Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
Hotel.



Malam ini malam ketiga bagi Murad melewati hari-hari di tanah air tercinta, bersama keluarga yang sudah semakin ramai setelah Baby Zee bisa berbicara lugas, bahkan sekarang rumah besar Baskara semakin berwarna dengan adanya gadis ceriwis itu. Terlihat di setiap kesempatan berkumpul, gadis itu yang terus bercerita seperti tak ada letih nya.


Di ruang santai milik keluarga besar Baskara, mereka semua duduk melingkar tanpa terkecuali, di sudut sofa Raka asyik bergelayut pada isteri cantiknya, sepertinya obrolan seputar memiliki Baby lagi masih menjadi bahasan pokok sepasang suami istri itu.


Di sudut yang lebih jauh lagi, Baby Zee masih asyik dengan mainan barunya di temani sang pengasuh. Sedang Eric tampak fokus menggulati sosial media nya sambil terkekeh tak jelas.


"Murad, ..." Baskara pada akhirnya membuka obrolan yang lebih serius lagi dari sebelum sebelumnya.


"Iya Pi." Pemuda itu menoleh, sejenak ia paling kan matanya dari gawai tipis miliknya. Termasuk Raka Eric dan Pinkan yang juga menoleh menghiraukan Baskara.


"Rencananya, Papi mau memperkenalkan kamu dengan anak teman Papi, dari kemarin Handoko menanyakan mu terus, kalau kamu mau, Papi mau secepatnya mempertemukan mu dengan anak gadis Handoko. Gimana menurut mu?" Ujar Baskara tanpa basa-basi.


"Jodohkan? Papi mau jodohin Murad?" Tanya pemuda itu dengan raut datar. Lalu Baskara dan Irma mengangguk.


"Murad sudah punya calon Pi, Murad sudah sangat yakin mau menjadikannya isteri Murad, jadi, tanpa mengurangi rasa hormat, Murad menolak." Tolak pemuda itu tegas.


"Calon? Siapa?" Raka kali ini benar-benar penasaran.


Murad beralih pada Raka "Dia cuma gadis desa, tinggal nya juga di dusun terpencil daerah Jawa tengah, rencananya besok gue mau mendatangi keluarganya lebih dulu, sebelum membawa kalian melamar nya ke sana." Jelasnya.


Semua orang hening, dan saling melempar tatapan bingung, jadi sudah semantap itu tekad Murad, lalu kenapa baru menceritakannya?


"Kamu ketemu di mana sama gadis desa itu hah?" Raka semakin di buat penasaran, secara adiknya baru saja tiba dari luar negeri, masa iya pacaran dengan gadis desa yang kota nya saja tidak pernah ia datangi sebelumnya. Dan apakah ini alasan Murad mau mengunjungi pabrik anakan Papi nya di Solo?


"Di Inggris," Jawab Murad jujur lalu beralih lagi pada Baskara "Besok pagi Murad mau langsung datang ke Surakarta, Murad sekalian meminta doa restu dari kalian, supaya di lancarkan usaha dan niat Murad kali ini." Ucapnya yang benar-benar membuat keluarganya tercengang, bagaimana tidak? Sudah semantap itu niatnya tapi baru memberi tahu setelah Baskara mau menjodohkan nya, kebiasaan diam-diam pemuda ini selalu membuat Baskara menghela napas.


"Terserah kamu saja, asal yang kamu nikahi gadis baik-baik." Pesan singkat Baskara yang pada akhirnya berucap demikian, lalu Irma menimpali "Pokoknya, apapun keputusan kalian anak-anak Mami, Mami akan selalu mendukung, asal satu, jaga diri kalian supaya tidak membuat malu nama besar Papi." Pesannya. Murad tersenyum mengangguk tak terkecuali Eric sebab pesan itu di tujukan pada putra putra Irma.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dengan berbekal doa dan restu dari orang tuanya, Hari ini Murad melakukan penerbangan domestik dari bandara Soekarno Hatta ke bandara Adi Soemarmo. Sejenak Murad lupakan kisah Raka dan Pinkan yang sudah bahagia, kini pemuda itu sudah ingin menjemput kebahagiaannya sendiri.


Tiba di Boyolali Jawa tengah sekitar jam sembilan pagi dan langsung di sambut hangat oleh kepala cabang pabrik milik keluarganya bernama Rahmat Hidayat.


Sudah sepuluh tahun lebih, Rahmat mengabdikan diri pada perusahaan Key-food, logo dari produk makanan yang penjualannya sudah on the way ke mana-mana.


"Tuan, Murad ya?" Sapa laki-laki itu memastikan, lalu Murad mengangguk sambil tersenyum "Pak Rahmat?" Tanya balik pemuda tampan itu.


"Iya benar saya Rahmat yang selama ini, Tuan muda telepon, SMS, siang malam, sudah seperti pacarnya." Sambung Rahmat seraya tergelak.


"Masih jauh kah desanya? Hayu sudah sembuh kan? Dia tidak kenapa kenapa kan? Hari ini masuk kerja kan?" Tanya Murad bertimpa-timpa.


Rahmat terkikik mendengar itu, ternyata bukan hanya di SMS dan telepon saja Murad posesif tapi aslinya pun demikian "Tenang saja Tuan muda, Nona Hayu baik-baik saja, tapi hari ini toko roti isteri saya memang sedang libur, jadi hari ini Nona Hayu tidak bekerja." Jelasnya.


"Oya?" Murad tersenyum lalu mengalihkan pandangan ke sekeliling, menyisir hiruk pikuk kota Jawa tengah yang ramai jajanan pinggir jalan "Kalo begitu untuk sementara, kita langsung ke hotel saja dulu pak, sambil menunggu asisten pribadi saya sampai." Titahnya tanpa menatap laki-laki itu, pandangannya sibuk mengedar ke segala arah.


"Baik Tuan muda."


Dua jam pun berlalu, setelah menikmati pemandangan kota Jawa tengah, kini Murad sudah berada di kamar hotel VVIP miliknya seorang diri sebab Rahmat masih harus kembali ke pabrik.


Murad berjalan menuju jendela besar di ruangan itu. Di singkap nya gorden berwarna putih itu hingga tampak lah pemandangan kota Surakarta dari atas sana.


"Hayu, semoga masa sulit mu akan segera berakhir, terima lah lamaran ku, yang tidak tahu diri ini." Gumamnya penuh harap.


Tok tok tok!


Suara ketukan pintu, gegas pemuda itu membukanya, dan wajah lelah Miko yang tertampil di balik sana "Tuan muda." Sapa nya.


"Iya, gimana? Perjalanan lancar kan?"


"Lancar, tapi, sepertinya saya harus istirahat dulu Tuan muda." Pamit Miko memelas setelah berjam-jam melintasi jalur tol seorang diri. Murad memang sengaja membawa mobil dari Jakarta, tapi, karena tidak mau berlelah-lelah di dalam mobil, akhirnya dia lebih memilih menggunakan pesawat saja.


"Ok, istirahat saja, besok pagi, kita baru mendatangi kampung Hayu." Murad juga butuh mempersiapkan diri untuk bertemu dengan gadisnya.


Miko mengangguk lalu melangkah pergi menuju kamar miliknya sendiri, kamar yang sudah di pesan kan Murad untuknya. Sedang Murad kembali menutup pintu.


Seharian ini Murad hanya menikmati jamuan demi jamuan yang di berikan pihak hotel, karena dia belum punya niat keluar dari gedung tersebut, biarlah besok saja, sekalian mendatangi kota K tempat gadisnya berada.


Tak ada yang lebih menarik dari pada melihat wajah cantik alami Hayu Diajeng yang masih setia menjadi wallpaper di layar ponselnya, beberapa bulan lalu, anak Rahmat menikah lalu kepala cabang itu mengirimkan foto-foto Hayu saat ikut menjadi pagar ayu.



Sudah delapan bulan ini, Hayu bekerja di toko roti milik isterinya Rahmat dengan gaji besar yang berasal dari Murad. Ada sesuatu hal yang membuat Murad ingin terus membantu hidup gadis desa itu, sesuatu yang begitu memilukan di mana hanya Hayu saja yang mengalami setelah hari itu dia menidurinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Like dulu, karena sebentar lagi up lagi OTW🏃🏃🏃✌️