Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Tujuh



"Ok, KTP mu, bisa tolong kasih liat." Pinta Raka.


"Oh! iya Tuan, bisa." Pinkan mengangguk kemudian meletakkan kembali Baby Zee yang anteng ke dalam ranjang bayinya dengan sangat hati-hati sedang Raka masih hanya menatap intens setiap gerak tubuh gadis seksi nun cantik itu.


Setelah itu Pinkan lantas membuka tas selempang miliknya dan mengambil KTP palsunya, yah tentu saja si jenius Pinkan sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.


"Ini Tuan." Pinkan menyodorkan KTP dengan nama Marni pada Raka, wajahnya masih menunduk.


Raka pun menerima dengan tatapan yang mengarah pada wajah gadis itu, terkesima, candu, yah, Raka di buat candu oleh kecantikan seorang Pinkan Arora, ingin terus menatap wajah cantik alami gadis itu "Marni." Ucap Raka setelah membaca nama di KTP yang ia pegang.


"Ok, kelihatannya putriku menyukai mu, jadi mulai hari ini, kau tinggal di kamar ini, bersama dengan putriku, dan ingat, jangan ketiduran saat putriku terbangun, kau hanya boleh tidur, jika putriku tidur, kau sudah tahu kan resiko pekerjaan mu?" Tanya Raka.


Pinkan mengangguk "Iya Tuan, saya mengerti." Jawabnya.


Raka mengangguk dengan mencebik kan bibirnya "Kalo begitu, kau lanjut lagi mengurus Baby Zee, mandikan Baby Zee, dan ajak dia berjemur di halaman belakang, hati-hati, jangan sampai ke kolam renang, di sana licin, dan ini nomor telepon ku, kamu perlu SMS ke nomor itu, aku harus tahu nomor telepon mu, sebab aku perlu mengawasi mu dari jauh, kau juga perlu menghubungi ku setiap ada apa-apa dengan putriku, mengerti!" Titahnya panjang lebar.


"Iya. Tuan, mengerti." Pinkan meraih kartu nama yang Raka sodorkan padanya.


"Langsung saja SMS kan nomor mu, sebelum memandikan baby Zee." Titah Raka lagi yang terkesan rewel bagi Pinkan.


"Iya baik Tuan!" Ucap Pinkan mencoba lebih bersabar lagi.


Setelah itu Raka melengos pergi meninggalkan kamar putri mungilnya, mempercayakan Baby Zee pada baby sitter barunya.


Sedang di tempatnya, Pinkan menghembus napas sambil terpejam, hampir saja jantungnya terlepas dari tempatnya, bayangan wajah Raka yang sangat tampan itu langsung bergumul di dalam pikirannya.


"Jadi itu yang namanya Raka? Si Tuan muda kejam itu? Sayang sekali wajah gantengnya." Pinkan sempat menatap punggung gagah lelaki itu keluar dari ruangan.


"Tapi kenapa aku cenut cenut begini yah?" Sekali lagi Pinkan menghela napas dan meletakkan tangannya ke belahan dadanya, uh, terasa kacau detak jantungnya "Jangan gila lu Pink, lu ke sini mau menjalankan misi, menculik baby nya Miska, kenapa jadi kebayang tu muka manusia kejam?"


Pinkan bermonolog terus bergulat dengan pikirannya sendiri.


"Emmh, emmhh, emmhh, ooo." Celotehan Baby Zee membuyarkan lamunan nya, kemudian Pinkan menoleh ke arah ranjang Baby berwarna pink itu.


"Eey, sayang, maaf kan Tante, sudah membuat mu menunggu. Ini gara-gara bapak mu yang kejam itu." Umpat Pinkan pada ayah dari bayi yang akan ia gendong.


Setelah mengangkat tubuh kecil Baby Zee, Pinkan membaringkannya di atas ranjang queen size di kamar itu, ranjang yang beberapa waktu lalu menjadi tempat Raka memangku nya.


"Ok sekarang kamu mandi yah Baby, Tante sudah belajar sedikit di video tutorial, tapi, gatau ni Tante akan berhasil gak mandiin kamu secara langsung! Jadi tolong kerjasama nya ya sayang, Ok, jangan rewel, tenang." Senda Pinkan pada Baby Zee dengan nada yang di buat menggemaskan sembari melucuti satu persatu pakaian Baby Zee.


Tertatih-tatih Pinkan memandikan Baby Zee, tentunya setelah mengirim pesan teks pada Raka terlebih dahulu, seperti yang Raka titah kan padanya, saat di mandikan Baby Zee sempat nyelonong, terlepas dari tangannya, tapi masih terkondisi, yah, Pinkan memang terkenal jenius, cepat tanggap dalam melakukan hal apapun, satu dua kali saja, Pinkan pasti akan terbiasa, dan entah kenapa, Baby Zee nurut, tak rewel sedikit pun, padahal biasanya setiap bertemu dengan orang baru, rewel, jodoh? Mungkin!


Meski tertatih lagi-lagi Pinkan berhasil memakaikan satu stell pakaian gemas ke tubuh mungil Baby Zee.


"Tadaaa, sudah siap, makin cantik saja ponakan Tante, uuh lucunya, ulu ulu ulu, gumushh!" Celoteh Pinkan tersenyum gemas. Dan agaknya Baby Zee sudah sangat menyukainya, terlihat bayi itu terus mengoceh mengajak Pinkan berbicara.


Setelah rapih, baby Zee di ajak berjemur di taman belakang, Pinkan sempat kesasar, tapi, ada beberapa asisten rumah tangga yang menunjukkan jalan padanya, hingga akhirnya bisa juga ia duduk di bangku taman yang di penuhi bunga bunga, udara pagi hari di rumah itu terasa segar, karena letaknya yang di tengah tengah persawahan, jarang ada polusi.


"Huuhh, sebegini cantiknya kamu Baby Zee, Miska pasti merindukan mu." Pinkan berujar dengan tatapan yang melekat pada wajah cantik bayi mungil itu. Semoga saja misinya berhasil, harapan dalam doanya.


Klik!


Satu pesan teks di terima dan itu nomor Raka yang ia namai Tuan muda kejam di ponselnya.


📥 Apa kamu sudah baca catatan dari Ismi? Ingat. Setiap jam makan siang, Baby Zee harus menemani makan siang ku." Pesan Raka.


📥 Oya, ada body guard yang akan mengawasi mu, jangan coba-coba macam macam dengan putri ku! Jangan jadi Baby sitter yang menganiaya anak majikannya seperti di film film, paham!" Pesan Raka lagi menyusul.


"Apa? Jadi aku harus pergi ke kantor nya? Ikut menemani nya makan siang?" Kejut Pinkan dengan mata yang membulat sempurna.


"Gila apa? Gue Baby sitter nya apa isterinya? Dasar cowok kejam banyak maunya!" Hardiknya.


"Tadi aja gue klepek klepek, gimana kalo terus menerus ketemu? Bisa bisa jatuh cinta gue sama bapaknya Baby Zee yang kejam itu!" Gerutunya kesal, takut, panik, bercampur menjadi satu.


"Ekm ekm!" Suara dahaman dari seorang pemuda membuatnya reflek menoleh ke arah nya.



Pinkan sendiri tak tahu sejak kapan Murat berdiri di belakang tubuhnya.


"Hah? Tu Tuan!" Pinkan sudah akan berdiri tapi pemuda itu menyuruhnya duduk kembali.


"Duduk saja, gak papa." Ucap Murat seraya berjalan memutari bangku dan duduk di sebelah gadis itu.


Senyum manis Murat berikan pada gadis itu, sebelumnya mereka memang sudah pernah bertemu, jadi, sudah saling mengenal satu sama lain "Jadi mulai hari ini, kamu bekerja di sini? Tinggal di sini?" Tanyanya.


"Sepertinya begitu, tapi gue janji gak kan lama, setelah ada kesempatan gue akan langsung pergi bawa baby Zee." Batin Pinkan.


Pinkan mengangguk "Iya Tuan muda." Jawabnya.


"Senang bisa satu atap dengan mu!" Ucap pemuda itu terlihat sangat bahagia, senyum manis nya masih mengacaukan konsentrasi gadis cantik ini.


"Kenapa harus ganteng ganteng banget, penghuni rumah ini? Jadi gak rela pergi." Batin Pinkan dengan tatapan memelas.


Ocehan Baby Zee mulai menarik perhatian keduanya, mereka duduk berdampingan menoel noel pipi lembut baby Zee, bak pasangan suami istri yang sedang menimang buah hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.....