Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Cobaan.



Malam ini wanita dewasa berwajah oriental duduk di antara kursi VVIP restoran mewah, ia mengenakan midi dress berwarna merah yang di padukan dengan heels hitam mengkilap, rambut lurusnya tergerai indah dengan anggunnya.


Rani, wanita itu tengah mengikuti kencan perjodohan yang sudah di atur oleh orang tuanya, matanya sayu tak bersemangat sebab laki-laki di hadapannya bukan kriteria yang cocok di hatinya, setelah sepuluh tahun berpacaran dengan Raka, tentunya standar pria idamannya sudah berada di level yang tinggi, setidaknya gantengnya, kaya nya, cerdasnya, perhatian nya, semuanya harus sama seperti Raka.


Dan kini mata sayu nya menangkap sosok indah yang sangat sangat ia kenal berjalan gontai menuju toilet. Seseorang yang tiada pernah luput dari pikirannya.


"Raka!" Dengan binar kerinduan mata Rani membulat, mengamati setiap langkah kaki pria itu, lalu pandangannya ia kembalikan lagi ke arah laki-laki yang kini duduk berhadap-hadapan dengan nya "Emm, Zyan, aku ke toilet dulu sebentar ya." Pamit nya yang lalu di jawab dengan anggukan kecil Zyan "Iya, hati-hati Ran." Ucapnya.


Kemudian dengan segera Rani melangkahkan kakinya mengejar sosok tampan sang mantan yang sudah sangat ia rindukan "Raka, akhirnya kita di pertemukan lagi, aku merindukan mu, sangat sangat merindukan mu." Ungkapnya lirih.


Langkahnya ia percepat bahkan berlari kecil supaya bisa segera mensejajarkan langkahnya dengan Raka Cyril.


"Raka! Tunggu!" Panggil nya. Lalu pria itu menoleh padanya dan hening setelahnya, mungkin lebih tepatnya Raka terkejut karena tak sedikitpun dia ingin melihat wajah Rani kembali.


Rani tersenyum lalu berdiri berhadapan dengan sang mantan, yah, laki-laki tampan yang selama sepuluh tahun memanjakan dirinya, menuruti semua keinginan nya, memberikan apapun yang Rani minta namun kini ia sudah menjadi orang asing baginya.


"Kamu gimana kabar Raka?" Suara Rani bergetar merindukan laki-laki itu, matanya pun mulai berkaca-kaca.


"Seperti yang kau lihat, aku bahagia!" Jawab Raka dingin.


"Raka, ..." Rani mendekat lalu meraih tangan pria itu tapi secepat kilat Raka menepis "Menjauh dariku!" Usir nya dingin seraya mundur satu langkah, tatapan yang menusuk begitu membunuh kerinduan wanita ini.


"Ka, ... Apa kamu yakin sudah bisa melupakan ku? Sepuluh tahun kita bersama, dan selama itu kau tak pernah menyukai siapapun selain aku, perasaan mu sesuci dan setulus hati mu, kamu selalu menjaga ku dari laki-laki lain bahkan dari dirimu sendiri. Sepuluh tahun berhubungan secuil pun kamu tak pernah menyentuh ku, aku merasakan betapa tulusnya cinta mu padaku. Apa kau yakin semudah itu kamu melupakan ku Raka? Aku yang selama ini kamu lindungi." Rani menghiba, tatapannya begitu nanar.


"Kenapa tidak? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini!" Sela Raka masih dengan hawa dingin yang mencekam di raut wajahnya "Maaf Ran, sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Permisi!" Raka berputar haluan meninggalkan tempat itu acuh, meskipun benar adanya yang Rani bicarakan tapi satu hal, Raka benar-benar sudah tak mengharapkan kehadiran Rani masuk ke dalam hidupnya lagi, Pinkan sudah mengisi penuh relung hati nya.


"Raka." Rani mengekori pria itu "Aku yakin, kamu masih menyukai ku, aku yakin kamu masih menyayangi ku, aku tau alasan mengapa sampai sekarang kamu tak melaporkan ku ke polisi, aku tahu kamu masih sangat menyayangi ku, selamanya kamu tak kan tega memasukkan ku ke dalam penjara meskipun aku sudah berusaha meracuni bayi mu, aku tahu kau masih sangat sangat mencintai ku, seperti aku yang tak pernah bisa melupakan mu, begitu juga dengan mu, iya kan Ka? Jawab Ka, ku mohon!"


"Pergilah, aku sudah tidak mau melihat wajah mu lagi." Raka berucap tegas dengan pandangan yang terus lurus, tak sedikitpun menoleh pada wanita itu.


"Raka!" Langkah Rani terhenti saat Raka sudah memasuki toilet lalu tak sengaja berpapasan dengan pria lainnya yang berasal dari sana, meskipun masih ingin mengejar tidak mungkin Rani berani masuk ke toilet laki-laki.


Air mata Rani sudah hampir terjatuh namun masih bisa dia tahan di atas sana, wanita itu menyandarkan tubuhnya ke dinding di bawah plang bertuliskan toilet beserta tanda panah.


"Rani, .." Suara pria memanggil membuatnya menoleh padanya, terlihat di sana Zyan tersenyum menghampiri nya dengan langkah gontai "Zyan, kamu di sini? Sejak kapan?" Tanyanya gugup.


"Aku sengaja menyusul mu Ran, mendadak, di rumah sedang ada tamu penting, kamu tidak keberatan kan kalo kita langsung pulang? Kamu sudah selesai kan?" Tanya Zyan.


"Emm, ..." Rani bingung, sesungguhnya wanita itu masih ingin membujuk mantan kekasihnya, tapi juga tak mau mengecewakan Zyan sang direktur si calon pewaris tunggal, ya meskipun perusahaan milik keluarga Zyan tak sebesar milik Baskara tapi itu cukup membuat Rani dilema.


"Iya, kita pulang." Ucap Rani mengangguk dengan senyum getirnya, setuju dengan ajakan pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedang di mejanya Pinkan masih duduk dengan anggun memainkan ponsel miliknya tak lama kemudian seseorang duduk di kursi sebelah kanan nya, sambil celingukan ke kanan dan kiri, seperti mengamati keadaan sekitar, atau mungkin mencari seseorang.


"Kamu cari siapa Ka?" Pinkan bertanya dengan raut datarnya.


"Hmm?" Raka menoleh menatap ciduk tunangannya "Bukan siapa-siapa." Ucapnya dengan senyum yang menurut Pinkan di paksakan.


"Sudah, kita langsung pulang saja, aku mengantuk." Ucap Pinkan dan Raka sempat terdiam, seakan menangkap gelagat aneh dari kekasihnya, yang tiba-tiba berubah datar.


"Ok, .." Setelah sekian detik terdiam Raka mengangguk setuju kemudian menjentikkan jarinya memanggil waitress di sudut tempat itu, lalu seperti biasa dia membayar bill dengan kartu kredit no limit miliknya.


Pelayan masih belum mengembalikan kartu Raka tapi Pinkan sudah ngacir ke keluar dari ruangan VVIP nya "Yank!" Panggil Raka menatap punggung gadis itu sembari meraih kartu dari tangan pelayan.


"Terimakasih, sampai jumpa kembali."


Raka tak mengindahkan ucapan pelayan itu, ia bergegas mengejar tunangannya yang sudah keluar dari bangunan mewah tersebut "Yank." Sampai di halaman parkir Raka meraih tangan gadis itu lalu Pinkan menoleh padanya "Kamu kenapa hum? Kamu sakit?" Tanyanya bingung.


"Aku ngantuk." Singkat Pinkan.


"Kamu gak lagi ngambek kan hum? Bilang kalo aku ada salah, jangan begini." Raka mulai mengutarakan isi hatinya saat melihat gelagat Pinkan yang terlalu janggal, tak biasanya gadis itu berbuat seperti ini, apa lagi sebelumnya Pinkan terlihat sangat senang menerima lamaran darinya.


"Buka pintunya, aku mau masuk!" Titah Pinkan sambil menarik handle pintu mobil milik Raka lalu dengan segera pria itu menurutinya, keduanya pun sama-sama memasuki mobil hitam mengkilap tersebut.


"Yank, kamu ngambek?" Raka mulai berani menanyakan sesuatu pada tunangannya "Apa jangan-jangan barusan kamu lihat aku, ..."


Pinkan menoleh menatap nyalang duda tampan itu "Yah, aku melihat mu bersama mantan kesayangan mu." Tukas Pinkan yang sudah berani mengutarakan isi hatinya "Wanita yang selalu kamu lindungi itu, wanita yang tak pernah kamu sentuh karena saking cintanya kamu, mantan yang bahkan tak kamu laporkan ke polisi meski sudah mencoba menghilangkan nyawa putri mu, wanita yang sudah hampir membunuh ku, membunuh calon istri mu, aku, aku yang hari ini kamu lamar Raka!" Nada Pinkan berangsur naik, menggema di dalam mobil mewah itu, entah kenapa hati Pinkan terlalu sakit mendengar ocehan Rani beberapa saat yang lalu, tapi itu wajar dan alamiah bagi seseorang yang mencintai tapi merasa di bohongi, kenapa Raka harus menutupi ulah Rani yang sudah bisa di katakan kriminal? Pikir Pinkan seperti itu.


"Yank, ..." Pelan-pelan Raka meraih tangan mulus gadis itu tapi dengan cepat Pinkan menepis lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela "Kamu bahkan menutupi kejahatannya Raka, kamu pasti masih sangat menyayangi nya." Lirih Pinkan berkata pilu, di dadanya sudah terasa sesak yang terdorong dari perutnya.


"Aku minta maaf, tapi serius aku sudah tidak punya perasaan apapun lagi padanya. Alasan kenapa aku tidak melaporkan nya, karena, ..."


"Kamu masih sayang, iya kan?" Pinkan menoleh ke arah Raka kembali, sungguh tatapannya kali ini begitu menceku.


"Ayahnya punya penyakit jantung Yank, atas dasar kemanusiaan aku melakukan itu, kalau aku membuat ayahnya meninggal lalu apa bedanya aku dengan nya? Aku tidak mau menjadi alasan menghilang nya nyawa seseorang!" Sergah Raka.


"Seandainya dia tidak meracuni Baby Zee, kamu pasti masih menyukainya iya kan hah?" Pinkan meledak, terus berpendapat sesuka hatinya, gadis itu memang mempunyai sifat yang lugas, dorongan dari rasa cemburunya mulai membuatnya serakah.


"Jangan sok tahu!" Bentak Raka yang tak sengaja melakukan itu, Raka benar-benar sudah tersulut emosi "Aku bahkan sudah berpaling padamu sebelum putus dengannya, aku mantap meninggalkan nya karena aku sudah berpaling darinya, sudah ku bilang kamu orang pertama yang membuat ku berpaling, dan akan menjadi terakhir kalinya, aku ingin selamanya bersama mu, menjalani biduk rumah tangga bersama, aku, kamu, Baby Zee juga anak-anak kita nanti." Nada Raka berangsur lirih menatap nanar wajah cemburu gadisnya.


Pinkan hening lalu isak nya mulai terdengar, sudah tak mampu menahan sesak yang sebegitu hebatnya menyeruak di dalam dada.


"Maafkan aku Yank, aku emosi, maafkan aku sudah membentak mu, tolong jangan seperti ini, aku tidak sedang main-main padamu, tolong percaya lah, menikah lah dengan ku seperti yang sudah kita rencanakan, orang bilang akan ada cobaan sebelum pernikahan, ku harap kamu tidak menyerah Yank, aku benar-benar ingin hidup bersama mu, melihat wajah cantik mu di saat aku menutup dan membuka hari ku."


Pinkan tersentuh mendengar setiap ucapan yang berderai dari mulut pria itu, di lihat dari sudut manapun Raka benar-benar tulus, tak ada satupun kata yang di buat-buat.


"Please marry me dear." Bujuk Raka dengan wajah yang mendekat, kedua tangannya merangkup kedua pipi gadis itu, memberikan tatapan syahdu padanya, suaranya begitu hangat terdengar.


"Please, ..."


Pinkan meraih tubuh hangat pria itu, meletakkan kepalanya di belahan dada Raka yang terasa sangat menentramkan jiwa "Maaf meragukan mu." Ucapnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Hai reader, siapin amplop yah, kalian di undang ke pernikahan mereka loh, 😂✌️see you next episode.🤗 terimakasih dukungan like nya 😘