
Di atas bukit nan jauh.....
Bukan! Ini bukan kisah Teletubbies, ini kisah pemuda tampan nan rupawan yang harus rela berkeringat, mengemban tas berat, menaiki gunung.
Hal yang tidak pernah sama sekali ia lakukan sebelumnya, Eric tengah merebahkan tubuhnya pada akar kayu dari pohon besar. Dadanya berkembang kempis sambil memejamkan mata ia mengatur napas.
Pohon rindang menjadi tempat bernaung bagi mata yang mulai bosan terkena terik matahari di siang bolong melompong.
Keringat bercucuran, yang mengembun di semua bentukannya, hidung, pelipis, dahi, bahkan di bawah bibir sensualnya pun seksi.
"Ni gigit!" Suara itu lumayan membuat Eric beringsut dari zona nyamannya, di lirik nya Lidya menawarkan satu butir gula merah padanya.
"Apaan tuh?" Ketus Eric mengernyit.
"Gula merah bagus buat mengembalikan kadar gula rendah lu! Setelah capek mendaki!" Ujar gadis itu.
"Ogah!" Eric memalingkan wajahnya ke arah lain "Dari kecil gue ga suka gula sejenis itu!" Tolaknya.
"Ya udah." Lidya duduk di sebelah Eric kemudian menggigit gula berukuran sedang itu hingga membuat bekas gigitan di sana.
Pemuda itu melirik, Eric justru tergiur setelah gula itu sudah bercap gigi gingsul Lidya "Gue mau deh!" Rebut nya tanpa permisi.
Lidya mengernyit "Tadi ga mau! Itu udah bekas gue! Jangan!" Rebut nya lagi tapi Eric mengacungkan tangannya ke atas.
"Gue mau!" Ketus Eric sambil menatap ke bawah melototi Lidya.
"Iya tapi, ..."
Tak sempat ragu lagi, Eric langsung memakan gula itu tepat di bekas gigitan Lidya, acuh, bahkan terlihat menikmati nya, padahal sebelumnya dia paling anti makanan manis.
"Ih, Eric! Lu ga jijik? Itu bekas gue!" Pekik Lidya.
"Bodo amat!"
Lidya menaikan ujung bibirnya lalu beranjak dari duduk, gadis itu meraih tenda yang ia bawa dari tas miliknya kemudian berusaha mendirikannya.
"Biar Om bantu!" Arjuna menyingsing lengan bajunya lalu membantu Lidya mendirikan tenda setelah mendapat anggukan kecil dan senyum manis gadis itu.
"Duh, udah ganteng, baik lagi, lembut, huuff, gue mau deh biar kata Om Om." Lidya menatap lekat wajah Arjuna penuh damba.
Entahlah, semua kriteria pria idaman Lidya seolah melekat pada Arjuna. Tinggi, putih, mancung, bibir manis. Dewasa yang pasti.
Sementara di sudut sana masih ada Eric yang menaikan ujung bibirnya menatap tak suka pada Lidya dan Arjuna "Giliran sama Juna ajah senyum-senyum lu, sama gue, jutek melulu lu!" Gerutunya.
Setelah selesai mendirikan tenda, Eric Arjuna dan Lidya beristirahat sejenak, mereka makan siang juga mengobrol bercanda gurau bersama, Lidya sangat nyambung saat Arjuna melontarkan percakapan receh padanya begitu juga sebaliknya, Arjuna menyukai sikap terbuka Lidya yang menurutnya berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui, sepertinya Arjuna sudah benar-benar jatuh hati pada Lidya dalam waktu sekejap saja.
Di buat candu oleh senyum dan wajah cantik alami gadis itu, meski Lidya tak sebohay wanita-wanita yang pernah bersamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari sudah sore, pada akhirnya mereka mulai melanjutkan perjalanan menuju puncak, berbondong-bondong memburu atraksi geologi yang sangat indah di atas sana, yaitu peristiwa eksotis saat terbenam nya matahari.
Eric masih mengeluh tapi terus mengikuti kemana langkah kaki Lidya berayun, napas dan kaki pegal tak menghalangi niatnya meskipun Arjuna sering menyuruhnya istirahat saja di dalam tenda.
Arjuna tahu, putra bungsu Baskara sangat tidak biasa dengan kegiatan ekstrim ini, takut saja jika terus di paksakan akan merepotkan nantinya, sementara tujuan ia ikut ingin mencari sela dengan gadis berghingsul itu.
Tiba di puncak Lidya berlari lalu berdiri di bibir tebing "Uuuuuhhh! Aaaaaaaa!" Gadis itu berteriak keras dan itu terlihat sangat cantik bagi Arjuna apa lagi Eric.
Rambut yang terikat ke atas. Kaos putih pendek, celana jeans hitam, sepatu sport putih dan kemeja kotak-kotak yang ia simpul di pinggangnya, menjadikan Lidya sangat sedap dipandang setiap mata.
"Om, sini!" Lidya melambaikan tangannya pada Arjuna antusias "Om bilang mau foto di sini!" Lanjutnya berteriak.
Arjuna berlari mendekat "Of course Baby!" Ucapnya tersenyum tulus. Entah lah baru kali ini Arjuna menyukai wanita dan bersikap sopan padanya, biasanya ia hanya akan menggoda atau memaksa lawan jenisnya untuk bercinta.
Rupanya Lidya spesial baginya.
Sementara Eric merengut menatap keduanya, tujuan ikut mendaki gunung ingin lebih dekat lagi dengan Lidya tapi gadis itu justru terasa semakin jauh darinya, bahkan secepat itu Lidya bisa sangat dekat dengan Arjuna.
Wajar, bagi Lidya Arjuna menyenangkan tidak seperti Eric yang suka sekali membentak bahkan tak jarang mencemoohnya.
Makhluk hawa sangat bermain dengan perasaannya. Sangat sensitif jika sudah ada kalimat sarkas yang mengejek dirinya terutama di bagian fisik, maka kesan hati pun tak mampu membaik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cukup puas ketiganya menikmati panorama alam yang sebegitu menakjubkan di puncak sana sambil duduk-duduk di bibir tebing beserta rombongan menikmati camilannya.
Seluruh pose mereka coba untuk mengabadikan momen indah itu.
Dreeetttt dreeetttt ponsel satelit milik Arjuna bergetar rupanya Raka menghubunginya, segera ia mengangkat telepon dari atasannya, sedikit menjauh dari Eric dan Lidya.
"Ya, kenapa Bro?" Jawabnya.
"Lu pulang gih, cepet! Mantan lu marah-marah di depan rumah gue!" Suara Raka terdengar panik.
"Kenapa?" Arjuna kehilangan mood dalam waktu sekejap saja.
"Dia minta pertanggungjawaban lu katanya! Memangnya lu apain dia hah?" Sambung Raka di seberang sana.
"Pertanggung jawaban?" Bersamaan dengan terkejutnya dia, Arjuna menoleh pada Lidya dan wajah senyum gadis itu lumayan membuatnya menyesal mendengar informasi dari Raka.
Pertanggung jawaban? Mungkinkah mantan yang kemarin ia paksa di atas mobil hamil? Sedangkan hatinya sudah ingin memilih gadis polos nan menawan itu.
"Juna! Lu kenapa diam, hah? Urus cewek lu! Pulang sekarang juga!" Raka memutuskan secara sepihak setelah membentak sahabatnya.
"Iya, gue pulang sekarang!" Lirih nya.
Arjuna menyelipkan telepon satelit milik nya ke dalam sarung hitam di pinggang, lalu berjalan mendekati Lidya kembali yang masih berdiri berdampingan dengan Eric, menunggu detik-detik terbenamnya matahari.
Lidya berhasil membuatnya betah berlama-lama bersama meskipun tak ada kegiatan intim seperti wanita-wanita yang pernah singgah dalam hidupnya.
"Yah, jadi Lidya cuma sama Eric dong?" Gadis itu pun ikut merasa sedih hingga menunduk tak bersemangat. Rupanya, hanya dalam waktu singkat Arjuna juga sudah memiliki tempat di sisi hatinya tanpa di minta.
"Ada apa memangnya?" Tanya Eric. Ada bahagia tapi juga pertanyaan dalam benak pemuda itu.
"Ada lah, urusan pekerjaan, gue pulang, kalian jangan misah, setelah ini langsung pulang ke tenda!" Pesan Arjuna.
Eric dan Lidya mengangguk.
Pria tampan itu pergi menyandang gurat sendu di wajahnya meninggalkan Eric dan Lidya menikmati detik-detik terbenamnya matahari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menikmati terbenamnya matahari, kedua insan rupawan ini pulang kembali ke tenda peristirahatan, namun, karena Lidya sedikit telat maka keduanya sudah tertinggal dari rombongan lainnya.
"Lidya, lu tahu kan jalannya hah?" Eric berjalan di belakang tubuh Lidya sambil mengarahkan senter pada jalanan yang di tempuh.
Tak sadar panggilannya sudah bukan Lidya kampung lagi sekarang.
Sesekali keduanya tergelincir kecil saat tak sengaja mendapati jalanan yang sudah sedikit basah karena gerimis yang tiba-tiba terjun begitu saja.
Kota ini memang di namakan kota hujan, maka tak heran jika setiap malam ada saja air yang merindu untuk singgah ke bumi.
"Tahu kok, udah dua kali gue ke sini!" Jawab Lidya.
"Ga capek lu hmm?" Eric mendengar dera ngos ngosan gadis itu yang sudah mulai berbeda "Kita istirahat dulu deh, Lu capek kan hmm?" Lanjutnya.
"Ga papa, nanti takutnya kita makin ketinggalan sama rombongan lainnya!" Sahut Lidya.
BRUK!
Lidya tergelincir lalu dengan cepat Eric menangkap tubuhnya dari belakang "Tuh kan! Ngeyel! Kita istirahat dulu! Gue juga capek tahu gak!" Entah kenapa, Eric selalu menunjukkan kesal saat bersama gadis itu.
"Maaf, tapi, gue takut ketinggalan rombongan, gue takut lu marah-marah lagi!" Lidya melipat bibir sembari menunduk.
"Kita istirahat saja di sana!'' Eric menunjuk satu pondok kecil yang biasanya di pakai salah seorang warga menjual produk minuman dingin atau sekedar pop mie sedu, biasanya ada yang berjualan saat tengah ramai pendaki.
Keduanya memilih beristirahat di sana karena gerimis mulai kerap, membuat jalanan juga semakin licin.
Setibanya, Eric duduk di sembarang tempat asal bersih saja menurutnya, kondisi gelap gulita hanya ada pendar dari senter mereka saja yang menjadi sumber penerangan malam penuh hawa dingin mencekam.
"Biasanya ada yang berkeliling, jadi jangan khawatir." Lidya mencoba menenangkan Eric, padahal pemuda itu yang mengusulkan untuk beristirahat.
"Ya, tenang ajah!" Eric menggesek kedua telapak tangannya berusaha mengurangi gigilan nya sendiri.
Lidya duduk tepat di sebelah kiri Eric, gadis itu juga kerap menggesek kan kedua tangannya mencoba melepas hawa dingin yang memeluk erat tubuhnya.
Tampias air membuat tubuh kedua insan rupawan ini saling merapat ke titik yang tak terjangkau tetesan gerimis hingga bersatu.
Gertakan gigi-gigi terdengar dari kedua insan rupawan itu, tubuh mereka meringkuk memeluk betis masing-masing.
Eric melirik ke arah Lidya lalu mengarahkan senter ke wajah beku gadis itu "Kenapa ga bawa jaket? Dah tau pasti dingin kan? Katanya pengalaman naik ke sini dua kali!" Rutuk nya.
Lidya memang hanya memakai kaos putih yang di balut kemeja kotak-kotak coklat sebagai luarannya.
"Lupa!"
"Lu ajah yang pake!" Eric membuka jaket tebal limited edition miliknya lalu melingkarkan nya pada tubuh Lidya.
"Makasih!" Lirih Lidya dengan suara gemetar.
"Gimana kalo kita lanjut lagi?" Bersamaan dengan ajakan Lidya hujan turun sebegitu derasnya.
Eric mendongak menatap ke arah pepohonan yang riuh tertiup terpaan angin hujan "Apa kita mau bermalam di sini? Kayaknya hujannya bakal lama." Tanyanya.
"Mungkin!"
Hening untuk beberapa saat........
"Kenapa lu suka ngelakuin hal ini? Bukanya bahaya? Gimana kalo yang terjebak hujan sama Lu cowok brengsek?" Tanya Eric memecah keheningan di antara mereka. Berbalut gemercik hujan lebat menghujam bumi yang memekakkan telinga.
"Emang lu gak?"
Eric melirik lalu mengarahkan senter lagi ke wajah cantik Lidya dari samping "Gak lah! Gue masih punya iman!" Ketus nya.
"Bukan punya iman, lu emang gak napsu liat body gue!" Sela Lidya yang juga ketus.
"Tuh, Lu tau." Eric mendengus kemudian mempererat pelukannya pada betis miliknya, seandainya saja mereka pasangan kekasih mungkin tubuh Lidya yang ia peluk untuk melepas hawa dingin ini.
"Lu suka sama Juna?" Eric mengorek lebih dalam lagi mumpung ada kesempatan berdua "Kayaknya cepet banget akrab lu!" Tanyanya.
"Dia ganteng!" Cetus Lidya.
"Gue?" Tanya Eric menoleh ke samping meskipun wajah Lidya hanya terlihat samar-samar karena pijar senter mengarah ke arah lain.
"Lu ketus!" Jawab Lidya singkat, padat dan jelas.
"Oh, berarti gue gak jelek kan?" Batin Eric.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Lanjut besok yaaaa....