Lidya sesekali juga menggenggam tangan Lidya untuk kemudian di kecup.
Lidya terlihat menurut apa pun yang Eric perlakukan padanya, toh hanya satu hari, setelah itu mereka akan hidup sendiri-sendiri.
Eric ke luar negeri sedang Lidya kembali ke kampung halaman untuk melamar pekerjaan.
Di tepi pantai daerah Anyer, Eric memarkir mobilnya lalu menuntun Lidya ke sebuah gazebo kayu yang di kelilingi juntaian kain putih membuat kesan romantis pada tempat itu.
"Duduk sayang." Kata Eric tersenyum nyengir, dia kikuk sendiri setelah memanggil Lidya sayang.
"Sayang? Lebay banget." Protes Lidya lalu keduanya duduk berdampingan di permukaan gazebo kayu itu.
Angin pantai mulai meniup anak rambut kedua insan rupawan ini, Eric masih terus tersenyum sambil menggenggam tangan Lidya.
"Kamu bisa kalem gak sih? Senyum terus! Ga capek apa tu bibir?" Ucap Lidya.
"Aku saking senengnya, bisa jadi pacar mu." Sahut Eric.
"Tapi kita cuma sehari saja Ric, setelah itu, ..."
"Sssuuuuutttt." Eric menutup bibir Lidya dengan jari telunjuk "Tolong jangan bahas itu, tolong biarkan aku menikmati menjadi kekasih mu, jangan bilang kita hanya sehari, aku mau menikmati hubungan singkat ini bersama mu." Ujarnya.
"Kenapa kamu melakukan ini? Kita tidak cocok Eric, aku tidak sebanding dengan mu yang sangat tampan dan kaya raya. Aku tidak berani mengambil resiko di khianati setelah kita menikah nanti, cobaan setelah menikah pasti ada, dan aku tidak siap dengan itu. Lebih baik seperti ini, kita menjadi teman dan tidak akan pernah terputus." Batin Lidya, matanya menatap lekat wajah tampan Eric.
"Kamu mau pesan minum atau apa?" Tawar Eric.
Eric menjentikkan jarinya pada pelayan lalu memesan permintaan kekasihnya sebelum kemudian keduanya kembali menikmati keindahan riak pantai yang berdebur maju mundur seirama dengan hembusan angin.
"Setelah ini, apa yang mau kamu lakukan? Bekerja? Atau apa?" Tanya Eric.
"Aku, mau jadi guru, aku suka kegiatan sekolah, aku mau kembali ke masa-masa itu. Tapi kali ini, sebagai pengajar." Jawab Lidya.
"Kenapa tidak ke perusahaan Papi? Kamu sudah ada koneksi, pasti mudah di terima." Usul Eric.
"Gak ah, nanti kamu berharap lagi." Lidya tersenyum sambil berpaling ke arah pantai hingga angin menyibak rambut poninya.
"Apa sedikitpun kamu ga punya rasa pada ku Lidya? Apa alasan mu menolak ku? Kenapa kamu tidak pernah mau menerima cinta ku?" Eric masih penasaran dengan itu.
"Seperti kamu yang tidak memiliki alasan kenapa menyukai ku, aku juga tidak punya alasan kenapa tidak menerima cinta mu." Kata Lidya, ada senyum getir di sudut bibirnya.
"Aku punya alasan Lidya, alasan ku jelas, aku sangat mencintaimu, aku terus candu melihat senyum manis mu, aku tak pernah mampu melupakan wajah cantik mu walau hanya sesaat." Batin Eric.
Setelah satu jam mengobrol, Eric dan Lidya bermain pasir berenang di kolam, juga mencoba dansa dengan irama musik romantis dan sempat membuat mereka hanyut dalam permainan bibir.
Seharian Eric menikmati setiap detik bersama dengan Lidya, senyum selalu tersungging begitu impresif hingga tak terasa sore pun menjelang.
Pada akhirnya Eric harus rela mengembalikan Lidya ke kontrakan, keduanya kembali memasuki mobil bergegas pulang kembali ke Jakarta.
Atap mobil Eric tutup karena sepertinya sudah mau hujan dan benar saja tepat di lampu merah perbatasan kota hujan turun dengan derasnya.
Cuaca yang cukup mendukung untuk kegiatan romansa sepasang kekasih. Mumpung masih lampu merah.
Eric tak sempat ragu lagi untuk menarik tengkuk Lidya dan mendaratkan bibirnya di sana. Kegiatan yang sudah acap kali mereka lakukan padahal bukan sepasang suami istri bukan juga sepasang kekasih.
Lidya terus menolak cinta Eric tapi terus menerima serangan bibir lembut itu "Ric." Lidya mencegah tangan yang mulai nakal meraba bagian dadanya.
"Maaf, aku kelepasan." Tepat di depan wajah Lidya Eric berkata lirih, bahkan sang junior sudah hampir terbangun.
Lidya berpaling ke arah jendela.
Kembali Eric mengemudi setelah lampu merah selesai di gantikan dengan yang hijau.
"Kamu serius, besok pulang ke Surakarta sendiri? Kamu ga mau ku antar hmm?" Tanya Eric dengan sekilas melirik ke arah Lidya yang masih menatap hujan dari joknya.
"Iya, aku bisa sendiri, lagian ayah jemput kok, jadi ga sendirian juga." Jawab Lidya menoleh.
"Apa boleh malam ini, aku menginap? Aku mau menuntaskan sebagai pacar mu selama satu hari." Pinta Eric.
"Ric, ...." Lidya menatap protes pemuda itu "Kamu janji setelah seharian ini bersama ku, kamu langsung pulang, kita bukan bukan suami istri yang boleh tidur bersama." Lanjutnya.
Eric hening....
Entah lah kenapa sepertinya Eric tidak rela hubungan mereka terputus setelah seharian penuh memadu kasih.
Seharian ini Lidya juga terlihat menikmati setiap sentuhan lembutnya akan tetapi kenapa harus berakhir? Eric hening dalam pergulatan batinnya.
Sesampainya di kontrakan Eric turun seperti biasa dan membuka pintu mobil milik Lidya, ia gandeng tangan kekasihnya memasuki kontrakan yang hanya berukuran lima kali enam meter.
Sangat kecil bagi Eric karena terbiasa dengan rumah yang ukuran kamarnya berlipat-lipat dari kontrakan Lidya.
Lidya membuka pintu lalu mempersilahkan Eric masuk, terlihat di dalam sudah ada koper besar, Lidya memang sudah mengemas barangnya karena besok sudah harus pulang kampung membawa gelar akademik sarjana ekonominya.
"Jadi kamu sudah packing?" Tanya Eric dengan tatapan yang mengarah pada koper di sisi ranjang.
"Iya, sudah dari kemarin malah, aku udah ga sabar pengen pulang kampung, akhirnya pendidikan ku selesai juga, aku bisa bekerja sekarang." Ujar Lidya.
"Kamu ga takut kangen?"
"Sama?" Lidya menoleh pada Eric.
"Aku!" Kata Eric. Di sisi ranjang keduanya berdiri saling menatap sekarang.
"Kita harus putus setelah ini, tolong jangan lagi menanyakan hal itu, sekarang aku sudah aman, kamu pulang lah." Usir Lidya.
"Kamu mengusir ku? Ini bahkan belum dua puluh empat jam, seharusnya kita putus besok pagi." Sanggah Eric.
"Ric! ...." Lidya lagi-lagi menatap protes pemuda itu, rasanya kok sulit sekali membuat Eric mengerti.
"Aku sangat mencintai mu Lidya." Ungkap Eric dengan tatapan sendu.
"Seandainya saja kita sederajat, dan satu level mungkin aku mau menerima cinta mu." Batin Lidya.
Sejatinya gadis itu masih minder jika harus menjadi kekasih Eric yang super nyaris sempurna itu, tampan, kaya, siapa sih yang tidak suka? Lidya tidak siap jika akhirnya Eric yang selalu melihat seseorang dari bentuk tubuhnya akan tergoda pada wanita lain.
"Aku tidak! Kita hanya cocok berteman seperti ini. Please pulang lah."
Eric meraih tangan mulus Lidya lalu menarik tubuh itu untuk di peluknya "Aku pasti merindukan mu, aku tidak rela berpisah setelah ini, tolong terima cinta ku, aku akan melamar mu." Ucapnya.
"Ric!" Lidya melepas pelukan hangat pemuda itu "Sudah ku bilang, kita cukup berteman!" Gadis itu sampai kelepasan membentak saat tak mampu lagi memberikan kata-kata yang halus untuk Eric.
Bertahun tahun Eric terus mendesaknya, bukan tak mau hidup bersama Eric, hanya godaan hidup yang tak ingin Lidya lalui jika harus menikah dengan pria tampan sekelas Eric.
Harta wanita dan tahta, itu yang menjadi godaan terberat dalam dunia pernikahan, Lidya tak mampu untuk mencoba biduk bahtera itu.
"Maaf, aku masih belum bisa melepas mu." Eric menunduk dan menempel kan bibirnya pada bibir merona Lidya.
Lidya bergegas membalas dengan tangan yang mengelus leher Eric, sekali lagi keduanya hanyut dalam belitan indera perasa mereka.
Suara cecapan kerap terdengar begitu nyaring saat Eric menyikat habis ruang basah yang sangat memabukkan itu.
Sangat lama ciuman panas terjadi Lidya kemudian melepas paksa tautan bibir mereka "Pulang lah Ric, kita cukup sampai di sini." Katanya lirih. Sejatinya meski mengusir Lidya juga tak rela jika harus berpisah malam ini juga.
"Aku masih mau di sini, aku masih, ..."
"Pergi, ..." Lidya mendorong dada bidang Eric agar mau keluar dari kontrakan miliknya tapi Eric justru menenggelamkan kembali bibirnya pada ceruk leher jenjang gadis itu.
Berpisah? Eric sangat tidak rela. Meskipun awalnya senang menjadi kekasih walau hanya sekejap saja, tapi pada akhirnya keserakahan menguasai dirinya.
"Akan ku miliki kau seutuhnya." Kata yang terus Eric sugesti kan pada dirinya sendiri.
Tubuhnya menegang saat ciuman semakin panas, tangan Eric meremas punggung gadis itu bahkan keduanya terjatuh ke ranjang hingga kini Eric berada di atas tubuh Lidya.
Lidya memukuli pundak Eric "Eric, hentikan! Pulang! Aku bilang hentikan!" Pekiknya.
Eric tak menggubris, ia justru mencecap sekali lagi bibir itu secara paksa, tak mau mendengar atau menuruti kemauan Lidya.
Lidya dorong kuat-kuat Eric hingga terlepas dan satu tamparan mendarat di pipi kiri Eric.
"Maaf." Setelah beberapa saat terdiam Eric mengutarakan kata itu "Aku pulang. Kamu baik-baik." Eric mengusap lembut pipi kekasihnya "Semoga setelah aku kembali ke Indonesia, akan ada kesempatan kita untuk bertemu lagi." Ujarnya dalam harap.
Lidya menggeleng "Semoga tidak ada lagi pertemuan kita!" Ucapnya.
Eric mengecup sekali lagi bibir Lidya lalu kemudian keluar dari kontrakan gadis itu, pagi tadi pemuda itu bahagia antusias, lalu malam ini bahunya turun tak bersemangat.
Acap kali melupakan, alih-alih berhasil justru semakin tergila-gila. Eric tahu perasaannya sangat tulus tapi Lidya tak mau menerima ketulusan hatinya.
Eric berusaha menerima kenyataan, tapi selalu ada yang ia tepis saat membaca gurat yang sama pada raut wajah Lidya.
Seharian ini Lidya menjadi kekasihnya, berpelukan, berciuman, Lidya terlihat sangat menikmati. Kenapa harus di akhiri? Eric tak habis pikir.
Tak sadar perkataan dirinya kala awal pertemuan, masih membekas di hati rapuh Lidya, meskipun terlihat memaafkan Lidya masih sering terpikirkan hal itu.
Eric lebih terkesan menilai seseorang hanya dari fisik saja, sempat Lidya dekat dengan laki-laki lain, lalu Eric marah dan menyombongkan diri bahwa dirinya lebih tampan dari laki-laki itu.
Lidya sangat tidak menyukai cara pandang Eric. Bagaimana jika itu terjadi sampai di pernikahan? Bisa saja terjadi perselingkuhan saat Eric melihat wanita yang lebih segalanya dari pada Lidya.
Di dalam Lidya masih hanya diam saja, ketidak relaan juga hadir menyelimuti dirinya "Semoga setelah perpisahan ini, kamu mendapatkan kekasih yang sesungguhnya. Bukan gadis kampung seperti ku." Gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung......
...Apakah masih ada yang membaca cerita ini??...