
Zee rewel, semenjak di tinggal baby sitter cantiknya, kebiasaan bayi memang sering candu dengan aroma tubuh seseorang yang di anggap ibunya, segala cara Irma lakukan demi membuat bayi itu tenang, tapi tak berhasil, bahkan Zee melepeh kan susu formulanya, terus menangis tantrum, padahal sore tadi juga baby sitter dadakan sudah di datangkan langsung dari yayasan, tapi belum berhasil membuat bayi mungil itu menurut.
Maka Raka sendiri yang pada akhirnya turun tangan menenangkan bayi nya, kini duda tampan itu tengah duduk di sofa taman menikmati udara malam hari bersama putrinya, sepertinya baby Zee lebih tenang setelah dalam dekapan sang ayah, mata Raka berkaca kaca sendu menahan rindu dan kecewanya menjadi satu.
"Mulai sekarang, kita harus terbiasa seperti ini sayang, sekarang kita sudah tidak lagi tinggal satu atap dengan baby sitter cantik mu, dia sudah pergi." Raka berucap lirih entah sedang menguatkan putrinya atau dirinya sendiri, tangannya menepuk nepuk punggung rapuh Zee.
"Tapi, Baby harus yakin, Daddy bisa membawanya kembali ke rumah ini, sebagai Mommy mu." Raka menghirup aroma damai di wajah putrinya dan gadis mungil itu tersenyum seolah menguat kan sang ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara bersamaan dengan itu, di atas meja makan panjang, keluarga Baskara tengah membicarakan tentang kejadian sore tadi, Berita yang Bas dengar dari isterinya benar benar membuat lelaki itu tersentak kaget begitu pun dengan Eric juga Murad.
"Kenapa ka Marni bisa tega begitu? Padahal di lihat dari wajahnya, dia gadis baik-baik." Ucap Eric tampak kecewa.
"Itu lah makanya, jangan melihat dari penampilan, sebaik-baiknya orang pasti punya sisi buruk, seburuk-buruk nya orang, akan punya sisi baik, ini pelajaran berharga bagi kalian." Jelas Baskara.
"Tapi kalo menurut Mami, yang di ucapkan Marni benar juga." Sela Irma dan ketiga pria itu menatapnya, menyimak.
"Kalo di lihat dari sisi Miska, pasti sangat sakit di pisah dengan bayi yang baru saja di lahir kan." Imbuhnya.
"Mami jadi bayangin, gimana rasanya kalo Mami di pisah sama salah satu dari putra Mami, yah, Mami tahu, kalo saja Miska gak ngejebak Raka waktu itu gak kan mungkin juga dia hamil, tapi tetap saja, hamil itu bukan hal yang mudah." Tambahnya.
"Yang Mami liat sih, kayaknya Marni cuma mau membantu Miska mendapatkan haknya saja." Timpalnya.
"Sebagai sesama perempuan, Mami juga bisa merasakan apa yang di rasakan Miska saat ini. Tidak mudah menerima kenyataan, bahwa suaminya menceraikan tepat di hari lahir putrinya, Mami sadar, Raka juga ikut bersalah dalam hal ini." Sambung nya dengan nada lirih penuh pertimbangan dan semua orang setuju dengan ucapannya.
"Sekarang anak nya di mana? Kenapa tidak ikut makan malam?" Tanya Baskara setelah mengelap ujung bibirnya dengan tissue.
"Di taman sama Baby Zee. Pasti sekarang Raka lagi sedih, mikirin Marni, baru juga dia lamar sudah begini."
"Uhuk-Uhuk." Murad dan Eric tersedak bersamaan mendengar ucapan ibunya.
"Di lamar? Marni? Kapan? Kok Mami gak pernah cerita!" Murad berkerut kening terkejut sedang Eric hanya diam menyimak percakapan mereka setelah meminum minumannya.
"Sudah dari tiga hari yang lalu Raka minta izin melamar Marni, terus baru tadi pagi Marni bilang setuju, sekarang, malah begini kejadian nya." Jelas Irma memelas.
"Apa?!" Murad masih memperlihatkan keterkejutan nya sedang Eric sudah terlihat biasa saja, sebab sebelumnya pemuda itu memang pernah melihat live streaming afternoon kiss abangnya bersama Pinkan.
Murad terdiam sejenak tapi ingatannya kembali ke kejadian sore tadi, saat Raka memaksa memeluk Pinkan. Dan mungkin itu alasan Raka terlihat sangat marah pada gadis itu, bukan hanya kecewa di bohongi saja, tapi kecewa karena hubungannya sudah kandas sebelum berjalan.
Murad tersenyum mendengar penjelasan sang ayah, akhirnya bukan dia yang di jodohkan, tapi Raka "YES!" Ucap dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedang di tempat lain, Pinkan sudah bergulat dengan selimutnya, matanya memandangi layar ponsel di mana bayi mungil tersenyum ceria.
Rindu sudah pasti, dua Minggu lebih Pinkan selalu bersama Baby Zee, siang, malam, pagi, sore, membuka mata dan menutupnya bayi cantik itu selalu bersamanya, tapi sekarang harus terpisah begitu saja.
Dreeetttt dreeetttt.
Panggilan dari Tuan muda kejam terus mengganggu nya, dan ini sudah ke dua puluh kalinya Raka melayangkan panggilan telepon.
"Kenapa tidak kapok kapok, sudah aku reject berkali-kali juga, masih gatau malu!" Hardik Pinkan.
Gadis itu mendengus kasar lalu menggeser tombol hijau di layar ponselnya, menarik napas mengumpulkan tenaga untuk memarahi laki-laki yang siang tadi mencium bibir nya.
Setelah meletakkan ponsel ke telinganya gadis itu berteriak "TOLONG JANGAN GANGGU AK ......"
"Khai kha bhu bhu bhu.... emh emh...." Celotehan Baby Zee yang terdengar di benda pipih itu. Membuat gadis ini bergeming, mendengar kan suara merdu bayi itu dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan bibirnya mulai melengkung ke bawah, merindukan pemilik suara itu.
"Baby Zee, Tante kangen." Ucapnya yang hanya dalam hati saja.
"Maaf sudah mengganggu, tapi Baby Zee merindukan mu." Ucap Raka di seberang telepon lalu menutup panggilannya sepihak.
Pinkan memejamkan mata yang meleleh kan bulir bening, menghela napas berat, mencoba menekan rasa rindu yang semakin menjadi saat mendengar suara merdu bayi itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di seberang sana, Raka tersenyum, meski kali ini teriakkan Pinkan yang terdengar di benda pipih nya, tapi, itu sudah cukup mengobati rasa rindu nya. Lalu tangannya sibuk mengetik pesan teks pada nomor yang barusan ia telepon.
📨 "Sebenarnya bukan cuma Baby Zee yang merindukan mu, tapi Daddy nya juga, semoga mimpi indah bersama ku malam ini, semoga kita di pertemukan kembali, semoga kamu jodoh ku, semoga kamu tersiksa dalam rindu mu, semoga kamu selalu di bayangi wajah tampan ku, lalu datang sendiri menemui ku, semoga doa ku kali ini terkabul." Tulis nya dan langsung ia kirim. Senyum manis mengembang di bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung.......
Dukung author dengan Vote, Like, komen dan tekan tombol love nya.