
"Aaaagghhh!" Raka menjatuhkan seluruh isi meja di ruang kerjanya, hati yang sakit sebegitu dalamnya hingga sukar sekali hanya untuk mengambil napas saja.
Setelah makan siang bersama dengan keluarga Hardian, Raka dan Baskara langsung kembali ke kantor pusat Key-food, sebab masih banyak yang harus mereka urus di sana. Kecewa sudah pasti di rasakan oleh Raka, baru kali ini seorang Raka Cyril di tolak oleh perempuan, sebab biasanya dirinya lah yang menolak.
Hardian sempat meminta maaf, putrinya sudah mengacaukan perjodohan dengan cara yang tidak baik, padahal baru saja Baskara ingin mempererat hubungan persahabatan dengan penyatuan keluarga mereka, tapi ternyata harus berakhir seperti ini, tunggu dulu, berakhir? Mungkin belum berakhir, karena kita tak pernah tahu bagaimana ke depannya nanti, sebab semua orang tahu Tuhan sang pencipta gelap dan terang bisa dengan mudahnya membolak balikkan hati manusia.
"Miska! Mau sampai kapan kamu menghalangi ku!" Geram Raka saat mengucap. Tatapan matanya tajam mengarah pada jendela kaca besar yang menampilkan hiruk-pikuk perkotaan, kebenciannya tertuju pada mantan isterinya.
"Sudahlah Bro, mendingan lu lupain aja Marni alias Pinkan itu, mungkin memang bukan jodoh lu." Kata kata itu terucap dari si pemilik wajah play boy, Arjuna si asisten direktur, sekaligus sahabatnya.
Mendengar itu Raka memejamkan matanya, menghela napas berat, mencoba menerima, mungkin saja dengan begitu dia bisa terus melanjutkan hidup karena jika pilihan nya hanya ada dua yaitu memaksa atau melepas, Raka akan lebih memilih melepas, sebab tak mungkin memaksa gadis yang sudah mengatakan sangat sangat membencinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, di kamar yang serba hitam putih, Tito tampak sedang membereskan cokelat cokelat mahalnya pemberian dari seluruh jajaran para gadis penggemar nya di sekolah.
"Kasian si nenek lampir, pasti sekarang lagi sedih, gue bagi aja ni cokelat buat dia deh, sekali sekali baik sama nenek lampir, gapapa." Gumamnya, lalu memeluk box berisi cokelat cokelat batangan mahalnya membawanya ke kamar sang kakak. Kebetulan pintu kamar tak terkunci, dengan lugasnya pemuda tampan itu mendorong pintu milik Pinkan dan masuk.
Di balik selimut Pinkan masih menenggelamkan tubuhnya tanpa gerakan dan suara sedikitpun, ia bergeming di tempatnya.
"Nek, Emm, maksudnya kak, lu tidur ya?" Tanyanya sambil memiringkan kepala berusaha melihat wajah Pinkan. Dan gadis itu masih sibuk dengan lamunannya, mata sembab menjadi bukti bahwa seharian ini Pinkan menangis.
"Lu masih sedih ya kak?" Tito duduk di sisi ranjang menghadap ke arah kakaknya dan gadis itu masih terdiam seribu bahasa.
"Ni, Tito kasih cokelat, pasti setelah itu lu baikan." Bujuk Tito yang tidak seperti biasanya, sebelumnya merengek pun pemuda itu takkan mengizinkan Pinkan memakan cokelat cokelat nya.
"Kata guru Tito, Hormon kebahagiaan itu, bisa dipengaruhi sama dopamin, oksitosin, dan endorfin. Lu tau gak kak, Proses bahagia atau sedihnya perasaan kita akan diatur oleh hormon-hormon tersebut saat mengonsumsi cokelat, hormon kebahagiaan akan dipicu oleh cokelat untuk dilepaskan dalam tubuh kita. Bhuuuuusss. Begitu." Jelas Tito dengan segala gestur gemasnya.
"Jadi sekarang lu makan semua cokelat ini gih, terus lupain tu masalah lu." Sambung Tito lagi seraya membuka satu bungkus cokelat dan menyodorkannya pada Pinkan.
Pinkan pun duduk lalu menatap haru adiknya, ternyata si pemilik tingkah rese yang selama ini di anggap sebagai gulma di rumah itu bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
"Ayok makan, dan rasakan ketenangan di setiap gigitan nya."
Pinkan terkikik meskipun di matanya masih berair, bagai air telaga yang mulai meluah hendak mengaliri sungai-sungai ketika mendengar ucapan Tito yang sudah seperti mbak-mbak seller di pasar Gembrong.
"Nah, gitu dong ketawa!" Ucap Tito.
Perlahan Pinkan memakan cokelat cokelat pemberian Tito, berharap bisa membuat hatinya bahagia seperti yang Tito katakan.
Di sela sela mengunyahnya Pinkan terkadang tertawa, terkadang melepaskan tangisnya, perasaan Pinkan masih bercampur aduk meski sudah memakan dua puluh bungkus cokelat dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ternyata tanpa Pinkan ketahui lebih awal, hatinya sudah stuck di satu pria yaitu Raka Cyril putra pertama Baskara Lindu.
"Huhuhu lu bohong Tito, gue udah banyak makan cokelat sampe enek, tapi masih sedih, huaaaaa ..." Suara itu menggema dengan kerasnya hingga menggoyangkan seluruh benda-benda di ruangan itu "Huuuuuaaaaaa hiks hiks, tolong jangan buat gue jatuh cinta sama tu laki kejam ya Tuhan ...."
Sementara Tito menutup telinga nya rapat rapat dengan kedua tangan "Astaghfirullah lampir!! Suara lu udah kayak petasan spirtus tau gak!! Liat tu lampu gantung lu sampe gerak gerak mau jatuh gara-gara teriakkan elu!" Teriaknya yang tanpa sadar memanggil kakaknya dengan sebutan seperti biasanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Enam bulan berlalu begitu saja, Pinkan sudah kembali dengan rutinitas hariannya sebagai mahasiswi, yah, gadis itu sudah melanjutkan kuliah semester enamnya. Jika bicara tentang perasaan, tentu saja masih sering merasakan rindu pada orang yang masih bertengger di dalam hatinya, sebab melupakan bukan perkara yang mudah di lakukan, meskipun hanya butuh waktu yang singkat saat sang hati memilih untuk menyukai, tapi Pinkan yakin semua akan baik-baik saja seperti sedia kala.
Siang ini Hardian tengah duduk santai menikmati teh di halaman samping rumah yang terlihat asri, di sekitarnya tampak bunga bunga menghiasi rumah minimalis modern itu. Kebetulan hari ini hari Jumat maka kantor pulang lebih awal dari hari-hari biasanya.
Suara langkah kaki terdengar mendekat, ia pun menoleh pada wanita cantik yang kini duduk di sisi nya.
"Mah." Sapa nya seraya mengecup singkat pipi mulus wanita itu, meski kedua anaknya sudah besar tapi keromantisan mereka tetap terjaga.
"Ada paket dari kampus Pinkan Pah." Ucap Marta memberikan satu amplop coklat yang tertulis kiriman resmi dari universitas tempat putrinya kuliah.
"Gak mungkin tagihan uang semester kan? Papah sudah membayar lunas kemarin." Sambung Hardian dengan tatapan bingung ke arah isterinya.
"Mungkin pemberitahuan yang lain kali." Sela Marta sembari menaikkan kedua bahunya "Coba Papah buka saja dulu." Lanjutnya mengusul.
Hardian membuka amplop coklat tersebut lalu membaca satu persatu surat resmi yang terlampir di sana. Seketika kening Hardian mengerut saat membaca satu persatu kertas-kertas di dalam amplop itu. Lalu menatap kearah Martha dengan wajah yang sedikit gamang.
"Panggil Pinkan sekarang mah!" Titahnya masih dengan wajah gamang nya.
Tanpa bertanya apapun lagi Martha pun segera melaksanakan perintah dari suami tercintanya. Lalu selang beberapa menit Pinkan mendatangi ayahnya dan duduk di sisinya.
"Ada apa Pah? " Tanyanya.
"Nih. Kamu baca dulu, ini paket dari kampus kamu, baru saja Papah membukanya." Hardian menyodorkan amplop coklat tersebut pada putrinya. Lalu dengan segera Pinkan membuka amplop itu untuk kemudian membaca satu persatu isi surat resmi yang terkandung di dalamnya. Ada dua macam surat resmi yang terlampir.
Pertama adalah surat pemberitahuan kepada wali bahwa putra-putri mereka akan segera melaksanakan tugas wajib internship / magang. Yang kedua adalah surat pernyataan magang dari perguruan tinggi yang berfungsi sebagai pengantar dan juga rekomendasi dari perguruan tinggi.
Di sana juga tertulis PT Key-food beserta alamat kantor pusat Key-food, yang berarti Pinkan di tugaskan menjalani program internship di perusahaan tersebut.
"Apa?" Pekik Pinkan tersentak kaget saat sudah selesai membaca surat surat itu, di semester tua kampus Pinkan memang mewajibkan seluruh mahasiswanya mengikuti program internship sebagai syarat wajib lulus.
"Apa-apaan ini Pah?" Pinkan menoleh dan mempertajam tatapannya pada sang ayah, curiga sudah barang tentu "Papah sengaja yah mengirim Pinkan ke sana hah? Supaya Pinkan bisa ketemu lagi sama duda kejam itu?" Tukasnya menyudutkan.
Hardian mengernyit "Loh, kok jadi Papah yang di curigai?" Hardian terkikik, menepiskan pandangan buruk putrinya karena memang dia benar-benar tidak tahu menahu tentang hal ini.
"Itu kan surat resmi dari kampus Pink. Jadi mana mungkin Papah menyabotase itu!" Sangkal nya.
"Pokoknya besok Pinkan harus protes ke kampus! Pinkan gamau internship di perusahaan yang di pimpin sama manusia kejam itu!" Gadis itu berdecak kesal lalu beranjak dari duduknya, melengos pergi masuk ke dalam kamar lagi.
Sementara Hardian memelankan suara gelak nya berusaha tak membuat putrinya semakin emosi "Pinkan, Pinkan ...." Senda nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung....