
Di restoran fine dining, Hardian dan Tito berjalan beriringan menuju meja ruang VVIP yaitu Meja yang sudah sengaja di received oleh Baskara, sesampainya di sana, Tito mengerutkan kening saat melihat seseorang yang sangat ia kenal duduk di salah satu kursi, di mana meja yang ia tuju terletak.
"Eric!" Sapa pemuda itu pada teman satu kelasnya membuat Eric menoleh padanya, karena kebetulan hari ini sekolah mereka masih dalam masa classmeeting, jadi ayah mereka sekalian mengajak pemuda pemuda itu makan siang.
"Tito!" Panggil Irma, Baskara, Murad dan Raka bersamaan, menatap ke arah yang sama, yaitu Tito Vilanova, mereka memang sudah sangat mengenal pemuda itu.
"Loh, kok Eric di sini?" Hardian juga bingung, melihat teman putranya duduk di sebelah Baskara.
"Jadi Tito ini siapa kamu Yan?" Baskara memastikan, karena sudah tidak asing lagi dengan wajah Tito yang sering bolak-balik ke rumah besar nya.
"Putra bungsu ku, adik Pinkan." Jawab Hardian terkekeh.
"Ya salam, jadi selama ini Tito sering main, tapi aku sendiri gak tau kalo dia anak mu." Kelakar Baskara menggeleng.
"Gak papa Om, lagian Tito emang jarang jawab jujur kalo di tanya anaknya siapa, takut di jadiin bahan ledekan." Tito terkikik.
"Sama, Eric juga, pasti di bedakan sama orang tua temen-temen Eric kalo tahu Eric tuan muda tampan nya pak Baskara Lindu, pemilik perusahaan Key-food group, Eric mau di kenal sebagai diri sendiri tanpa embel-embel dari Key-food group." Sambung Eric.
Setelah saling bersapa ria, mendengar kelakaran pemuda-pemuda itu, Baskara mempersilahkan Hardian dan Tito duduk di salah satu kursi VVIP nya. Untuk sejenak mereka berbagi cerita, dan saling memperkenalkan keluarga masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain yang tak jauh dari sana, suara hentakan anggun dari sepatu heels milik dua wanita cantik berwajah bule terdengar mendekat, siapa lagi jika bukan Pinkan dan juga Marta yang sama-sama memakai gaun indah rancangan Marta sendiri.
Gaun selutut pas body dan kerah yang terbuka membuat Pinkan lebih memilih membalutnya dengan blazer putih. Tapi tetap saja jika sudah bicara bagian depan tubuhnya, Pinkan tak bisa menyembunyikan buah kembar nun besarnya.
Beberapa meter dari meja VVIP, Pinkan menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang sangat ia kenal duduk melingkar dengan Tito dan juga ayahnya.
"Raka!" Pinkan terperanjat, keningnya mengerut menatap nyalang Raka dari jarak yang lumayan sedang itu "Kenapa Nyonya Irma dan ketiga putranya di sini? Kenapa Nyonya Irma duduk di sebelah Om Bas?" Batinnya.
"Tidak tidak, tidak mungkin." Pinkan menggeleng mencoba menepis pikiran menakutkan nya tapi, masuk akal jika Baskara ayah dari Raka, karena mereka terlihat sangat mirip "Ah sial, jadi Tuan muda yang di maksud Mamah itu salah satu dari putra nya Nyonya Irma? Kenapa bisa kebetulan begini Tuhan?" Batinnya menyusul.
"Pinkan, kamu kenapa melamun sayang? Ayok, Papah sudah menunggu tu!" Ajak Marta memaksa putrinya berjalan kembali, sebab sejatinya Marta belum mengetahui apapun tentang hubungan putrinya dengan keluarga Baskara selama ini.
Sekuat tenaga Pinkan mengumpulkan keberanian melanjutkan langkah menuju meja VVIP tersebut. Terlihat Raka sudah tersenyum sangat manis memberikan sambutan hangat padanya. Sedang Eric dan Murad masih menatapnya bingung, sama halnya dengan Pinkan yang masih kebingungan, kenapa mereka harus di pertemukan dengan cara seperti ini??
"Pinkan!" Raka beranjak dari duduknya menyambut kedua wanita itu lalu mengajak bersalaman. Sedang Pinkan hanya membalasnya dengan tatapan yang menusuk, bibirnya pun mengatup.
"Loh, kok kalian sudah kenal?" Hardian dibuat bingung sekali lagi, begitu juga dengan Marta, karena sepertinya pria tampan yang menyapa putrinya adalah salah satu Tuan muda Baskara.
"Tentu saja kenal, Pingkan ini kekasih ku!" Jawab Raka Cyril tanpa ragu, bibirnya tersenyum sangat manis, tapi Pinkan masih tak mau membuka suara di hadapan lelaki itu.
"Benarkah? Apa benar begitu Pink? Kok kamu gak pernah cerita sama Mamah?" Marta memastikan penasaran tapi belum sempat Pinkan menjawab Baskara sudah mempersilahkan semua orang duduk.
"Duduk saja dulu Pinkan, Nyonya, mari mari Yan, kita mulai pesan makanan, baru setelah itu, kita bincang santai lagi." Ajaknya.
Semua orang pun duduk di kursinya masing-masing, Pinkan duduk bersebelahan dengan Raka, kemudian satu persatu mereka memesan makanan sebab sudah waktunya jam makan siang, lalu langsung menikmati makan siang bersama nya tanpa ada yang membuka obrolan serius, yah, hanya obrolan ringan saja yang di bahas saat makan, termasuk membicarakan status Raka yang sudah duda beranak satu.
Marta dan Hardian sih setuju saja asal dengan Tuan muda nya Baskara, mau duda mau perjaka, mereka yakin, menjadi menantu Baskara hidup Pinkan terjamin bahagia.
Bibir Raka terus menerus tersenyum matanya menatap lekat wajah Pinkan yang terlihat sangat cantik dengan gaun hitam nya, rambut kriwil kecoklatan nya terurai, bagi Raka nyata dengan mimpi Pinkan sama-sama terlihat cantik.
Sedang Pinkan Eric dan Murad, ketiganya masih bergulat dengan pikirannya masing-masing. Pinkan sendiri masih tidak mau menatap ke arah tiga Tuan muda putra Baskara.
"Jadi, maksud dan tujuan Om, mengajak makan siang bersama kali ini, mau menanyakan sesuatu padamu Pinkan, dengan persetujuan Tante Irma, dan kemauan Raka, Om berniat mengunduh mu menjadi menantu Om, lalu, bagaimana dengan Pinkan sendiri? Bersedia menerima kah? Atau bagaimana? Om mau dengar jawaban dari mu langsung." Ujar Baskara mengutarakan maksud tujuannya setelah semua orang selesai menikmati makan siangnya.
Raka sedikit menampilkan wajah protes dengan ucapan ayahnya "Papi ngapain nanya begitu sih? Terancam di tolak ini mah!" Batinnya.
Berbanding terbalik dengan Murad yang membulatkan matanya, tersentak ketika mendengar ujaran sang ayah "Jadi cewek yang selama ini Papi bicarakan Marni?" Batinnya, menyesal, kenapa kemarin harus bersikap seolah olah tak menginginkan perjodohan ini.
"Pink, Om Bas menunggu jawaban mu loh!" Marta mengelus lembut lengan putrinya. Sedang Pinkan masih sibuk menurunkan pandangan nya. Dilema.
"Iya Pinkan, kami menunggu jawaban mu. Sejujurnya, Tante masih berharap kamu mau menjadi ibu sambung Baby Zee." Timpal Irma berharap banyak.
"Pinkan, ...." Baru saja gadis itu mau menjawab, seseorang tiba-tiba saja muncul yang entah dari mana datangnya.
"Pinkan!"
"Miska!"
Pinkan beranjak dari duduknya lalu tersenyum gugup pada wanita itu, situasi ini pasti akan membuat Miska salah paham, Pinkan tidak ingin di cap sebagai penghianat.
Melihat kedatangan Miska semua orang berdiri.
Miska tersenyum miring menatap tubuh Pinkan dari atas hingga bawah yang terlihat sangat seksi "Oh, jadi begini Pink? Lu yang katanya mau nolongin gue, malah nusuk gue dari belakang? Air mata gue bahkan belum kering menangisi perceraian, tapi kalian enak enakan lunch di sini?" Rutuk nya. Raka benar-benar sudah muak dengan perempuan satu ini.
"Kalian sedang membicarakan apa di sini? Apakah pernikahan? Apa kalian akan menikah? Jadi lu mau ngambil Raka dan bayi gue Pink? Teman macam apa lu Pinkan!" Miska histeris, menangis.
"MISKA!" Sentak Raka lengkap dengan rahang yang tegas, sayangnya di antara mereka ada calon mertuanya, jadi tak mungkin bagi Raka berkata kasar atau pun menyeret wanita itu.
"Gue udah curiga, makannya gue sengaja ngikutin elu sampe ke sini. Gak sangka lu tega sama gue Pink!"
"Dengerin dulu Mis. Sumpah ini bukan seperti yang lu pikir Mis, gue beneran gak tau kalo ..."
PLAK!
Miska menatap tajam wajah Pinkan yang kini menunduk sambil mengelus pipi yang kian memerah karena tamparan keras darinya, membuat semua orang terkesiap melihat adegan itu, melihat itu, Tito, Eric dan Murad sudah pasti mengepalkan tangannya, jika bukan perempuan mungkin sudah mereka balas.
PLAK!
Marta membalas tamparan di pipi kiri Miska, bibir nya mengatup geram "Beraninya kamu menampar putriku!" Bentak nya seraya melotot, wanita itu tak terima putrinya di sakiti orang lain. Tadinya Raka sudah akan maju tapi Marta lebih dulu sampai dan membalasnya.
"Siapa kamu hah? Aku ibunya sudah hampir dua puluh satu tahun, tidak pernah sekalipun mencubit apa lagi sampai menampar! Apa kau tau Miska? Bahkan nyamuk saja tidak ku biarkan menyentuh nya!!" Histeris Marta. Miska tertunduk, malu, karena di posisinya yang takkan mungkin mendapat pembelaan.
"Sudah Mah, sudah, malu di lihat orang." Hardian menengahi.
Raka menjentikkan jarinya memanggil pengawal yang bersiaga di sudut tempat itu sedang Baskara tampak mengirim pesan pada owner restoran tersebut, menyampaikan keluhannya, kenapa bisa sampai ada orang yang masuk ke dalam ruangan yang sudah ia pesan khusus.
Dan dua pengawal berbadan kekar dengan sigap mengapit tubuh Miska "Ikut kami." Ajaknya memaksa.
"Lepas!" Miska meronta tapi tenaga yang hanya seberapa itu takkan mungkin bisa melawan kedua pria berbadan besar, hingga kini Miska berlalu menghilang dari pandangan.
Marta lantas memeluk putrinya yang masih menunduk menangis, dan Pinkan tersedu dalam dekapan hangat ibunya, dekapan yang selama ini menjadi pemenang di setiap kelu kesah nya, sedih sudah pasti teramat sangat, tiba-tiba saja orang yang ia anggap sahabat ternyata bisa setega itu menamparnya di hadapan banyak orang tanpa mendengar terlebih dahulu penjelasan darinya.
"Hiks hiks."
Semua orang di sekitar sana tak tahu harus berbuat apa, termasuk Baskara dan Irma yang hanya bisa menatap Pinkan iba. Jika bicara siapa yang salah, lalu siapa yang harus di salahkan? Karena dalam kasus ini, Raka juga ikut bersalah, meskipun pada akhirnya hubungan tanpa adanya cinta lebih baik di putus saja.
"Pinkan."
Suara berat syahdu mengalun indah di telinga Pinkan yang masih menenggelamkan wajahnya di dada ibunya, Raka mencondongkan tubuhnya, mendekat pada wajah gadis itu, berusaha melihat raut kecewanya, tapi dengan cepat Pinkan mendorong dada kerasnya.
"Pergi kamu!"
"Semua ini terjadi gara-gara kamu! Menjauh dari ku! Mulai sekarang, tolong jangan ganggu aku lagi!" Pekik Pinkan dengan tatapan yang menusuk. Pandangannya lalu beralih ke arah Baskara yang kini bergeming bersamaan dengan Hardian dan Irma.
"Pinkan sudah bisa menjawab pertanyaan Om sekarang, Pinkan, menolak perjodohan ini!" Ungkapnya lantang, dan berhasil membuat Raka mengerutkan keningnya.
"Dari pada menjodohkannya dengan ku, lebih baik Om bujuk putra Om rujuk kembali bersama ibu dari cucu Om! Baby Zee pasti sangat senang memiliki orang tua kandung yang lengkap!" Susul nya lalu semua orang terdiam.
Kemudian dengan wajah sendunya gadis itu melengos pergi sambil mengusap air mata di pipinya kasar.
"Pinkan, ..." Raka membegal jalannya.
tatapan matanya mulai sendu "Masih bisa kita bicarakan baik-baik bukan?" Tanyanya lirih.
"Minggir! Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi! Aku membenci mu! Sangat sangat membenci mu!" Pinkan menyeka air mata dengan punggung tangannya sembari berlari pergi setelah mengucapkan itu di hadapan Raka.
Sementara Raka tampak memejamkan matanya, menelan saliva, ada rasa sesak di dadanya kala mendengar kalimat Pinkan barusan dan entah sejak kapan sakit ini sering sekali terasa.
"Pilihannya hanya dua, memaksa mu, atau melepaskan mu, karena aku takkan pernah mengemis cinta mu, aku laki-laki Pinkan!" Batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Ini baru masuk konflik, jadi jangan pada kecewa yaa, kan hidup emang suka banyak masalah.🤭 terimakasih like nya😁 Semoga sabar menunggu saat saat kebucinan mulai merasuk🤗