Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
S2/Chapter 15 (Perjodohan)



Temukan dia untukku......


^^^Pulangkan dia padaku......^^^


Tunjukkan jalan padanya......


^^^Bahwa ku tetap di sini.... untuknya....^^^


Berharap dia kembali pulang.....


^^^Penantian ini teramat lah panjang....^^^


Coba kau rasakan sayang letih ku di ujung jalan.......


^^^Dia menghilang membawa semua kenangan........^^^


Terindah yang ku rasakan saat bersamanya sayang.........


Britania raya.


Eric tengah merebahkan diri menatap jendela besar yang menyuguhkan pemandangan indah saat turunnya hujan salju sambil di iringi lagu yang sering sekali dia putar setelah perpisahan nya dengan Lidya satu tahun yang lalu.


Lidya seolah menghilang tak berjejak, sosial media, nomor telepon, tak bisa Eric hubungi.


Mungkin Lidya benar-benar tak pernah membutuhkan dirinya, Lidya benar-benar tak pernah ada rasa padanya.


Sementara sampai saat ini, Eric masih belum bisa melupakan cinta pertama nya, yah, Lidya perenggut cinta pertama juga ciuman pertama.


Eric sering linglung saat memimpikan pertemuan dengan pujaan hatinya. Senyum manis Lidya begitu impresif hingga tak sesaat pun luput dari kedipan matanya.


Acap kali wanita lain merayunya, tapi selalu Eric tolak mentah-mentah.


Tin-Tin....


Dering pesan teks dari ponsel miliknya berbunyi, Eric dengan lemah membuka pesan dari sang ayah.


📩 "Setelah pulang nanti, Papi mau menjodohkan mu, gimana? Apa kamu mau?"


Eric tersenyum, entah lah, pikirannya langsung mengarah kepada Lidya, bukan kah dulu Baskara ingin menjodohkan Eric dengan Lidya? Apakah ini akhir dari kisah mereka? Apakah Baskara berusaha menyatukan dirinya dengan Lidya seperti Raka dan Pinkan?


📨 "Yah Pi, Eric mau. Atur saja pertemuan nya, Eric segera kembali. Eric tinggal menunggu sertifikat saja." Balasnya.


📩 "Ok, Papi atur pertemuan nya, kamu hati-hati sayang."


Eric tersenyum sumringah sambil melompat lompat di sofa ruang tamu apartemen miliknya "Lidya, i'm coming!!" Teriaknya.


"Tuan muda kenapa?" Arya bertanya pada Eric, dia asisten personal pemuda tampan itu.


"Gue mau nikah Ya! Sama pacar pertama gue!" Jawab Eric kegirangan wajah sendunya berubah ceria hanya dalam waktu sekejap saja.


Arya ikut tersenyum melihat Eric bahagia, selama satu tahun ini Eric jarang sekali tersenyum. Rupanya berita perjodohan lah yang ingin pemuda itu dengar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Surakarta,


Dalam kamar yang berdominasi warna merah dengan karakter Mikey mouse, Rahmat mendekati putrinya yang kini menelungkup sendu pada bantal karakter yang juga Mikey mouse.


Rahmat duduk di sisi ranjang kemudian mengelus lembut puncak kepala gadis itu "Lidya," Panggil nya.


Lidya menoleh lalu membetulkan posisinya hingga duduk berhadapan dengan sang ayah "Iya Yah, kenapa?" Tanyanya.


"Ayah, mau menjodohkan mu, gimana? Apa kamu bersedia? Semua ini demi masa depan mu, kamu pasti bahagia menikah dengan atasan Ayah." Ujar Rahmat tanpa basa-basi.


Sontak Lidya tersenyum, entah pula, kenapa pikirannya mengarah kepada Eric, bukan kah dulu Baskara ingin menjodohkan nya dengan Eric? Mungkin yang di maksud atasan ini Tuan Baskara.


"Kamu kok senyum? Kamu setuju gak?" Tanya Rahmat lagi "Kalo kamu menolak, Ayah tidak apa-apa." Susul nya.


"Lidya sih mau liat orang nya dulu Yah, boleh kan? Lidya mau mengenal dulu." Lidya menunduk sambil tersenyum malu-malu.


"Iya, Ayah atur pertemuan nya, kamu siap-siap saja Minggu depan, semoga anak Ayah cepat menikah, Ayah mau kamu menikah muda, biar tidak seperti Ayah yang sudah tua tapi anak pertama Ayah masih sangat muda begini." Tutur Rahmat dengan harap.


Lidya mengangguk sambil tersenyum "Iya Yah." Jawabnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu minggu kemudian,


Eric baru saja turun dari pesawat, berbalut pakaian mahal pemuda itu menarik koper miliknya menuju lobby dan teriakan Tito terdengar sangat keras di sana.


"Woy! Jagoan manja!" Sapa Tito berlari mendekat dengan senyum rindunya. Tito memang hanya melanjutkan S2 Indonesia saja.


Eric meninggalkan koper di depan Arya kemudian berlari menerjang tubuh sahabatnya "To! Gue kangen To! Huaaa! Sialan Lu, setahun gue ga balik, kenapa lu ga main hah!" Pekiknya.


"Gue juga sibuk kali, kan udah punya pacar serius sekarang gue! Hehe!" Sambung Tito nyengir.


Eric merangkul bahu sahabatnya "Ok, sekarang kita langsung ke restoran, Papi sudah menunggu." Antusias nya.


"Lu serius mau terima perjodohan ini? Lu yakin Ric?" Sambung Tito.


Eric mengangguk "Yah, serius, gue mantap menikahi Lidya. Lu tau kan gue masih belum bisa lupain dia." Katanya.


"Semoga saja Lidya jodoh mu." Jawab pemuda itu. Tito seperti tak percaya jika gadis yang di jodohkan adalah Lidya, apakah mungkin Baskara mau menjodohkan putranya dengan anak dari kepala cabang? Jika sampai terjadi perjodohan minimal dengan koleganya bukan?


Akan tetapi, Tito lebih memilih diam untuk menenangkan pikiran Eric yang sudah terlihat sangat antusias. Setelah sekian lama Tito baru melihat ekspresi girang sahabatnya.


Keduanya memasuki mobil lalu bergegas pergi menuju restoran fine dining yang di pesan Baskara. Sepanjang perjalanan Tito dan Eric tertawa renyah meluapkan kerinduan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setibanya di restoran, semua orang sudah berjejer duduk di masing-masing kursinya, dan seberapa pun mata Eric berkeliling tetap saja Lidya tak terlihat di salah satu kursinya.


"Sayang, ..." Irma menyambut kedatangan putranya dengan bahagia. Kemudian setelah itu satu persatu keluarga mereka memeluk Eric sambil melontarkan kata sambutan dan ucapan selamat atas gelar S2 nya.


"Jadi di mana yang mau di jodohin sama Eric? Katanya Papi atur pertemuan di sini?" Tanya Eric seperti tidak sabar. Wajah Eric berbinar membuatnya semakin terlihat sangat tampan.


"Duduk lah dulu, sebentar lagi calon istri mu datang. Dia sangat cantik, juga seksi, seperti yang kamu mau." Baskara berbisik di telinga putranya.


Eric manggut-manggut sambil tersenyum kemudian duduk di sisi ayahnya "Terimakasih Pi, Papi tau ajah kesukaan Eric." Pemuda itu menepuk punggung ayahnya seperti seorang sahabat.


Baskara tergelak renyah.


Yang lain hanya geleng-geleng melihat kelakuan anak dan bapak itu, hingga pada saatnya tiba, seorang pria paru baya menggandeng putri cantik nan seksi nya menuju meja VVIP tersebut.


Baskara berdiri menyambut kawannya "Dicky, silahkan duduk. Putraku sudah tidak sabar bertemu dengan putri mu." Ucapnya.


"Alah, Rinda juga sama, tidak sabar bertemu putra mu!" Balas Dicky seraya tergelak.


Eric sendiri berkerut kening menatap ayahnya dengan bingung "Pi, ..." Pemuda itu berbisik di telinga ayahnya "Siapa mereka? Lidya nya mana?" Tanyanya.


"Hmm?" Baskara menatap hening putranya sejenak "Lidya?" Tanyanya setelah itu.


"Iya, bukanya Papi bilang mau jodohin Eric sama Lidya? Kenapa sama cewek ini?" Ketus Eric berbisik.


"Kamu sendiri yang bilang mau yang seksi cantik, paket lengkap, ini Papi cariin yang sesuai kriteria mu! Dicky juga akan ikut bekerja sama di perusahaan anakan yang akan kamu pimpin." Sambung Baskara, sepertinya nada Baskara sudah mulai geram, sebenarnya apa mau putranya kadang mau kadang tidak, sangat labil.


"Bukan yang ini, Eric suka Lidya, Eric cuma mau menikahi dia! Bukan gadis lain." Di mata Eric gadis kriteria idealnya sudah terarah pada sekujur tubuh Lidya saja.


"Ric!!" Baskara menatap putranya yang beranjak dari duduk "Eric, sayang." Panggil nya. Rupanya putra bungsu kesayangannya pergi ngeluyur begitu saja setelah mengetahui bukan Lidya gadis yang menjadi jodohnya.


"Eric,..." Irma dan yang lain juga terkejut dengan kelakuan bungsu.


"Kenapa Bas? Kenapa putra mu pergi? Apa dia menolak? Apa putri ku kurang cantik?" Dicky dengan cepat langsung mengambil kesimpulan.


Sementara gadis itu sudah berwajah sendu melihat Eric pergi dengan acuhnya, harga dirinya seperti di obrak-abrik setelah melihat ekspresi penolakan pemuda tampan itu. Bayangan indah saat pertemuan dengan bungsu Baskara hilang seketika, rupanya Eric tak sesuai ekspektasi nya. Di tolak! Bahkan sebelum memperkenalkan diri.


"Pah..." Rengek nya pada sang ayah sendu.


"Kamu bilang putra mu setuju! Lalu apa ini Bas? Putra mu membuat putri ku patah hati!" Berang Dicky sambil merangkul putrinya.


"Maaf, maafkan kelancangan putra ku, sepertinya Eric sedang tidak enak badan, maklum, kamu kan tahu dia baru tiba di Indonesia." Sanggah Baskara.


Namun. Dicky masih tidak habis pikir, ada pemuda yang menolak putri cantiknya.


Baskara sekeluarga lantas bergantian mengucapkan maaf pada Dicky dan putrinya, atas perlakuan Eric yang terkesan tidak sopan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiba di luar Tito sudah berdiri bersandar di sisi mobil "Gimana Ric?" Tanyanya.


"Kita cabut ajah!" Eric tak mengatakan apa-apa lagi, hanya sendu yang tertampil di wajah tampan nya sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Surakarta,


Lidya juga tercengang saat melihat pria yang di jodohkan bukan lah Eric, tapi pemuda bernama Rangga, yaitu putra dari atasan Rahmat yang datang dari kota Semarang.


Pemuda tampan itu memang sudah menyukai Lidya saat tak sengaja bertemu di salah satu pesta pernikahan.


Rupanya Rahmat teman ayahnya memiliki gadis yang sangat cantik dan Rangga jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Jadi gimana nak? Apa kamu bersedia menikah dengan Rangga?" Tanya Bayu ayah Rangga.


"Lidya, ...." Gadis itu bingung, sejujurnya sampai detik ini perasaannya masih hanya untuk Eric saja, Lidya berharap Eric masih akan menemuinya meskipun dia sudah tidak lagi menghubungi.


Jika benar Eric mencarinya setelah pulang dari Inggris, berarti Eric benar-benar tulus padanya, tapi rupanya kenyataan pahit ini harus Lidya cecap. Apakah mungkin pemuda tampan nan kaya raya masih akan mencarinya? "Bodoh!" Umpat nya dalam batin.


"Gimana Lidya? Om Bayu menunggu jawaban mu." Timpal Rahmat menepuk pundak gadis itu.


"Iya nak, jawab saja, tidak usah ragu-ragu." Imbuh ibu Lidya.


Gadis itu sempat terdiam tapi kemudian menatap wajah ayah ibunya secara bergantian "Lidya terserah Ayah sama Ibu saja, Lidya menurut." Ucapnya.


Tidak mungkin menolak karena sudah sejauh ini, Lidya juga bukan gadis yang mampu menolak keinginan ayahnya. Lidya menerima meskipun tidak ada sedikitpun rasa pada pemuda itu.


Mungkin, seiring berjalannya waktu cinta tumbuh dengan sendirinya. Lidya akan mencoba memulai hidup baru bersama pemuda pilihan ayahnya. Melupakan Eric mantan kekasih terindah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jakarta, tiga bulan kemudian.


Pagi ini, Eric menuruni anak tangga menuju meja makan panjang. Di sana, Hayu tengah menyuapi putrinya sambil sesekali menyuapi suaminya juga. Wanita itu sudah bahagia sekarang setelah lahirnya sang buah hati cinta Murad semakin bertambah besar padanya.


"Cepetan makannya Daddy, katanya kita mau langsung pulang kampung?" Rengek Hayu dengan bibir mengerucut.


"Emm. Aku siap-siap sekarang deh, kamu tunggu di sini." Ujar Murad lalu mengecup lembut kening isterinya sebelum kemudian pergi menaiki anak tangga menuju kamar miliknya.


Eric tertarik saat Hayu mengatakan pulang kampung, bukan kah kampung Hayu dan Lidya sama?


Pemuda itu berjalan mendekati Kakak iparnya "Kakak ada acara apa pulang kampung?" Tanyanya. Biasanya Hayu memang pulang jika saudaranya ada yang membuat acara.


Hayu menoleh "Kamu ga tau? Lidya kan mau menikah!" Jawabnya polos.


Eric tersentak hingga melotot sudah mata bulatnya "Apa? Menikah? Lidya? Lidya nya pak Rahmat?" Tanyanya mencecar.


Hayu mengangguk "Iya, bukanya kamu sahabatnya?" Polosnya.


"Mana? Mana undangan atau informasi nya? Eric boleh kan tahu?" Cecar Eric gusar. Ada sebagian tubuh yang kebas ketika mendengar berita itu.


Meski bingung, Hayu tetap meraih ponselnya dan memberikan undangan pernikahan yang di kirim lewat sosial media pada Eric.


"Ini, ..." Tunjuk nya.


Eric melihat sosial media Lidya yang masih aktif, rupanya hanya dia yang di blokir dari pertemanan, buktinya Hayu masih bisa melihat log aktivitas Lidya baru-baru ini.


Aliran darah mendidih seketika itu juga saat melihat foto prewedding Lidya bersama laki-laki lain "Kapan acaranya?" Tanyanya tanpa menoleh.


"Kayaknya besok malam ijab kabul nya." Kata Hayu.


Mendengar itu Eric bergegas menaiki anak tangga kemudian mengambil beberapa keperluan yang dia butuhkan untuk melakukan perjalanan ke luar kota dari dalam kamarnya.


Tergesa-gesa Eric menuruni anak tangga kembali, lalu berlari menuju pintu masuk utama, teriakan Irma dan Baskara tidak ia hiraukan.


Eric terus berlari hingga sosok gagah asisten personal nya tampak di netra indahnya "Ya, sekarang kita ke bandara, kamu pesan tiket ke Boyolali. Segera!" Titahnya.


Arya masih bingung tapi tetap menurut, segera pria itu memasuki mobil milik tuan mudanya kemudian bergegas melakukan permintaan Eric.


Memesan tiket penerbangan, beruntung ini masih pagi, mungkin masih terkejar untuk mengikuti penerbangan di jam sembilan nanti.


Eric mengambil alih kemudi dan bergegas keluar dari mansion ayahnya, sempat ia cekcok dengan Baskara setelah penolakan perjodohan, karena putri Dicky menjadi patah hati, padahal perusahaan Dicky sangat berjasa pada perusahaan yang akan Eric kelola. Putra Baskara ada tiga maka sekarang Baskara fokus membagi anak-anak perusahaannya.


Dulu Baskara hanya menggoda saja saat mengatakan ingin menjodohkannya dengan Lidya rupanya memang benar ucapan adalah doa, Eric sekarang menjadi tergila-gila pada Lidya.


"Ada tiket, Tuan muda. Tapi pesawat biasa juga bukan bisnis class, apa, ..."


"Apa pun itu, asal kita bisa cepat sampai ke Boyolali, pesan saja!" Sergah Eric memangkas ucapan asisten nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.....