
Sepulangnya dari acara, Baskara Irma dan Eric singgah ke hotel untuk kemudian beristirahat, rencananya besok siang mereka pulang ke Jakarta sekalian membawa Murad dan menantu barunya.
Sementara Raka langsung pulang ke Jakarta malam ini juga, siang tadi Raka menitah kan asisten personal nya untuk menyusul, lalu sekitar jam dua belas malam Arjuna baru sampai dengan mobil hitam mengkilap, kemudian di jam satu pagi keduanya segera meluncur kembali menuju ibukota lewat jalur tol.
Perjalanan mereka sangat lancar meskipun mobil mereka sempat oleng karena Arjuna yang tiba-tiba mengantuk tapi beruntunglah Raka segera menggantikan nya menyetir.
"Baru di tugasin hal sepele ajah udah oleng kamu! Asisten gak becus!" Raka merutuk tak jelas di sepanjang perjalanan namun yang empunya malah ngorok tak memperdulikan lagi umpat serapah atasannya, bagaimana tidak mengantuk? Arjuna berkendara sendiri selama sebelas jam lalu harus menyetir lagi padahal belum sempat beristirahat.
Pesan yang tak juga di balas membuat Raka semakin tak betah berlama-lama di kota lain hingga tak memikirkan penderitaan Arjuna.
Jalanan yang tadinya gelap kini sudah mulai terang benderang, pagi mulai menjelang namun masih sekitar lima jam lagi mereka tiba di kota tujuan, harusnya Raka beristirahat barang sejenak tapi rupanya rasa rindu yang menyiksa mendominasi pikirannya untuk terus melanjutkan perjalanan.
Setelah dua belas jam berada di bawah atap mobil akhirnya rem pun di injak secara rapat tepat di depan kediaman utama Baskara.
"Alhamdulillah, sampai juga. Demi kamu Yank, aku rela naik mobil dari solo ke Jakarta." Gumam Raka, lalu turun dari kendaraan beroda empat miliknya meninggalkan Arjuna yang masih tertidur pulas di jok depan.
Raka sempat masuk dan menanyakan anak istrinya pada Mirah tapi ternyata Pinkan belum juga pulang dari rumah orang tua nya. Akhirnya, laki-laki itu memutuskan untuk menaiki mobilnya kembali dan segera lagi menuju rumah mertuanya.
Pikirannya masih awut-awutan, rindu yang mendekap erat begitu menyiksanya, tapi Raka berusaha lebih tenang meskipun sebenarnya sudah tak keruan rasa badan yang mulai lelah berjam-jam berkendara tanpa beristirahat.
Dari rumah utama Baskara ke rumah mertuanya hanya memakan waktu satu jam saja. Terik matahari pun mulai mencuat sadis di jam 12 siang penuh polusi ini.
"Hooaam!" Setelah lima jam tertidur, Arjuna terbangun juga pada akhirnya, pria itu menggeliat sambil merentangkan kedua tangannya meregangkan otot-otot yang kaku setelah seharian penuh duduk di jok mobil "Bro! Udah sampe ya?" Tanyanya menoleh pada Raka lalu mengedarkan pandangan.
"Hmm." Angguk Raka sembari melepas sabuk pengamannya "Lu pulang gih. Gue mau langsung istirahat di sini." Titahnya kemudian.
"Ok, selamat beristirahat Bro."
Raka turun kembali dari mobil lalu berjalan cepat memasuki rumah minimalis modern milik mertuanya, rumah itu memang selalu sepi, karena hanya di jaga satu satpam dan beberapa asisten rumah tangga saja tak seperti di rumah Baskara yang banyak pekerjanya.
"Bang Raka!" Di ruang tengah adik ipar tampannya menyapa dan agaknya sedikit terkejut melihat kedatangannya, secara malam tadi saja Eric bilang masih di Surakarta kenapa tiba-tiba di Jakarta.
"Lu gak ke sekolah To?" Tanya Raka menyapa balik.
"Udah liburan panjang kan Tito, lagian kalo pun berangkat, bukan sekolah lagi tapi udah ke kampus dong, kan Tito udah mahasiswa sekarang, Minggu kemarin Tito sama Eric udah lulus tes di kampus Xx! Tinggal ospek ajah." Ujar Tito.
"Oh iya, bang Raka lupa kalo kalian udah pada lulus!" Raka terkekeh ternyata secepat itu para adik manjanya sudah akan menginjak kampus, yah meskipun ijazah masih belum keluar karena prosedur nya begitu.
"Baby Zee sama Mommy nya kemana?" Tanya Raka kembali.
"Baby Zee ada di belakang sama mbak, tapi kalo kak Pinkan, ...." Belum selesai ucapan Tito suara dentuman sepatu heels memasuki ruangan.
Membuat pemuda itu menoleh padanya "Nah itu dia baru dateng!" Celetuknya sambil menunjuk ke arah kakaknya yang baru saja tiba, terlihat wanita itu bergaun rapih juga menenteng tas seperti baru pulang dari luar.
Raka menoleh dan senyum manis mengembang seketika itu juga "Yank, ..." Seraya mendekat tapi Pinkan justru melengos pergi menuju kamar nya.
"Yank, ..." Raka membuntuti wanita itu sedang Tito menautkan alisnya bingung, entah ada apa dengan kakaknya sepertinya Pinkan terisak, tapi itu bukan urusan Tito lagi sebab sudah ada suaminya sekarang.
"Yank, tunggu, jangan lagi marah Yank, aku bisa jelasin semuanya." Raka masih mengiringi langkah cepat isterinya memasuki sebuah pintu bertuliskan Pinkan.
Tiba di kamar wanita itu menjatuhkan tubuhnya menelungkup pada sandaran sofa "Hiks hiks." Tangannya meremas bantal persegi itu geram.
Raka mengernyit heran mendengar isak tangis isterinya "Yank, kamu menangis hmm?" Tanyanya seraya duduk tepat di sebelah kiri Pinkan berhadap-hadapan.
"Huuuhu, hiks." Pinkan semakin menenggelamkan wajahnya pada sandaran sofa sepertinya tangisan wanita itu sangat serius.
"Aku bahkan belum menjelaskan semuanya padamu, kenapa aku buru-buru menanyakan kehamilan mu, bukan aku menuntut mu Yank, enggak, sama sekali enggak." Imbuh Raka mencoba menjelaskan "Kemarin Miska datang ke kantor." Lanjutnya.
"Dia masih mau menuntut hak asuh Baby Zee. Kamu tahu kan hmm? Di mana-mana ibu kandung lebih di dengar, aku takut kalah di pengadilan nantinya, aku hanya tidak ingin kamu terlalu kehilangan kalo sampe Baby Zee benar-benar harus ikut dengan Miska. Itu saja, Yank." Bukanya tenang Pinkan justru semakin meraung mendengar penjelasan suaminya.
"Maaf kan aku." Raka merengkuh tubuh isterinya lalu mengelus lembut puncak kepala wanita itu penuh sesal.
"Maaf, seharusnya aku tidak menuntut apa pun dari mu, aku salah, sangat salah." Ucap Raka lirih lalu setelah berdiam diri sejenak Pinkan melepas rengkuhan laki-laki itu menatap nanar wajah tampannya.
Raka sempat menyeka sisa air yang berderai di pipi mulus isterinya, tak menyangka sama sekali bahwa dirinya tega membuat kristal itu menggelinding jatuh berbulir-bulir dari netra sebening embun pagi milik wanita itu, lalu bagaimana dengan cinta yang terus dia proklamir kan? Bodoh! Umpatnya dalam batin.
"Menikah lah lagi Raka! Aku ikhlas!" Ucap Pinkan lirih, namun ada gurat tak rela yang tersirat di wajahnya.
Deg!
Apa ini? Angin dari arah mana yang membisikkan kata-kata itu padanya, menikah lagi? Lelucon macam apa ini? "Kamu gila Pinkan?" Pekik Raka spontan "Kamu menyuruh ku menikah lagi cuma gara-gara sedikit ke salah pahaman saja?" Timpalnya yang tanpa sadar melotot kan matanya tak terima.
Pinkan memejamkan mata dan buliran bening terus berderai tanpa mampu ia kompromi.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah bisa memberi mu keturunan Raka, maka menikahlah lagi, aku rela." Nada wanita itu berangsur lirih menahan sesak yang menyeruak di dalam dadanya, sudah lumayan ia tahan sendiri di sana.
"Hh? Kamu bercanda Pinkan Arora!" Raka membuang smirk "Kenapa kamu pesimis begini? Kamu yang bilang kita baru delapan bulan menikah, baru juga berusaha, lalu sudah menyerah begitu? Kita masih bisa berusaha Yank, kenapa secepat itu kamu mendahului Tuhan!"
"Aku memang tidak bisa hamil Raka!" Tukas Pinkan keras "Aku sudah tes hormon! Barusan aku dari rumah sakit, orang bilang tes hormon bisa di lakukan saat awal menstruasi, dan aku melakukannya." Lanjutnya menjelaskan.
"Lalu?" Raka tampak berkerut kening tapi juga penasaran.
"Lewat tes ini, dokter bisa memperkirakan jumlah telur yang ada di indung telur, mendiagnosis kelebihan hormon androgen, dan menunjukkan apakah aku sedang masa ovulasi. Kamu tahu apa hasilnya Raka?" Tanyanya lirih dengan raut frustasi.
"Ternyata aku infertilitas anovulasi Raka, gimana bisa hamil, indung telur ku saja tidak melepaskan sel telur!" Pekiknya pesimis, sudah tak berjumlah lagi berapa banyak tetesan air matanya, dia merasa gagal menjadi seorang wanita meskipun tak di pungkiri rasa sayangnya pada Baby Zee begitu lekat bahkan jika bisa di ukur mungkin lebih besar rasa sayang Pinkan dari pada Miska ibu kandungnya.
Raka melongo, yah memang hanya itu saja yang bisa dia lakukan saat ini. Percaya? Tentu saja tidak, Pinkan terlihat sangat bugar, wajahnya berseri-seri tubuhnya indah, tidak ada suatu ciri khusus yang menunjukkan bahwa wanita itu mandul.
"Kamu yakin Yank?" Lirih Raka yang pada akhirnya bertanya demikian "Bisa saja dokter salah, kita bisa periksa lagi di tempat lain. Keluar negeri mungkin, aku yakin kamu sehat!" Tampik nya.
"Bukan dokter yang salah. Kenyataannya adalah kamu yang tidak bisa menerima ku apa adanya Raka!" Tampik Pinkan.
"Jadi menikah lah lagi, aku ikhlas, bila perlu ceraikan aku!"
"Apa?" Ceplos Raka mengernyit heran. Memangnya semudah itu menikah lagi? Untuk move on dari Rani saja perlu waktu sepuluh tahun lamanya apa lagi ini? Konyol! Tak secuil pun terbayangkan untuk berpaling ke hati yang lain, Pinkan sudah menjadi belahan jiwanya, pagi siang sore malam sunggingan senyum manis wanita itu tiada luput, begitu impresif.
"Dengar kan aku Yank!" Raka mencekal kedua lengan wanita itu penuh penekanan, wajah cantik Pinkan tiada lepas dari kerjapan matanya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikah lagi, apa lagi menceraikan mu, mengerti! Apa pun yang terjadi, selamanya kamu tetap isteri ku! Aku tidak perduli mau punya anak lagi kek, mau enggak kek, terserah. Bukanya kita masih bisa sama-sama memperjuangkan baby Zee, iyakan hmm?" Lanjutnya sedang tatapan matanya terus berpindah-pindah menangkap wajah Pinkan yang sering berpaling.
"Aku minta maaf sudah menyakiti mu." Raka meraih dan membenamkan wajah Pinkan ke belahan dadanya lalu wanita itu melingkarkan tangannya pada punggung gagah suaminya, menikmati damainya aroma maskulin di balik kemeja hitam itu.
"Relationship bukan sekadar ikatan dua orang yang saling jatuh cinta saja, melainkan juga alasan untuk menolak menyerah saat keduanya menghadapi masalah, merindu saat jauh, khawatir saat tak mendengar kabarnya, saling membutuhkan satu sama lain, yang namanya kebutuhan bukan sekedar sensasi ranjang saja, tapi hati yang terasa damai saat bersama."
"Kamu ingat, kamu pernah mengatakan itu di lift satu tahun yang lalu."
Pinkan memejamkan matanya, sungguh tiada satu katapun yang luput dari ingatan laki-laki itu, tentang sebuah tuturan rekognisi darinya kala itu, yah memang itulah arti dari relationship.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...TAMAT...