
Tak terasa hari ini sudah hari Minggu lagi, tentu saja semua keluarga Baskara di rumah kecuali Baskara sendiri yang masih berada di Thailand.
Irma, Raka, Eric dan Baby Zee, tengah menikmati udara sepoi-sepoi siang harinya, duduk melingkar di sofa putih halaman belakang.
"Marni mana? Kok lu yang bawa susu Baby Zee?" Raka bertanya pada Murad yang berjalan mendekat membawa botol susu milik baby Zee.
"Shalat dia." Jawab pemuda itu lalu duduk di sebelah bayi mungil yang sudah mangap mangap menginginkan makanan nya.
"Uh? Baby Zee haus sayang?" Murad tersenyum sembari membuka tutup botol susu milik bayi mungil itu.
"JANGAN!!" Suara pekikan dari belakang tubuh Murad.
BRAK!!
Pinkan menampik botol susu yang sudah sedikit lagi masuk ke mulut mungil Baby Zee.
"Marni!!"
Murad membulatkan matanya, tangannya reflek menangkap tubuh lunglai gadis itu yang hampir jatuh tersungkur di sisi sofa setelah menggagalkan Baby Zee meminum susu buatannya sendiri.
Raka, Eric dan Irma tak kalah terkejut melihat hal itu, semuanya menatap cemas ke arah Pinkan.
"Sepertinya susu Baby Zee beracun." Kata yang sempat terucap sebelum kemudian gadis itu tak sadarkan diri.
"Marni! _ Kak!!" Irma dan Eric bersamaan memekik.
"Marni!!" Raka meraih tubuh gadis itu "Kamu kenapa hah?" pria itu menepuk nepuk pipinya berusaha menyadarkannya tapi tak mendapat respon. Mata Pinkan masih terpejam rapat di apit oleh Raka dan Murad.
Bersamaan dengan itu Irma mengambil alih baby Zee yang menangis karena terkejut.
"Kamu yang bawa mobil! Kita bawa Marni kerumah sakit!" Pekik Raka memberi titah pada adiknya lengkap dengan wajah paniknya.
Murad berlari menuju garasi besar di mana mobil mobil mewah berderet berwarna warni dengan jenis yang berbeda beda. Kali ini pemuda itu mengambil yang berjenis MPV lalu segera mengarahkan mobilnya menuju teras.
Sedang Raka yang sudah menunggu di teras segera memasuki mobil hitam mengkilap itu memposisikan tubuh Pinkan di jok belakang sebelum kemudian ia juga ikut duduk di kursi sebelah kanan gadis itu sedang Eric menyambar pintu bagian depan.
"Jalan cepat!" Gusar Raka masih dengan wajah paniknya.
Secepat kilat mobil itu berlalu dari rumah besar Baskara, meninggalkan Irma yang masih menggendong cucunya dengan wajah cemas.
"Semoga tidak terjadi apa-apa sama Marni." Harap dalam doa nya tulus.
Dalam perjalanan, Raka terus menggenggam erat tangan gadis itu, sesak menyeruak di dalam dadanya, gagal, ia merasa gagal melindungi gadis itu. Sesekali Murad melirik ke arah spion, memastikan keadaan Pinkan yang benar benar tak bersuara, begitu juga dengan Eric yang terus menoleh kebelakang, menatap Pinkan dari jok nya, ketiga pria tampan itu berekspresi sama cemasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiba di rumah sakit Raka membawa Pinkan ke lorong suite room, segera memasuki kamar elit dengan dokter khusus. Sedang Murad berlari ke arah lain mengurus administrasi.
"Lakukan sesuatu Dok!" Pekik panik Raka pada salah seorang dokter yang sudah menyambutnya. Kamar itu sudah tak asing lagi baginya sebab kamar itu memang ruangan yang biasanya di pakai keluarga Baskara saat harus mendapatkan perawatan medis.
Seperti yang di perintahkan Raka, dokter laki-laki itu segera mengambil tindakan, dengan memberikan ventilator atau biasa kita sebut alat bantu pernapasan, sebab sepertinya gadis ini sempat gagal napas.
Setelah mengetahui keluhan pasien nya, dokter lantas menyuntikkan beberapa jenis zat penawar racun yang berfungsi mencegah racun bereaksi atau menangkal efek berbahaya racun pada tubuh.
Sedang di luar ruangan Raka masih tak meninggalkan wajah paniknya, sembari berjalan mondar mandir di depan pintu kamar pasien.
"Ka Marni gak kan kenapa kenapa kan bang?" Eric tak kalah cemasnya.
"Semoga saja tidak!" Lirih Raka yang sepertinya kehilangan keyakinan.
Terlihat pria itu terus mengusap wajahnya gulana, kemudian duduk menyangga kepala dengan kedua tangan "Kenapa bisa begini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumamnya, pikirannya terus berputar mencari jawaban.
Eric juga ikut duduk di sisi kanan pria itu, dengan kaki yang terus bergerak gerak gulana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu tunggu di sini di temani Eric, aku harus pulang, Baby Zee rewel di rumah, mungkin merindukan Marni. Kasihan juga sama Mami, sendiri di rumah." Ucap Raka membagi tugas dengan kedua adiknya.
Keduanya mengangguk "Iya, bang Raka hati-hati." Ucap Eric sedang Murad hanya diam menatap abangnya berlalu meninggalkan kamar elit yang di tempati Pinkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Raka berjalan gontai menuju ruang tengah masih mengemban banyak sekali pertanyaan di otaknya, pikirannya terbagi dengan kondisi Pinkan yang belum siuman, tiba di ruang tengah sudah ada Irma dan Baskara menyambut kedatangan nya.
"Papi, Papi kapan turun ke Indonesia?" Sapa Raka pada ayahnya yang baru menampakkan batang hidungnya.
"Baru saja." Jawab singkat pak CEO itu.
"Gimana keadaan Marni Raka?" sambar Irma dengan wajah gelisah.
Raka pun mengalihkan pandangan ke arah wanita itu "Marni tidak apa-apa, untung saja, kadar racun yang tertelan tidak banyak, mungkin karena cuma beberapa tetes yang dia cicipi." Jelas Raka.
"Alhamdulillah, syukurlah." Ucap wanita itu terlihat lega.
"Kenapa bisa terjadi seperti itu? Memangnya susu itu kadaluarsa Raka?! Kamu kok bisa ceroboh sekali! Gimana kalo Marni tidak selamat? Atau dia terlambat mencegah baby Zee meminum nya? Aku sudah kehilangan cucu pertama ku!" Sentak Baskara menyalahkan putranya.
Raka menunduk menurunkan pandangan nya, pria itu memang merasa bersalah sudah gagal menjaga Baby Zee dan Marni nya.
"Raka belum tau apa-apa, karena sebelumnya, Marni juga membuat susu di kaleng yang sama, dan tidak terjadi apa-apa, Baby Zee baik-baik saja."
Setelah itu ketiganya terdiam bergumul dengan pikirannya masing-masing tentunya.
"Apa Baby Zee tidur?" Setelah sekian menit Raka baru ingat menanyakan itu.
"Sudah, dari siang tadi rewel, mencari mu, mungkin juga merindukan Marni. Mereka sudah terbiasa bersama." Jawab Irma.
"Sementara, baby Zee Raka titipkan ke Mami dulu ya, ada sesuatu yang harus Raka urus." Ucap Raka.
Irma mengangguk setuju. Raka lantas berjalan menuju kamar baby Zee langkahnya langsung menuju ke meja tempat biasanya Pinkan membuat susu.
Ia ambil kaleng yang sama dengan kaleng yang sudah di bubuhi bubuk racun, Raka akan mengirimkan kaleng itu ke temannya, mencoba mencari tahu zat apa yang terdapat di antara bubuk putih itu.
Tapi sebelum itu ia keluar dari kamar tersebut, langkahnya menuju halaman belakang, tiba-tiba saja, saat baru akan keluar dari pintu kaca, samar-samar ia mendengar suara rintihan tangis seorang wanita, di sudut ruangan yang gelap.
Raka menghentikan langkahnya menelisik ke wanita yang masih sesenggukan sambil mengelus kucing anakan di pangkuannya, rambut panjangnya terurai di daster putih miliknya, Raka sendiri sempat mengira mbak Kunti sedang meminta pertanggung jawaban darinya.
"Mbok Mirah! mbok Mirah kenapa mbok?" Tanyanya bingung saat sudah bisa melihat wajah wanita tua itu yang ternyata tukang masak di rumahnya.
"Lucifer mati Tuan muda, huhu." Jawab Mirah mengadu, tersedu. Lucifer yang ia maksud adalah kucing anakan yang baru beberapa bulan lahir, entah dari mana asal nama itu, mungkin mbok Mirah penggemar novel bergenre mafia.
"Lucifer? Kenapa?" Raka berkerut kening penasaran, meskipun selama ini pria itu tak terlalu menyukai kucing, tapi, Raka tau Mirah sudah merawat kucing kucing di rumah itu dengan baik, jadi aneh jika tiba-tiba mati.
"Kayaknya, dia minum susu dari dot susu Baby Zee yang tergeletak di halaman belakang Tuan muda, setelah itu, Lucifer kejang, mulutnya langsung berbusa, tak lama kemudian mati Tuan muda. Huhu." Wanita itu menangis seperti menangisi suaminya menikah lagi dengan janda seksi tetangga depan.
Raka tertegun menatap lekat wajah menangis wanita itu, sambil mencerna semua yang sebenarnya telah terjadi di rumah besarnya.
"Ambil botol susu yang di halaman, bawa ke kamar ku." Titah Raka pada wanita itu, lalu melengos pergi menuju kamar miliknya.
CCTV, Raka perlu tau sesuatu dari CCTV di rumah nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Terimakasih like nya 🤗😘