
Irma dan ke tiga putra tampan nya tengah melakukan ritual makan malam bersama, dan kali ini kepala rumah tangga di rumah itu sedang tidak di tempat, pagi tadi, Irma mengantarkan suami tampannya ke bandara, seperti biasa setiap dua bulan sekali Baskara mengunjungi kakak perempuan nya yang tinggal menetap di Thailand.
"Silahkan Nyonya." Ucap salah satu pelayan di rumah itu menyuguhkan lauk pauk yang masih ngebul di meja makan tersebut.
"Iya terima kasih ya." Ucap balik Irma.
Pelayan itu sudah akan pergi tapi langkahnya terhenti saat Raka bertanya padanya "Marni, Sudah makan belum mbok?" Tanyanya.
Wanita itu pun menundukkan kepalanya sopan "Sepertinya belum Tuan, saya sama sekali belum lihat dia makan, mungkin terlalu sibuk mengurusi Baby Zee Tuan." Jawabnya.
"Kalau begitu suruh dia ke sini!" Perintah Raka.
"Baik Tuan!" Ucap wanita itu lalu pergi menjalankan tugasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain Pinkan tengah berbaring bersebelahan dengan bayi mungil milik Tuan muda Raka "Aduh Baby Zee, maaf ya sayang, sepertinya Tante kecapaian deh, seharian ini menimang nimang kamu, jadi tolong kasih Tante waktu istirahat sebentar ya, kamu diam dulu di sini oke!" Ucapnya pada bayi mungil yang kini tersenyum mengoceh seolah setuju.
"Pinter!"
"Marni!" Panggilan dari seorang perempuan yang kini memasuki kamar Baby Zee.
Pinkan pun beranjak dari posisinya berdiri menatap wanita tersebut "Iya, ada apa Mbak?" Tanyanya.
"Kamu dipanggil sama Tuan Raka di meja makan segera!" Jawab wanita itu lalu pergi lagi tanpa permisi, bagaikan Kunti.
Huft!
Pinkan mendengus "Nggak bisa bener liat orang istirahat, dasar Tuan muda kejam! Apa lagi sih maunya?" Umpatnya.
Kemudian meraih tubuh mungil Baby Zee, merangkum hangat ke belahan dadanya.
"Kita lihat apa yang akan Bapak kejam mu perintahkan ke tante mu ini!" Pinkan keluar dari kamar serba pink itu, langkahnya langsung menuju meja makan.
"Iya Tuan muda, ada apa?" Tanya Pinkan saat sudah berdiri di sebelah kursi Raka.
"Duduk dan makanlah!" Perintah Raka.
"Hah?" Pinkan tertegun "Serius gue cuma pengasuh di suruh makan di sini? Apa, sebelumnya juga begitu ya?" Batinnya.
"Tunggu apa lagi cepat duduk di sini!" Bentak Raka sambil menunjukkan kursi di sebelahnya.
Murat tersenyum manis "Iya, duduk lah di sini kita makan sama-sama." Ajaknya, sebab kebetulan kursi yang ditunjuk Raka berada di tengah-tengah Murat dan Raka.
"Jangan di situ, di sini saja kak, di samping Eric saja, jangan mau dekat bang Raka sama bang Murat, mereka usil, hehe, mendingan di sini." Nyengir Eric promosi. Namun cengiran gigi putihnya tak berangsur lama sebab Raka mengerling sinis ke arah pemuda itu "Iya iya." Ngalah Eric sambil menaikkan ujung bibirnya.
"Duduk Marni, gak papa, gak usah sungkan! Raka bilang tadi pagi kamu lemas ya? Jadi mulai sekarang, makan mu harus kami jamin, kau kan mengurus cucuku, jadi harus punya tenaga ekstra!" Tambah Irma.
"Tapi Nyonya, Baby Zee belum tidur, lebih baik Marni makan setelah Baby Zee tidur saja." Jawab Pinkan menolak halus.
"Kamu Kenapa banyak banget alasan sih kalau disuruh makan?" sambar Raka ketus "Sekarang duduk atau kamu saya pecat!" Ancamnya kemudian.
Pingkan menghela napas, sekarang kesannya pada Raka semakin buruk saja, tapi bersamaan dengan itu Pinkan perlahan duduk di tempat yang sudah Raka tunjukkan sembari mempertahankan Baby Zee di dadanya.
Raka mengerat pisaunya ke steak sapi kemudian menusuk potongannya dengan garpu "Aak!" Lelaki itu menawarkan suapan pada baby sitter cantiknya.
Mata Pinkan membulat sempurna, terkejut, tak menyangka Raka yang ia pikir Tuan muda kejam mau menawarkan suapan padanya.
"Yang bener aja, makan malam di suapi bang duda?" Batinnya.
Sedang Murat menatap protes abangnya, ternyata sesigap itu Raka mengambil kesempatan "......" Namun pemuda itu tak berani bicara begitu pun dengan Eric yang hanya bisa menaikkan ujung bibirnya dengki "Huft! Udah pasti kalah gue, kalo saingan sama duda cap direktur!" Batinnya.
"S-saya makan pisang saja Tuan, gak mau daging!" Tolak Pinkan menggeleng, sebab Pinkan termasuk wanita yang menjaga pola makan.
Namun pertahanan nya runtuh saat Raka melotot kan matanya "Aemm" Pinkan mematuk potongan steak itu lalu mengunyahnya, mengalah.
Dan saus barbeque daging itu sedikit belepotan di atas bibirnya tapi dengan percaya dirinya Pinkan melibas sisa saosnya dengan menjilat kan lidahnya di karenakan kedua tangannya masih merangkum tubuh mungil Baby Zee yang masih anteng dalam dekapan nya bahkan mungkin sudah mulai mengantuk.
"Seksinya, si Tito harus tahu ni, Baby sitter di rumah gue seksi plus cantik pake banget!" Batin Eric mengingat teman sekelasnya yang play boy. Tatapan matanya lekat pada gerak bibir sensual Pinkan sembari menyangga dagunya, melongo, untung saja tidak ngiler.
"Biar gue yang bantu lap." Ucap Murat tersenyum dengan ciri khas suara lembut nya kemudian mengambil tissue dan menyeka bibir lembut gadis itu.
"Oh, Emm, maaf, makasih." Ucap Pinkan tak nyaman hati, seraya menunduk "Aduh, mimpi apa gue, satu duda ganteng nyuapin, satu perjaka tampan ngelapin, satu berondong manis merhatiin. Uh, ya ampun, tapi biar gue nikmati sebentar deh, kapan lagi ya kan?" Batinnya.
"Aaaak lagi!" Tawar Raka lagi yang sudah siap dengan suapan barunya dan Pinkan mematuk nya dengan gerakan perlahan.
"Bisa gendut gue lama-lama begini!" Batin Pinkan di sela sela kunyahan nya.
Irma menggeleng menatap ketiga putranya secara bergantian "Coba Papi liat, anak anak Papi begini ke Baby sitter baru kita Pi, mentang mentang kali ini baby sitter nya cantik, mereka perlakukan segitunya, huuff!" Gerutunya pelan yang hanya di dengar dirinya sendiri saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam pun semakin larut dan ini malam pertama Pinkan menutup harinya di rumah kediaman Baskara, makan malam dengan steak membuat gadis itu mengantuk, apa lagi Baby Zee sudah tidur, maka dengan suka rela matanya perlahan tertutup, memasuki alam mimpi tentunya setelah mengganti pakaian tidurnya.
Kreeert!!
Suara langkah kaki pelan terdengar mendekat setelah pintu kamar terbuka, itu suara langkah putra kedua Baskara si pemilik wajah ramah.
"Apa kamu sudah tidur Marni?" Tanyanya memastikan yang tak terdengar jawaban.
Murat tersenyum seraya berjalan lebih dekat lagi, di ujung ranjang pemuda itu menghentikan langkahnya, berdiri menatap wajah cantik Pinkan saat terlelap "Bahkan dalam keadaan tidur pun, kamu masih saja cantik, benar-benar tidak adil." Gumamnya pelan.
"Aku tidak tahu, kenapa aku tertarik untuk mendatangi mu, tapi, mungkin karena aku sudah menyukai mu dari pertama bertemu." Gumamnya lagi.
"Selamat malam, mimpi indah." Murat melangkah keluar lagi dari kamar, lega sudah rasanya setelah melihat wajah cantik Marni yang terus menari-nari di pikiran nya seharian ini.
Tapi sepertinya tidak dengan bang duda yang satu ini, di kamarnya Raka mencoba duduk, tidur, terlentang, terlungkup, duduk, bangkit, tiduran lagi, tapi pikiran nya tetap saja tak bisa tenang.
"Kenapa kaki gue gatal? pengen banget ke kamar Baby Zee?" Gumamnya gelisah dengan kaki yang bergerak gerak gulana dan untuk yang pertama kalinya lelaki itu tak mengingat kekasihnya.
"Apa iya gue pengen liat Marni?" Bermonolog.
"Gak Gak!" Tampik nya.
"Ngapain gue pengen liat Marni? Siapa dia? Kenal aja baru sehari. Gue pasti cuma lagi kangen sama anak gue aja! Ya ya yah, alasannya itu, gue kangen baby Zee!"
Tanpa basa-basi lagi Raka melangkah keluar dari kamarnya berjalan mengedap-ngedap ke kamar putrinya, persis seperti maling jemuran pakaian dalam. Keadaan rumah itu sudah remang-remang gulita karena sudah malam, tentu saja sebagian lampu sudah ada yang di matikan.
Bruk!!
Raka mengerutkan keningnya saat tak sengaja bertabrakan dengan kedua adiknya di depan pintu kamar putrinya, dan ketiganya sama-sama terkejut.
"Kalian ngapain di sini?" Pekik Raka bertanya sedikit berbisik.
"Lah, bang Raka sendiri ngapain? Malem-malem gini di depan pintu kamar Marni?" Tanya balik Eric menukas kemudian pandangan nya beralih ke Abang lainnya yang baru keluar dari kamar Baby Zee.
"Bang Murat juga? Ngapain dari dalam kamar Marni? Macam macam lu ya? Eric aduin ke Mami lu bang!" Ancamnya.
"Iya lu, ngapain dari dalam hah?!" Tambah Raka menukas, tatapan Raka dan Eric menyudutkan Murat.
"Kalian sendiri ngapain di sini? Gue mah udah jelas barusan jenguk keponakan lucu gue!" Sangkal Murat berdalih.
"Eric juga, mau jenguk Baby Zee, minggir!" Eric baru mau menerobos masuk tapi tangan Raka menarik kerah bagian belakang nya "ET! Sekarang, balik ke kamar lagi gak lu! Biar Baby Zee istirahat!" Pekiknya.
"Sebentar aja bang!" Eric memperlihatkan wajah memelas.
Raka melotot membuat pemuda itu menciut "Iya iya." Ngalah Eric lalu melengos pergi dengan raut wajah kesal.
"Sialan! Kenapa gue gerah begini liat mereka datang ke kamar Baby Zee?" Batin Raka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.....