Duda Bucin (Oh My Babysitter)

Duda Bucin (Oh My Babysitter)
S2/Chapter 16 (Ikhlas menerima)



Bercelaru, perasaan Eric bercampur aduk, antara takut kehilangan untuk selamanya dengan rasa ingin mengikhlaskan kepergian sang pujaan.


Sakit sekali rasanya saat memandangi foto prewedding Lidya bersama laki-laki lain, bahkan pose berpelukan mereka tunjukkan pada semua orang yang mengikuti sosial medianya.


Setelah turun dari pesawat, hanya dengan berbekal GPS, Eric mencari alamat rumah Rahmat menunggangi taksi, dulu pernah dia mampir untuk beristirahat dan membuang air kecil di rumah Rahmat tapi itu saat dirinya tidak terlalu mengamati.


Bahkan dulu Eric membenci Lidya, hingga ujaran sarkas selalu dia tujukan pada gadis desa, putri dari kepala cabang perusahaan ayahnya. Tak pernah menyangka bahwa sekarang dirinya yang begitu menginginkan gadis itu.


"Kita ke kanan, aku yakin rumahnya melewati masjid ini!" Kata Eric sambil menunjuk sebuah bangunan yang teramat megah, ada suara tilawah juga dari dalam sana karena sudah akan memasuki waktu Dzuhur.


Tenda biru, sudah tidak zaman karena sekarang tenda pernikahan berwarna putih dengan juntaian kain organdi di hiasi bunga-bunga yang tersemat pada setiap sisinya.


"Yah ini dia rumahnya! Aku yakin! Semuanya masih sama, tidak berubah sama sekali!" Ucap Eric menggebu-gebu.


Arya kemudian menepuk pundak sopir taksi nya "Di sini pak, terimakasih!" Ucapnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang merah.


"Kembali nya?" Tanya pak sopir.


"Untuk bapak!" Kata Eric kemudian kedua pria itu turun dari taksi.


Gegas keduanya masuk ke pagar yang sudah tidak terlihat lagi besinya karena tertutup kain-kain organza.


Eric berlari memasuki rumah yang tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil, karena sejatinya Lidya bukan lah anak orang miskin.


Gaji Rahmat sebagai kepala cabang sangat besar jika untuk hidup di perkampungan yang damai dan tentram, apa lagi isterinya membuka toko roti, sudah pasti hidup mereka tidak akan kekurangan.


Semua mata tertuju pada pemuda tampan itu dan kecumik mulut orang-orang mengatakan kagum dengan penampilan fisik Eric yang terlihat nyaris sempurna.


Tubuh tinggi, wajah oriental, hidung bangir, bibir sensual, rambut terbelah dua hitam legam sangat memesona. Apa lagi di balut dengan pakaian yang terlihat sangat mahal bahkan limited edition.


"Wah, sopo iki?" Tanya salah satu dari wanita yang sudah sedikit tua bertanya pada Eric.


Eric memberhentikan langkahnya tepat di depan wanita itu "Boleh tau di mana Lidya sekarang?" Tanyanya. Di belakang tubuhnya, Arya hanya mengekori sang Tuan muda.


Wanita itu tersenyum "Oh, Mas'ee seng di jodohkan ambik Lidya tah?" Tanya baliknya, dia bertanya apakah Eric calon suami Lidya?


Selain ibu dan bapak serta mempelai wanita sendiri, belum ada yang pernah melihat bagaimana rupa calon mempelai pria secara langsung, maka ini akan Eric jadikan kesempatan agar lebih mudah menemui kekasihnya.


"Iya, saya calon suami nya! Saya harus bertemu dengan nya sekarang juga." Angguk Eric berkilah.


"Di sana, Lidya nya lagi luluran, di belakang, tapi mungkin sudah mau selesai. Monggo, tunggu saja sampe keluar." Sebisa mungkin wanita itu berbahasa Indonesia setelah mendengar logat Eric yang tidak medok sama sekali.


Wanita itu percaya dengan ucapan Eric karena biasanya foto dan wajah asli seseorang berbeda. Beberapa orang yang sudah melihat foto prewedding Lidya dan Rangga pun percaya.


Jika di lihat lagi hampir tidak ada bedanya karena Eric dan Rangga sama-sama tampan.


Eric mengangguk "Iya, terimakasih Buk!" Kemudian melangkah menuju tempat yang sudah di tunjukkan padanya tanpa basa-basi lagi.


Tiba di sebuah pintu, seorang wanita baru saja keluar dengan tangan kuningnya. Sepertinya wanita itu lah yang baru selesai meluluri mempelai wanita.


Eric tak perlu waktu lama untuk memasuki ruangan tersebut, di mana Lidya membelakangi dirinya dengan menampilkan punggung yang masih berbalur lulur.


Lidya hanya mengandalkan kain jarik bermotif bunga untuk menutupi bagian depan tubuhnya, karena punggung ke bawah masih polos hingga belahan di bawah pun menyembul indah bagi Eric.


Jantung Eric berdetak kencang, rindu yang begitu menggebu membuat dirinya ingin meloloskan satu bulir air mata.


Ingin memilikinya, ingin menyentuhnya, ingin sekali membawanya lari dari sini, lalu kemudian tidak akan membiarkan siapa pun mendekati gadisnya.


Dia melangkah perlahan kemudian duduk tepat di belakang Lidya, di pandangi nya punggung lentik Lidya dengan kaca-kaca matanya.


"Kenapa balik lagi mbak? Bukannya katanya sudah?" Tanya Lidya. Dia pikir yang duduk di belakangnya wanita yang meluluri tubuhnya.


Eric mengambil satu colek lulur kunyit dari sebuah mangkuk kemudian mengoleskan pada punggung Lidya, perlahan dia menyusuri setiap liukan punggung gadis itu dan sepertinya Lidya menikmati sentuhannya.


Terlihat Lidya memejamkan mata merasai sentuhan yang terasa berbeda dengan sentuhan sebelumnya, ia justru mengingat kembali sentuhan seseorang yang pernah dia dapatkan dari mantan kekasihnya.


"Hiks, hiks!" Lidya tiba-tiba terisak mendapati sentuhan lembut Eric "Kenapa sampai sekarang aku masih saja mengharap kehadirannya? Kenapa aku masih tidak bisa melupakan sentuhan nya?" Ujarnya.


Eric berkerut kening tapi hanya diam saja, menyimak setiap kata yang berderai di iringi isakan Lidya.


"Kata mbak, cinta pertama jarang sekali yang bisa bersatu, aku tidak meminta lebih, aku hanya berharap satu, setidaknya aku bisa melupakannya, supaya aku bisa melanjutkan hidup bersama calon suami ku!" Katanya, dan isakan terdengar semakin menjadi.


Eric mengepalkan sebelah tangannya lengkap dengan rahang yang tegas ketika Lidya berharap bisa melupakannya dan hidup bahagia bersama calon suaminya.


"Siapa?" Eric menyeletuk meskipun dari sekian banyak perkataan Lidya, sudah bisa dia simpulkan siapa yang di bicarakan oleh gadis itu.


Mendengar suara laki-laki, Lidya menoleh kearah sumbernya, sontak mulutnya terperangah melihat wajah tampan Eric tertampil di hadapannya "Er...."


Pemuda tampan itu membungkamnya dengan bibir sensualnya "Aku merindukan mu!" Batinnya.


Air mata lolos begitu saja menyelusuri liukan wajah gadis itu hingga berakhir membasahi ibu jari Eric yang mengusap rahang Lidya.


Lidya tak menolak tak jua merespon, dirinya hanya pasrah pada situasi ini, belitan indera perasa Eric begitu impresif, dan ini sudah sangat lama ingin dia rasakan lagi.


Saking sudah rindunya, Eric sampai tak sengaja memberikan gigitan pada ujung bibir Lidya hingga sedikit menorehkan luka, tapi rupanya hal itu tak membuat Lidya melepaskan diri dari permainan bibir rindu Eric.


Tanpa melepas penyatuan bibir mereka, Eric melilitkan kain jarik milik Lidya agar tidak menggoda pertahanan imannya.


Satu tanda kepemilikan Eric lukis pada leher jenjang Lidya kemudian memandangi dengan dalam wajah cantik gadis itu "Selamat menempuh hidup baru! Semoga berbahagia dengan calon suami mu, semoga bisa cepat melupakan aku!" Ucapnya setelahnya.


Tanpa mau berlama-lama berkonfrontasi Eric beranjak dari duduknya kemudian melengos pergi dari tempat itu "Eric!" Panggil Lidya.


Pemuda itu menoleh seraya memberhentikan langkahnya "Hmm?" Tatapannya nanar.


Meski demikian, Lidya masih mampu melihat ketampanan yang sudah alami itu dari wajah sendu mantan kekasihnya "Apa cuma itu saja yang kamu ucapkan setelah menemui ku?" Tanyanya menyudutkan.


"Bukannya itu mau mu? Kau sudah akan ijab qobul besok malam kan?" Eric manggut-manggut seraya merentangkan kedua tangannya, senyum remeh pun ia kembangkan begitu saja "Selamat Lidya, ya yah, cuma itu yang bisa aku ucapkan, nanti kado pernikahan dari ku akan menyusul!" Katanya lantang.


Eric berusaha ikhlas menerima jika ini yang harus dia lalui, yaitu merelakan.


Lidya menunduk "Aku merindukan mu!" Ucapnya lirih.


"Bulsyiittt!" Sergah Eric cepat dan lantang, ada gurat kekecewaan yang mendalam di mata pemuda itu ketika mengamati raut wajah gadisnya.


"Kau bilang merindukan ku hah?" Eric memalingkan wajahnya ke arah lain sebelum kemudian menatap Lidya kembali "Kau tahu Lidya! Kau sudah tidak berhak mengatakan itu, kau sudah akan menikah sebentar lagi! Setelah lama aku mencari mu, kau memblokir semua akun media sosial ku, bahkan kau mengganti nomor, sekarang kau bilang aku merindukan mu? Cih!" Decih nya menyamping.


"Maaf kan aku! Aku berusaha tidak mencintai mu, tapi sulit rasanya bagiku, bahkan setelah memblokir semua akun media sosial mu, juga menerima lamaran laki-laki lain. Aku masih saja mengingat mu." Lidya terisak-isak.


"Sudah bukan waktunya mengakui itu!" Sanggah Eric.


"Sekarang menikah lah, semoga berbahagia dengan pilihan hidup mu, semoga laki-laki yang memeluk mu di foto prewed mu bisa membahagiakan mu, tidak seperti ku, yang mungkin tidak pantas untuk mu!" Eric menepuk dadanya tanda kekecewaannya.


"Eric.."


Eric melangkah pergi bahkan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Lidya dalam keadaan bergeming, wajahnya mengeras karena rasa nyerinya, setelah mengetahui perasaan Lidya, Eric justru lebih kesakitan lagi.


Apakah pantas, seseorang yang mengaku cinta, sayang, rindu, setega itu memblokir akses silaturahmi nya? Seingin itu kah Lidya tak berjodoh dengan Eric? Kurang apa dirinya selama bertahun-tahun ini?


Masih menjadi pusat perhatian bagi setiap mata yang memandang. Eric melangkah panjang keluar dari rumah hajatan sederhana ala kampung tersebut.


"Tuan muda!" Rahmat yang mengenalinya bergegas menundukkan wajahnya sopan seraya membegal jalannya "Sejak kapan Tuan muda di sini?" Tanyanya.


Eric memberhentikan langkahnya tepat di hadapan laki-laki itu "Aku ke sini mau menghadiri pernikahan putri Bapak! Semoga bahagia selalu." Ucapnya lugas. Jika bicara nada sudah pasti ketus. Kekecewaannya terhadap Lidya benar-benar membuatnya tak mampu berkata sopan.


Rahmat masih tersenyum "Kehormatan sekali, Tuan muda mau hadir. Silahkan duduk!" Ajaknya sambil menunjuk satu kursi pada Eric.


"Tidak perlu, aku harus segera pulang!" Eric melanjutkan langkah tanpa menunggu kalimat silahkan dari sang Tuan rumah.


Dogol sudah menguasai dirinya, hingga sangat sulit sekali untuk mengucapkan satu patah kata salam saja, air mata mulai mengintip di sudut netra nya. Kebas ini tiba-tiba saja menjalari seluruh tubuhnya.


"Kita langsung ke bandara lagi!" Ucapnya pada Arya dan lelaki itu mengangguk "Taksi kita masih menunggu, jadi bisa langsung kembali ke bandara." Katanya.


Keduanya memasuki mobil taksi itu lalu bergegas pergi menuju bandara kembali, sepanjang perjalanan Eric tak bersuara, sakit hatinya begitu menyengat kala mengetahui kenyataan yang ada.


Sama-sama tersiksa, biarkan saja, mungkin hubungan ini akan berakhir seperti ini, Eric berusaha ikhlas menerima meskipun entah kapan dirinya mampu melupakan wanita pertama yang berhasil merenggut hati dan ciuman pertamanya.


Mungkin benar, cinta pertama tidak selalu berakhir bersama. Masih banyak persinggahan sebelum sampai ke pelabuhan terakhirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gais kisah Eric kan mendadak, jadi aku mikirnya agak lambat, beda sama kisah kedua abangnya.... Oya Karya baru ku, baru terbit, Romantis komedi....